<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756</id><updated>2011-12-15T04:09:50.932Z</updated><category term='Ekonomi'/><category term='Kesehatan'/><category term='Sejarah'/><category term='Kuliner'/><category term='Klenceran'/><category term='Budaya'/><category term='Perempuan'/><category term='Inspirator'/><category term='Wisata'/><category term='Pemerintahan'/><title type='text'>Dunia Dalam Penaku</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>41</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-9101321896836669081</id><published>2011-02-15T06:07:00.000Z</published><updated>2011-02-15T06:08:23.510Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Asyiknya Berbudi Daya Jangkrik</title><content type='html'>TEMPO Interaktif, Banyuwangi - Ribuan jangkrik muda berlompatan di kandangnya. Mereka saling berebut irisan buah pepaya yang diberikan si peternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangkrik berukuran 1,5 centimeter itu nampak sehat dibalik kandang yang temperaturnya dijaga supaya tetap hangat. "Dua hari lagi jangkrik siap panen," ujar Hendro, 45 tahun, peternak jangkrik asal Banyuwangi, Rabu (9/2) lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah 20 tahun ini, Hendro mengadu peruntungannya membudidayakan hewan dengan nama latin Liogryllus bimaculatus itu. Bisa dibilang saat ini dialah peternak jangkrik terbesar di Banyuwangi, Jawa Timur. Dia pemasok satu-satunya kebutuhan jangkrik di Banyuwangi. Bahkan permintaan juga sering datang dari Pulau Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 30 kandang jangkrik yang dia kelola sendiri, Hendro yang mulai berkenalan dengan bisnis jangkrik sejak usia 15 tahun ini, bisa memanen satu kuintal ekor jangkrik setiap harinya. Bila dijual di Banyuwangi, harga jangkriknya mencapai Rp 25 ribu per kilogramnya. Harga ini menjadi dua kali lipat lebih mahal bila jangkrik dipasarkan ke Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya permintaan ini, membuat Hendro tidak lagi mampu membudidayakan sendiri. Dia merekrut 75 petani yang tugasnya menetaskan telur hingga menjadi jangkrik dewasa. Sementara telur dan modal seluruhnya ditanggung Hendro. Saat panen, Hendro membeli jangkrik-jangkrik tersebut seharga Rp 10 ribu per kilogram. "Sekaligus menciptakan lapangan kerja untuk mereka," kata lelaki kelahiran Jember ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budidaya jangkrik ini dibagi dalam dua tahap. Yakni tahap peneluran dan tahap saat telur menetas hingga jangkrik tumbuh dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Perumahan Puri Camar, Kelurahan Mojopanggung, Banyuwangi itu, bercerita, untuk menghasilkan telur yang baik dia memilih induk dari jangkrik-jangkrik yang super. Salah satu cirinya, kata dia, saat dipegang, jangkrik tidak mengeluarkan lendir pada kulitnya. Satu induk jangkrik ini bisa menghasilkan paling sedikit 500 telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telur-telur ini kemudian diletakkan di dalam kandang atau boks seukuran 120 x 300 centimeter dengan dialasi triplek. Jangan lupa untuk menaburi triplek dengan pakan ayam atau sentrat.Di sekitar boks, tre atau wadah telor ayam disusun bertingkat yang berfungsi sebagai rumah jangkrik ketika telah menetas nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu ons telur yang ditetaskan bisa menghasilkan minimal 10 kilogram jangkrik muda. Yang perlu diingat, bahwa jangkrik sangat sensitif terhadap cuaca dingin. Karena itu si peternak harus menjaga boks dalam kondisi hangat. "Cuaca memang ancaman bagi peternak jangkrik," ujar Hendro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila cuaca tidak mendukung, Hendro menggantungkan lampu dengan daya 5 watt yang dihidupkan sepanjang hari. Sementara boks ditutup rapat dengan plastik tebal. Pastikan plastik tidak berlubang sehingga udara dingin tidak masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jangkrik mulai beranjak dewasa, si peternak juga harus memastikan peliharaannya itu tidak kelaparan karena jangkrik memiliki sifat kanibal atau memakan sesamanya. Makanan bisa berupa sayuran segar atau buah yang harus diberikan dua kali sehari: pagi dan malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangkrik-jangkrik muda ini baru bisa dipanen ketika berusia 20-25 hari dengan panjang tubuh mencapai 1,5 centimeter. Jangkrik muda ini dicari orang untuk pakan burung dan ikan. Apabila usia jangkrik di atas 25 hari, bisa disebut jangkrik tua. Biasanya dipakai untuk pakan lele dan ayam. "Tapi yang paling laris ya jangkrik muda," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang ingin menjajal bisnis satu ini, hanya butuh modal awal sekitar Rp 1,5 juta. Modal tersebut dipakai untuk biaya membeli 1/2 kilogram telur jangkrik, boks, sentrat, sayuran, dan tre atau wadah telur ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh hari pertama, Anda bisa menikmati panen jangkrik paling sedikit 50 kilogram atau Rp 1,25 juta. Tentunya keuntungan ini semakin berlipat pada 20 hari berikutnya. Menggiurkan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IKA NINGTYAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di: http://www.tempointeraktif.com/hg/wirausaha/2011/02/11/brk,20110211-312954,id.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-9101321896836669081?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/9101321896836669081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=9101321896836669081' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/9101321896836669081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/9101321896836669081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2011/02/asyiknya-berbudi-daya-jangkrik.html' title='Asyiknya Berbudi Daya Jangkrik'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-5621391111529769469</id><published>2011-02-15T06:03:00.000Z</published><updated>2011-02-15T06:06:47.695Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Enaknya Berbisnis Jamur Tiram</title><content type='html'>TEMPO Interaktif, Banyuwangi - Suatmiati, 50 tahun, siang itu sibuk melepas karet pengikat pada ratusan log jamur tiram. Log tersebut disusun berjajar dalam dua rak kayu setinggi hampir dua meter. Pada beberapa log lain yang pengikatnya sudah dilepas, nampak tudung jamur tiram berwarna putih mulai mengembang. Tangkainya bertingkat-tingkat. "Kalau sudah mekar berarti tidak lama lagi siap panen," kata Suatmiati kepada Tempo kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatmiati bersama sejumlah anggota keluarganya adalah salah satu keluarga yang menggeluti bisnis jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus)) di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Dalam dua tahun terakhir, budidaya jamur tiram berskala rumah tangga menjadi trend di Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surti Handayani, 30 tahun, keponakan Suatmiati bercerita, kalau modal awal membudidayakan jamur tiram hanya sekitar Rp 15 juta. Kalau pun tak memiliki modal sebesar itu, seseorang bisa mengembangkan jamur tiram cukup di kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budidaya jamur tiram ini membutuhkan media hidup dengan kelembapan suhu kurang dari 30 derajat celcius. Dia membangun sebuah rumah jamur di belakang rumahnya yang berdampingan dengan sawah, berukuran 3,5 x 5 meter. Dinding rumah terbuat dari bambu yang dipasang agak renggang untuk menunjang sirkulasi udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat empat rak susun di dalam rumah jamur. Rak-rak itu sebagai tempat meletakkan log. Log ini sebagai media tumbuhnya jamur tiram, berisi campuran: gergajian kayu, kapur, katul, tepung jagung, dan bibit jamur. Seluruh campuran ini ditempatkan dalam kantong plastik berukuran 3/4 kilogram. Pada ujungnya kemudian ditutup kertas koran dan diikat dengan tali karet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah log selesai dibuat, harus didiamkan dulu di rak selama 2 minggu dalam posisi berdiri. Berikutnya, posisi log ditidurkan dengan ujung log berada di tepi rak. Tali pengikat kemudian dilepas. Tujuannya, supaya benih segera mekar melalui ujung log.&lt;br /&gt;Supaya jamur yang telah mekar tidak rusak oleh bakteri, setiap sore harus disemprot dengan air PAM karena lebih steril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamur tiram biasanya siap panen dalam waktu 20 hari. Sekali panen bisa mencapai hingga 50 kilogram."Satu jamur beratnya bisa mencapai satu ons," ujar Surti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamur-jamur yang telah dipanen biasanya ditampung oleh seorang pengepul untuk dipasarkan ke Pulau Bali. Namun, kalau panenan sedikit, biasanya cukup dijual sendiri di pasar. Harga satu kilogram jamur tiram putih ini mencapai Rp 10 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di restoran atau rumah makan, jamur tiram putih ini biasanya diolah menjadi berbagai makanan karena mengandung protein dan vitamin yang tinggi. Krena permintaan jamur dari rumah makan sangat besar, jamur tiram ini memiliki pasar yang menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, keluarga Suatmiati tak takut jamur tiramnya tak laku, Bila hasil panennya  berlebih, biasanya sebagian jamur tiram diolah Surti menjadi keripik jamur. Caranya mudah, yakni jamur yang telah dipotong-potong dicuci bersih. Setelah diperas, jamur  dikukus hingga lembek. Dengan adonan tepung terigu, jamur digoreng hingga renyah. Harga keripik jamur ini dibanderol Rp 500 per bungkus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu setahun, bisnis jamur keluarga Suatmiati ini mulai menggeliat. Kini, mereka mengembangkan usahanya dengan menjual benih jamur dan log. Benih jamur dijual Rp 7.500 per botol. Sedangkan harga log Rp 2.000 per bungkus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Log ini sering dipesan oleh para petani jamur tiram berskala lebih kecil. Pesanan log jamur ini juga laris manis. Selain menyuplai desa-desa sekitarnya, pelanggan Suatmiati berasal dari Jember dan Bondowoso. "Satu bulan pesanan bisa sampai 2 ribu log," kata Surti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surti mengaku, keuntungan bersih yang bisa dikantongi dari budidaya jamur tiram ini minimal Rp 1,5 juta per bulan. Hambatan terbesar dalam membudidayakan jamur tiram hanyalah cuaca. Saat cuaca panas, jamur pun ogah berkembang, dan otomatis hasil panenan yang didapat hanya sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IKA NINGTYAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimuat di: http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/02/02/brk,20110202-310652,id.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-5621391111529769469?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/5621391111529769469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=5621391111529769469' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/5621391111529769469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/5621391111529769469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2011/02/enaknya-berbisnis-jamur-tiram.html' title='Enaknya Berbisnis Jamur Tiram'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-3986525921082839937</id><published>2011-01-11T03:33:00.000Z</published><updated>2011-01-11T03:34:11.965Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><title type='text'>Jangan Anggap Remeh Demam!</title><content type='html'>Apabila ada anggota keluarga kita yang mendadak demam, kita harus ekstra waspada. Jangan didiamkan saja! sebab, bila telat atau salah penanganan hasilnya bisa fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru saja mendapat pengalaman berkenalan dengan demam ini, ketika suami saya mendadak demam di malam hari. Padahal siang harinya, kami masih menikmati makan siang bersama. Dia bagitu lahap. Tak ada sinyal kalau bakal sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami saya mengeluhkan demam disertai sakit kepala hebat. Saya curiga, bahwa ini bukan demam karena flu, karena tidak ada sakit tenggorokan atau pilek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari saya hanya bisa mengompres dengan air dari kulkas dan memberinya banyak minum air putih. Sampai keesokan hari, tidak ada perubahan berarti. Demam masih tinggi. Prediksi saya di atas 30 derajat celcius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hari Minggu, saya hanya memanggil mantri desa. Mustahil ada dokter yang buka praktik di hari Minggu. Mantri desa mencurigai suami saya kena gejala tipus. Maka diberilah antibiotik untuk dosis tiga hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sungguh membuat panik. Keesokan hari lagi, tidak ada tanda demam atau sakit kepala membaik meski antibiotik sudah saya berikan. Nafsu makan suami berangsur menurun. Saya hanya memberinya lontong karena dia mengeluh agak nyeri di lambung. Ya, sakit kepala hebat membuatnya nyaris tidak bisa tidur nyenyak. Masih beruntunglah, dia masih suka minum air putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saya memutuskan untuk membawanya ke dokter spesialis penyakit dalam. Ternyata dokter juga belum bisa memastikan penyakit suami saya: tipes atau demam berdarah, karena demam masih dua hari. Dokter hanya memberi empat jenis obat. Tiga hari lagi kami disuruh kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tiga hari terakhir, demam sudah menurun, termasuk sakit kepala sudah hilang. Tapi datanglah batuk tanpa dahak disertai badan yang sangat lemah. Paru-paru seperti sesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya hanya memberi obat batuk cair yang saya beli di Indomaret. Tapi tak kunjung membaik. Batuk terus menerus mendera, terutama di malam hari hingga menyulitkan tidur. Dan di hari keenam, gusi suami saya berdarah. Tinja cair dan berwarna kehitaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memutuskan ke dokter lagi. Dokter meminta untuk cek darah dan urine. Hanya menunggu 30 menit, keluarlah permintaan dari dokter supaya suami saya opname karena trombosit jeblok 44 ribu dari normal di atas 150 ribu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, antara tipes dan demam berdarah gejalanya nyaris sama. Perbedaannya akan muncul pada hari kelima atau keenam setelah demam. Kalau demam berdarah, akan diikuti pendarahan, seperti munculnya bintik-bintik merah, gusi berdarah, dan tinja warna hitam. Supaya tidak terlambat dan salah penanganan, kita harus dituntut untuk sering-sering periksa ke dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun penyebabnya berbeda. Kalau demam berdarah karena Virus Dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegepti. Namun kalau tipes akibat bakteri Salmonella typi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada demam berdarah memang tidak ada obat khusus karena belum ditemukan. Cara terbaik, kalau kondisi keluarga kita semakin lemah dan tromobositnya kurang dari 100 ribu maka lebih baik opname, karena akan dibantu dengan infus untuk memperkuat daya tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami saya harus menghabiskan 4 hari di rumah sakit dengan pemberian infus 4 kali dalam sehari. Alhamdulilah semakin hari kondisinya semakin kuat dan trombositnya fluktuatif. Saat trombosit suami saya meningkat hingga 90 ribu, pada hari 10 dokter memperbolehkan kami pulang untuk di rawat di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda. Dan tetap menjaga kesehatan dan lingkungan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-3986525921082839937?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/3986525921082839937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=3986525921082839937' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/3986525921082839937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/3986525921082839937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2011/01/jangan-anggap-remeh-demam.html' title='Jangan Anggap Remeh Demam!'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-6643851190901731724</id><published>2010-12-28T04:39:00.000Z</published><updated>2010-12-28T04:40:04.313Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirator'/><title type='text'>Demam TIMNAS</title><content type='html'>Saya sebenarnya tak begitu suka sepak bola. Bahkan nyaris tak tahu teknis-teknis atau istilah sepak bola. Yang ada, saya malah sering cemberut kalau ngeliat suami begadang hanya demi bola. Tapi bukan berarti saya antipati sama sekali sama olahraga yang digandrungi di mana-mana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika TIMNAS menang 1-0 dari Filipina pada Semifinal AFF, saya sebenarnya juga ikut seneng. Dan besoknya, teman-teman ramai membahas TIMNAS yang akan melaga ke final. Keramaian itu juga mampir di Facebook. Tapi seneng saya cuma cukup di hati. Gak ikut-ikutan euforia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin dekat hari final, 26 Desember, dukungan dan pujian untuk TIMNAS makin menjadi-jadi. Meluber ke mana-mana. Yang paling jengkelin adalah tayangan di teve, seolah-olah nonstop untuk mengupdate berita TIMNAS. Mulai berita pemain, sampai minta komentar ke politisi dan artis-artis. Meski, para pemain sudah naik ke pesawat masih juga dikejar-kejar dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya hanya diulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, masih ada dua permainan lagi, Bung! umpat saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kekhawatiran saya terjadilah pada malam Final AFF Leg 1 di Bukit Jalil, Malasyia. TIMNAS dilibas tanpa balasan 0-4 oleh Malasyia. Meski saya bukan pengamat bola, tapi saya geregetan karena TIMNAS loyo, bingung, dan tak segarang melawan Filipina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suporter yang kecewa menyalahkan suporter Malasyia yang mengganggu TIMNAS dengan laser dan petasan. Tapi kukira bukan itulah sebab utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pemain kita pecah konsentrasinya sejak sebelum berangkat ke Malasyia. Mereka yang seharusnya fokus ke pertandingan, malah sibuk diwawancarai, diundang kemana-mana. Belum lagi ramai berita soal pemberiaan tanah dari Ical ke PSSI,hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pujian yang terlalu berlebihan sehingga TIMNAS merasa diawang-awang. Pujilah seadanya, beritakanlah sewajarnya saja. Nanti kalau sudah menang beneran mari kita rayakan 7 hari 7 malam....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kekalahan itu mengingatkan saya bagaimana garangnya Malasyia terhadap para TKI kita, mencaplok Simpadan-Ligitan, dan mengklaim Reog dan tari Pendet. Bukankah mental pejabat kita terlalu lemah menghadapi Malasyia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah masih ada Leg kedua. Semoga nanti malam mental TIMNAS memang tidak selembek pejabat kita. Karena itu, TIMNAS harus melibas Malasyia minimal 4 gol...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-6643851190901731724?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/6643851190901731724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=6643851190901731724' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/6643851190901731724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/6643851190901731724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/12/demam-timnas.html' title='Demam TIMNAS'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-6697939586359880464</id><published>2010-12-28T03:24:00.000Z</published><updated>2010-12-28T03:25:01.872Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Harga Tiket Penerbangan Banyuwangi-Surabaya Rp 900 ribu</title><content type='html'>Pemerintah Banyuwangi telah bekerja sama dengan maskapai penerbangan Sky Aviation untuk melayani penerbangan di Bandara Banyuwangi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Banyuwangi, I Ketut Kencana mengatakan, rute penerbangan yang dibuka yakni Banyuwangi-Surabaya dan Banyuwangi-Denpasar. "Penerbangan perdana dimulai 29 Desember mendatang," kata Ketut kepada wartawan, Senin (13/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat yang akan dioperasionalkan yaitu jenis Grand Caravan dengan kapasitas 9 kursi. Pesawat ini beroperasi dengan Rute Banyuwangi-Surabaya dengan jarak tempuh 45 menit, dan harga tiket dibanderol Rp 900 ribu. Sedangkan harga tiket Banyuwangi-Denpasar dengan waktu tempuh 28 menit, sebesar Rp 600 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketut, meski harga tiket diakuinya mahal, namun Pemerintah Banyuwangi optimis banyak kalangan pengusaha yang berminat. Selama ini, perjalanan Banyuwangi ke Surabaya ditempuh dengan jalur darat dengan jarak tempuh sekitar 7 jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila penerbangan dengan Grand Caravan ini dianggap sukses, maka pada Februari 2011 jenis pesawat akan ditingkatkan menjadi jenis Cessna dengan kapasitas 40 kursi. "Harga tiketnya pasti akan lebih murah," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 2008 lalu, Bandara Banyuwangi di Desa Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi, tersebut mangkrak. Padahal pembangunan Bandara ini menghabiskan anggaran lebih dari Rp 50 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyudi, salah satu pengusaha di Banyuwangi, mengatakan, tiket yang dipatok tersebut terlalu mahal meski jarak tempuh lebih singkat. Apalagi dengan harga semahal itu, kata dia, fasilitas yang disediakan sangat minim. "Terkecuali kalau fasilitasnya sesuai dengan harga," kata dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wahyudi, Pemerintah Banyuwangi harus memberikan subsidi silang untuk menekan harga tiket. "Tanpa subsidi silang, para pengusaha akan berpikir ulang untuk menggunakan pesawat," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-6697939586359880464?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/6697939586359880464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=6697939586359880464' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/6697939586359880464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/6697939586359880464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/12/harga-tiket-penerbangan-banyuwangi.html' title='Harga Tiket Penerbangan Banyuwangi-Surabaya Rp 900 ribu'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-2560522949932615206</id><published>2010-12-28T03:23:00.001Z</published><updated>2010-12-28T03:23:47.744Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Tarif Penyebrangan Ketapang Naik 19,16 Persen</title><content type='html'>Kementerian Perhubungan hari ini mensosialisasikan rencana kenaikan tarif penyebrangan Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk rata-rata 19,16 persen. Kenaikan tarif tersebut direalisasikan per 15 Desember mendatang pukul 00.00 Wib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementrian Perhubungan, Purwatiningsih, mengatakan, kenaikan tarif tersebut sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 71/2010 tentang Penyesuaian Tarif Penyebrangan Lintas Propinsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk, kenaikan tarif juga berlaku di 23 pelabuhan di Indonesia. Secara nasional, rata-rata kenaikan tarif untuk kendaraan non bersubsidi mencapai 20 persen. Sedangkan rata-rata kenaikan tarif  bersubsidi mencapai 15 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwatiningsih mengatakan, tarif saat ini masih berada di bawah biaya pokok sehingga perlu ada penyesuaian. Sebelumnya, tarif penyebrangan mengalami dua kali penurunan pada tahun 2008 dan 2009. "Karena di bawah biaya pokok, perusahaan tidak bisa melakukan pengadaan kapal baru" katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 65 persen kapal di seluruh pelabuhan di Indonesia, kata dia, berusia lebih dari 20 tahun. Sementara yang berusia kurang dari 10 tahun hanya berkisar 10,9 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Feri (Gapasdaf), Lutfie Syarief, mengatakan, rata-rata kenaikan tarif tersebut belum sesuai dengan usulan Gapasdaf yakni sebesar 84 persen. Karena itu, kata dia, tarif baru nantinya masih belum menutupi biaya pokok perusahaan kapal. "Kami berharap penyesuaian tarif dievaluasi setiap 6 bulan sekali," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana kenaikan tarif itu dikeluhkan supir truk. Salah satu supir truk dari Surabaya, Muhammad Jamil, mengatakan, keberatan bila tarif penyebrangan naik. Bila tarif naik, katanya, akan menambah beban perusahaan dan pendapatan supir. "Uang saku saya sekarang sudah pas-pasan. Kalau naik kita yang rugi," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-2560522949932615206?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/2560522949932615206/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=2560522949932615206' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/2560522949932615206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/2560522949932615206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/12/tarif-penyebrangan-ketapang-naik-1916.html' title='Tarif Penyebrangan Ketapang Naik 19,16 Persen'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-5495359562048172392</id><published>2010-12-28T03:22:00.001Z</published><updated>2010-12-28T03:22:58.645Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perempuan'/><title type='text'>DPRD Banyuwangi Ajukan Raperda Perlindungan Anak dan Perempuan</title><content type='html'>Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Banyuwangi mengajukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan dan Perdagangan Orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juru bicara DPRD, Nasiroh, mengatakan, raperda tersebut sangat dibutuhkan karena sesuai data Kementrian Pemberdayaan Perempuan, Banyuwangi menjadi salah satu daerah di Propinsi Jawa Timur dengan angka kekerasan perempuannya tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nasiroh, selama 2009 terdapat 216 kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak di Banyuwangi. Jumlah ini meningkat dari tahun 2008 yang mencapai 145 kasus. "Sembilan kasus di antaranya menimpa tenaga kerja wanita," kata Nasiroh kepada wartawan, Selasa (30/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi raperda itu, kata dia, mengatur kewajiban Pemerintah Banyuwangi untuk menyediakan pusat pelayanan terpadu bagi korban. Pusat pelayanan ini harus memberikan sosialisasi peraturan perundang-undangan, pendampingan korban, hingga reintegrasi korban ke masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama empat tahun ini, kata Nasiroh, sebenarnya Banyuwangi telah memiliki Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak. Namun karena tidak didukung perda, mengakibatkan KPPA tidak berfungsi maksimal. "Banyak orang tidak tahu keberadaan KPPA," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, raperda ini akan disahkan menjadi perda pada akhir 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, Muhammad Pua Jiwa, mengatakan, mendukung pengajuan raperda ini. Menurut dia, selama ini pendampingan terhadap korban kekerasan terkendala minimnya dana. "Tahun ini kita hanya mendapat anggaran 100 juta," kata dia.IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-5495359562048172392?