Buku


Judul Buku
Hoo Tong Bio: Kisah Klenteng Tertua di Ujung Timur Jawa, 1965-2014
Penulis
Ika Ningtyas
Tebal
xxv + 143 halaman
Harga
Cetak Rp 45.000 (+ongkos kirim)
Ebookpdf Rp 30.000
Cara pembelian buku versi cetak:
1. Kirimkan nama, alamat dan no hp Anda melalui email ke ikablambangan@gmail.com atau sms ke 085 2367 05 313.
2. Penulis akan mengirimkan konfirmasi mengenai harga buku + ongkos kirim
3. Pembayaran transfer ke nomor rekening BCA 1800508491 atas nama Ika Ningtyas Unggraini
4. Konfirmasikan pembayaran Anda melalui email atau hp seperti yang tercantum di nomor 1
5. penulis akan mengirimkan buku pesanan ke alamat Anda.
Cara pembelian ebook
1. Lunasi pembayaran Anda ke nomor rekening BCA 1800508491 atas nama Ika Ningtyas Unggraini
2. Konfirmasikan pembayaran Anda melalui email ke ikablambangan@gmail.com atau sms ke 085 2367 05 313
3. penulis akan mengirimkan link ebook beserta password
4. Ebook/Pdf bisa langsung diunduh.
Preview Buku
Klenteng Hoo Tong Bio di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur adalah dibangun tahun 1784. Klenteng ini adalah yang tertua di ujung timur Pulau Jawa yang meliputi Banyuwangi, Jember, Situbondo, dan Probolinggo. Buku ini membahas pembangunan klenteng selama periode 1965-2014 termasuk perjalanan umat Tri Dharma sebagai penyokong kehidupan di klenteng ini.
Pasca-tragedi Gerakan 30 September 1965, umat Tri Dharma mengalami diskriminasi hampir di semua aspek kehidupan, kecuali ekonomi. Pemerintah Orde Baru tidak mengakui agama Kong Hu Cu, menghapuskan aksara Mandarin, dan melarang kesenian Tionghoa. Beragam kebijakan diskriminatif itu akhirnya mempengaruhi aktivitas umat Tri Dharma di klenteng Hoo Tong Bio.
Angin kebebasan baru menghampiri setelah penantian selama 32 tahun. Di era Presiden Abdurahman Wahid alias Gus Dur, kebijakan diskriminatif terhadap etnis Tionghoa akhirnya dicabut. Aktivitas umat Tri Dharma di Klenteng Hoo Tong Bio akhirnya bergairah kembali, ditandai dengan renovasi klenteng secara besar-besaran.
Namun tragedi kebakaran pada 13 Juni 2014 akhirnya membuat klenteng Hoo Tong Bio seolah kembali pada titik nol kembali. Sebagian besar sumber-sumber sejarah penting ikut hangus dilalap api, salah satunya bangunan utama klenteng yang telah berusia 230 tahun.
Memang mudah membangun klenteng ini kembali. Tapi sumber sejarah yang hilang tak kan bisa terganti.