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/5495359562048172392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=5495359562048172392' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/5495359562048172392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/5495359562048172392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/12/dprd-banyuwangi-ajukan-raperda.html' title='DPRD Banyuwangi Ajukan Raperda Perlindungan Anak dan Perempuan'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-4176229493783849401</id><published>2010-12-28T03:21:00.000Z</published><updated>2010-12-28T03:22:10.323Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wisata'/><title type='text'>Pemerintah Banyuwangi dan Bondowoso Berebut Gunung Ijen</title><content type='html'>Sengketa tapal batas antara Pemerintah Banyuwangi dan Bondowoso di Gunung Ijen hingga kini belum mendapat titik temu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Subbagian Pemerintahan Banyuwangi Abdurrachman, mengatakan, dua kali perundingan tapal batas yang difasilitasi Pemerintah Propinsi Jawa Timur juga tidak berhasil menemukan solusi. "Masih deadlock," kata dia kepada TEMPO, Selasa (30/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Ijen memang berada di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso di sebelah barat. Hingga kini belum ada SK Menteri Dalam Negeri untuk menentukan tapal batas kedua kabupaten bertetangga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurrachman mengatakan, Pemerintah Banyuwangi akan mati-matian mempertahankan Gunung Ijen masuk di kawasan Banyuwangi. Hal itu, diperkuat dengan sejumlah bukti berupa enam peta tapal batas buatan Belanda dan satu lambang Kabupaten Banyuwangi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam peta Belanda itu yakni Besoeki Afdeling 1895, Idjen Hooglan 1920, Java Madura 1942, Java Resn Besoeki 1924, Java Resn Besoeki 1924 Blad XCIII C, dan Java Resn Besoeki 1925. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Kabupaten Bondowoso, kata dia, berpijak pada peta milik Badan Kordinasi Survei dan Pemetaan Nasional tahun 2000. Dalam peta ini, Gunung Ijen setinggi 2.443 dari permukaan laut itu dibagi dua, masing-masing menjadi milik Banyuwangi dan Bondowoso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perebutan status kepemilikan Gunung Ijen sejak 2006 itu tidak lepas dari potensi wisata dan tambang belerang yang dimiliki gunung berapi tersebut. Setiap tahun ribuan wisatawan mancanegara berkunjung untuk menikmati Gunung Ijen yang memiliki kawah terbesar se Asia Tenggara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Bondowoso Amin Said, mengatakan, munculnya sengketa itu akibat dari perbedaan dokumen yang dimiliki Pemkab Banyuwangi dan Bondowoso. Namun dia tidak sepakat, banyak atau sedikitnya dokumen menjadi landasan satu-satunya untuk menentukan kepemilikan Gunung Ijen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian Gunung Ijen menjadi dua, dianggapnya sebagai solusi yang saling menguntungkan dua daerah. Apalagi selama ini wisatawan yang akan berkunjung ke Gunung Ijen juga bisa ditempuh melalui Bondowoso. "Kalau saling ngotot dengan persepsinya, ya tidak akan ada solusi," kata dia saat dihubungi TEMPO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bupati Amin, sesuai pertemuan terakhir yang difasilitasi Pemerintah Jawa Timur, akhir pekan lalu, Pemerintah Bondowoso saat ini memilih menyerahkan penyelesaian sengketa itu kepada Gubernur Jawa Timur. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-4176229493783849401?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/4176229493783849401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=4176229493783849401' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/4176229493783849401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/4176229493783849401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/12/pemerintah-banyuwangi-dan-bondowoso.html' title='Pemerintah Banyuwangi dan Bondowoso Berebut Gunung Ijen'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-7722591144546510883</id><published>2010-12-28T03:19:00.000Z</published><updated>2010-12-28T03:20:28.351Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wisata'/><title type='text'>Perbaikan Jalan Wisata Gunung Ijen Butuh Rp 25 Miliar</title><content type='html'>Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mengajukan permintaan anggaran ke Pemerintah Propinsi Jawa Timur sebesar Rp 25 miliar. Anggaran itu akan dipakai untuk memperbaiki jalan menuju obyek wisata Gunung Ijen sepanjang 17 kilometer yang kini rusak parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Agus Siswanto, mengatakan, Pemerintah Banyuwangi tidak mampu menanggung anggaran yang dinilai terlalu besar itu. Apalagi, katanya, Gunung Ijen menjadi salah satu dari tiga wisata alam yang dicanangkan menjadi ikon pariwisata Pemerintah Jawa Timur. "Selain Gunung Ijen, juga Gunung Bromo dan Plengkung yang jadi andalan wisata Jatim," katanya kepada TEMPO, Selasa (22/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus menjelaskan, kerusakan jalan menuju Gunung Ijen dari Desa Jambu, Kecamatan Licin hingga Pos Paltuding, Banyuwangi, sudah terjadi sejak 2003 lalu. Kerusakan jalan tersebut mengancam keselamatan pengunjung karena Gunung Ijen dikunjungi ribuan wisatawan asing dan lokal setiap tahunnya. "Apalagi medan jalan juga cukup sulit, menanjak dan curam," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, perbaikan jalan akan ditingkatkan menjadi kualitas hot-mix. Kalau anggaran cair pada tahun ini, maka perbaikan jalan bisa direalisasikan pada 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, kata dia, Pemerintah Banyuwangi akan membangun dari aspek wisata pendukung seperti penataan penginapan, rumah makan, dan outlet-outlet souvenir di pinggir jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun rencana perbaikan jalan menuju Gunung Ijen ini ditentang sejumlah pemandu wisata. Salah satu pemandu wisata, Kisma Donna, mengatakan, perbaikan jalan akan mengancam zona konservasi di kawasan Gunung Ijen. Menurut dia, kesadaran masyarakat di Banyuwangi masih rendah untuk menjaga kelestarian alam. "Saya khawatir nantinya satwa-satwa liar dan tanaman langka di kawasan Gunung Ijen akan semakin hilang," ujar dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Donna mengatakan, seharusnya konsep wisata tidak hanya dipandang dari aspek ekonomi melainkan tetap menjaga keseimbangan lingkungan. Karena, kelestarian alam di Gunung Ijen inilah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Menurut dia, jalan menuju Gunung Ijen tidak akan membahayakan pengunjung apabila ditempuh menggunakan moda transportasi yang sesuai medannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Ijen memiliki kawah terbesar di Asia Tenggara sehingga menjadi salah satu tujuan wisata di Jawa Timur. Saat ini pengelolaan kawasan wisata itu berada di bawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) III Jawa Timur. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-7722591144546510883?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/7722591144546510883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=7722591144546510883' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/7722591144546510883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/7722591144546510883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/12/perbaikan-jalan-wisata-gunung-ijen.html' title='Perbaikan Jalan Wisata Gunung Ijen Butuh Rp 25 Miliar'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-6032575260100958655</id><published>2010-12-28T03:18:00.000Z</published><updated>2010-12-28T03:19:23.618Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Investor Jakarta Tertarik Bangun Industri Gula di Banyuwangi</title><content type='html'>Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, mengatakan, saat ini ada investor baru dari Jakarta yang akan berinvestasi dalam pendirian industri gula di Banyuwangi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bupati Anas, nilai investasi pendirian indsutri gula itu sebesar Rp 1,6 triliun dan akan menyerap tenaga kerja 15 ribu orang. Sayangnya Anas masih merahasiakan nama investor tersebut kepada wartawan. "Nanti kalau sudah mendekati realisasi," kata Bupati Anas, Selasa (22/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Anas menjelaskan pabrik gula itu didatangkan langsung dari Chekoslavia. Namun, pendirian industri gula itu saat ini terkendala lahan karena membutuhkan 3 ribu hingga 5 ribu hektare lahan. Selain untuk bangunan pabrik, lahan tersebut diperuntukkan untuk tanaman tebu. "Pemerintah Banyuwangi memproyeksikan lahan di Kecamatan Glenmore atau Wongsorejo," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, rencana investasi pabrik gula di Banyuwangi diajukan konsorsium yang melibatkan PT Perkebunan Nusantara X1, PTPN XII, Mitra Tani Sejahtera dan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia. Pabrik gula yang rencananya beroperasi 2012 ini akan didirikan di Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, dengan kapasitas 100 ribu ton gula per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun menurut Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, dan Peternakan Banyuwangi, Ade Hidayat, tindak lanjut rencana investasi Konsorsium itu sejak 2008 lalu hingga kini tidak jelas. Karena itu, menurut dia, Pemerintah Banyuwangi masih membuka diri bagi investor lain yang ingin mendirikan industri gula. "Siapa yang paling siap itulah yang kita terima," kata dia kepada wartawan. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-6032575260100958655?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/6032575260100958655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=6032575260100958655' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/6032575260100958655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/6032575260100958655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/12/investor-jakarta-tertarik-bangun.html' title='Investor Jakarta Tertarik Bangun Industri Gula di Banyuwangi'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-7094109740070645920</id><published>2010-12-28T03:17:00.000Z</published><updated>2010-12-28T03:18:20.883Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemerintahan'/><title type='text'>CPNS Banyuwangi Harus Ber-IPK Minimal 3,5</title><content type='html'>BANYUWANGI -- Pemerintah Kabupaten Banyuwangi saat ini mulai membuka perekrutan 164 calon pegawai negeri sipil. Namun, mereka yang berniat melamar harus memiliki Indeks Prestasi Komulatif minimal 3,00 bagi lulusan perguruan tinggi negeri. Sementara bagi lulusan perguruan tinggi swasta, IPK minimal 3,5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Kabupaten Banyuwangi, Sukandi, menjelaskan, CPNS yang harus memiliki IPK minimal 3 dan 3,5 itu antara lain untuk formasi teknik sipil, teknik arsitektur, teknik informatika, teknik kimia, teknik perencanaan wilayah, hukum, dan akutansi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara formasi tenaga kesehatan dan tenaga pendidikan, syarat IPK lebih rendah. Yakni bagi lulusan perguruan tinggi negeri minimal 2,80 dan bagi lulusan perguruan tinggi swasta minimal 3,00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukandi menjelaskan, syarat IPK ini baru dilakukan pada perekrutan CPNS tahun ini. "Sebelumnya Pemerintah Banyuwangi tidak pernah menggunakan IPK sebagai syarat," katanya kepada wartawan, Senin (22/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan IPK inipun diklaimnya sebagai angka tertinggi di Indonesia. Tujuannya, kata dia, adalah untuk meningkatkan kualitas pegawai Pemerintah Banyuwangi dan merangsang mahasiswa supaya meningkatkan prestasinya. "Perguruan tinggi swasta juga ikut terdorong untuk memperbaiki sistem pendidikannya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendaftaran CPNS ini dimulai 19 November dan akan berakhir 3 Desember mendatang. Seluruh pendaftaran disampaikan melalui pos kepada Badan Kepegawaian dan Diklat Kabupaten Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya nilai IPK ini membuat sejumlah calon pendaftar mengurungkan niatnya. Faturrozi misalnya. Dia batal mengirimkan berkas pendaftarannya begitu mengetahui syarat IPK untuk lulusan perguruan tinggi swasta minimal 3,5. "Padahal berkas-berkas pendaftaran sudah saya siapkan," kata sarjana Hukum universitas lokal di Banyuwangi ini yang hanya memiliki IPK 3,18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Faturrozi, ketentuan IPK 3,5 bagi lulusan perguruan tinggi swasta dinilai terlalu memberatkan. Dia membandingkan dengan kabupaten lain, yang syarat IPK minimal 3,00. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-7094109740070645920?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/7094109740070645920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=7094109740070645920' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/7094109740070645920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/7094109740070645920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/12/cpns-banyuwangi-harus-ber-ipk-minimal.html' title='CPNS Banyuwangi Harus Ber-IPK Minimal 3,5'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-7163320978301962351</id><published>2010-12-28T03:16:00.000Z</published><updated>2010-12-28T03:17:16.870Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Pemerintah Banyuwangi Hentikan Pendirian Pasar Modern</title><content type='html'>Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, tidak akan mengeluarkan ijin baru bagi pasar modern di Banyuwangi. Hingga saat ini, jumlah pasar modern seperti supermarket dan minimarket di daerah itu sudah berlebihan. "Kalau ada permohonan ijin baru, kami tidak akan memberikannya,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (18/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azwar Anas mengatakan, jumlah pasar modern yang berlebihan itu mengancam keberadaan pasar tradisional dan sektor usaha mikro lainnya. Namun terhadap pasar modern yang telah ada, tidak akan dilakukan penutupan karena mereka telah memperoleh ijin dari pemerintahan sebelumnya saat dipimpin Bupati Ratna Ani Lestari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pantauan TEMPO, jumlah supermarket di Banyuwangi dalam dua tahun ini bertambah enam buah. Sedangkan minimarket seperti Indomaret dan Alfamart sudah berdiri di 24 kecamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap supermarket yang sudah berdiri, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi akan melakukan penataan ulang dengan memberikan ruang kepada usaha kecil menengah bisa berjualan di dalamnya. "Kita sudah berkomunikasi dengan Giant," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Pemerintah Banyuwangi akan memberikan kredit lunak dengan mendirikan Koperasi Pasar dengan bunga 0,5 persen setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Banyuwangi Adil Achmadiyono mendukung langkah penghentian berdirinya pasar modern baru karena sudah terbukti mematikan UKM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, menurut dia, pemerintah juga perlu merelokasi minimarket yang telah berdiri di tiap-tiap kecamatan supaya perekonomian di tingkat desa terselamatkan. "Jangan hanya menghentikan pemberian ijin baru, tapi perlu penataan ulang terhadap pasar modern yang telah ada," kata Adil Achmadiyono kepada TEMPO. IKA NINGTYAS.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-7163320978301962351?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/7163320978301962351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=7163320978301962351' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/7163320978301962351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/7163320978301962351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/12/pemerintah-banyuwangi-hentikan.html' title='Pemerintah Banyuwangi Hentikan Pendirian Pasar Modern'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-7564565550857344381</id><published>2010-12-28T03:14:00.000Z</published><updated>2010-12-28T03:15:39.505Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Kredit Rumah BTN Naik 2 Kali Lipat</title><content type='html'>BANYUWANGI -- Kredit kepemilikan rumah (KPR) PT Bank Tabungan Negara (BTN) di Kabupaten Banyuwangi tahun 2010 ini meningkat dua kali lipat dibanding tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Cabang Bank BTN Jember, Agus Setyawan, mengatakan, tahun ini jumlah kredit yang terealisasi mencapai Rp 210 miliar dari Rp 346 miliar kredit yang disediakan. "Tahun 2009 lalu realisasi kredit hanya 100 miliar," katanya kepada wartawan, Kamis (28/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Setyawan, mengatakan, semula BTN hanya menyediakan anggaran Rp 210 miliar untuk tahun 2010. Namun hingga Oktober, katanya, seluruh kredit telah diserap sehingga anggaran ditambah lagi Rp 136 miliar untuk mencukupi hingga akhir tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realisasi kredit itu diserap oleh 2.100 debitur, meningkat dari tahun lalu yang mencapai 1.500 debitur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, meningkatnya realisasi kredit itu bersamaan dengan pembukaan perumahan besar-besaran di Banyuwangi. BTN mencatat, tahun 2010 ini ada 70 pengembang yang berinvestasi. "Padahal 2009 hanya ada 30 pengembang," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anton Saverius, salah satu pegawai swasta di Banyuwangi, mengatakan, memilih mengambil kredit BTN karena tidak mampu membeli rumah secara tunai. Kredit rumah saat ini, katanya, cukup terjangkau. Dengan hanya membayar uang muka Rp 15 juta dan cicilan Rp 500 ribu per bulan selama 10 tahun, dia sudah mendapatkan sebuah rumah type 36. "Kalau harus kontan gaji saya tidak cukup," katanya kepada TEMPO. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-7564565550857344381?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/7564565550857344381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=7564565550857344381' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/7564565550857344381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/7564565550857344381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/12/kredit-rumah-btn-naik-2-kali-lipat.html' title='Kredit Rumah BTN Naik 2 Kali Lipat'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-4868104737461682104</id><published>2010-12-28T03:09:00.000Z</published><updated>2010-12-28T03:14:14.642Z</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirator'/><title type='text'>Selamatkan Kereta, PT KAI Beri Penghargaan 3 Warga</title><content type='html'>BANYUWANGI -- PT Kereta Api Daerah Operasional IX Jember, Jawa Timur, memberikan penghargaan terhadap tiga orang warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi, yang dianggap menyelamatkan 200-an nyawa penumpang Kereta Pandan Wangi pada 10 Oktober lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga warga itu yakni Ismail (43), Nur Sariyanto (42), dan seorang penjaga perlintasan kereta Suparno (54).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka dianggap berjasa memberi informasi kepada masinis Kereta Pandan Wangi atas jebolnya jembatan penopang rel kereta di kilometer 22  sehingga kereta yang sedang melaju itu terhindar dari kecelakaan. Jembatan tersebut jebol setelah diterjang banjir bandang yang mengakibatkan rel kereta menggantung di atas jurang sedalam lebih dari 50 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan diberikan langsung oleh Kepala PT KAI Daops IX, Pudjo Leksono, di aula Kantor Kelurahan Boyolangu, Kamis (28/10) siang. Menurut Pudjo, penghargaan tersebut berupa uang. Sayangnya dia menolak menyebutkan angkanya. "Tidak pantas kami sebutkan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberiaan itu, kata dia, merupakan inisiatif PT KAI karena tiga warga itu dianggap berjasa menyelamatkan ratusan nyawa yang berada di dalam kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismail merupakan orang pertama yang mengetahui jebolnya jembatan itu sekitar pukul 19.30 WIB. Dia lantas berlari menuju pos perlintasan dan memberitahu Suparno yang sedang berjaga malam itu. Memastikan benar tidaknya, Suparno langsung berlari ingin melihat langsung jembatan yang jebol. Jarak antara pos perlintasan dengan jembatan sekitar 200 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suparno kemudian ingat kalau sebentar lagi akan ada Kereta Pandan Wangi yang melintas. Setelah dicek, ternyata kereta lokal jurusan Banyuwangi ke Kecamatan Kalibaru itu ternyata sudah berangkat dari Stasiun Banyuwangi Baru. Dia hanya memiliki waktu 10 menit untuk mencegat kereta. "Saya kemudian menyuruh Pak Nur (Nur Sariyanto) untuk mencegat kereta," kata Suparno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur Sariyanto berlari menyusuri rel sambil membawa bendera merah dan lampu senter. Bendera merah merupakan simbol bahwa kereta harus berhenti. Untunglah, dari jarak 500 meter sebelum jembatan, Nur bertemu dengan Kereta yang dimaksud. "Masinis langsung menghentikan kereta," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah tersebut akhirnya tidak sampai memakan korban. PT KAI membutuhkan waktu 3 hari untuk membangun jembatan darurat. Selama tiga hari tersebut ada dua kereta yang terpaksa tidak bisa dioperasionalkan karena terjebak di stasiun terakhir. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-4868104737461682104?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/4868104737461682104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=4868104737461682104' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/4868104737461682104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/4868104737461682104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/12/selamatkan-kereta-pt-kai-beri.html' title='Selamatkan Kereta, PT KAI Beri Penghargaan 3 Warga'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-2346071000780896690</id><published>2010-06-19T11:17:00.000+01:00</published><updated>2010-06-19T11:18:31.160+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirator'/><title type='text'>Pengamen Stasiun</title><content type='html'>Menunggu kereta malam paling asyik memang di Stasiun Gubeng, Surabaya. Kenapa? Karena saya dapat menikmati sajian musik live yang disediakan oleh PT KAI setempat. Waktu menunggu kereta datang, serasa tidak membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya sering memilih naik dari stasiun ini, bila akan pulang ke Banyuwangi menggunakan kereta eksekutif-bisnis Mutiara Malam. Padahal, ada dua stasiun lain yang bisa saya tuju, yakni, Stasiun Semut dan Stasiun Wonokromo. Kereta ini berangkat dari Stasiun Gubeng pada jam 22.30 WIB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pada sebuah malam, pertengahan Mei lalu. Saya masuk stasiun ini sekitar jam 21.30. Tiga pemain musik sedang bersiap-siap di stand -letaknya persis di depan pintu masuk stasiun. Dua lelaki sebagai vokalis dan gitaris, sedangkan si perempuan memegang elektone. Namun ketiganya juga bergiliran menyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik-musik yang dipilih biasanya jenis pop, jazz, dan slow rock. Memang pas untuk suasana malam hari. Lagu yang dibawakan sangat variatif, mulai lagu terkini atau lagu era 90-an dan 80-an. Sering pula saya harus ikut bersenandung kecil kalau kebetulan hapal lirik lagunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajian musik ala Stasiun Gubeng ini biasanya dimulai jam 21.30, dan berakhir begitu kereta yang akan kami tumpangi meninggalkan stasiun. Kelompok musik yang tampil berbeda-beda. Namun satu yang sama, vokal mereka cukup membikin telinga nyaman, alias enak didengar. Tubuh mereka dibalut baju-baju casual, rapi, bersih, dan selalu bersepatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan stand, disediakan kotak kecil setinggi pinggang untuk menampung kocek sukarela dari penumpang. Lumayan, banyak penumpang yang rela berdiri dari duduknya untuk berbagi rejeki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu teringat pada Stasiun Karangasem, Banyuwangi, tempat saya turun kereta.  Pada jam yang sama, ada juga kelompok pengamen yang biasa menghibur penumpang yang menunggu kereta Mutiara Malam dari arah sebaliknya, Banyuwangi-Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan mereka seadanya seperti gitar dan ketimpung yang terbuat dari galon air minum. Pakainnya lebih sering awut-awutan: jeans dekil bolong-bolong, kaus, rambut warna-warni, dan tindik di telinga atau hidung. Yang khas, mereka hanya memainkan lagu-lagu Banyuwangian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang kereta datang, salah satu dari mereka meminta saweran dari satu penumpang ke penumpang lainnya berbekal satu kantong plastik sisa bungkus permen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ada kelompok pengamen mentas di Stasiun Karangasem, sebenarnya sekitar tahun 2006 sudah ada kelompok pengamen yang biasa mangkal di Stasiun Rogojampi, sekitar 15 menit dari Karangasem. Kebetulan saat itu organisasi saya melakukan pengorganisasian terhadap pengamen-pengamen di Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stasiun mereka manfaatkan sebagai peluang menambah pendapatan, setelah siang hari mereka ngamen dari bus ke bus. Ngamen di stasiun hasilnya memang lebih besar, karena penumpang kereta Mutiara Malam dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Minimal satu penumpang akan memberi seribu perak. Beda jauh dengan penumpang bus, yang biasanya hanya ala kadarnya. Kadang seratus rupiah pun jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang, sejak 2006 itu PT KAI sering melarang para pengamen menghibur penumpang di stasiun, karena dianggap jorok, dan mengganggu ketertiban. Tidak hanya di stasiun, pengamen juga kadang dilarang ngamen di dalam kereta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi penertiban kepada pengamen memang sering sekali dilakukan, tidak hanya oleh PT KAI, tetapi kepolisian. Tapi, penertiban bukan solusi untuk membuat mereka tidak lagi turun ke jalanan. Selagi akar permasalahan yakni kemiskinan dan pengangguran tetap tidak diatasi, anak-anak jalanan akan tetap mengais rejeki di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian hanya berandai-andai. Andai, kelompok pengamen itu difasilitasi untuk menghibur penumpang di stasiun Banyuwangi -seperti kelompok band di Stasiun Gubeng, maka problem sosial anak jalanan sedikit bisa diatasi. Banyuwangi memiliki enam stasiun yang penumpangnya cukup padat. Maka, bila satu kelompok ada lima orang, maka paling tidak ada 30 pengamen yang bisa dirangkul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT KAI bisa juga menggandeng instansi terkait untuk memfasilitasi mereka, seperti kostum, sepatu, alat musik, atau pelatih. Sesekali juga perlu ada penyuluhan anti narkoba, pemeriksaan HIV-AIDS, dan beasiswa sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Pasal 34 UUD 1945 sudah memberi perintah, bahwa fakir miskin dan anak terlantar dilindungi negara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyuwangi, 19 Juni 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-2346071000780896690?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/2346071000780896690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=2346071000780896690' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/2346071000780896690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/2346071000780896690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/06/pengamen-stasiun.html' title='Pengamen Stasiun'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-4963502234961678106</id><published>2010-06-19T11:01:00.002+01:00</published><updated>2010-06-19T13:26:58.939+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirator'/><title type='text'>In Memoriam Hasan Ali</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TByYRwhmFPI/AAAAAAAAAQM/VYlo4Hwk9KE/s1600/hasan+ali+1(2).JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TByYRwhmFPI/AAAAAAAAAQM/VYlo4Hwk9KE/s320/hasan+ali+1(2).JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5484425877081429234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Bapak Bahasa Using itu Telah Berpulang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua itu menghabiskan sisa umurnya di sofa ruang tamu. Kencing manis yang diidapnya sejak 2006, telah menggerogoti tubuh dan membuat kedua matanya tidak bisa melihat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sofa sederhana itu, Hasan Ali, 77 tahun, seniman sekaligus penggiat budaya Banyuwangi, menghabiskan hari-harinya dengan mendengarkan siaran televisi atau menyetel musik Banyuwangian. Tanpa mata, ia tak bisa lagi menyalurkan hobi membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhnya memang kian ringkih. Tapi semangatnya tetap menyala kala berbicara tentang Banyuwangi kepada TEMPO yang mewawancarainya, pertengahan Maret, 2008 lalu. Itu adalah perjumpaan terakhir TEMPO dengan pencipta Kamus Bahasa Using-Indonesia, terbitan PT Intan Pariwara, Klaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Kamus berjalan itu, Senin (14/6) kemarin, sekitar jam 02.17 WIB, telah menghembuskan napas terakhirnya setelah tiga pekan dirawat di Rumah Sakit Islam Fatimah, Banyuwangi, karena diabetes dan darah tinggi. Ia meninggalkan seorang istri, empat anak, dan 10 cucu. "Bapak adalah inspirator bagi kami," kata penyanyi, Emilia Contesa, anak pertama Hasan Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek berdarah Madura, Using, dan Pakistan itu, tak hanya sumber inspirasi bagi keluarganya, melainkan juga bagi masyarakat Banyuwangi. Kecintaannya pada Banyuwangi tak sekedar kata, melainkan telah berwujud karya dan pengabdiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuh di masyarakat Using, di Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi, 30 menit dari kota Banyuwangi, menjadikan kakek artis Denada ini sejak kecil sudah akrab dengan kesenian Banyuwangi. Pada usia 15 tahun, Hasan Ali ikut mendirikan kelompok kesenian teater rakyat, Damarwulan, cerita epos berlatar masa Kerajaan Majapahit yang menaklukan Kerajaan Blambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keaktifan pria lulusan SMA 1 Malang di dunia seni mengantarkannya sebagai anggota DPRD Banyuwangi tahun 1955-1966 sebagai wakil seniman dari Partai Nasional Indonesia (PNI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiprah pria yang pernah main film Tanah Gersang garapan Mochtar&lt;br /&gt;Lubis pada 1971 ini dalam melestarikan budaya Banyuwangi bukan sebuah jalan yang mulus. Pada 1969, ia mendapat tugas penting untuk mengembalikan gairah musik Banyuwangi dari Joko Supaat Slamet, bupati Banyuwangi saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, saat itu, musik Banyuwangi masih diindentikkan 'kiri' karena para senimannya kebanyakan anggota Lekra. Hasan Ali kemudian berinisiatif merekam lagu-lagu Banyuwangi itu ke dalam kaset. Jenis musik angklung yang identik dengan kiri digabungkan dengan musik gandrung yang dianggap lebih diterima masyarakat. Ya, cara itu akhirnya efektif dalam menumbuhkan industri rekaman musik Banyuwangi yang eksistensinya masih terjaga hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup Hasan Ali berikutnya dihabiskan bergulat dengan bahasa Using. Tahun 1978 ia mulai mengumpulkan kosakata bahasa Using yang tercecer dan belum terbukukan. Tanpa lelah, dia mencatat kosakata Using yang didengarnya di terminal, warung kopi, angkutan umum, dan obrolan dengan tetangga. Dia juga memburu kosakata Using pada komunitas Using yang tinggal di Jember, Bondowoso dan Situbondo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosakata yang ia temukan, dengan tekun ia cari padanannya dalam Bahasa Indonesia. Kemudian ia tuliskan satu persatu di kertas dengan bermodalkan mesin ketik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya penyelamatan yang ia modali sendiri itu, dipicu oleh kesadaran semakin sedikitnya warga Banyuwangi yang memakai bahasa Using sebagai percakapan sehari-hari. "Mereka malu," ungkap Ketua Cabang Lembaga Kebudayaan Negara (LKN) kepada Tempo, 2008 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuletan penemu gong geter kerep untuk gamelan Banyuwangi ini, akhirnya menarik perhatiaan seorang peneliti Jepang, Igarasi. Berkat rekomendasi Igarasi inilah, Hasan akhirnya mendapatkan dana Rp 45 juta untuk melanjutkan perburuan bahasa Using dan membeli seperangkat komputer (Koran Tempo, 24 Februari 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perburuan selama 22 tahun itu, akhirnya melahirkan sebuah Kamus Bahasa Using-Indonesia yang diterbitkan PT Intan Pariwara, Klaten, pada 2002. Ada 30 ribu kosakata Using yang berhasil ia kumpulkan. Kamus itu naik cetak tiga kali, yang separuhnya ia bagikan gratis untuk sekolah-sekolah, pondok pesantren, dan instansi pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kamus, mantan Ketua Dewan Kesenian Blambangan ini, juga melengkapi dengan menulis buku Tata Bahasa Using dan Pedoman Ejaan Bahasa Using. Tiga buku itulah&lt;br /&gt;yang menjadi pegangan pengajaran Bahasa Using yang sejak 2007 menjadi muatan lokal di sekolah dasar dan SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja keras Hasan Ali memang tidak sia-sia. Bahasa Using bisa terselamatkan sesuai cita-citanya. Selamat jalan,Bapak...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-4963502234961678106?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/4963502234961678106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=4963502234961678106' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/4963502234961678106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/4963502234961678106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/06/in-memoriam-hasan-ali.html' title='In Memoriam Hasan Ali'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TByYRwhmFPI/AAAAAAAAAQM/VYlo4Hwk9KE/s72-c/hasan+ali+1(2).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-818839597692586596</id><published>2010-06-19T10:49:00.002+01:00</published><updated>2010-06-19T13:26:37.683+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirator'/><title type='text'>Membuat Camilan dari Tanaman Liar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TByUK9lDnwI/AAAAAAAAAQE/Nw1UDUrMZno/s1600/P1080841.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TByUK9lDnwI/AAAAAAAAAQE/Nw1UDUrMZno/s320/P1080841.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5484421362280013570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPO Interaktif, Banyuwangi - Tanaman liar yang biasa tumbuh di pekarangan rumah, seperti cangkokan, pakis, dan sirih kini bisa dimanfaatkan untuk camilan. Termasuk juga bonggol pohon pisang, tak harus terbuang percuma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan Pinisrih, 45 tahun, berbagai tanaman liar itu bisa jadi kripik yang enak di lidah. Selain sehat, Pinisrih membuktikan tanaman-tanaman itu bisa jadi peluang bisnis menggiurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinisrih memproduksi camilan itu di rumahnya yang bergaya limasan seluas hampir satu hektar, di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur. Ia mempekerjakan 11 karyawan yang berasal dari sekitar rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini ibu dua anak itu sudah mampu mengeluarkan puluhan produk camilan dari tanaman liar itu. Ada kripik sirih, pakis, daun mangkuk, kemangi, bayam, daun luntas, serta kerupuk bonggol pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun-daunan itu digoreng kering bersama adonan tepung. Rasanya? Kurang lebih sama seperti saat Anda ngemil peyek. Namun, rasa gurih itu ditambah dengan rasa tiap-tiap tanaman. Sebut saja, bayam, ya rasa bayamnya akan tetap berasa di lidah. Yang esktrem adalah kripik sirih. Rasa sirihnya lebih kuat, sehingga serasa minum jamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu yang mengaku hobi memasak ini, memulai usaha makanan sejak 1995 lalu dengan membuka pesanan kue basah, seperti donat dan cake. Setahun berikutnya, ia membuat kue-kue kering semacam pastel dan bagiak. Bagiak adalah jenis camilan khas Banyuwangi yang adonan utamanya dari tepung terigu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha istri Slamet Riyadi ini semakin berkembang saat ia mulai memproduksi kerupuk bonggol pisang. Barangkali camilan ini terdengar aneh, mengingat bonggol pisang tergolong limbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide ini muncul, ungkap sarjana pendidikan sejarah ini, dari sebuah pohon pisang yang pernah tumbuh di halaman rumahnya. Saat itu ia berpikir, bagian apa saja dari tanaman multi fungsi itu yang belum dimanfaatkan. Pikirannya langsung tertuju ke bonggol pisang, yang selama ini hanya teronggok di tempat sampah begitu pohon itu ditebang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula bonggol pisang akan dibuat keripik. Setelah dipotong lebar-lebar, dicelupkan ke adonan, lalu digoreng. Namun hasil uji pertama ini gagal. "Rasanya aneh, tidak nyaman," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang pernah menjadi guru sekolah dasar ini tidak patah semangat. Ia mencoba mengkombinasikan bonggol pisang dengan tepung tapioka. Namun bonggol pisang harus dihaluskan sebelum dicampur dengan tepung dan rempah dapur. Adonan kemudian dicetak, dan dijemur hingga kering. Setelah itu digoreng dengan minyak panas hingga mengembang. Jadilah kerupuk bonggol pisang yang akhirnya meroketkan nama Pinisrih di Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan berjilbab ini terus berinovasi untuk menghasilkan camilan yang unik dan langka. Tahun 2008, ia membuat kerupuk lidah buaya. Sementara, keripik tanaman liar baru diproduksinya tahun 2009 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pinisrih, berbagai daun-daunan itu ia beli di pasar dekat rumahnya. Untuk membuat kripik bayam, misalnya, ia biasanya membeli 50 ikat bayam seharga Rp 20 ribu. Lima puluh ikat bayam itu bisa jadi 30 bungkus kripik yang masing-masing beratnya 150 gram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kripik itu rata-rata dijual Rp 5 ribu per bungkus. Pasarnya sudah menjangkau Kalimantan, Sumatra, Jakarta, dan Bali. "Alhamdulillah omzetnya sudah Rp 450 ribu per hari," kata Pinisrih kepada Tempo, akhir pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Pinisrih bukan tipe wirusaha yang pelit. Ia sering membagikan kiat dan resep usahanya itu ke warga sekitar rumahnya. Ia juga kerap diundang menjadi pelatih usaha kecil menengah yang biasa digelar Pemerintah Banyuwangi atau organisasi wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-818839597692586596?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/818839597692586596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=818839597692586596' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/818839597692586596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/818839597692586596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/06/membuat-camilan-dari-tanaman-liar.html' title='Membuat Camilan dari Tanaman Liar'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TByUK9lDnwI/AAAAAAAAAQE/Nw1UDUrMZno/s72-c/P1080841.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-4733530814253250922</id><published>2010-06-19T10:42:00.000+01:00</published><updated>2010-06-19T10:43:42.698+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirator'/><title type='text'>Pilih Politisi, Birokrat atau Penyanyi?</title><content type='html'>Perhelatan lima tahunan itu akan dimulai. Masyarakat Banyuwangi akan mendatangi tempat pemungutan suara untuk memilih pemimpinnya pada 14 Juli mendatang. Kali ini ada tiga paket calon yang harus dipilih salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat bisa pilih nomor urut 1: pasangan Abdullah Azwar Anas - Yusuf Widyatmoko yang diusung PDIP, PKB, Golkar, PKNU, dan PKS. Atau pilih nomor 2: pasangan Jalal - Yusuf Nur Iskandar, disokong Partai Demokrat. Atau pilihannya jatuh pada nomor 3 -calon yang paling cantik : pasangan Emilia Contesa - Ahmad Zaenuri Ghazali didukung Partai Gerindra, PAN, dan Republikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga paket itu punya kesamaan dan perbedaan. Oke, saya mulai dulu dari perbedaannya, karena saya hanya punya satu catatan yang membedakan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah jadi rahasia umum tentunya, hal paling mencolok yang membedakan ketiganya hanya pada jumlah partai penyokong. Kalau dilihat dari jumlah perolehan kursi di DPRD, paket nomor urut satu paling unggul karena mengantongi partai lebih banyak, yakni 30 kursi. Nomor urut dua, 10 kursi. Sedangkan nomor urut tiga, hanya 6 kursi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politisi percaya, semakin banyak menguasai parpol DPRD, maka kelak akan dapat menjinakkan lembaga perwakilan rakyat itu. Tidak perlu ngoyo apabila ingin menelurkan kebijakan, karena palu DPRD akan langsung seiya sekata. Sebaliknya, semakin sedikit parpol DPRD, akibatnya seperti pada pemerintahan Bupati Ratna Ani Lestari. Sering dijegal, sering diprotes, diboikot atau diancam hak angket maupun &lt;br /&gt;interpelasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun teori merangkul sebanyak-banyaknya parpol DPRD ini akhirnya terbukti ampuh memenangkan suara rakyat, maka kita pun patut khawatir. Khawatir akan terbentuknya &lt;br /&gt;pemerintahanan kompromis,  wakil rakyat yang tidak kritis, dan bahkan hanya menjadi tukang stempel. Ya, kondisi ini akan menjadi konsekuensi yang harus ditanggung oleh masyarakat selama lima tahun ke depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti saya mendukung calon yang sokongan partainya kecil. Tapi, harus diakui, kapasitas maupun kualitas lembaga wakil rakyat kita dalam kondisi kritis. Pelaksanaan tugas legislasi, kontrol, maupun budgeting jauh lebih rendah dibanding gaji yang mereka terima tiap bulan. Coba ingat, ada berapa program DPRD untuk ikut &lt;br /&gt;menuntaskan kemiskinan, pengangguran, pelestarian lingkungan, maupun pemberantasan korupsi? Seingat saya nol besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, rendahnya kinerja DPRD menunjukkan partai politik yang mencetak sdm-sdm di dalamnya, dalam kondisi krisis serupa. Parpol yang idealnya menjadi bagian untuk &lt;br /&gt;mengadvokasi kepentingan publik, hanya sibuk dengan kepentingan kelompoknya memperebutkan kekuasaan dengan praktik-praktik politik dagang sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa kesamaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, mereka sama-sama orang Banyuwangi, putra daerah. Isu putra daerah masih cukup laku. Karena itu tak heran dalam baliho yang menyesaki jalan, mereka akan menulis besar-besar dua kata itu sebagai bahan jualan mereka. Harapan masyarakat, cabup putra daerah dapat lebih mengerti karakteristik daerah asalnya, meskipun &lt;br /&gt;dalam prakteknya tidak pernah ada jaminan daerah yang akan dipimpinnya kelak menjadi lebih sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, meskipun putra daerah, namun ketiga calon bupati sama-sama lebih banyak berkarya di luar Banyuwangi. Pak Anas, berkarier sebagai seorang politisi. Dia pernah menjadi anggota MPR RI Utusan Golongan tahun 1997 dan anggota DPR RI periode 2004-2009 dari Partai Kebangkitan Bangsa. Melongok di blog pribadinya, saat menjadi anggota DPR RI itu, Anas mengaku menjadi salah satu inisiator penyelesaian kasus penting, seperti lumpur lapindo, BLBI, kenaikan harga sembako, dan hak angket kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Jalal, menghabiskan hari-harinya sebagai seorang birokrat. Dia kini menjabat Kepala Dinas Pekerjaan Umum Nusa Tenggara Barat. Dia pernah memperoleh Satya Lencana&lt;br /&gt;Pembangunan Bidang Ke-PU-an oleh Presiden RI Tahun 1995, dan Satya Lencana Karya Sapta 10 Tahun oleh Presiden RI Tahun 1999. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emilia Contesa, saya yakin sudah banyak dikenal karena sering tampil di televisi sebagai seorang penyanyi ibu kota. Pelantun lagu Angin November ini mencapai puncak karirnya pada 1970, dan pernah dijuluki Singa Panggung Asia oleh majalah Asia Week. Ibu kandung Denada ini, juga tercatat pernah membintangi sejumlah film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persamaan ketiga, adalah sama-sama belum teruji. Belum terlihat apa karya dan bentuk pengabdiaan mereka selama ini untuk Banyuwangi. Karena Banyuwangi tentunya tidak bisa disamakan dengan Jakarta atau NTB. Ada setumpuk persoalan yang gagal dikerjakan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya, dan menjadi peer yang harus dituntaskan. Namun kalau kita menyimak visi misi yang dipaparkan calon sebenarnya bukan barang baru. Seperti pendidikan murah, kesehatan murah, sembako murah, memperbanyak lapangan kerja, meningkatkan pariwisata dan lain-lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada calon yang menawarkan konsep perubahan berkarakteristik Banyuwangi. Kita belajar dari pemerintahan saat ini. Semangat Ratna membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan daerah ternyata justru dengan mengijinkan investor yang berpotensi besar merusak lingkungan. Obsesinya menyelenggarakan pendidikan gratis,&lt;br /&gt;malah memperlambat pencairan subsidi ke sekolah dan menghambat pencairan kesejahteraan guru. Akibatnya, pungutan liar ke siswa semakin merajalela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, pemilihan kepala daerah tahun ini memang agak lebih sulit. Karena seluruh calon bupati adalah orang-orang baru. Mengutip kelakar seorang teman, Banyuwangi 1 sedang diperebutkan oleh politisi, birokrat, dan penyanyi. Silakan memilih sesuai selera Anda!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-4733530814253250922?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/4733530814253250922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=4733530814253250922' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/4733530814253250922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/4733530814253250922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/06/pilih-politisi-birokrat-atau-penyanyi.html' title='Pilih Politisi, Birokrat atau Penyanyi?'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-391852424200988446</id><published>2010-06-19T10:40:00.000+01:00</published><updated>2010-06-19T10:41:46.498+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirator'/><title type='text'>Yuk, Berkaraoke...</title><content type='html'>Dulu, saat masih pakai seragam sekolah, aku paling sebel mendengar Ayah berkaraoke. Selain berisik, kesannya seperti genit. Ayah memang hobi karaoke. Dia membeli seperangkat VCD Player berikut CD-CD bajakan, serta dua buah sound system sederhana hasil rakitan sendiri. Lagu favoritnya, nostalgia. Pantas memang dengan usia Ayah yang saat itu sudah 40-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali mendengar Ayah berkaraoke aku langsung pasang wajah cemberut. Ayah tak pernah perduli. Karena, katanya, perasaannya jadi bahagia dengan menyanyi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga, dua bulanan lalu, saat beberapa teman mengajakku berkaraoke. Kebetulan ada tempat karaoke baru yang belum lama bercokol. Aku langsung ogah. Selain tak suka karaoke, mendengar tempat karaoke saja langsung muncul macam-macam 'kepercayaan' dalam otakku. Bukankah tempat karaoke selalu identik dengan tempat mesum dan mabuk-mabukkan? Ya, biar selamat, maka kutolaklah berbagai ajakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan aku bertemu salah seorang kawan pula, yang kukenal alim. Dia punya hobi baru yang bikin aku kaget, karaoke. Dia berkomentar, "Awalnya aku juga nolak. Tapi setelah nyoba, asem, sekarang jadi kecanduan." Aku jadi berpikir, sedasyat itukah dampaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, setan mana yang meracuki otakku sore itu (lupa kapan tepatnya). Ketika, seorang teman kembali kirim SMS, yang intinya mengajakku karaoke. Kakiku langsung menuju NAV, di Jalan MH Thamrin. Room Satu. Saat kumasuk, sudah ada empat kawan di dalamnya. Salah satu kawan, mengajak juga istrinya. Di luar dugaan, tiga jam berkaraoke ternyata habis oleh lagu-lagu yang kunyanyikan. Hahaha. Seorang teman jadi sewot, lalu berujar "Kemaruk!". Entahlah, bagaimana hancurnya suaraku tapi puas berteriak. Yang penting, tanpa minuman keras, tanpa adegan mesum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, teman-teman menjulukiku ratu karaoke. Dalam seminggu aku bisa pergi tiga hingga empat kali. Apalagi kalau ada bandar yang mengongkosi. Tapi kalau pun tak ada bandar, kita rela pakai uang bantingan alias iuran. Maklum, mahalnya bukan kepalang. Paling murah Rp 21 ribu perjam. Belum pajak ini itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;##&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akhirnya menjadi tahu, kalau bangsa Jepang-lah yang pertama mengenalkan karaoke hingga akhirnya mendunia. Karaoke berasal dari bahasa jepang yaitu Kara (kosong) dan Okesutora (orkestra) yang artinya orkestra tanpa vokal. Atau pengertiaan lain, sebuah bentuk hiburan di mana seseorang menyanyi diiringi dengan musik video dan teks lirik yang ditunjukkan pada sebuah layar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau merujuk pada Wikipidia, karaoke yang sangat mem-booming di dunia pada saat ini ditemukan pertama kali oleh seorang warganegara Jepang yang bernama Daisuke Inoue, pada tahun 1971 di kota Kobe. Namun sayang penemuannya yang penting ini tidak dia patenkan sehingga akhirnya hak paten atas system karaoke dimiliki oleh Roberto del Rosario seorang pengusaha Filipina pada tahun 1986, setelah selama tiga tahun dia berjuang di pengadilan melawan perusahaan-perusahaan Jepang. System karaoke yang dipatenkan atas nama Roberto del Rosario disebut dengan Minus-one.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu dunia tetap mencatat Daisuke Inoue sebagai pencipta dari karaoke dengan cara memberikannya sebuah Nobel Perdamaian pada tahun 2004 dengan alasan bahwa penemuannya yaitu karaoke telah memberikan suatu cara yang benar-benar baru dalam hal seseorang belajar bertoleransi kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri belum jelas kapan karaoke ini mulai masuk. Yang pasti awalnya karaoke identik dengan hiburan di klub-klub malam. Itulah yang membuat karaoke selalu berkonotasi negatif. Tapi anggapan ini mulai luntur, dengan menjamurnya waralaba karaoke yang menyediakan sarana karaoke keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;##&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagi Anda yang memiliki hobi karaoke seperti saya, selamat, berarti Anda punya cara murah untuk tetap sehat. Dengan karaoke terbukti efektif menghilangkan stress dan memicu perasaan positif. Saya mengutip artikel di Banjarmasin Post mengenai efek positif berkaraoke ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menjadikan Pernapasan Lebih Baik&lt;br /&gt;Saat bernyanyi Anda menggunakan seluruh tubuh untuk bernapas dengan lebih santai. Otot diafgragma akan melengkung ke bawah, paru-paru mengembang lebih lengkap. Otot perut yang lebih santai memungkinkan tubuh bernaps lebih aktif dan sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengoksidasi darah&lt;br /&gt;Ketika Anda menggunakan seluruh tubuh untuk bernapas, volume oksigen yang mengaliri seluruh tubuh akan makin besar. Sel-sel tubuh yang dialiri oksigen berfungsi lebih baik dan menciptakan energi baru bagi pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Merangsang aktivitas otak&lt;br /&gt;Bernyanyi memerlukan pemikiran. Saat bernyanyi, Anda perlu mengikuti lirik, melodi dan irama, serta kata-kata yang menghubungkannya dengan emosi. Saat bernyanyi udara akan banyak mengalir ke otak pada bagian neuron yang mengintegrasikan aktivitas fisik, emosional dan psikologis untuk merasa gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Melepaskan hormon bahagia&lt;br /&gt;Hormon endorfin yang dikeluarkan saat bernyanyi bermanfaat menciptakan rasa senang dan kebahagiaan dengan memicu saraf dan fisik. Suara indah  Anda tidak hanya akan menghibur orang lain tetapi menciptakan rasa damai dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mengurangi stres&lt;br /&gt;Ketika Anda merasa senang, tingkat stres menurun. Endorfin membantu mengurangi stres dan gelisah. Saat menyanyikan sebuah lagu dengan perasaan mendalam, tubuh bernapas lebih dalam dan memperlambat denyut jantung serta mengurangi kecemasan berlebihan. Saat stres, buang kepenatan dengan menyanyikan lagu-lagu kesukaan dan bergembiralah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Membangun kepercayaan diri&lt;br /&gt;Jika berbicara di depan umum masih merupakan ketakutan utama Anda, mulailah dengan bernyanyi di karaoke dengan sahabat dan orang terdekat. Bernyanyi membangun rasa percaya diri karena Anda menjadi orang yang sangat terbuka. Bila Anda telah berani berbagi suara dan musik, Anda akan lebih mudah mengatasi ketakutan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Meningkatkan memori&lt;br /&gt;Bernyanyi membuat Anda sedikitnya harus membaca atau menghafal saat mempelajari melodi baru, lirik dan musik kompleks. Cara ini bagus  merangsang wilayah otak yang terlibat dengan memori, belajar dan konsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Meningkatkan kreativitas&lt;br /&gt;Saat Anda membangun rasa percaya diri dan merangsang jiwa seni dengan bernyanyi secara bersamaan Anda juga menumbuhkan jiwa kreatif Anda. Anda akan keluar dari kotak dan menjadi seorang produktif dan inovatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Menciptakan suara yang bertenaga&lt;br /&gt;Profesi pembicara, presenter, guru, pendeta atau dalam bisnis terkait penjualan akan mendapatkan keuntungan dari belajar menyanyi. Suara merupakan instrumen penting. Bernyanyi memberi Anda keahlian berbicara dengan suara bertenaga, kuat dan percaya diri yang terpancar dari suara. Semua manfaat itu bisa dirasakan dari teknik menyanyi yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Membuat Anda merasa fantastis&lt;br /&gt;Bernyanyi menjadikan Anda memiliki rasa percaya diri, memegang kendali, lebih hidup secara fisik dan kreatif. Sehingga secara mental, fisik dan emosional Anda akan merasa sangat senang dan fantastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyuwangi, 9 April 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-391852424200988446?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/391852424200988446/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=391852424200988446' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/391852424200988446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/391852424200988446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/06/yuk-berkaraoke.html' title='Yuk, Berkaraoke...'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-7610327912640733798</id><published>2010-06-19T10:38:00.000+01:00</published><updated>2010-06-19T10:39:13.551+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirator'/><title type='text'>Budidaya Lele Organik</title><content type='html'>Kotoran sapi rupanya tak hanya dimanfaatkan untuk pupuk organik. Di Banyuwangi, Jawa Timur, kotoran sapi saat ini juga populer untuk budidaya lele organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu petani yang mengembangkan budidaya lele organik adalah Abdul Kohar, 48 tahun. Di belakang rumahnya, Jalan Temuguruh, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, ia membikin 12 kolam berukuran masing-maisng 3,5 meter x 4 meter untuk membudidayakan lele organik sejak masih benih hingga siap konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S73wCsUJZlI/AAAAAAAAAOc/cbAH6SVK4Gc/s1600/Abdul+Kohar+dan+Lele+Organik+1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S73wCsUJZlI/AAAAAAAAAOc/cbAH6SVK4Gc/s320/Abdul+Kohar+dan+Lele+Organik+1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5457782252488975954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budidaya lele organik, menurut Kohar, sebenarnya mengadopsi pola hidup lele di alam bebas, dimana media hidup dan pakannya berasal dari bahan organik. Sementara untuk budidaya lele nonorganik, biasanya dilakukan tanpa perlakuan khusus dengan pakannya berasal dari pabrikan (pellet).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya tentu saja berbeda. Ukuran lele organik ternyata lebih panjang, antara 25-30 centimeter dibandingkan lele biasa. Warna lele organik kemerah-merahan, terutama di bagin sirip dan insang. "Lele biasa warnanya sedikit lebih hitam," terang Abdul Kohar, kepada Tempo, akhir pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lele organik juga lebih menonjol dalam hal rasa. Tekstur daging lebih kesat, kenyal, dan gurih, hampir menyamai rasa lele yang hidup di alam bebas. "Dan tentunya, lebih sehat," tegas petani lulusan Teknik Nuklir, Universitas Gajah Mada ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membudidayakan lele organik memang membutuhkan keuletan tersendiri. Setidaknya terdapat empat tahapan yang harus dilakukan. Tahap pertama, adalah penebaran benih lele pada kolam berisi air dan kotoran sapi yang telah dikomposing selama satu bulan. Kotoran sapi tersebut ditempatkan dalam tiga karung goni tertutup. Kohar biasa menebar 21 ribu benih yang dibelinya dari daerah sekitar seharga Rp 25 per benih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila benih berusia dua minggu, kemudian dilakukan seleksi untuk benih yang berukuran 4-5 milimeter. Benih tersebut dipisahkan di kolam berikutnya selama dua minggu hingga benih berdiameter 10 milimeter. Dua minggu berikutnya, lele diseleksi untuk yang berukuran 20 milimeter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak benih lele berdiameter 10 milimeter itu, kolam yang berisi air dicampur langsung dengan pupuk organik dari kotoran sapi hingga setinggi 20 centimeter. Dari cara ini, kotoran sapi akan menghasilkan banyak plankton yang menjadi makanan utama lele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lele organik, baru siap dipanen saat usianya delapan minggu. Kohar menceritakan, setiap kali panen ia bisa menghasilkan enam kuintal lele, dengan harga Rp 9 ribu perkilogramnya. Meski pasarnya masih seputar Banyuwangi, namun menurut dia, budidaya lele organik lebih menghemat tingkat pengeluaran hingga 40 persen. Sebab ia tak perlu lagi membeli pakan pabrikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan lainnya, air di dalam kolam lele tidak menghasilkan bau busuk seperti halnya lele non organik. Sehingga ia tak perlu repot mengganti air dalam kolam. "Menghemat biaya dan tenaga," kata ayah enam anak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan Kohar pula, sisa air dalam kolam lele ternyata masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman padinya seluas satu hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kohar sebenarnya sudah akrab dengan pupuk organik sejak tahun 2005 lalu. Ia juga tercatat sebagai salah satu petani yang konsisten memakai pupuk organik untuk tanaman padinya. Sebelum membudidayakan lele organik empat bulan lalu, kotoran ternak sapinya yang berjumlah enam ekor langsung dimanfaatkan untuk tanaman padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S73xEWu2ixI/AAAAAAAAAOk/nmHcR2b7xuA/s1600/lele+organik.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S73xEWu2ixI/AAAAAAAAAOk/nmHcR2b7xuA/s320/lele+organik.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5457783380566772498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S Sirtanio) Samanhudi mengatakan, budidaya lele organik di Banyuwangi masih dikembangkan oleh enam petani. Pasarnya juga masih terbatas di Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, hal itu disebabkan karena budidaya lele organik masih tergolong baru sehingga belum populer di masyarakat. Lele, kata dia, masih menjadi makanan favorit di masyarakat. Namun kebanyakan yang beredar, mengandung residu akibat pemakaian bahan kimia yang tinggi. "Berbeda, kalau organik sudah bebas zat kimia," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ditilik dari segi gizi, kata dia, lele organik tingkat kolestorelnya lebih rendah karena mengandung asam lemak tak jenuh. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-7610327912640733798?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/7610327912640733798/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=7610327912640733798' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/7610327912640733798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/7610327912640733798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/06/budidaya-lele-organik.html' title='Budidaya Lele Organik'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S73wCsUJZlI/AAAAAAAAAOc/cbAH6SVK4Gc/s72-c/Abdul+Kohar+dan+Lele+Organik+1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-6444892681059244806</id><published>2010-06-19T10:35:00.001+01:00</published><updated>2010-06-19T10:36:45.764+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Djiaw Kie Siong</title><content type='html'>Kamar berdinding kayu seluas 4x10 meter itu tertata rapi. Sebuah tempat tidur besar, lengkap dengan tirai putihnya --senada dengan warna dinding-- berada di sudut kamar. Persis di depan pintu, terdapat sebuah meja dan kursi kayu. Semua perkakas itu terlihat bersih. Sama sekali tak berdebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebersihan kamar ini memang sangat dijaga. Meski dibersihkan setiap hari, namun tak satupun keluarga Djiaw Kie Siong berani tidur di dalamnya. Kamar dibiarkan kosong dengan pintu terkunci. Baru dibuka, kalau akan dibersihkan atau saat ada tamu berkunjung. "Kakek berpesan supaya kamar tidak ditempati," tutur Djiaw Kim Mong, 57 tahun, cucu Djiaw Kie Siong kepada penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar ini bersejarah, karena menjadi tempat peristirahatan Bung Karno bersama istri dan anaknya (Fatmawati dan Guntur Soekarnoputra) saat diculik kelompok pemuda 65 tahun silam. Kamar ini berada di bagian kanan rumah bergaya limas seluas 14x20 meter di Dusun Bojong, Desa Rengasdengklok, Karawang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S736M8jvfaI/AAAAAAAAAO0/p1dZ3GO_KEs/s1600/DSC01456.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S736M8jvfaI/AAAAAAAAAO0/p1dZ3GO_KEs/s320/DSC01456.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5457793423764323746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar Bung Karno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Bung Karno, para pemuda juga menculik Bung Hatta. Kamar istirahat untuk Bung Hatta berseberangan dengan kamar Bung Karno, atau tepatnya di sebelah kiri. Tempat tidurnya lebih sederhana, tanpa tirai. Tapi kondisinya juga terawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemuda yang terdiri dari Adam Malik dan Chaerul Saleh menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke rumah Djiaw pada 16 Agustus 1945 sekitar pukul 04.30. Penculikan ini untuk mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan RI setelah kekalahan Jepang kepada sekutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh perkakas di kedua kamar itu sebenarnya hanyalah replika. Perkakas aslinya sudah diamankan ke Museum Sri Baduga Maharaja di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain perkakas, menurut Djiaw Kim Mong, rumah yang menjadi situs sejarah ini tidak terletak seperti dulu. Saat peristiwa penculikan Soekarno-Hatta, letak rumah berada di 100 meter dari rumah saat ini. Rumah Djiaw dipindahkan atas perintah Soekarno karena terkena banjir dari Kali Citarum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Djiaw Kie Siong menjadi bagian penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Di rumah ini pula naskah proklamasi dipersiapkan. Rencananya, proklamasi akan dikumandangkan di Rengasdengklok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S739sJ715NI/AAAAAAAAAO8/p3w1Lxxlt-g/s1600/DSC01458.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S739sJ715NI/AAAAAAAAAO8/p3w1Lxxlt-g/s320/DSC01458.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5457797258465895634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar Bung Hatta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Her Suganda berjudul Rengasdengklok Revolusi dan Peristiwa 16 Agustus 1945 (2009) menuliskan, bersamaan dengan penculikan itu, di halaman pendopo kawedanan berlangsung upacara penurunan Bendera Jepang Hinamaru, yang diikuti pengibaran Sang Saka Merah Putih. Inilah untuk pertama kali Merah Putih berkibar. Peristiwa itu dilanjutkan dengan pernyataan kemerdekaan oleh camat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana pembacaan teks Proklamasi kemudian urung, karena pada sore harinya Ahmad Subardjo dari golongan tua datang menjemput Bung Karno dan Bung Hatta. Subardjo mengajak keduanya memproklamirkan kemerdekaan RI di Jalan Pegangsaan Timur No 56, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;##&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djiaw Kie Siong adalah seorang petani kecil di Rengasdengklok, keturunan Tionghoa. Lahir sekitar tahun 1881. Menurut Djiaw Kim Mong, salah satu cucunya, Djiaw jauh dari kegiatan politik. Sehari-hari mengurus sawah yang terletak tak jauh dari Kali Citarum untuk menghidupi sembilan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berpindah 100 meter di lokasi sekarang, rumah Djiaw bersebelahan dengan markas PETA (saat ini menjadi Monumen Kebulatan Tekad Rengasdengklok). Inilah yang membuat Djiaw kemudian mengenal sejumlah aktivis PETA. Saat muncul rencana penculikan terhadap Soekarno-Hatta, aktivis PETA kemudian memilih rumah Djiaw karena dianggap paling aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djiaw kemudian rela memboyong anak-anaknya sementara waktu ke rumah tetangga, yang letaknya berdampingan dengan rumah baru barunya sekarang. Rumah sementara keluarga Djiaw ini masih berdiri hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S731rnu0TRI/AAAAAAAAAOs/DmHb77tsNSk/s1600/DSC01461.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S731rnu0TRI/AAAAAAAAAOs/DmHb77tsNSk/s320/DSC01461.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5457788453191437586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djiaw bukan hanya seorang keturunan Tionghoa yang peduli terhadap Kemerdekaan Indonesia. Selepas Bung Karno-Bung Hatta meninggalkan rumahnya, ia tetap peduli pada sejarah bangsanya. Ia berpesan pada anak dan cucunya, untuk tetap merawat bagian depan rumahnya, termasuk dua kamar yang ditinggali Bung Karno dan Bung Hatta. Tujuannya, supaya generasi berikutnya dapat melihat bukti-bukti perjuangan para pendahulunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Djiaw kemudian melengkapi rumah itu dengan memajang puluhan foto sejarah perjuangan bangsa Indonesia, termasuk sebuah foto Djiaw di tengah-tengahnya. Foto-foto ini ditata sedemikian rupa di ruangan tengah, berdampingan dengan tempat persembahyangan untuk menghormati Djiaw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan Djiaw Kie Siong yang meninggal tahun 1964 dalam usia 83 tahun bagi kemerdekaan bangsa ini tak perlu diragukan lagi. Namun namanya luput dari pelajaran sejarah kita. Jasanya hampir tak pernah disebut. Karena itu jangan terkejut ketika pertama kali mengunjungi rumah Djiaw yang kini ditinggali cucunya yang lain, Tjia Tjen Nio. Tak ada papan informasi atau penunjuk lain kalau rumah ini adalah situs sejarah. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-6444892681059244806?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/6444892681059244806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=6444892681059244806' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/6444892681059244806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/6444892681059244806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/06/kamar-berdinding-kayu-seluas-4x10-meter.html' title='Djiaw Kie Siong'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S736M8jvfaI/AAAAAAAAAO0/p1dZ3GO_KEs/s72-c/DSC01456.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-9047332075086268901</id><published>2010-06-19T10:31:00.000+01:00</published><updated>2010-06-19T10:32:27.083+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuliner'/><title type='text'>Mari Berpesta Durian</title><content type='html'>April-Mei menjadi bulan berpesta durian bagi masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur. Berbagai varietas durian, dapat ditemukan hampir di setiap sudut jalan, dari pelosok desa hingga kota. Aroma khas durian menyerbak kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Menandai panen raya durian tahun ini, berbagai varietas durian dikonteskan melalui acara Festival Durian Banyuwangi. Acara yang digagas Pemerintah Banyuwangi tersebut digelar di depan Kantor Bupati Banyuwangi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Ahmad Yani. Puluhan petani berpartisipasi, masing-masing membawa durian unggulannya. Mereka berebut menjadi pemenang untuk bisa mewakili kontes durian di tingkat Provinsi Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis durian yang ikut kontes adalah durian merah, durian mentega, durian kasur, jenewer, dan kepondang. Ratusan durian itu dibagi dalam dua stand. Stand pertama melayani jual-beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara stand kedua untuk dipamerkan, namun pengunjung tetap boleh mencicipi. Sejak dibuka pada Sabtu (1/5) kemarin, Festival Durian dibanjiri pengunjung. Durian-durian yang diperjualbelikan biasanya sudah ludes pada siang hari. Tak sedikit pula, yang langsung melahap di tempat sehingga mirip ajang lomba makan durian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pengamat Holtikultura, Eko Mulyanto, panen durian di bulan April hanya terjadi di Banyuwangi. Kebanyakan di daerah lain, panen raya durian berada di bulan November-Desember. Durian Banyuwangi, juga memiliki rasa berbeda karena lebih banyak&lt;br /&gt;ditanam di lereng Gunung Ijen dan Raung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asupan asap belerang dari Ijen dan Raung membuat rasa durian Banyuwangi lebih unggul," katanya, Sabtu (1/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total luas lahan tanaman durian mencapai 16 ribu hektar, dengan lima kecamatan sebagai sentranya. Yakni Songgon, Licin, Kalipuro, Kalibaru, dan Kabat. Kepala Bidang Holtikultura Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan dan Peternakan Banyuwangi, Suparlan, mengatakan, dalam satu pohon bisa menghasilkan 400-500 buah&lt;br /&gt;durian. "Pemasarannya sudah sampai Jakarta dan Palembang," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun penasaran mencicipi berbagai jenis durian secara gratis. Mula-mula saya mencicipi durian mentega yang beratnya 2,5 kilogram. Dinamakan mentega karena memang warnanya kekuningan seperti mentega. Bijinya lebih kecil, tapi dagingnya cukup tebal. Ternyata rasanya manis, sedikit ada gurih seperti santan, dan tidak berserat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya bandingkan dengan durian jenewer. Ketebalan daging hampir sama dengan durian mentega. Namun warna durian jenewer putih kebiru-biruan. Hem, rasa alkoholnya lebih tinggi. Jadi, kalau Anda punya penyakit maag, saya sarankan untuk tidak makan&lt;br /&gt;durian jenis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula jenis durian kasur. Dalam bahasa Jawa, kasur berarti tempat tidur. Rasa manis dan ketebalan daging sama dengan durian mentega. Hanya saja daging durian kasur berwarna putih. Berbagai jenis durian tersebut dijual dengan harga bervariasi, antara Rp 5 ribu hingga Rp 50 ribu. Semakin besar ukuran buah durian, tentu saja harganya lebih mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unggulkan Durian Merah&lt;br /&gt;Dari seluruh jenis durian yang hidup di Banyuwangi, durian merah paling jadi unggulan. Merujuk pada namanya, durian merah berarti dagingnya berwarna merah. Menurut Pengamat Holtikultura, Eko Mulyanto, durian jenis ini juga ditemukan di pedalaman Kalimantan. Namun rasa durian merah di Banyuwangi lebih manis legit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fisik, biji durian merah kecil tapi dagingnya tebal dan lembut. Harganya lebih mahal dibanding durian yang dagingnya berwarna kuning atau putih. Untuk durian merah kecil seberat 1 kilogram, harganya Rp 25 ribu. Paling besar dengan berat 2 kilo lebih, bisa mencapai Rp 50 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durian merah lebih mahal karena tanamannya tergolong langka. Hanya ada dua pohon yang tumbuh di Banyuwangi. Satu pohon dimiliki Sulaimi, warga Desa Balak, Kecamatan Songgon. sementara lainnya tumbuh di halaman rumah Serad, warga Desa Kemiren,&lt;br /&gt;Kecamatan Glagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pohon durian itu dipercaya berusia ratusan tahun. Sulaimi,75 tahun, menuturkan pohon durian merahnya justru lebih unik. Dari dalam tanah, katanya, muncul dua pohon yang mirip percabangan. Satunya berwarna merah, lainnya berwarna putih. "Karena itu saya namain durian merdeka," tuturnya sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu pohon, kata dia, bisa menghasilkan sedikitnya 150 buah durian merah. Setiap kali panen, durian selalu menjadi buruan. Menurut Sulaimi, masyarakat meyakini durian merah berkhasiat untuk menambah vitalitas lelaki. "Supaya stamina tetap fit," ujar kakek yang sudah turun temurun berjualan durian ini. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-9047332075086268901?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/9047332075086268901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=9047332075086268901' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/9047332075086268901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/9047332075086268901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/06/mari-berpesta-durian.html' title='Mari Berpesta Durian'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-3135261068259661450</id><published>2010-06-19T10:29:00.000+01:00</published><updated>2010-06-19T10:30:50.863+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perempuan'/><title type='text'>Janda</title><content type='html'>Suatu malam di warung. Bersama secangkir kopi hitam dan pisang goreng yang asapnya masih ngebul. Mata Kasim dan Manto memperhatikan gerak-gerik Rina yang baru turun dari boncengan seorang lelaki. Hanya sekitar lima menit. Setelah, Rina masuk rumah, Kasim dan Manto berpandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasim: "Dasar janda! Lakinya baru terus. Kemarin yang nganter pakek Mio. Sekarang pakek Tiger," ketusnya sambil menyeruput kopi.&lt;br /&gt;Manto: "Ya biasalah, janda cantik macam Rina, laku terus,"&lt;br /&gt;Kasim: "Kalo kamu yang digaet Rina, berani nolak gak?"&lt;br /&gt;Manto nyengir: "Kalo ditolak mah sayang. Tapi mana mau Rina ama orang-orang kayak kita yang pekerjaannya gak jelas gini,"&lt;br /&gt;Kasim: "Ah, janda mah dimana-mana sama. Gak bakal pilih-pilih. Yang penting buat mereka, punya suami, dapat kehangatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri, pemilik warung, yang sedari tadi menyimk obrolan kedua lelaki itu tergelitik ikut nimbrung.&lt;br /&gt;Sri: "Dimana-mana, namanya janda kenapa jelek ya, Bang?"&lt;br /&gt;Kasim dan Manto terdiam.&lt;br /&gt;Manto : "Kan sering banget ada kasus Sri. Misal si Atun tuh, ngerebut suami orang. Atau Desy, mau jadi selingkuhan polisi padahal sudah pernah dilabrak istrinya."&lt;br /&gt;Sri: "Trus apa janda semuanya kayak gitu? Kan nggak? Sebelum kawin ma Bang Romli, saya kan menjanda 10 tahun. Tapi amit-amit deh kalau ngerebut suami orang. Ini warung saya bikin setelah ditinggal Bang Fuad, biar saya bisa kasih makan anak-anak. Bahasa kerennya, biar bisa survive, hehe" Sri tergelak.&lt;br /&gt;Kasim : "Emang gak semua janda begitu sih, Sri. Tapi kan kebanyakan begitu,"&lt;br /&gt;Sri : "Lha, di desa kita kan cuma si Atun dan Desy yang begitu, Bang. Padahal yang sekarang jadi janda, ada Rina, Wulan, Murni, Diah, Siti,"&lt;br /&gt;Kasim dan Manto diam lagi.&lt;br /&gt;Sri melanjutkan, "Coba bandingin ma Ahmad, yang baru dua bulan jadi duda. Tiap hari gonta-ganti perempuan. Mana ada yang mencibir. Orang desa nganggep, ah biasa duda...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri : "Si Rina itu kan jadi janda karena suaminya galak, Bang. Masak tiap hari, Rina ditampar terus, dibentakin. Perempuan mana yang betah tinggal ma lelaki kayak gitu? Saya juga jadi janda, karena Bang Fuad selingkuh ma perempuan lain. Kalau abang jadi kayak kita, enakan mana jadi janda atau tetap jadi istri tapi tersiksa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manto : "Ya,..gimana ya, Sri..jadi bingung juga,"&lt;br /&gt;Sri : "Kasihan tuh si Rina, Bang. Harus pontang-panting nyari duit buat tiga anak-anaknya. Sebagai tetangga, kita ini harusnya berdoa, semoga dia kuat dan dapat jodoh yang baik dan bertanggung jawab,"&lt;br /&gt;Kasim : "Kamu ini sok menasihati, Sri,"&lt;br /&gt;Sri tertawa lagi. "Bukan menasehati, Bang. Ini kan sudah kewajiban kita sebagai manusia, sebagai tetangga,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Rina yang jadi bahan pembicaraan berjalan tergesa-gesa ke arah warung. "Mak Sri,..Mak Sri,...Bang Romli ada gak?"&lt;br /&gt;Sri bangkit diikuti Kasim dan Manto yang penasaran.&lt;br /&gt;Sri: "Ada apa, Rin?"&lt;br /&gt;Rina : "Sinta, Mak, tiba-tiba kejang. Bang Romli ada gak, saya minta tolong ya dianter ke rumah sakit. Takut kenapa-kenapa,"&lt;br /&gt;Sri : "Astagfirullah. Aduh, Bang Romli masih ngojek, belum pulang Rin. Bang Kasim atau Bang Manto siapa yang bisa nganter sekarang,"&lt;br /&gt;Kasim mengangguk-ngangguk, dan menyambar kunci sepeda motor. "Saya anter, Rin, ayo-ayo bawa Sinta sekarang,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;##&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyuwangi, 2 April 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-3135261068259661450?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/3135261068259661450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=3135261068259661450' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/3135261068259661450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/3135261068259661450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/06/janda.html' title='Janda'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-3039214198007792268</id><published>2010-06-08T05:45:00.003+01:00</published><updated>2010-06-19T13:27:27.874+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Menjejaki Keagungan Kerajaan Blambangan</title><content type='html'>JARUM jam di tanganku menunjukkan angka sembilan pagi. Tanah di Desa Macan Putih, Kecamatan Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, masih basah setelah diguyur hujan sejak subuh. Laju bus yang membawa rombonganku beranggotakan 40 orang berjalan lambat menyusuri jalanan desa yang sempit. Dari kaca jendela bus, saya bisa memandang hamparan sawah di kanan dan kiri jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TBIfn3z1BsI/AAAAAAAAAPc/UuO8RkFrrgc/s1600/Situs+Macan+Putih,+Desa+Macan+Putih,+Kabat.+Ini+adalah+tempat+kremasi+jenasah+Raja+Tawang+Alun+II.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TBIfn3z1BsI/AAAAAAAAAPc/UuO8RkFrrgc/s320/Situs+Macan+Putih,+Desa+Macan+Putih,+Kabat.+Ini+adalah+tempat+kremasi+jenasah+Raja+Tawang+Alun+II.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481478466320008898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Situs Macan Putih, Desa Macan Putih, Kabat, Banyuwangi. Tempat ini dulunya adalah tempat kremasi jenasah Raja Tawang Alun II Danurea.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, pertengahan Mei lalu, saya memulai perjalanan menyusuri jejak Kerajaan Blambangan. Awal penjejakan memang dimulai dari Desa Macan Putih, sekitar 10 kilometer dari Kota Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa tertarik menapaki jejak kerajaan bercorak Hindu terakhir di tanah Jawa itu. Kerajaan yang berdiri sekitar abad XIII hingga abad XVIII itu hampir tidak pernah tercatat dalam buku sejarah nasional. Penelitian sejarah juga tergolong minim. Kerajaan Blambangan lebih populer diceritakan sebagai legenda dan mitos. Sebut saja tentang epos yang cukup terkenal: kisah Damarwulan versus Minakjingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkesempatan menyusuri jejak Kerajaan Blambangan itu sebagai rangkaian acara Blambangan Heritage Trail yang diselenggarakan sebuah universitas swasta di Banyuwangi. Dosen Sejarah Universitas Gajah Mada Doktor Sri Margana didapuk menjadi pemateri dalam acara itu. Desertasi doktor berusia 40 tahun itu di Universitas Leiden, Belanda, berjudul 'JAVA'S LAST FRONTIER: The Struggle for Hegemony of Blambangan, c 1763 - 1813.' dianggap semakin membuka sejarah Kerajaan Blambangan di era kolonial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petani di Desa Macan Putih tampak sudah sibuk merawat tanaman padinya yang sebentar lagi memasuki masa panen. Berlomba dengan suara mesin bus, lamat-lamat saya mendengarkan bunyi-bunyian yang ditimbulkan dari kiling bambu. Ada sekitar lima kiling setinggi 10 meter ditanam di pinggiran sawah. Kiling itu terbuat dari seruas kayu yang dipasang di ujung bambu. Pada saat ditiup angin, kiling akan berputar dan menghasilkan bunyi, yang oleh petani di Banyuwangi dipercaya bisa mengusir burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjadi Desa Macan Putih, kawasan ini diberi nama hutan Sudiamara. Menurut Sri Margana, sekitar tahun 1665, Raja Blambangan ke VIII, yakni Tawang Alun II Danurea, menjadikan daerah yang subur ini sebagai ibu kota kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Kerajaan Majapahit runtuh abad XV, Blambangan menjadi rebutan kerajaan-kerajaan Islam, seperti Demak, Pajang, dan Mataram, sebagai bagian ekspansi kerajaan-kerajaan itu ke wilayah Jawa bagian timur. Kerajaan-kerajaan di Bali, seperti Gelgel dan Mengwi juga berkepentingan dengan Blambangan untuk menangkal masuknya Islam. Sehingga, ibu kota Blambangan yang semula di Panarukan (sekarang masuk Situbondo) dan bercorak maritim, semakin terdesak ke pedalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sembilan raja yang pernah berkuasa di Blambangan, Tawang Alun II (1665-1691) merupakan raja terbesar. Wilayah kekuasaannya menjangkau Jember, Lumajang, Situbondo dan Bali. Masyarakat Blambangan saat itu hidup damai dan makmur, setelah sekian lamanya terlibat dalam berbagai peperangan melawan ekspansi kerajaan-kerajaan dari barat dan timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter multikultur Sang Raja, tutur Margana, menjadi rahasia kebesarannya. Meskipun Tawang Alun penganut Hindu yang taat, tapi dia tidak melarang komunitas Islam berkembang. "Yang ia tentang adalah dominansi asing," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, menurut Margana, hanya sedikit sumber sejarah yang menerangkan tentang masa Tawang Alun II ini akibat tidak ada kontak dengan bangsa asing. Riwayat Tawang Alun II banyak ditulis dalam arsip Belanda, justeru pada masa akhirnya tahtanya. Yakni ketika upacara ngaben jenasahnya yang digelar secara spektakuler. Alkisah, dalam upacara sebanyak 271 isteri dari 400 isteri Tawang Alun ikut membakar diri (sati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat kremasi jenasah Tawang Alun hingga saat ini masih bisa ditemukan. Terletak satu kilometer dari Balai Desa Macan Putih. Area seluas sekitar setengah hektare tersebut dikelilingi tembok putih dengan satu pintu pagar yang lebarnya hanya untuk dilewati satu orang. Di halaman, tumbuh pohon beringin berusia puluhan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan utama di lahan tersebut mirip pendopo berbentuk segi enam, berlantai keramik putih. Sebuah batu sebesar kepala manusia tertanam di tengah dengan dua payung di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagar dan pendopo tersebut sebenarnya bukan bangunan asli. Masyarakat sekitarlah yang berinisiatif memugarnya. Menurut Nuruddin, si juru kunci, bangunan itu dipugar tahun 1968.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara letak bangunan Kerajaan belum diketahui dengan pasti. Masyarakat yang mengatasnamakan Forum Penyelamat Situs Macan Putih pernah melakukan penggalian di 17 titik. Namun kegiatan itu tak sampai rampung, dan akhirnya ditimbun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuruddin mengkisahkan, warga setempat masih sering menemukan sisa-sisa batu bata yang diperkirakan bekas bangunan kerajaan, berukuran dua kali lebih besar dibanding ukuran batu bata saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dari Desa Macan Putih, berlanjut ke Desa Bayu, Kecamatan Songgon. Sepanjang perjalanan kami disuguhi aroma durian. Ya, kecamatan yang berbatasan dengan Bondowoso saat itu sedang menikmati masa puncak panen durian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sampai di Desa Bayu, kami menjumpai sebuah monumen peringatan Puputan Bayu. Monumen yang dibangun tahun 2004 ini, sebagai simbol perang puputan masyarakat Blambangan yang dipimpin Rempeg Jagapati melawan VOC Belanda yang pada abad-18 juga berusaha menguasai Blambangan. Prajurit Blambangan memenangkan perang yang berlangsung 18 Desember 1771 itu, dengan ditandai terbunuhnya pimpinan pasukan VOC, Van Schaar. Tanggal tersebut kini dipakai sebagai Hari Jadi Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagapati merupakan keturunan Tawang Alun yang lari dari Kerajaan Blambangan yang saat itu berpusat di Lateng (sekarang kecamatan Rogojampi) karena tidak puas terhadap VOC yang mengangkat raja Islam yang ternyata korup. Dia akhirnya menobatkan diri sebagai Susuhunan Jagapati di Rowo Bayu dengan menghimpun prajurit-prajurit yang kecewa. Di Rowo Bayu, Jagapati membangun tempat mirip kerajaan sehingga membuat VOC marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TBIrCejX_4I/AAAAAAAAAPk/pDKsN-qzQ2g/s1600/Hutan+Rowo+Bayu,+Songgon.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TBIrCejX_4I/AAAAAAAAAPk/pDKsN-qzQ2g/s320/Hutan+Rowo+Bayu,+Songgon.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481491018024484738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rawa Bayu,Desa Bayu, Kecamatan Songgon.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rowo Bayu saat ini adalah sebuah rawa di kaki Gunung Raung yang dikelilingi hutan pinus seluas delapan hektare. Rawa yang airnya berwarna hijau ini merupakan pertemuan tiga mata air, yakni Sendang Kaputren, Sendang Wigangga, dan Sendang Kamulyan. Selain hutan pinus, seluas tiga hektare lainnya merupakan hutan dengan berbagai jenis tanaman dan semak belukar, khas hutan tropis yang dihuni berbagai satwa. Hutan ini merupakan bagian Kesatuan Pemangku Hutan Rogojampi, Banyuwangi Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlawanan rakyat Blambangan itu merupakan puncak dalam memerangi berbagai dominansi asing. Namun setahun kemudian, tepatnya pada Oktober 1772, VOC membalas kekalahannya dengan mengirim 1.500 pasukan menumpas prajurit Blambangan. Lumbung-lumbung padi di Songgon, dibakar sehingga perlawanan rakyat Blambangan melemah akibat kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sri Margana, saat itu alam Rowo Bayu tak seindah sekarang, melainkan sangat menyeramkan. Ribuan prajurit Blambangan dibunuh, dan kepalanya digelantungkan di pohon-pohon. Bau anyir darah menyeruap kemana-mana. Rakyat Blambangan yang semula berjumlah 8.000-an jiwa hanya tersisa sekitar 2.000 ribuan jiwa akibat perang itu. "Inilah perang paling sadis di Indonesia," ucap Margana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekas kerajaan di Rowo Bayu belum ditemukan hingga kini dan membutuhkan penelitian arkeologis lebih lanjut. Situs yang bisa ditemui justeru situs Raja Tawang Alun, yakni Candi Puncak Agung Macan Putih dan Petilasan Pertapaan Tawang Alun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TBItkaIhXNI/AAAAAAAAAPs/dT6p5ksmdJM/s1600/Petilasan+Pertapaan+Tawang+Alun+di+Rowo+Bayu,+Songgon.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TBItkaIhXNI/AAAAAAAAAPs/dT6p5ksmdJM/s320/Petilasan+Pertapaan+Tawang+Alun+di+Rowo+Bayu,+Songgon.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481493799976918226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Petilasan Pertapaan Raja Tawang Alun di Rawa Bayu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua situs yang dibangun sekitar tahun 2006 lalu itu sebagai pertanda bahwa Tawang Alun pernah menjejakkan diri di Rowo Bayu, jauh sebelum periode Jagapati. Tawang Alun lebih dulu membangun kerajaannya di Rowo Bayu sebelum pindah ke Macan Putih karena diserang oleh adiknya sendiri, Mas Wila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sebagai tujuan wisata alam, Rowo Bayu sering dikunjungi umat Hindu di Banyuwangi maupun Bali yang ingin bertapa atau mandi membersihkan diri di mata air sekitar situs. Karena itu, menurut Mbah Saji, si juru kunci, kedua situs itu justru dibangun oleh salah seorang warga Hindu asal Bali yang sering mendatangi Rowo Bayu. "Tapi tempat ini tetap terbuka bagi siapa saja," kisah Mbah Saji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu jam kami berada di Desa Bayu, Songgon. Makan siang kami nikmati di atas bus dengan buah rambutan sebagai pencuci mulut. Lagu-lagu tradisional berbahasa Using, Banyuwangi, terus menemani perjalanan kami menuju tempat ketiga: Kecamatan Muncar, yang kami tempuh dalam 30 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncar adalah pusat kerajaan Blambangan yang dibangun VOC setelah kekalahan rakyat Blambangan dalam perang Puputan Bayu. Bisa disebut, di Muncar inilah periode Kerajaan Blambangan II yang bercorak Islam dimulai, dan merupakan ibu kota kerajaan terakhir sebelum akhirnya pindah ke Banyuwangi (saat ini menjadi letak Pendopo Kabupaten).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lebih dulu mampir di Situs Umpak Songo, Desa Tembokrejo. Situs ini dipercaya sebagai bekas reruntuhan bagian kerajaan. Di dalam areal seluas setengah hektare itu terdapat 49 batu besar dengan sembilan batu di antaranya berlubang di tengah. Si juru kunci, Soimin, menceritakan, batu-batu yang tengahnya berlubang itu berfungsi sebagai umpak atau penyangga. Karena itulah, situs ini dinamakan Umpak Songo yang artinya sembilan penyangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Margana menuturkan, VOC memindahkan ibu kota kerajaan ke wilayah ini karena letaknya yang berdekatan dengan Pelabuhan Muncar (dulu bernama Ulupampang). VOC berkepentingan mengawasi Selat Bali itu dari kerajaan-kerajaan di Bali (Gelgel dan Mengwi) yang berusaha merebut Blambangan. Apalagi, kerajaan-kerajaan di Bali itu kerap memberi bantuan kepada Blambangan saat peperangan melawan VOC maupun kerajaan-kerajaan Islam sehingga Blambangan sulit terkalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah lain, kata Margana, VOC akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Mataram Islam untuk mengislamkan Blambangan sebagai upaya untuk memutus hubungan Blambangan dengan Bali. Islamisasi itu ditempuh dengan menempatkan orang-orang Mataram Islam untuk menjadi raja di Blambangan dengan harapan proses Islamisasi berlangsung cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs lainnya yang bisa disaksikan di wilayan ini adalah Situs Sitihinggil yang berarti tanah yang tinggi. Hal ini merujuk pada bahasa Jawa. Siti yang artinya tanah, sedangkan hinggil berarti tinggi. Dulunya, tempat ini dipakai VOC untuk memata-matai musuh dari kerajaan-kerajaan Bali yang akan melakukan penyerangan. Dari Situs Umpak Songo, kita menempuhnya dalam waktu 10 menit saja ke arah timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya benar saja, ketika saya naik ke puncak Sitihinggil, pemandangan lautan lepas dengan kapal-kapal nelayan terlihat cukup jelas. Meskipun sedikit terhalangi oleh bangunan rumah susun yang padat di sekitar situs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sitihinggil, kami menuju Pelabuhan Muncar. Nampak ratusan kapal yang didominasi warna hijau, kuning dan merah, tengah bersandar di kolam labuh ketika kami tiba sekitar jam 15.00 WIB. Nelayan-nelayan ada yang baru turun dari kapal, mengangkut berton-ton ikan hasil tangkapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelabuhan inilah, yang menjadi jantung pertahanan sekaligus pusat militer VOC pada abad XVII di Blambangan. VOC mengangkat warga Tionghoa menjadi kepala pelabuhan, yang dulunya bernama Sahbandar Ship. Pelabuhan ini cukup ramai dikunjungi pedagang-pedagang dari Cina, Arab, dan beberapa wilayah Nusantara. Sehingga, di sekitar pelabuhan terbentuk perkampungan-perkampungan berbagai etnis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, Pelabuhan Muncar tetap padat karena menjadi tempat bergantung 13 ribu nelayan mencari ikan dengan 1.700-an unit kapal. Hasil tangkapan nelayan dalam setahun rata-rata mencapai 30 ribu ton ikan yang menjadikan Muncar sebagai penghasil ikan terbesar di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam menunjuk pukul 16.00, menjadikan kami tak bisa berlama-lama menikmati kesibukan nelayan. Apalagi, tiba-tiba bulir air jatuh dari langit. Kami bergegas kembali ke dalam bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Kecamatan Tegaldlimo, dengan waktu tempuh sekitar dua jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melewati hutan seluas 43.420 hektare saat tidak ada sinar matahari, membuat bulu roma berdiri. Gelap. Kanan-kiri jalan pepohonan berdiri rapat. Suara satwa malam seolah berlomba dengan suara mesin bus. Kami harus melewati jalan sejauh 15 kilometer untuk memasuki kawasan Taman Nasional. Kondisi jalan rusak parah, penuh lubang. Perjalanan serasa di atas kapal laut, diayun gelombang ke kanan dan ke kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati perjalanan yang disertai kecemasan, kami tiba di pesanggrahan pantai Trianggulasi yang menjadi tempat kami bermalam. Kami akhirnya bisa bernapas lega. Tidur menjadi agenda yang sangat dinantikan, ditemani suara deburan ombak laut selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda sesungguhnya baru dimulai keesokan harinya. Ketika, sinar matahari mulai menimpa bumi, pemandangan TNAP terlihat amat elok. Pepohonan menjulang dengan daun-daunnya yang basah oleh embun. Suara kicauan burung bersahutan. Ratusan kera berekor panjang, tiba-tiba memenuhi halaman pesanggrahan kami, dan siap mencuri makanan yang diacuhkan pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alas purwo dianggap sebagai hutan tertua di Jawa. Ada 500-an jenis tanaman yang tumbuh di hutan ini yang menjadi habitat bagi berbagai satwa liar. Menurut Sri Margana, disinilah, dulunya, orang-orang Majapahit yang menjadi pemeluk Hindu yang taat melarikan diri karena menolak pengislaman dari utusan Kerajaan Mataram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai peninggalannya, kami menjumpai dua pura yang berdiri di tengah hutan, sekitar satu kilometer dari pesanggrahan pantai Trianggulasi, yakni Pura Kawitan dan Pura Giri Selaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TBIwIH6FUvI/AAAAAAAAAP0/gKgOozF2LKM/s1600/Pura+Giri+Selaka,+Alas+Purwo.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TBIwIH6FUvI/AAAAAAAAAP0/gKgOozF2LKM/s320/Pura+Giri+Selaka,+Alas+Purwo.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481496612583068402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pura Giri Selaka, di Taman Nasional Alas Purwo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mangku Adi, seorang pemangku, Situs Kawitan ditemukan secara tak sengaja oleh penduduk sekitar tahun 1965 dan mulai dibuka untuk kegiatan keagamaan pada tahun 1968. Adapun Pura Giri Selaka, yang bersebelahan dengan Pura Kawitan, dibangun tahun 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pura Giri, katanya, dibangun karena umat yang melakukan ritual semakin banyak. Upacara yang rutin dilakukan adalah upacara Pager Wesi, yang digelar setiap 120 hari sekali. Upacara ini memuji Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta mensyukuri ilmu pengetahuan yang telah diberikan oleh para dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TBIydJWF-CI/AAAAAAAAAP8/LyV9v2OGCRI/s1600/Situs+Kawitan,+Alas+purwo.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TBIydJWF-CI/AAAAAAAAAP8/LyV9v2OGCRI/s320/Situs+Kawitan,+Alas+purwo.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481499172769495074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Situs Kawitan di Taman Nasional Alas Purwo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar sejarah inilah, yang menjadikan Alas Purwo begitu dikeramatkan. Mereka yang berkunjung di sini tak sekedar menikmati keindahan alamnya yang masih alami. Sebagian besar, mereka datang untuk melakukan wisata spritual. Bukan hanya umat Hindu, melainkan umat agama lain pun berdatangan. Mereka melakukan pemujaan, berdoa, dan bersemedi. Selain dua pura itu, aktivitas spiritual banyak dilakukan di goa-goa, yang jumlahnya sekitar 40 buah. Goa Istana, Goa Basori, dan Goa Mayangkara, adalah goa-goa yang paling banyak dikunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bus mulai membawaku pulang, saya merasa bersyukur. Meski perhatiaan pemerintah masih minim terhadap sejarah Kerajaan Blambangan, namun riwayatnya tetap hidup di masyarakat. Peninggalan kerajaan menjadi tempat yang dikeramatkan, sebagai cara masyarakat menghormati leluhurnya. IKA NINGTYAS.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-3039214198007792268?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/3039214198007792268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=3039214198007792268' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/3039214198007792268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/3039214198007792268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/06/menjejaki-keagungan-kerajaan-blambangan.html' title='Menjejaki Keagungan Kerajaan Blambangan'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/TBIfn3z1BsI/AAAAAAAAAPc/UuO8RkFrrgc/s72-c/Situs+Macan+Putih,+Desa+Macan+Putih,+Kabat.+Ini+adalah+tempat+kremasi+jenasah+Raja+Tawang+Alun+II.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-5131849676378396264</id><published>2010-04-20T16:24:00.002+01:00</published><updated>2010-06-19T13:27:46.989+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Blambangan Heritage Trail 2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S83HkXxkNRI/AAAAAAAAAPU/P1IgzBNvqSY/s1600/Logo+Napak+Tilas.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 268px;" src="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S83HkXxkNRI/AAAAAAAAAPU/P1IgzBNvqSY/s320/Logo+Napak+Tilas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462241350741406994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berwisata tak melulu ke pantai dan gunung. Berwisata sejarah tentu tak kalah serunya. Dalam Blambangan Heritage Trail, kamu akan mencoba pengalaman berwisata sejarah yang penuh petualangan dan pengetahuan. Dipandu pemateri dan guide yang siap membuat akhir pekanmu tak terlupakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blambangan Heritage Trail adalah program yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi dan Lareosing.org, dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional. Program ini untuk menyusuri jejak Kerajaan Blambangan, mengingat masih sedikit pemuda/pemudi Banyuwangi yang mengetahui kebesaran sejarah masa lalunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyek :&lt;br /&gt;1. Situs Macan Putih&lt;br /&gt;2. Situs Rowo Bayu&lt;br /&gt;3. Situs Umpak Songo&lt;br /&gt;4. Situs Sitinggil&lt;br /&gt;5. Situs Pura Giri Selaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan:&lt;br /&gt;Sabtu – Minggu, 8-9 Mei 2010 (bermalam asyik di Alas Purwo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narasumber:&lt;br /&gt;- Dr. Sri Margana (Dosen Sejarah Universitas Gajah Mada, Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya : Rp 75.000 / orang&lt;br /&gt;included:&lt;br /&gt;- Kendaraan&lt;br /&gt;- Mamirat 3 x&lt;br /&gt;- Local Guide&lt;br /&gt;- Pemateri&lt;br /&gt;- Penginapan&lt;br /&gt;- Handout&lt;br /&gt;- Sertifikat&lt;br /&gt;- Video&lt;br /&gt;- Idcard&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta&lt;br /&gt;Peserta terbuka untuk umum dan hanya dibatasi untuk 30 orang. Dapatkan buku menarik untuk 5 orang pendaftar pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Pendaftaran&lt;br /&gt;- Lewat facebook : kirim identitas dan nomor hpmu di acara: Blambangan Heritage Trail 2010 atau ke id: ika_bwi@yahoo.com&lt;br /&gt;- Lewat YM atau email : ika_bwi@yahoo.com&lt;br /&gt;- SMS atau Telepon : 085 2367 05 313&lt;br /&gt;- Atau datang langsung ke sekretariat panitia, Kampus Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Jalan Adi Sucipto No 26 Banyuwangi&lt;br /&gt;- pendaftaran ditutup pada 30 April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Pembayaran&lt;br /&gt;Transfer ke rekening BCA Cabang Banyuwangi no rekening 1800508491 atas nama IKANINGTYAS UNGGRAINI. Laporkan transaksimu melalui SMS ke nomor 085236705313. Bawa bukti transfermu saat temu teknik.&lt;br /&gt;Atau bayar langsung saat pendaftaran di sekretariat panitia, Kampus Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Jalan Adi Sucipto No 26 Banyuwangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temu Teknik:&lt;br /&gt;Kamis, 6 Mei 2010 di ruang MSI, lantai 2, Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Jalan Adi Sucitp No 26.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JADILAH GENERASI YANG PEDULI PADA SEJARAHMU!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-5131849676378396264?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/5131849676378396264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=5131849676378396264' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/5131849676378396264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/5131849676378396264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/04/blambangan-heritage-trail-2010.html' title='Blambangan Heritage Trail 2010'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S83HkXxkNRI/AAAAAAAAAPU/P1IgzBNvqSY/s72-c/Logo+Napak+Tilas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-5552643529879596167</id><published>2010-02-08T14:29:00.008Z</published><updated>2010-06-19T13:28:07.813+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Jejak-Jejak Manusia Purba di Pacitan</title><content type='html'>Suroto, 34 tahun, menyibakkan penutup plastik. Replika sebuah kerangka manusia yang tak lagi utuh berada di balik kaca. Posisinya terlipat, disangga beberapa batu ke arah dinding goa. Tangannya terlihat memegang alat-alat dari batu.  Fosil berjenis kelamin perempuan ini diperkirakan berumur 12 ribu tahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas) bekerja sama dengan Museum national d’histoire naturelle, Perancis, menemukan fosil ini saat melakukan penggalian di Goa Song Terus pada 1996. Fosil asli, disimpan di laboratorium Puslitbang. Tim kemudian mencetak replika fosil untuk dipajang (display) di pintu masuk Goa Song Terus, Dusun Weru, Desa Wareng, Kecamatan Punung, Pacitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S3AxL38_CQI/AAAAAAAAAN4/j4eLDnZhmjw/s1600-h/P1070057.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S3AxL38_CQI/AAAAAAAAAN4/j4eLDnZhmjw/s320/P1070057.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435898830304250114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain fosil, berbagai tinggalan budaya manusia purba juga bisa disaksikan di pintu masuk. Seperti, kapak penetak, kapak perimbas, batu pukul, dan aneka serpih. Diantara benda-benda itu, disisipi informasi mendetail tentang kekayaan prasejarah Goa Song Terus lengkap dengan langkah kerja tim arkeolog. Sarana display yang dibangun tahun 2007 ini seolah-olah menjadi perekam adanya kehidupan di Song Terus ribuan tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suroto, juru pelihara, kemudian mengajakku masuk ke goa. Di bibir goa, aku dapat menyaksikan kotak-kotak penggalian (eskavasi) yang dikelilingi rapat pagar besi.  Di kotak-kotak itulah, puluhan ribu artefak dan fosil makhluk hidup masa lalu ditemukan sejak eskavasi pertama tahun 1950. Melimpahnya kekayaan prasejarah di Song Terus, membuat situs ini menjadi tempat pelatihan calon arkeolog dunia. “Pertengahan Agustus lalu, 32 calon arkeolog berbagai dunia datang ke sini,” kata Suroto yang sudah sejak 1994 mennjadi juru pelihara, Jumat (26/09).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S3AjAUH6RgI/AAAAAAAAANY/1mZeUyHMycs/s1600-h/P1070040.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S3AjAUH6RgI/AAAAAAAAANY/1mZeUyHMycs/s320/P1070040.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435883238545049090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Song Terus hanyalah salah satu situs purbakala di Kabupaten Pacitan. Kota yang punya ikon seribu goa ini, memang tepat bagi penyuka wisata sejarah. Selain Song Terus, Pacitan masih memiliki 260 situs purbakala lainnya yang merekam kehidupan prasejarah dari masa Paleolitik hingga Neolitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar situs-situs itu berada di Kecamatan Punung, 45 menit arah barat dari jantung Kota Pacitan. Kebanyakan situs berupa goa-goa, yang berada di balik deretan Gunung Seribu (Gunung Sewu). Mula-mula adalah Koenigswald dan M.W.F Tweedie dari Museum Raffles Singapura yang menemukan kekayaan prasejarah di Punung ini pada 1935. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menemukan sedikitnya 3 ribu artefak berupa perkakas batu di Kali Baksooka, Desa Mendolo Lor, Punung. Situs ini kemudian terkenal di dunia arkeologi karena menjadi rujukan salah satu kebudayaan Paleolitik Bawah. Para arkeolog menyebutnya sebagai kebudayaan Pacitanian, dengan perkakas khasnya kapak genggam. Termasyurnya nama Pacitan, mengundang berbagai arkeolog lain. Dari situlah, satu per satu, situs prasejarah ditemukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S3Al9GUQMFI/AAAAAAAAANg/Kb3fcjAV57A/s1600-h/P1070027.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S3Al9GUQMFI/AAAAAAAAANg/Kb3fcjAV57A/s320/P1070027.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435886481833996370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Song Terus dan Kali Baksooka, situs besar lain yang bisa dikunjungi adalah Goa Song Keplek, di Desa Punung. Tapi, situs ini belum didesain seperti di Song Keplek. Hanya terdapat enam bekas kotak galian di bibir goa. Penggalian pertama situs dilakukan oleh Profesor T. Simanjuntak dan timnya dari Puslitbang Arkenas. Kemudian dilanjutkan tahun 1995 bekerjasama dengan Museum national d’histoire naturelle, Perancis. Dari hasil penggalian ditemukan fosil manusia purba berjenis kelamin perempuan dari Ras Mongoloid. Selain itu juga banyak peninggalan alat batu yang berusia kira-kira antara 8 ribu-3 ribu tahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs lainnya yang perlu juga dikunjungi adalah Situs Ngrijangan, Desa Sooka, Punung. Situs ini mirip perkebunan kelapa. Di situs inilah disinyalir sebagai bengkel beliung pada masa neolitikum (batu muda). Situs Blawong, di Desa Mantren, dipercaya para arkeolog sebagai bengkel mata panah yang terbuat dari batu rijang. Mata panah yang berujung runcing dan tajam biasanya digunakan sebagai senjata untuk berburu pada zaman neolitikum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S3Aqkjv052I/AAAAAAAAANo/fOj98sVJmbE/s1600-h/P1070049.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S3Aqkjv052I/AAAAAAAAANo/fOj98sVJmbE/s320/P1070049.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435891557795686242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa goa, malah lebih populer karena keunikan lain ketimbang aspek kesejarahannya. Sebut saja Goa Gong di Desa Bomo dan Goa Tabuhan di Desa Wareng. Goa Gong menyedot banyak pengunjung, karena keindahan stalagmit dan stalagtitnya. Sedangkan Goa Tabuhan, sesuai namanya, beberapa stalagmit dan stalagtitnya bisa ditabuh sehingga mengeluarkan bunyi-bunyian alat musik seperti kendang. Selain keunikan tersebut, dua goa itu menjadi situs yang dipercaya arkeolog sebagai tempat hunian manusia purba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meneruskan perjalanan ke Museum Buwana Keling, di Desa Mantren, atau sekitar 3 km dari Song Terus. Di Museum seluas 50x20 meter ini sebagian kecil temuan para arkeolog disimpan. Koleksi benda-benda prasejarah yang dipertontonkan mewakili temuan di 261 situs. Seperti beliung persegi, mata panah, benda hias berupa manik-manik, batu pemukul, serta beberapa fosil tumbuhan yang berusia ribuan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain koleksi benda prasejarah, Museum yang dibangun 1996 ini, melengkapinya dengan benda-benda kuno dari masa sejarah  seperti keris, lesung, alat pembuat batu akik, dan kain batik. Menurut juru pelihara Museum, Selamet, 46 tahun, Buwana Keling memang didesain untuk merekam kebudayaan Pacitan sejak adanya kehidupan pertama hingga masa-masa kolonial. “Ada 200-an orang yang berkunjung ke Museum ini setiap bulan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S3AtXbGIRqI/AAAAAAAAANw/Hby2ybKeeWw/s1600-h/P1070051.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S3AtXbGIRqI/AAAAAAAAANw/Hby2ybKeeWw/s320/P1070051.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435894630669895330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlampau banyaknya temuan benda purbakala di Pacitan tak sebanding dengan tempat penyimpanannya. Sampai-sampai Puslitbang Arkenas, harus menitipkan ribuan benda temuan di rumah Wahyu Pujiono, salah satu juru pelihara Museum, di depan Pasar Punung. Aku pun melongok seperti apa banyaknya benda purbakala tersebut. Benar saja, di salah satu kamar rumah bergaya limas kuno itu, penuh sesak oleh rak yang tingginya hampir menyenggol atap rumah. Benda-benda purbakala disimpan di dalam kotak-kotak yang diberi kode tertentu berdasarkan jenis temuan. Rupanya rumah ini pula yang menjadi ‘hotel’ bagi arkeolog kelas dunia bila menggarap proyek penelitian di Punung. IKA NINGTYAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi yang Belum Terkemas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya sebelum anda berkeliling ke situs-situs purbakala, lebih dulu mencari informasi di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Pacitan, di Jalan WR Supratman. Di sana terdapat pusat informasi obyek wisata yang anda butuhkan mengenai jenis-jenis situs, lokasi, maupun nama-nama juru pelihara yang bisa anda hubungi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, potensi wisata sejarah ke situs-situs purbakala belum terkemas apik. Informasi mengenai keberadaan situs ataupun museum melalui internet masih cukup minim.Dari 261 situs, baru Song Terus yang menyediakan pusat informasi bagi pengunjung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu halnya dengan jumlah juru pelihara. Ternyata hanya 13 situs yang memiliki juru pelihara. Para jupel inilah yang biasanya akan menjadi guide lokal. Mereka dipilih hanya untuk situs-situs yang tergolong besar atau banyak pengunjung, seperti Song Terus, Kali Baksooka, dan Goa Tabuhan. Tapi para jupel tidak selalu stand-by di tempatnya masing-masing. Anda harus rajin bertanya ke penduduk sekitar tentang keberadaan para jupel ini bila mereka tidak berada di tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah raga Kabupaten Pacitan M. Fathony mengakui pihaknya masih melakukan penataan konsep wisata sejarah ke situs-situs purbakala. Bahkan, pencetakan brosur maupun buku saku tentang informasi situs purbakala baru bisa direalisasikan tahun ini.”Anggaran sosialisasi mengenai situs-situs baru dialokasikan 2010. Itu pun hanya Rp 10 juta,” katanya Jumat (26/09) lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini pula, kata Fathony, Dinas gencar mensosialisasikan paket-paket wisata situs purbakala ke pelajar. Bahkan, sudah ada rencana untuk menggelar napak tilas menyusuri seluruh situs yang dibuka untu umum. Tujuannya, supaya masyarakat Pacitan lebih mengenal peradaban masa lalunya sehingga timbul kebanggaan dan kesadaran melestarian. Selama ini, kata dia, pengunjung situs-situs tersebut didominasi kalangan mahasiswa dan peneliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski wisata sejarah baru dikembangkan, ujar Fathony, ia punya cita-cita besar untuk membawa Pacitan menjadi taman bumi (geopark) dunia. “Semoga segera terwujud,” harapnya. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-5552643529879596167?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/5552643529879596167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=5552643529879596167' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/5552643529879596167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/5552643529879596167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2010/02/jejak-jejak-manusia-purba-di-pacitan.html' title='Jejak-Jejak Manusia Purba di Pacitan'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S3AxL38_CQI/AAAAAAAAAN4/j4eLDnZhmjw/s72-c/P1070057.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-1858615768774137983</id><published>2009-10-10T10:31:00.003+01:00</published><updated>2010-06-19T13:28:52.760+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klenceran'/><title type='text'>Persinggahan Sebelum ke Kawah Ijen</title><content type='html'>Dua jam perjalanan yang melelahkan menyusuri lereng pegunungan Ijen, terbayar begitu menginjak kaki di penghujung Perkebunan Jampit, Kecamatan Sempol,Bondowoso. Aku disambut sebuah rumah kuno dua lantai berasitektur Belanda yang dinamai Guest House Jampit. Atap tinggi lengkap dengan cerobong asap untuk perapian. Dindingnya masih terbuat dari kayu bercat coklat. Jendela-jendela besar bertirai putih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBX73TRBcI/AAAAAAAAALE/r7FgqdOWqJY/s1600-h/jampit+a.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBX73TRBcI/AAAAAAAAALE/r7FgqdOWqJY/s320/jampit+a.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390905439931139522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jendela ku buka, mata langsung dimanjakan dengan bunga-bunga khas Eropa yang sedang bermekaran, beraneka warna. Tertata apik di taman seluas dua hektar yang mengelilingi Guest House. Bunga Hidrangea dan Petonia yang berwarna biru. Anyelir ungu. Anemone merah dan kuning. Lely putih. Serta bunga-bunga aqapanthus dan antirrhinum. Semakin sempurna dengan pohon-pohon pinus yang berjejer di tepi taman, menjulang setinggi 30 meter. Aku cukup beruntung mengunjungi Jampit di saat musim bunga sedang mekar. Kita seperti diajak mengunjungi pedalaman Eropa di musim kemarau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai tanaman itu tumbuh dengan baik di Perkebunan Jampit, karena memiliki ketinggian 1.100-1.600 dari permukaan laut. Perkebunan ini dikelilingi Gunung Ijen, Gunung Raung, Gunung Kempit dan Gunung Penataran. Bila siang hari suhunya sekitar 18 derajat celcius, kemudian akan melorot lagi hingga 10 derajat celcius di malam hari. Cukup nikmat rasanya menikmati pemadangan alam dengan hawa sejuknya itu, sambil menyeruput kopi Arabika yang terhidang di meja tamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat ini bisa ditempuh melalui Bondowoso, Situbondo, maupun Banyuwangi yang menuju jalur ke Kawah Ijen. Dari Kota Bondowoso, jaraknya sekitar 58 KM. Sedangkan dari Banyuwangi menempuh jarak sekitar 52 KM. Tanaman kopi Arabika akan menyambut sepanjang perjalanan kita menuju Jampit. Dari total luas perkebunan 3104,41 ha, komoditi kopi Arabika seluas 1252,27 ha dengan jumlah produksi sekitar 889,196 ton tiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBZFiOUFqI/AAAAAAAAALM/L4g7o-CSqRI/s1600-h/jampit+b.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBZFiOUFqI/AAAAAAAAALM/L4g7o-CSqRI/s320/jampit+b.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390906705583543970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arabika adalah komoditi utama Perkebunan Jampit dibawah PT Perkebunan Nusantara XII ini.  Namun PTPN XII baru mengelola seluruh potensi agrowisatanya secara serius pada 2001. Pada tahun itu Jampit mulai disewakan sebagai penginapan. “Sebelumnya, Guest House hanya difungsikan untuk kegiatan dinas PTPN,” tutur Sulistyani, Pelaksana Agrowisata PTPN XII, Minggu (8/8). Di Guest House terdapat lima kamar dan ruang lobby yang dilengkapi televisi. Tempat ini disewakan satu paket seharga Rp 2 juta per malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang Guest House, terdapat Pondok Wisata Jampit yang juga disewakan untuk pengunjung. Bangunan peninggalan Belanda, yang hingga kini masih dipertahankan. Di sini tersedia 25 kasur plus enam kamar. Pengunjung didominasi dari Perancis, Belanda, Belgia, Amerika, dan Korea. Para turis biasa menginap di Jampit sebelum memulai perjalanan mendaki kawah Ijen. Sedangkan bagi wisatawan local, Jampit sangat popular sebagai tempat menggelar outbond.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menunggu perjalanan ke kawah, pengunjung dapat menikmati paket wisata melihat panen buah stroberi dan pengolahan kopi Arabika. Dua paket wisata terakhir ini berada di Perkebunan Kalisat atau biasa disebut Jampit Dua, 14 KM dari Jampit Satu. Dari ketinggian Arabika Homestay di Jampit dua, kita bisa menikmati hamparan kebun stroberi seluas satu hektar, yang dikelilingi kebun kopi. Kebun Stroberi panen dua kali seminggu, yang rata-rata menghasilkan dua kuintal buah stroberi merah dan segar. Selain dikonsumsi sendiri, stroberi dijual ke Surabaya dan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan menginap selain Perkebunan Jampit, berada di Perkebunan Blawan, sekitar delapan kilometer dari Jampit dua. Perkebunan Blawan seluas 5521,45 ha juga menyediakan penginapan rumah bekas Belanda bernama Catimor Homestay Blawan. Catimor yang memiliki 30 kamar, dibangun pada 1894 oleh Sinder Degener. Sebagian besar bangunannya masih dipertahankan, seperti dinding dari bambu. Kecuali bagian lantai yang dirombak dari kayu menjadi tegel berwarna coklat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pemandangan taman di Catimor tidak secantik di Jampit. Catimor lebih menjual suasana rumah yang sepi tanpa hiruk pikuk televisi. Fasilitas modern hanyalah air panas yang terpasang di kamar mandi, sebagai pengusir dingin. Di sekitar Catimor, pengunjung bisa menikmati kebun stroberi, sayur-mayur, dan pabrik pengolahan kopi Arabika. Setiap datang, tamu dipersilakan menikmati secangkir kopi Arabika yang bisa dibikin sendiri di depan ruang resepsionis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu yang sebagian besar adalah turis, kebanyakan dibawa oleh travel-travel agen dari Probolinggo yang melayani paket wisata pendakian di Gunung Bromo dan Kawah Ijen. Mereka biasa menginap selama sehari saja. Menurut salah seorang guide dari Cakrawala Travel Probolinggo, yang membawa 13 turis dari Australia, mereka tiba di Blawan pada Sabtu pagi hari (7/8). Beristirahat penuh seharian, mengumpulkan tenaga sebelum memulai pendakian. Mereka mulai meninggalkan Catimor keesokan harinya pada jam empat subuh menuju kawah Ijen. Setelah mendaki, turis langsung bertolak ke Bali dengan melewati jalur Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Franco, 48, salah satu wisatawan asal Italy mengatakan tidak sempat berkeliling ke tempat wisata sekitar Blawan karena waktu menginapnya hanya sehari. Namun ia cukup menikmati selama menginap di Catimor. “Pemandangan alamnya sangat indah,” kata karyawan perusahaan tekstil yang mendapat jatah berlibur selama sebulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juni hingga Agustus adalah puncak kunjungan turis ke Kawah Ijen. Jumlahnya lebih dari seratus orang tiap hari. Karena itu tingkat hunian tiga penginapan di Jampit dan Blawan selalu penuh terisi. Sayangnya potensi ini belum diimbangi akses jalan yang memadai. Tantangan terberat menuju kedua perkebunan itu adalah menaklukan jalan. Baik ditempuh dari Banyuwangi maupun Bondowoso, kualitas jalannya sama-sama rusak berat. Bila Anda sedang membawa kendaraan yang mesinnya kurang prima, aku tak yakin Anda akan bisa menaklukan seluruh jalan dengan lancar. IKA NINGTYAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kisah Tentang Damarwulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari Catimor Homestay Blawan, sedikitnya terdapat empat wisata alam yang menarik dikunjungi. Yakni, air terjun Blawan, kolam Damarwulan, pemandian air hangat, dan gua kapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBZ2SD-SXI/AAAAAAAAALU/gRhh2exJCAg/s1600-h/jampit+d.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBZ2SD-SXI/AAAAAAAAALU/gRhh2exJCAg/s320/jampit+d.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390907543058794866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air terjun Blawan terletak satu kilometer dari Catimor. Bedanya dengan air terjun lain, air terjun Damarwulan setinggi 30 meter berwarna kekuningan. Warna kuning sesungguhnya adalah kandungan belerang yang mengalir dari mata air belerang dari gunung Ijen. Air terjun itu mengebulkan uap di antara bukit-bukit hijau yang mengelilingi lokasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari air terjun kita bisa menuju pemandian air hangat, jaraknya sekitar 100 meter. Dua kolam yang hangatnya sekitar 50 derajat celcius, merupakan campuran antara air dengan belerang. Menurut Sirianto, 64, petugas jaga, air campuran belerang itu bisa menyembuhkan linu dan reumatik. Tiket masuknya Rp 2 ribu per orang. Sayang tempatnya mulai tak terurus sehingga terkesan kotor dan penuh lumut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tempat wisata di Desa Kalianyar itu dipercaya masyarakat sebagai tempat perlindungan Damarwulan, seorang mahapatih Majapahit saat berperang melawan Raja Kerajaan Blambangan Minakjingga. Sirianto bercerita, Damarwulan bersembunyi di Gua Kapur yang letaknya 175 KM dari pemandian air hangat. Di dalam gua terdapat kolam yang digunakan Damarwulan membasuh muka. Begitu juga dengan kolam Damarwulan, kata Sirianto, dipercaya sebagai tempat mandi Damarwulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara tempat wisata itu, kita bisa menyaksikan para petani yang menanam kubis di halaman rumah mereka. Blawan yang terletak di ketinggian 900-1000 dari permukaan laut memang cocok menjadi tempat tumbuh kubis. Saat panen, petani biasa menjualnya di Bondowoso, Jember dan Situbondo. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-1858615768774137983?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/1858615768774137983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=1858615768774137983' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/1858615768774137983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/1858615768774137983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2009/10/persinggahan-sebelum-ke-kawah-ijen.html' title='Persinggahan Sebelum ke Kawah Ijen'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBX73TRBcI/AAAAAAAAALE/r7FgqdOWqJY/s72-c/jampit+a.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-4338809136371645910</id><published>2009-10-10T10:27:00.002+01:00</published><updated>2010-06-19T13:29:09.260+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klenceran'/><title type='text'>Jalan Nostalgia Turis Eropa</title><content type='html'>Secangkir kopi robusta yang kutengguk, cukup menghangatkan tubuh di tengah gerimis. Hampir sejam, gerimis belum juga berhenti turun. Hawa dingin semakin menjadi-jadi, begitu aku menginjakkan kaki di Margo Utomo Agro Resort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menengguk kopi dengan sedikit gula, giliran aku menyantap roti dengan keju mozarella. Kandungan susu sapinya cukup terasa di lidah. Tak hanya keju, di meja sudah terhidang aneka selai seperti selai pala dan nanas. Aku tergoda mencicipi selai pala berwarna merah marun. Rasanya cukup manis. Di kampungku, pala biasanya dijadikan manisan yang cukup alot di gigi.  "Semuanya kita produksi sendiri, jadi lebih alami" kata Endang Mariyana, 56, Direktur Operasional Margo Utomo Agro Resort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBd78ype-I/AAAAAAAAALc/sdSaZD4uxKI/s1600-h/P1060507.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBd78ype-I/AAAAAAAAALc/sdSaZD4uxKI/s320/P1060507.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390912038474709986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Endang menu tersebut, adalah menu favorit untuk sarapan para turis yang menginap di tempatnya. Hampir seluruh  makanan dan minuman itu, memang diolah sendiri oleh karyawan. Bahkan bahan-bahannya, seperti tanaman kopi, pala, dan susu sapi juga diambil dari milik Margo Utomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, pengelola kawasan wisata di Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, itu rupanya cukup jeli memanfaatkan peluang untuk menarik minat wisatawan. Disini, pengunjung bisa menyaksikan kebun mini yang menyimpan seratus lebih jenis tanaman, peternakan susu, termasuk pabrik-pabrik kecil pengolah berbagai makanan untuk konsumsi para tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Margo Utomo Agro Resort adalah salah satu agrowisata di Kabupaten Banyuwangi. Terletak di ketinggian 480 dari permukaan laut, menjadikan wilayah ini cocok untuk perkebunan. Sejak zaman Belanda hingga kini, daerah di Kecamatan Kalibaru telah menjadi pusat perkebunan kopi, karet, coklat dan cengkeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai menikmati sarapan, aku mengikuti rombongan 10 turis dari Belanda yang dibawa Sawadee Travel. Mereka menghabiskan tiga minggu untuk mengunjungi Yogyakarta, Gunung Merapi, Margo Utomo, dan terakhir, ke Bali. Di Margo Utomo mereka mengambil paket wisata ke kebun mini (mini plantation) yang dipandu Khairil, 41, seorang pemandu wisata yang fasih berbahasa Belanda. Ia juga merangkap koki dan bartender di Margo Utomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke kebun mini itu ditempuh dalam dua jam. Letaknya persis di belakang hotel Margo Utomo. Mula-mula para turis itu diajak ke peternakan sapi perah. Margo Utomo memelihara 77 sapi perah. Dari peternakan itu, setiap harinya dihasilkan sekitar 600 liter susu sapi segar . Selain dikonsumsi sendiri, susu sapi dijual dalam kemasan setengah liter ke daerah Banyuwangi dan Bali. Dari susu tersebut kemudian diolah lagi menjadi keju mozzarella dan roti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, para turis diajak melihat pembuatan gula merah tradisional. Gula ini dibuat dari kelapa yang puluhan pohonnya ditanam di kebun. Disitu dua orang nampak sibuk memanaskan wadah besar berisi air kelapa di atas kayu bakar. Cairan merah itu kemudian dituangkan dalam cetakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBevW_6ndI/AAAAAAAAALk/T64V1Od_P-I/s1600-h/P1060456.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBevW_6ndI/AAAAAAAAALk/T64V1Od_P-I/s320/P1060456.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390912921683008978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pabrik pengolahan gula merah, para turis disambut dengan ratusan tanaman di atas lahan seluas sembilan hektar. Di sana ditanam, vanili, coklat, kelapa, kopi, karet, lada, pala, salak, karet, dan jenis pohon tinggi lainnya. Mengenal satu demi satu jenis pepohonan itu rupanya menjadi pengalaman pertama bagi turis. Tak henti-hentinya para bule itu terkaget-kaget dan histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga ikut tergelak melihat reaksi mereka, ketika guide meminta mereka mengunyah buah merica. Sepintas, buah merica berwarna kehijauan itu mirip buah yang manis. Mereka berlomba-lomba memasukkan buah merica itu ke dalam mulut. Tak lama kemudian, mereka berteriak, “Ouw…paper.” Mereka meringis pedas, dan membuang seluruh isi mulut. Setelah mengerjai dengan merica, guide kembali bertanya dalam bahasa Belanda yang artinya kurang lebih begini: “Tahukah Anda dengan pohon kondom?” Semuanya saling menoleh, kemudian berseru, “Condom boom? Really?” Para bule kemudian melangkah setengah berlari mengikuti guide. Mereka pun tergelak begitu mengetahui kalau pohon kondom yang dimaksud adalah pohon karet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pohon seperti karet dan lada yang bukan bahan konsumsi utama, ditanam dalam jumlah sedikit. Menurut Khairil, pemandu wisata, pohon-pohon itu hanya untuk keperluan wisata bukan konsumsi. Umumnya turis tidak pernah mengetahui pohon aslinya meski sering mengkonsumsi. “Inilah paket yang kita jual untuk mereka,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mariama,46, salah satu turis dari Belanda mengatakan, di negeri asalnya bahan-bahan mulai vanili, lada, buah salak, kelapa, coklat, biasa mereka beli dari supermarket dalam wadah kaleng. “Kita tinggal mengkonsumsi saja,” katanya usai mengikuti tour di kebun mini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berbagai tanaman itu, Margo Utomo juga memiliki seratus lebih koleksi tanaman hias yang mereka tanam mulai halaman depan hingga ke area penginapan. Sebagian tanaman hias itu tergolong langka, seperti sambang darah (Excoecaria cochinencis), dinding ari (Hemigraphis colorata) dan ekor tupai (Wodyetia bifurcata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paket wisata lainnya yang biasa dinikmati para turis adalah keliling desa. Margo Utomo menyediakan fasilitas keliling desa ini dengan dokar dan kereta api mini. Dengan dokar, turis bisa menikmati pemandangan desa, sawah, dan pasar tradisional di sekitar Margo Utomo. Sedangkan dengan KA mini, perjalanan hanya menempuh sekitar 10 KM, dimulai dari Stasiun Kalibaru ke stasiun Garahan,Jember. KA mini tersebut menggunakan KA lori yang dimodifikasi sedemikian rupa, berkapasitas delapan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para turis, konsep wisata demikian memang cukup diminati. Buktinya, Margo Utomo nyaris tak pernah sepi dari turis. Saat aku berkunjung Sabtu akhir pekan lalu, hunian 80 kamar penuh. Dibanjiri turis dari Belanda, Jerman, dan Amerika. Kelebihan lainnya karena Margo Utomo juga menyediakan paket wisata ke Gunung Ijen, Plengkung, dan penangkaran penyu Sukamade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun wisatawan domestik juga sering mampir. Kalau tidak tertarik dengan tour kebun mini, biasanya turis lokal lebih memilih berarung jeram di aliran sungai belakang Margo Utomo 2. Sayangnya, aku tidak bisa menjajal tantangan berarung jeram ini karena arus sangat besar dan membahayakan. IKA NINGTYAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perintis Agro Wisata di Tanah Air&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Margo Utomo berarti jalan utama. Nama ini dipakai turun temurun oleh keluarga besar H. Moestadjab (Alm) hingga kini. Pada tahun 1946, dia mewarisi 10 hektar lahan perkebunan kopi dan kelapa Margo Utomo dari kakeknya, Raden Mas Moestadjab. Selain perkebunan, tahun 1970, keluarga tersebut memulai usaha peternakan sapi perah dan produksi susu sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moestadjab mulai membangun kawasan agrowisata ini pada tahun 1972, sehingga tercatat sebagai perintis agrowisata di tanah air. Menurut Endang Mariana, 56, salah seorang anak Moestadjab, ayahnya memulai merintis dari dua kamar pribadinya. Ayahnya, kata Endang, melakoni sendiri mulai mempromosikan, mencari turis, dan menjadi guide. Perburuan turis tersebut, kata perempuan kelahiran Jember ini, sampai ke kota Yogyakarta. “Baru tahun 1979 ada turis mau datang,” kata ibu dua anak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBfKCWtFDI/AAAAAAAAALs/_H7DR_iu9Kw/s1600-h/P1060544.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBfKCWtFDI/AAAAAAAAALs/_H7DR_iu9Kw/s320/P1060544.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390913379997914162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Margo Utomo semakin menggembirakan. Lalu mulailah dibangun kamar-kamar. Saat ini ada 50 kamar di Margo Utomo 1, yang letaknya persis di belakang stasiun Kalibaru. Berikutnya, tahun 1995 Moestadjab mengembangkan Margo Utomo 2 berjarak 3 KM arah selatan dengan 30 kamar. Arsitektur kamar bergaya kuno dengan jendela dan pintu bercorak arsitektur Belanda tetap dipertahankan hingga sekarang. Di dalam kamar, tidak ada fasilitas AC, teve maupun radio. Hanya ada internet gratis di ruang loby. “Disini tamu akan benar-benar beristirahat,” Ujar Endang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya, para tamu didominasi turis Eropa, terutama Belanda. Mereka tertarik datang ke Kalibaru untuk bernostalgia karena pernah bekerja di perkebunan-perkebunan setempat. Atau juga untuk menyaksikan langsung tempat yang menjadi cerita dari nenek-kakek mereka. Lambat-laun tujuan turis datang mulai beragam, karena suka wisata alam. Tak hanya dari Belanda, turis Italia, Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat tercatat pernah mampir di Margo Utomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tetap saja, napas obyek wisata ini masih bergantung dengan Bali. Karena kebanyakan, paket wisata Margo Utomo yang disediakan agen travel masih satu paket dengan wisata Bali. Para turis biasanya hanya menghabiskan dua malam di Margo Utomo, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Bali. Saat Bom Bali I, misalnya. Hampir setahun Margo Utomo tak beroperasi karena sepi dari turis. Seluruh usaha sampingan seperti produksi susu sapi juga loyo. “Untungnya sekarang sudah mulai penuh lagi,” ucap Endang. Dia bersyukur pula karena tragedy bom di Mega Kuningan Jakarta tak memengaruhi minat para turis mampir di tanah Margo Utomo. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-4338809136371645910?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/4338809136371645910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=4338809136371645910' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/4338809136371645910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/4338809136371645910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2009/10/jalan-nostalgia-turis-eropa.html' title='Jalan Nostalgia Turis Eropa'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBd78ype-I/AAAAAAAAALc/sdSaZD4uxKI/s72-c/P1060507.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-316088887335484232</id><published>2009-10-10T10:24:00.002+01:00</published><updated>2010-06-19T13:29:25.759+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klenceran'/><title type='text'>Kemiren, Wajah Banyuwangi Tempo Dulu</title><content type='html'>Setelah 15 menit perjalanan dari Kota Banyuwangi, akhir pekan lalu, laju motor kuperlambat setiba di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Kebetulan sekali, di jalanan utama desa ini, aku berpapasan dengan arak-arakkan sunatan (khitanan) yang menanggap barong dengan iringan penabuh kuntulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusebut kebetulan karena tak setiap saat kita bisa menyaksikan kesenian yang sudah mentradisi di desa ini. Hanya saat ada hajatan kawinan, sunatan dan sehari setelah lebaran. Kondisi desa ramai menyeruak. Jalanan desa disesaki warga untuk menonton kesenian asli kemiren yang mengarak seorang bocah di atas kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara ratusan warga yang menonton kesenian itu, aku menyaksikan perempuan-perempuan tua masih berpakaian tradisional. Berkebaya dengan jarik bermotif batik gajah uling -khas Banyuwangi. Dari bibir mereka menyembul inang berwarna oranye. Meskipun jumlah mereka itu minoritas karena perempuan-perempuan mudanya sudah berpakaian lebih modern. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBhPKw8x9I/AAAAAAAAAL0/z_VoIqAXEWA/s1600-h/kemiren+5.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBhPKw8x9I/AAAAAAAAAL0/z_VoIqAXEWA/s320/kemiren+5.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390915667178080210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga menjumpai rumah-rumah yang mempertahankan khas Using. Terutama saat memasuki lorong-lorong desa. Berdinding bambu, dengan tipe atap yang berbeda antara teras, ruang tengah dan dapur. Corak rumah demikian ini disebut tikel balung, baresan, dan crocogan. Memang sebagian rumah lainnya, sudah mengikuti arsitektur masa kini berdinding tembok untuk menyesuaikan kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkunjung ke desa berpenduduk sekitar 3 ribu jiwa ini seolah-olah kita diajak melihat wajah Banyuwangi tempo dulu. Sejak 1989, desa ini ditetapkan sebagai desa wisata adat Using. Namun, Kemiren memang bukan sebuah desa yang masyarakatnya eksklusif atau menutup diri sebagaimana kalau kita menjumpai suku Badui atau Tengger. Di satu sisi, mereka sangat terbuka terhadap kemajuan jaman, seperti nampak pada cara berpakaian perempuan muda dan arsitektur rumah masa kini. Tapi di sisi lain, mereka cukup kukuh menjalankan tradisi nenek moyangnya, mulai hal paling kecil sampai yang sakral seperti perkawinan sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunikan dan keasliaan budaya inilah yang menjadikan Kemiren berbeda dengan desa Using lainnya di Banyuwangi. Karena itu, mau tak mau untuk menikmati keunikan budaya di Kemiren, kita harus berinteraksi dengan masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan budaya yang dimiliki Desa Kemiren hampir terjadi di semua aspek kehidupan. Mulai bertani, berbahasa, perjodohan, adat pernikahan, sunatan, hingga kesenian. Hal yang paling remeh seperti kasur misalnya. Percaya atau tidak, seluruh keluarga di sini memakai kasur berwarna sama: hitam dan merah (kasur cemeng-abang). Kasur ini disiapkan mempelai perempuan menjelang pernikahan. Hitam melambangkan kelanggengan, dan merah symbol kesiapan menghadapi tantangan selama berumah tangga. “Nenek dulu pakai kasur seperti ini,” ujar Rajaonah, 43 tahun, yang juga menyiapkan kasur serupa untuk anak gadisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenian Kemiren, selain barong dan angklung juga hidup kesenian jaranan, kebo-keboaan, Mocoan lontar, hingga tari Gandrung. Tokoh terkenal penari Gandrung dari Kemiren adalah Temu, atau biasa dijuluki Gandrung Temu. Hingga kini ia masih aktif menari sembari mewariskan kepada anak-anak gadis di sekitarnya. Selain piawai menari gandrung, Temu juga menyanyi dengan suara khas Usingnya yang melengking tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBhi9uO1dI/AAAAAAAAAL8/UeinxScVKXo/s1600-h/kemiren+4.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBhi9uO1dI/AAAAAAAAAL8/UeinxScVKXo/s320/kemiren+4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390916007274403282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bercocok tanam, masyarakat Kemiren menggelar tradisi selamatan saat menanam benih, saat padi mulai berisi, hingga panen. Saat masa panen tiba, petani menggunakan ani-ani diiringi tabuhan angklung dan gendang yang dimainkan di pematang-pematang sawah. Saat menumbuk padi, para perempuan memainkan tradisi gedhogan, yakni memukul-mukul lesung dan alu sehingga menimbulkan bunyi yang enak didengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu upacara perkawinan yang digelar masyarakat Kemiren adalah tradisi perang bangkat saat mengawinkan anak bungsu. Perang yang dimaksud adalah perang mulut antara pihak mempelai pria dan wanita menjelang upacara dipertemukannya pasangan pengantin. Upacara ini menjadi simbol betapa tidak mudah dan banyak persyaratan yang diperlukan untuk meminang sang gadis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke Desa Kemiren kurang lengkap tanpa mengunjungi makam Buyut Cili, sekitar setengah kilometer dari desa. Setiap Jumat atau Senin, makam itu disesaki warga Kemiren yang menggelar selamatan dengan berbagai makanan khas seperti pecel ayam. Menurut Serad, 69 tahun, tetua desa, Buyut Cili dipercaya sebagai penghuni pertama yang membuka Desa Kemiren. Warga yang akan menggelar hajatan seperti perkawinan, sunatan, atau bernadhar, kata Serad, harus menggelar selamatan di makam. “Kalau tidak, anggota keluarga ada yang sakit,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai hasil kebudayaan Desa Kemiren,bisa kita saksikan dari koleksi Pak Sae yang diwarisinya secara turun temurun. Mulai arsitektur rumah, perabot, meja-kursi kuno, alat-alat pertanian, hingga kasur hitam-merah berusia ratusan tahun masih tersimpan rapi dalam rumahnya yang terletak di jantung desa. Bila melongok ke buku tamu, tercatat ratusan turis baik untuk kepentingan wisata atau penelitian telah mengunjungi museum pribadi ini. IKA NINGTYAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berakhir di Kolam Renang&lt;br /&gt;Nenek moyang masyarakat Desa Kemiren dipercaya berasal dari Cungking, sekitar 10 menit dari Kemiren yang kini jadi desa kota. Mulanya, Desa Kemiren adalah hutan belukar yang tak bernama. Menurut Serad, 69 tahun, tetua desa, perkembangan penduduk yang padat membuat sebagaian warga Cungking yang beragama Hindu itu terdesak ke Kemiren. Saat membabat hutan, banyak ditemukan pohon kemiri dan duren, yang kemudian tempat itu disebut Kemiren (singkatan kemiri-duren).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBh1VPsAMI/AAAAAAAAAME/PwrSnXV6rjw/s1600-h/kemiren+3.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBh1VPsAMI/AAAAAAAAAME/PwrSnXV6rjw/s320/kemiren+3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390916322826387650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Serad, pohon kemiri dan duren masih banyak dijumpai. Bahkan di belakang rumah Serad, tumbuh pohon durian berusia ratusan tahun. Uniknya, durian ini berwarna merah, bukan kuning seperti biasanya. Ukurannya juga lebih besar. Durian merah yang biasa dijual Rp 50 ribu ini banyak diburu orang, karena dipercaya bisa menyembuhkan penyakit dan penambah keperkasaan lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat perpindahan tempat itu, kata Serad, budaya asli masih terus digelar oleh masyarakat Kemiren. Tradisi barong, jaranan, gandrung dan selamatan yang semula bercorak Hindu, berakulturasi dengan Islam begitu agama ini masuk dan dianut seluruh warga desa. “Budaya kami tak pernah mati,” katanya, Sabtu akhir pecan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ditetapkan menjadi Desa Wisata Using, tahun 1995 Bupati Purnomo Sidik membangun anjungan wisata yang terletak di utara desa. Anjungan yang berdiri di atas lahan 2,5 hektar ini dibangun dengan biaya Rp 4 miliar. Anjungan ini dikonsep menyajikan miniatur rumah-rumah khas Using, mempertontonkan kesenian warga setempat, dan memamerkan hasil kebudayaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, rupanya konsep ini tak berjalan baik. Miniatur-miniatur rumah teronggok begitu saja. Tontonan hanya disajikan  bila ada tamu yang meminta. Akhirnya pada 2002, pengelola anjungan wisata ini diserahkan ke pihak ketiga. Renovasi dilakukan besar-besaran ditambah dua kolam renang di tengah arena untuk menarik minat pengunjung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tiket masuk Rp 5 ribu per orang, aku bisa berenang sepuasnya sambil menikmati enam miniatur rumah yang mengelilingi kolam. Lagu-lagu Using Banyuwangi, yang dinyanyikan lusinan penyanyi lokal disetel melalui pengeras suara. Kalau lapar, aku tinggal menyantap rujak soto, -makanan khas, yang dijual di depot pinggir kolam. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-316088887335484232?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/316088887335484232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=316088887335484232' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/316088887335484232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/316088887335484232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2009/10/kemiren-wajah-banyuwangi-tempo-dulu.html' title='Kemiren, Wajah Banyuwangi Tempo Dulu'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBhPKw8x9I/AAAAAAAAAL0/z_VoIqAXEWA/s72-c/kemiren+5.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-6512003618111475993</id><published>2009-10-10T10:20:00.002+01:00</published><updated>2010-06-19T13:29:43.831+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klenceran'/><title type='text'>Jejak Kerajaan Blambangan di Kota Ikan</title><content type='html'>Reruntuhan bangunan itu hanya menyisakan 49 batu persegi setinggi lima puluh centi. Batu-batu itu mengelilingi tempat seluas setengah hektar yang tersusun dari batu bata. Warna batu bata itu mulai hijau karena dipadati lumut. Dari seluruh batu-batu itu, hanya ada sembilan batu yang tengahnya berlubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu-batu berlubang itu konon dipercaya sebagai penyangga. Sedangkan batu yang pepat adalah semacam tempat duduk. Tempat ini dipercaya sebagai balai pertemuan tamu-tamu Kerajaan Blambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak ditemukan pertama kali oleh Mbah Nadi Gede pada 1916, tempat ini dinamai Umpak Songo. Umpak berarti penyangga, sedangkan songo adalah sembilan. Situs ini kini dikelilingi sekitar 20 rumah, yang merupakan keturunan Mbah Nadi Gede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan situs ini, seringkali menjadi rujukan wisata situs-situs kuno. Sebab, Blambangan yang pernah menguasai Banyuwangi, Situbondo, Jember, Lumajang, hingga Probolinggo masih menyimpan sejarah yang belum banyak diungkap hingga kini. Bukan hanya masyarakat lokal, wisatawan asing sering berkunjung. Selain untuk mencari hiburan yang mendidik, situs Umpak Songo menjadi tempat semedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBjyG3JRJI/AAAAAAAAAMM/1H1V6x3wlmk/s1600-h/Umpak+SONGO+2.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBjyG3JRJI/AAAAAAAAAMM/1H1V6x3wlmk/s320/Umpak+SONGO+2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390918466448999570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain batu-batu itu, menurut juru kunci, Soimin, saat penggalian dulunya di situs ini banyak ditemukan gerabah dan fragmen keramik asing yang kebanyakan dari Cina. Seperti keramik dinasti Sung abad XIII, keramik dari dinasti Yuan abad XIV, keramik dinasti Ming abad XIV, XV dan XVI. Selain itu ditemukan keramik  dari Eropa abad XIX dan dari Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi sudah dijual oleh warga yang menemukan," kata Soimin, 72 tahun, keturunan ketiga Mbah Nadi Gede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersebelahan dengan Situs Umpak Songo, ada Umpak Lima berupa batu persegi berjumlah lima buah. Tempat ini dipercaya, sebagai tempat semedi para raja Blambangan. Sayangnya, keberadaan lima batu ini sudah tak utuh lagi karena dirusak warga dan diganti dengan bangunan musholla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang unik, diantara kedua situs ini tumbuh pohon pakis setinggi 10 meter yang umurnya sudah ribuan tahun. Menurut Soimin, pohon itu pernah tidak mengeluarkan daun selama Soeharto berkuasa. "Sekarang malah subur lagi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan sekitar satu kilometer dari Situs Umpak Songo, kita akan menjumpai Situs Siti Hinggil. Nama ini diambil dari kata siti artinya tanah dan hinggil berarti tinggi. Siti Hinggil diartikan tanah yang tinggi atau semacam bukit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk berada di puncak tempat ini, kita harus naik sekitar setengah kilo. Dari atas, kita bisa melihat laut Muncar dengan segala aktivitas nelayan. Karena langsung berhadapan dengan pantai inilah, Situs Siti Hinggil, dulunya dipakai sebagai tempat pengintaian Kerajaan Blambangan untuk mengawasi musuh yang datang dari arah laut. Di situs ini, ada pecahan-pecahan batu besar yang terdapat bekas kaki salah satu raja Blambangan, Minakjinggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs-situs ini menjadi satu kesatuan dengan Situs Tembokrejo seluas 500 hektar berupa bangunan keliling dari batu karang. Situs yang tak lagi utuh ini merupakan dinding wilayah Kerajaan Blambangan. Adanya temuan tembok raksasa inilah, yang berikutnya menjadi cikal bakal nama Desa Tembokrejo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya bisa melihat peninggalan Kerajaan Blambangan, peninggalan tentara Jepang juga bisa kita saksikan di Kecamatan Muncar. Namanya, Gumuk Kantong. Kita hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dari Situs Siti Hinggil untuk mencapai tempat ini, di Dusun Palurejo, Desa Sumbersewu, Muncar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gumuk Kantong berupa bukit setinggi 40 meter, yang di dalamnya dibangun sedemikian rupa dengan lubang-lubang besar menghadap pantai. Menurut Suharno, warga sekitar, tempat yang difungsikan untuk tempat pengintaian musuh ini dibangun saat pendudukan Jepang sejak tahun 1942-1943. "Dulunya musuh sering datang melalui laut Muncar ini," kata Suharno, yang siang itu mengajak anak dan istrinya untuk berwisata di Gumuk Kantong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga yang berpelesiran di tempat ini, biasanya naik hingga ke puncak bukit. Di puncak, kita bisa menyaksikan birunya laut yang menawan. Lengkap dengan berbagai pepohonan pantai yang tinggi menjulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBkG0yB75I/AAAAAAAAAMU/PuTB07YYzcw/s1600-h/Pemandangan+Muncar+4.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBkG0yB75I/AAAAAAAAAMU/PuTB07YYzcw/s320/Pemandangan+Muncar+4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390918822372962194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Suharno, Gumuk Kantong dibuka lagi untuk umum sekitar tahun 2000-an setelah sebelumnya ditutup karena pembangunan tambak di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, Gumuk Kantong belum terjaga baik. Berbagai coretan memenuhi dinding bangunan. Meski sudah ada himbauan keras yang menempel di dinding, namun coretan semakin bertambah tiap hari. IKA NINGTYAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Muncar, Kaya Ikan, Kaya Obyek Wisata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kecamatan Muncar yang berpenduduk 11.796 jiwa ini terkenal karena memiliki pelabuhan ikan terbesar kedua di Indonesia dengan hasil tangkapan hampir 60 ribu ton per tahun. Sedikitnya 5 ribu nelayan menggantungkan hidup dengan 300-an kapal ukuran sedang dan besar yang setiap harinya menempuh jarak bermil-mil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas para nelayan mulai pagi hingga sore hari, menjadi pemandangan yang tak kalah menarik selain wisata situs tadi. Bila Anda doyan makanan laut, bolehlah langsung membeli ikan tangkapan nelayan yang baru diturunkan dari kapal. Jenisnya beragam, mulai kakap, lemuru, udang, dan ikan hiu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan aneh, bila datang ke Muncar yang terasa hanya bau amis. Meski Anda sudah berjarak 5 KM dari pelabuhan ikan, bau amis ini seolah-olah masih berada di dekat Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kalau kelelahan berkeliling, Anda boleh berendam dan berenang di pemandian Gumuk Kantong, tidak jauh dari situs Gumuk Kantong. Tarifnya murah hanya Rp 6 ribu per orang, maka Anda bisa merasakan segarnya air pemandian ini, sambil menikmati panorama yang tak kalah mempesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjangkau Kecamatan Muncar relative mudah. Dari terminal kota, Anda bisa menggunakan bus umum jurusan Muncar. Dari terminal Muncar, berbagai angkutan bisa Anda gunakan, mulai becak, ojek bahkan angkot. Para supir dan masyarakat umumnya sudah mengenal berbagai tempat wisata itu dengan baik. Sehingga, perjalanan Anda bisa semakin lancar. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-6512003618111475993?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/6512003618111475993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=6512003618111475993' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/6512003618111475993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/6512003618111475993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2009/10/jejak-kerajaan-blambangan-di-kota-ikan.html' title='Jejak Kerajaan Blambangan di Kota Ikan'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBjyG3JRJI/AAAAAAAAAMM/1H1V6x3wlmk/s72-c/Umpak+SONGO+2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-8976768415149360741</id><published>2009-10-10T10:15:00.002+01:00</published><updated>2010-06-19T13:29:59.679+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klenceran'/><title type='text'>Berselancar di Pulau Merah</title><content type='html'>Matahari serasa berada tepat di atas ubun-ubun. Teriknya menyengat kulit. Tapi, keluarga Narto tak beranjak dari pantai Pulau Merah. Dengan kaki telanjang, Narto yang mengajak serta anak dan istrinya berkejar-kejaran dengan ombak. "Kalau kena air laut kaki tak terasa panas lagi," kata lelaki, asal Dusun Tegalsari, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBlN43iRrI/AAAAAAAAAMc/hb6mQnujB8w/s1600-h/Pulau+Merah+8.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBlN43iRrI/AAAAAAAAAMc/hb6mQnujB8w/s320/Pulau+Merah+8.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390920043240507058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila keluarga Narto lebih senang menantang matahari, beda lagi dengan tiga keluarga yang memilih menikmati panorama laut dari pinggir pantai. Mereka duduk-duduk di batang pohon pandan duri yang memanjang sepanjang pantai. Daun pandan yang amat lebat, panjang menjulur, serasa menghalau panas. Yang terasa hanya semilir angin yang mendatangkan kantuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin laut di Pulau Merah memang agak kencang. Itu pula yang membuat gelombang laut yang masuk laut selatan itu relatif lebih tinggi, antara 4-5 meter. Dari jauh, gelombang laut itu menimbulkan gemuruh yang sangat keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertambah siang, pengunjung makin bertambah. Karena saat matahari menyengat itulah, keelokan pantai Pulau Merah seolah mencapai klimaksnya. Di tengah laut, tujuh bukit membentuk barisan. Dilengkapi juga dengan batu-batu karang berwarna kecoklatan. Salah satu bukit yang dekat dengan pantai menjulang sekitar ratusan meter dari permukaan laut. Bila tertimpa sinar, bukit ini berwarna kemerah-merahan. Dari bukit merah inilah, awal mula mengapa pantai di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran ini terkenal dengan nama Pulau Merah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukit ini tanpa penghuni, kecuali pepohonan hutan. Namun bila musim penghujan tiba, warna bukit menghijau karena dedaunan pohon tumbuh dengan lebat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBli9D5uYI/AAAAAAAAAMk/iDUmsI7KiNs/s1600-h/Pulau+Merah+7.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBli9D5uYI/AAAAAAAAAMk/iDUmsI7KiNs/s320/Pulau+Merah+7.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390920405143370114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keelokan Pulau Merah serasa lengkap dengan warna pasir yang kekuningan. Tak ada sampah berserakan. Yang ada justru kerang-kerang berwarna-warni. Pengunjung biasanya langsung memunguti kerang untuk dibawa pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Narto, kealamian Pulau Merah itulah yang menjadikan obyek wisata ini sangat menarik. "Pantai yang lain sudah tercemar tangan manusia," kata pria usia 35 tahun, yang saban bulan berekreasi ke Pulau Merah. Selain warga sekitar, Pulau Merah banyak dikunjungi warga dari lain kecamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya untuk bersantai, Pulau Merah kerap dijadikan tempat berselancar (surfing). Seperti yang dilakukan Sucipto, 25 tahun, peselancar professional yang siang itu berusaha menaklukan ombak Pulau Merah. Menurut Sucipto, ia mulai memindahkan hobinya berselancar dari Pulau Bali ke Pulau Merah, Banyuwangi. Bahkan, ia sering membawa turis dari Perancis, Jerman, dan Australia untuk menjajal surfing di Pulau Merah. Selain irit di ongkos karena tak ada kewajiban membayar, ombak Pulau Merah sangat cocok untuk peselancar pemula. “Turis mulai minat berselancar disini,” tutur Sucipto, yang sudah lima tahunan belajar surfing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki asal Banyuwangi itu menuturkan, ombak di Pulau Merah yang cocok untuk berselancar masih jadi satu kesatuan dengan ombak di Plengkung, Banyuwangi. Plengkung yang menjadi pusat berselancar wisatawan asing yang banyak diminati selain Pulau Bali, katanya, semakin ramai. Tiketnya juga semakin mahal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, menurut Sucipto, dua tahun lalu ia berancang-ancang untuk mencari kawasan lain yang tidak kalah menarik dengan Plengkung. Rupanya pilihan itu jatuh di Pulau Merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja aksi Sucipto ‘bermain-main’ dengan ombak di tengah lautan menjadi tontonan mengasyikkan bagi pengunjung lain. Begitu Sucipto naik ke pantai, ada saja pengunjung yang mengajaknya foto bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila terasa lapar  namun tak bawa bekal makanan, Anda boleh mencoba semangkuk bakso ‘Pulau Merah’ yang berdiri satu-satunya di kawasan itu. Rasanya memang sama dengan bakso kebanyakan. Evi Erlita Yunani, 28 tahun, si penjual mengatakan, warungnya hanya ramai pada hari Minggu atau hari libur saja. Sebab, diluar hari itu Pulau Merah nyaris sepi.”Tapi tiap hari saya selalu jualan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evi adalah warga sekitar yang mencoba keberuntungan dengan berjualan di Pulau Merah. Menurutnya, sejak Tsunami melanda tahun 1993 lalu, obyek wisata ini nyaris tak pernah dikunjungi lagi.  Pulau Merah baru dikunjungi warga dari luar desa sekitar tahun 2000-an.&lt;br /&gt;Wisata ini memang belum terkelola. Karena itulah Pulau Merah tidak memiliki fasilitas pendukung. Pengunjung akan kesulitan menemukan toilet maupun Musholla. Bangunan toilet memang ada, namun menurut Evi, belum dilengkapi dengan air. Maklum, air di wilayah ini sangat sulit karena terletak di daerah kering. Untuk mendapatkan air, warga harus menggali sumur sedalam 25-30 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mensiasati kebutuhan akan toilet dan Musholla, pengunjung bisa menampung di rumah warga yang berjarak sekitar 50 meter dari pantai. Umumnya warga akan bersedia menampung.  Barangkali akan menjadi berbeda bila keelokan di Pulau Merah dilengkapi dengan fasilitas wisata. Tentu, pengunjung tak perlu kerepotan dan semakin bergairah berwisata ke Pulau Merah. IKA NINGTYAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keelokan Ditengah Ancaman Kerusakan Lingkungan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Merah, terletak sekitar 60 KM dari Kota Banyuwangi arah selatan. Untuk menjangkau obyek wisata ini membutuhkan perjuangan dan kesabaran tersendiri. Selain lamanya perjalanan yang membutuhkan waktu 2,5 jam, Anda harus menaklukan aspal rusak sepanjang jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBl_jT79TI/AAAAAAAAAMs/C69WLCjTMVM/s1600-h/Pulau+Merah.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBl_jT79TI/AAAAAAAAAMs/C69WLCjTMVM/s320/Pulau+Merah.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390920896447509810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat transportasi umum pun tergolong jarang. Terlebih lagi bila tak punya kendaraan sendiri. Sebuah bus umum hanya mengantarkan Anda hingga ke Pasar Pesanggaran –sebuah Ibukota Kecamatan. Berikutnya, Anda bisa menyewa ojek yang biasa mangkal di pasar itu. Perjalanan masih butuh sekitar 30-45 menit untuk sampai di wisata Pulau Merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Merah, di kawasan pantai selatan menjadi salah satu kawasan yang masih terjaga. Sabuk hijau (green belt) melingkar sepanjang pantai, menjadi pengaman wilayah ini dari musibah Tsunami yang pernah menghajar 1993 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kawasan Pulau Merah, sebelah utara, berada di kaki Gunung Tumpang Pitu. Gunung yang  menjulang ratusan meter ini merupakan kawasan hutan lindung milik Perhutani. Tahun 2007 lalu, PT Indo Multi Niaga, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, mengajukan ijin untuk mengeksploitasi gunung ini. Diduga kuat, gunung ini menyimpan bijih emas puluhan ton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga sekitar Pulau Merah dan Pancer, Desa Sumber Agung, berulangkali melakukan unjuk rasa menolak rencana penambangan. Bila jadi ditambang, warga khawatir keelokan Pulau Merah memudar. Artinya, tidak ada lagi wisata karena lingkungan jadi rusak. Nelayan Pancer juga resah limbah yang terbuang ke laut meracuni ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibalik keelokan Pulau Merah yang belum terkelola itu, menyimpan potensi kerusakan lingkungan yang kapan saja bisa terjadi. Bila tidak ada upaya penyelamatan, bisa saja kita tidak bisa menikmati Pulau Merah dalam waktu lama. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-8976768415149360741?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/8976768415149360741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=8976768415149360741' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/8976768415149360741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/8976768415149360741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2009/10/berselancar-di-pulau-merah.html' title='Berselancar di Pulau Merah'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/StBlN43iRrI/AAAAAAAAAMc/hb6mQnujB8w/s72-c/Pulau+Merah+8.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-2970864517937002087</id><published>2009-10-10T09:46:00.002+01:00</published><updated>2010-06-19T13:30:15.881+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klenceran'/><title type='text'>Menikmati Pantai dan Ikan Bakar Khas Blimbingsari</title><content type='html'>Langit berwarna biru cerah. Hampir senada dengan warna laut Blimbingsari di sore itu. Bila berdiri di pantainya kemudian menatap ke arah timur, akan nampak garis cakrawala membujur hampir mempertemukan langit dan bumi. Dari pantai itu pula,  Pulau Bali yang terletak di seberang serasa dekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panorama alam di pantai Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi itu, bisa menjadi salah satu pilihan bagi anda yang doyan pelesiran wisata laut. Bila ingin melihat matahari terbit dengan cahaya kuning telurnya, datang saja ke pantai itu. Bukan hanya matahari terbit, anda pun bisa menikmati kesibukan puluhan nelayan pulang berlayar. Mereka menurunkan berkilo-kilo ikan hasil tangkapan dari perahu. Sebagian ikan itu dijual pada penadah yang juga ikut memadati pantai. Bila siang sudah menjelang, perahu-perahu nelayan disandarkan di bibir pantai sebelah selatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai Blimbingsari, adalah salah satu wisata laut di Banyuwangi yang pengunjungnya tidak pernah sepi. Ratusan pengunjung bisa disaksikan saat sore tiba. Selain menjadi wisata favorit para keluarga, anak-anak muda juga memanfaatkan pantai ini untuk berolahraga, sepakbola dan bola volly. Kalau cuma ingin santai, pengunjung cukup duduk di kendaraan masing-masing menikmati panorama dan merasakan semilir angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitriyo, 17 tahun, paling sering menghabiskan waktu sore di Pantai Blimbingsari. Bersama temannya, terkadang ia bermain sepak bola. Terkadang pula cuma duduk-duduk di pinggir pantai. Tapi menurutnya, ia tak pernah bosan bermain kesana. "Suasananya lebih enak, pengunjungnya juga ramai," kata siswa kelas 3 SMK PGRI 3 Malang. Fitriyo berada di Banyuwangi sudah sebulan ini untuk mengikuti magang di salah satu dealer kendaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pun bisa mengajak serta anak-anak dan kerabat lainnya. Bila cuaca sedang bagus, bolehlah anak-anak mandi. Setiap harinya ada belasan anak-anak yang mandi disana. Biasanya mereka bermain dengan ombak, lalu berguling-guling di pasir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dilakukan Ali Mustofa, 39 tahun, yang sore itu mengajak anak dan istrinya. Menurut Ali, seminggu sekali ia pasti mengajak keluarganya bersantai di Pantai Blimbingsari. Warga Desa Kaotan, Kecamatan Rogojampi ini mengatakan, panorama Pantai Blimbingsari lebih menarik dibanding pantai lainnya. "Lumayan menghilangkan stress," kata Ali, yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang keliling. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan lain yang dimiliki pantai ini adalah berdirinya warung lesehan dengan khas masakan ikan bakar. Anda boleh memilih salah satu warung dari sepuluh warung yang berjejer di pinggir pantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara penyajian di warung ini cukup unik. Pembeli memilih sendiri ikan mentah yang ada dalam gabus penyimpanan. Ada kerapu, kakap, jenis udang-udangan, cumi, putihan, barongan, rajungan dan kepiting. Setiap harinya, ikan-ikan itu didapat dari nelayan setempat sehingga terlihat selalu segar. Tapi ikan hanya boleh dibeli dalam bentuk kiloan. Harganya berkisar antara Rp 25 ribu-Rp 60 ribu per kilonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai memilih ikan, anda bisa memesan bumbu untuk ikan. Umumnya warung lesehan menyediakan pilihan bumbu, seperti pindang koyong, pepesan, rica-rica, dan bumbu merah. Mau pedas atau tidak sesuaikan dengan selera. Setelah itu, tunggu saja di meja barang sejenak. Sekitar 30 menit, pelayan akan datang menghadirkan ikan pesanan anda, lengkap dengan nasi hangat, sayur lalapan, tempat cuci tangan, dan tentunya piring. Makan ikan bakar dengan tangan, sambil menikmati pemandangan laut, pasti akan membuat selera makan anda menjadi lebih lahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Aprilliana, warga Jalan Lunto Dewo, Rogojampi, masakan di warung lesehan Blimbingsari lebih terasa bumbunya. Harganya pun, katanya, cukup terjangkau di kantong. "Disini lebih enak, bumbunya terasa khas, dan yang terpenting sangat murah" kata April yang sore itu mengajak anak serta Ayahnya. Dengan mengajak lima orang, makan di warung Blimbingsari cukup merogoh kocek paling banyak Rp 60 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buang Lestari, 48 tahun, salah satu pendiri  warung lesehan Lestari mengatakan, warungnya tak pernah sepi dari pembeli. Bukan hanya dari Banyuwangi, ikan bakar Blimbingsari sering diburu oleh pendatang maupun wisatawan asing. Saking ramainya, kata Buang, ia harus mempekerjakan sepuluh orang karyawan untuk mengurus warungnya yang tergolong paling besar, yakni berukuran 12x14 meter.  "Lumayan sekarang masakan disini bisa jadi wisata kuliner," ucap mantan nelayan di Blimbisari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Buang, pantai Blimbisari ramai dikunjungi salah satunya berkat berdirinya warung lesehan sejak 1998 lalu. Dulunya, warung-warung itu adalah rumah yang pemiliknya bekerja sebagai nelayan. Ide mendirikan warung katanya, hanya karena coba-coba. Saat itu, sebagian ikan dari tangkapannya dibakar lalu dijual ke tetangga. Lambat laun, masakan Buang bertambah laris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu terbesit keinginan untuk mendirikan warung lesehan, yang kemudian ia populerkan dengan nama warles, alias warung lesehan. "Karena melihat warung saya ramai, maka tetangga meniru dengan membuka warles," ungkap ayah dua anak ini. Dari sebuah warles di pinggi pantai itu, akhirnya Buang mampu mendirikan dua warles cabang di kota Kecamatan Rogojampi dan Kecamatan Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah saja untuk mencapai wisata Pantai Blimbingsari. Letaknya sekitar 17 KM arah selatan dari pusat kota Banyuwangi. Bila tidak punya kendaraan sendiri, anda bisa naik dokar (andong) yang biasa mangkal di pasar Rogojampi. Lumayan, sepanjang perjalanan menuju pantai, mata anda bisa menikmati hamparan sawah yang tak kalah menariknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam Wisata Laut di Banyuwangi&lt;br /&gt;Wisata Pantai Blimbingsari memang bukan satu-satunya di Banyuwangi. Masih banyak pilihan bagi para penikmat pelesiran wisata laut. Mulai Banyuwangi utara hingga selatan, ada banyak tersedia wisata laut yang bisa anda pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Banyuwangi utara, ada Wana Wisata Watudodol. Kawasan ini sangat mudah dicapai, karena sebagai gerbang pertama sebelum anda masuk ke wilayah Kota Banyuwangi. Hamparan laut yang masuk perairan Selat Bali ini, bisa dinikmati begitu saja di sepanjang jalan Raya Situbondo, yang menghubungkan Kecamatan Wongsorejo dengan Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat ini biasa menjadi transit para pelancong yang hendak menuju atau keluar dari Banyuwangi melalui Pantai Utara. Pantainya relative lebih bersih. Warung-warung juga banyak berdiri menyediakan masakan umum. Bila bosan dengan pemandangan laut, anda juga bisa mendaki di bukit yang terletak persis di depan kawasan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wana Wisata Watu Dodol juga bisa disebut wisata sejarah. Di permulaan pintu masuk, ada sebuah batu setinggi 3 meter  berdiri di tengah jalan raya. Munculnya nama Watu Dodol yang artinya tempat batu yang banyak orang berjualan, dipercaya berasal dari keberadaan batu besar itu.  Jaman pra-sejarah dulu batu itu dibuat sebagai tempat sembayang nenek moyang. Sampai sekarang mitos akan batu itu terus dipercaya masyarakat. Konon, keinginan seseorang akan terkabul cukup dengan menyentuh batu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Pantai Watu Dodol, keelokan pantai laut selatan juga tak kalah. Anda bisa mengunjungi Wana Wisata Grajagan. Letaknya lumayan jauh, terpencil, dan jarang ada kendaraan umum. Tepatnya di Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo atau sekitar 1,5 jam arah selatan dari pusat kota Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai ini juga tak pernah sepi. Pantainya bersih, dengan ombak yang sedikit lebih tinggi. Pemeritah setempat sudah lebih mengembangkan wisata ini dibanding pantai lainnya, karena dilengkapi sarana-prasarana. Mulai wisma penginapan, dan aula pertemuan. Masuknya pun bertiket, sekitar Rp 2000 per orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan menuju Pantai Grajagan, anda akan disuguhi pemadangan hutan jati yang tumbuh lebat di kanan-kiri jalan. Jadi, meski jauh, tapi perjalanan anda dijamin tidak akan membosankan. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-2970864517937002087?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/2970864517937002087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=2970864517937002087' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/2970864517937002087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/2970864517937002087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2009/10/menikmati-pantai-dan-ikan-bakar-khas.html' title='Menikmati Pantai dan Ikan Bakar Khas Blimbingsari'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-8895248240704988054</id><published>2009-01-14T13:52:00.001Z</published><updated>2010-06-19T13:30:34.609+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirator'/><title type='text'>Kerapu Tikus, Hasilkan Banyak Fulus</title><content type='html'>Bersama anak buahnya, Pangihutan Sitorus, 46 tahun, mengemudikan perahu kecilnya menuju tengah laut, di Dusun Pasir Putih, Desa Kembang Sambi, Kecamatan Bungatan, Situbondo. Cuaca cukup bersahabat. Tidak lebih lima menit, perahu itu membawa keduanya ke sebuah kerambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitorus kemudian memeriksa beberapa kotak kerambah berisi puluhan Kerapu Tikus. Ia melempar makanan, dan puluhan Kerapu Tikus seberat setengah kilogram itu mengerubuti. "Yang ini sudah siap panen," katanya pada Tempo, Senin (05/01).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitorus hanyalah salah satu pengusaha yang membudidayakan ikan yang punya nama latin Cromileptes altivelis itu. Sejak Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo berhasil membudidayakan Kerapu Tikus dengan rekayasa genetika secara massal 1998 lalu, bisa dibilang Kerapu Tikus adalah komoditas unggulan Kabupaten Situbondo. Lebih dari 100 petani skala rumah tangga hingga kerambah membudidayakan ikan dengan ciri fisik bintik-bintik hitam di sisiknya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sitorus, Kerapu Tikus punya harga tinggi, sekitar Rp 350 ribu per kilo. Ikan ini paling dicari oleh Cina, Taiwan, Amerika, dan Vietnam. "Di Cina, makan Kerapu Tikus dianggap sangat bergengsi," kata pria yang sudah sejak tahun 2000 membudidayakan Kerapu Tikus. Karena konsumennya berasal dari ekonomi keatas inilah, harga Kerapu Tikus di pasar internasional relatif lebih stabil dibanding jenis udang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara budidaya Kerapu Tikus di kalangan petani pun cukup unik. Petani terbagi dalam empat segmentasi. Yakni petani larva, petani 1 centi, petani 5 centi, dan petani kerambah. Mula-mula petani larva membeli telur Kerapu Tikus dari BBAP Situbondo seharga Rp 1,5 per telur. Telur ini dikembangbiakkan menjadi larva sepanjang 1 centimeter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larva-larva ini kemudian dijual ke petani yang mengembangbiakkan larva sepanjang 5 cm. Dari 5 cm kemudian dijual ke petani pengembangbiak 8 cm. Barulah Kerapu Tikus kecil yang sebelumnya hidup di kolam-kolam penampungan dengan perawatan yang ketat ini, dilepas ke petani kerambah. Penjualan larva hingga Kerapu Tikus kecil itu dihargai Rp 1.500 per centimeter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Heru Winowo, 52 tahun, Kepala Produksi BBAP Situbondo, pengembangbiakan Kerapu Tikus mulai telur hingga siap konsumsi itu membutuhkan waktu kurang lebih selama 14 bulan. "Memang lama, tapi kalau sudah panen uang Rp 35 juta bisa dikantongi," katanya. Keuntungan bukan saja dinikmati petani Kerambah. Petani larva skala menengah dengan 20-an kolam penampungan bisa mereguk untung minimal Rp 5 juta setiap panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budidaya Kerapu Tikus di Situbondo ini merupakan pertama di dunia. Sebelumnya, tak satupun negara berhasil membudidayakan Kerapu Tikus.  Karena keberhasilan inilah, banyak daerah lain di Indonesia dan mancanegara meniru. BBAP Situbondo mencatat negara-negara yang pernah melakukan studi banding antara lain Australia, Filipina, India, Maladewa, dan Srilangka. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-8895248240704988054?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/8895248240704988054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=8895248240704988054' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/8895248240704988054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/8895248240704988054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2009/01/kerapu-tikus-hasilkan-banyak-fulus.html' title='Kerapu Tikus, Hasilkan Banyak Fulus'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-5265466013883558754</id><published>2009-01-14T13:48:00.002Z</published><updated>2010-06-19T13:30:50.281+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Situs Sembulungan Dieksplorasi</title><content type='html'>BANYUWANGI--Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Komisariat Banyuwangi melakukan eksplorasi situs Sembulungan, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. Situs tersebut merupakan peninggalan di masa penjajahan Jepang tahun 1942.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam situs ini, terdapat Gua Lowo yang dulu bernama Gua Jepang dan sebuah meriam raksasa setinggi 3,5 meter. Meriam ini diperkirakan terbesar se-Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua MSI Komisariat Banyuwangi Waris Leluhur, gua tersebut dipakai tempat pengintaian tentara Jepang saat melawan Sekutu. Setelah Jepang kalah, gua tersebut dimanfaatkan bangsa Indonesia untuk mengintai tentara Belanda saat agresi Belanda 1948. &amp;quot;Situs tersebut bermanfaat besar bagi perjuangan Indonesia,&amp;quot; katanya pada Tempo, Minggu (03/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs tersebut berada di Pulau Sembulungan di perairan selat Bali arah Banyuwangi ke Selatan. Pulau tersebut bisa dijangkau dari Balai Taman Nasional Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo, sekitar 50 KM dari Kota Banyuwangi. Bisa juga menyebrang dengan perahu melalui Kecamatan Muncar sekitar 30 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali, eksplorasi dilakukan oleh Dinas Pariwisata sekitar tahun 1998. Namun eksplorasi ini terhenti karena kekurangan dana dan situasi politik yang tidak kondusif. Menurut Waris, MSI melanjutkan eksplorasi yang akan ditingkatkan eksploitasi karena kondisi situs tidak terawat. Beberapa bagian meriam yang terbuat dari tembaga, katanya, dicuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan penelitian awal, katanya, MSI akan menggandeng Pemkab untuk memugar situs tersebut. MSI menarget akhir tahun 2009, situs tersebut bisa dijadikan wisata sejarah.IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-5265466013883558754?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/5265466013883558754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=5265466013883558754' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/5265466013883558754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/5265466013883558754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2009/01/situs-sembulungan-dieksplorasi.html' title='Situs Sembulungan Dieksplorasi'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-7601787957865118720</id><published>2008-09-19T08:42:00.020+01:00</published><updated>2010-06-19T13:31:29.296+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Gandrung Banyuwangi akan Dipatenkan</title><content type='html'>BANYUWANGI -- Tim Budayawan &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1221811219_0"&gt;Banyuwangi&lt;/span&gt; akan mendaftarkan kesenian Gandrung Banyuwangi pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1221811219_1"&gt;Hak Asasi Manusia&lt;/span&gt;. Langkah ini dilakukan untuk menghindari klaim negara lain atas kesenian Gandrung sebagai kesenian asli Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tim Budayawan itu terdiri atas Hasnan Singodimayan, Andang CY, Muhammad Fauzie, Asmai Hadi, dan Bonang Prasunan. Untuk mengawali proses pendaftaran itu, tim kini melakukan penelitian tentang kesenian Gandrung asli Banyuwangi. Penelitian menyangkut pakaian, warna sampur, warna kaus kaki, omprok atau mahkota, tarian hingga lagu. Tim juga mewawancarai empat penari Gandrung senior, antara lain, Temu, Supinah, Dartik dan Wiwik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurut peneliti Gandrung, Bonang Prasunan, penelitian tersebut akan diwujudkan dalam sebuah buku berjudul : Gandrung Banyuwangi, yang sebentar lagi akan segera dilaunching. "Kemudian akan kita seminarkan," katanya pada Tempo, Minggu (14/09).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gagasan untuk mendaftarkan ke Dirjen Haki, kata Bonang, karena kekhawatiran adanya klaim dari negara lain seperti yang pernah menimpa kesenian Reog Ponorogo. Apalagi, tahun 70-an kesenian Gandrung juga pernah diklaim pemerintah Thailand. Namun, katanya, baru tahun ini pemerintah Banyuwangi memberikan perhatian besar untuk mempatenkan kesenian Gandrung."Kita tidak ingin Gandrung diklaim negara lain untuk kedua kalinya," kata Bonang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selain alasan itu, Tim Budayawan masih menemui banyak perbedaan saat kesenian Gandrung dipentaskan. Baik berupa warna sampur (selendang), jenis mahkota, hingga kaus kaki. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-7601787957865118720?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/7601787957865118720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=7601787957865118720' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/7601787957865118720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/7601787957865118720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2008/09/gandrung-banyuwangi-akan-dipatenkan.html' title='Gandrung Banyuwangi akan Dipatenkan'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-7695247270541288296</id><published>2008-09-19T08:42:00.019+01:00</published><updated>2010-06-19T13:31:07.486+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Situs Neolitikum Ditemukan di Banyuwangi</title><content type='html'>BANYUWANGI -- Balai Arkeologi &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1221812104_0"&gt;Yogyakarta&lt;/span&gt; menemukan situs prasejarah dari zaman Neolithikum (zaman bercocok tanam) yang ditemukan di perkebunan karet milik PTPN XII Unit Usaha Strategis (Uus) Kendeng Lembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1221812104_1"&gt;Banyuwangi&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situs itu, ditemukan alat-alat bercocok tanam yang dipakai manusia prasejarah sekitar 2000 Sebelum Masehi, seperti Beliung Persegi, gerabah selip merah, sapih, bilah, serut, burin, dan jarum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kordinator tim peneliti, Sofwan Nurwidi, berbagai peralatan bercocok tanam itu ditemukan dalam penggaliaan (eskavasi) empat lubang penguji (testpit) yang terletak menyebar.  Untuk testpit I,2 dan 3, terletak di Uus Kendeng Lembu yang berikutnya disebut situs Kendenglembu. Sedangkan satu test pit lainnya berada di afdeling Rejosari Uus Trebasala, yang disebut situs Kalitajem. "Peralatan itu  jumlahnya sangat banyak," kata Sofwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain situs prasejarah, katanya, di tespit 1 dan 3 juga ditemukan sisa-sisa peralatan bercocok tanam zaman sejarah, tepatnya yang dipakai di zaman &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1221812104_2"&gt;Kerajaan Majapahit&lt;/span&gt; sekitar abad 13-15 lalu. Ini ditunjukkan dengan temuan kendi susu dan gerabah motif lipat yang menjadi hasil kebudayaan Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofwan mengatakan, penemuan situs prasejarah Neolithikum ini tergolong langka, karena hanya ditemukan di dua tempat. Yakni, &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1221812104_3"&gt;Sulawesi Selatan&lt;/span&gt; dan Banyuwangi. Situs ini sangat penting dalam upaya merekontruksi sejarah manusia Indonesia saat mengenal bercocok tanam, khususnya menanam padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sofwan, wilayah perkebunan karet itu dulunya menjadi tempat pemukiman manusia prasejarah yang hidup menetap dengan bercocok tanam. Itu dipastikan dari lapisan tanah yang mengandung asam tinggi atau subur serta dekat dengan aliran sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sofwan, situs Kendenglembu diteliti pertamakali  tahun 1941 oleh H.R. Van Heekern, seorang Arkeolog &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1221812104_4"&gt;Belanda&lt;/span&gt;.  Namun saat ada pendudukan Jepang, seluruh data hilang tak berbekas. Balai Arkeologi Yogyakarta sendiri sebenarnya sudah pernah meneliti pada tahun 1986, tapi belum mampu menjawab teka-teki di situs itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian tahap pertama Balai Arkeolog Yogyakarta di Banyuwangi ini sudah berlangsung sejak 7 September lalu dan berakhir Kamis, (18/09) &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1221812104_5"&gt;hari ini&lt;/span&gt;. Puluhan peralatan prasejarah (artefak) dan sejarah masih akan diuji laboratorium untuk meneliti, kira-kira kapan tepatnya manusia menempati wilayah itu, dan sejak kapan menanam padi. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-7695247270541288296?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/7695247270541288296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=7695247270541288296' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/7695247270541288296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/7695247270541288296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2008/09/situs-neolitikum-ditemukan-di.html' title='Situs Neolitikum Ditemukan di Banyuwangi'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-70832441123591661</id><published>2008-09-14T08:51:00.004+01:00</published><updated>2010-06-19T13:31:49.263+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuliner'/><title type='text'>Menikmati Jajanan Tradisional Banyuwangi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SMzPLWV9TUI/AAAAAAAAAHk/_Wavvjw-eL0/s1600-h/Jajanan+Apem+dengan+santan+manis+gula+jawa.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SMzPLWV9TUI/AAAAAAAAAHk/_Wavvjw-eL0/s320/Jajanan+Apem+dengan+santan+manis+gula+jawa.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245795459862973762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SMzMFrb8AFI/AAAAAAAAAHc/cREnT3kRe8g/s1600-h/Jajanan+Lak-lak+dengan+santan+gurih.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SMzMFrb8AFI/AAAAAAAAAHc/cREnT3kRe8g/s320/Jajanan+Lak-lak+dengan+santan+gurih.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245792063911100498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SMzJjFclURI/AAAAAAAAAHU/wwtL7defJII/s1600-h/P1010875.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SMzJjFclURI/AAAAAAAAAHU/wwtL7defJII/s320/P1010875.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245789270574453010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Caption Foto:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto atas : Apem dengan santan manis gula merah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto tengah : Lak-lak santan gurih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto bawah : Precet dengan santan manis gula merah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Warung berdinding bambu seluas 4x4 meter, Rabu sore lalu, ramai dipadati pembeli. Rosyidah, 55 tahun, dengan sigap melayani permintaan pelanggannya itu. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang memesan &lt;i style=""&gt;precet&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;lak&lt;/i&gt;-&lt;i style=""&gt;lak&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;apem&lt;/i&gt;. Oleh Rosyidah, jajanan ini dibungkus dengan daun pisang. Santannya dimasukkan kantong plastik.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tidak terlalu lama, dagangan Rosyidah pun ludes. Padahal masih jam 4 sore. Ia terpaksa meminta maaf pada belasan pembeli yang masih berdatangan ke warungnya untuk mencari jajanan yang hanya ada setahun sekali itu."Syukur, hari ini habis lagi," ucap ibu tiga anak ini kepada Tempo seraya mengembangkan senyum lebar.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Precet, Apem, dan Lak-lak adalah tiga jajanan tradisional asli Banyuwangi yang hanya bisa ditemui saat Ramadhan. Di tengah banyaknya makanan modern, jajanan tersebut ternyata masih cukup diminati menjadi ta’jil saat berbuka puasa.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menurut Rosyidah, dari ketiga jenis jajanan itu precet paling diminati pembeli. Buktinya, selain dagangannya selalu ludes, jajanan warna-warni itu juga disukai di luar Banyuwangi seperti Jember, &lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:city&gt; dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Malang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di daerah-daerah itu, precet disebut dengan pethula (baca:Pethulo). Rosyidah menyaksikan, makanan ini bermunculan di luar daerah karena dibawa orang-orang Banyuwangi yang menetap di kota-kota itu.” Precet memang digemari,” tuturnya.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Di Banyuwangi sendiri, selain di warung pemukiman seperti milik Rosyidah, para penjual jajanan tradisional ini bisa ditemukan di jalan-jalan protokol &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Banyuwangi. Ibarat jamur di musim hujan, sejumlah pedagang secara otomatis bermunculan bila Ramadhan sudah tiba. Biasanya mereka hanya memakai satu meja lengkap dengan tempat penyimpanan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jajan yang bisa dilihat dari jalan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bahkan, precet tanpa santan dijual lebih luas melalui pasar-pasar tradisional. Pembelinya juga banyak dari kalangan ibu rumah tangga atau para pedagang takjil yang akan menjual precet siap saji. Untuk yang siap saji, paling banyak ditemukan di jalan Ahmad Yani, atau depan Kantor Pemerintah Kabupaten. Disitu pedagang hanya membawa satu meja kecil untuk meletakkan gelas-gelas plastic berisi aneka takjil termasuk precet. Sehingga, pembeli bisa langsung menikmati takjil di tempat sebelum menyantap menu lesehan yang juga bermunculan di jalan itu.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketiga jajanan ini berbahan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;baku&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sama, terbuat dari tepung beras. Hanya pengolahan dan bentuk cetakannya saja yang berbeda. Kalau precet dikukus lalu dicetak oval. Bentuknya memang mirip seperti mie yang digulung. Warnanya ada empat macam: coklat, putih, hijau, dan merah.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bila precet dikukus, jajanan lak-lak justru dibakar di sebuah cetakan khusus berbentuk bulat. Warnanya putih susu, dan belakangnya kecoklatan bekas bakaran. Sedangkan apem, juga dikukus tapi adonannya dicampur dengan tape sehingga berasa lebih masam. Apem ada yang dicetak persegi, ada juga berbentuk bunga.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketiga jajanan ini disajikan memakai santan. Masyarakat pun dapat menyesuaikan seleranya, memakai santan gurih atau santan manis. Bedanya, santan manis dicampur dengan gula merah sehingga warnanya coklat keruh. Sedangkan santan gurih hanya dicampur dengan garam.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bagi kelas menengah bawah, berbuka dengan jajanan ini tidak terlalu menguras kantong karena harganya cukup terjangkau. Rata-rata, pedagang menjual seharga Rp 500 per biji.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Meski jajanan ini sudah muncul puluhan tahun lalu, masyarakat justru menantikan bulan puasa untuk bisa menikmati ketiga makanan berasa manis dan gurih itu. Muhammad Yasin, 38, tidak pernah melewatkan sehari tanpa menikmati precet dan lak-lak. Termasuk Rabu sore itu, Yasin membatalkan puasanya dengan membeli sepincuk precet. Yasin menunturkan, pernah suatu ketika ia berbuka dengan precet dan lak-lak sekaligus. “Kalau tidak pakai precet, berbuka rasanya kurang mantap,” kata lelaki yang bekerja sebagai supir angkutan ini.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menurut Yassin, setiap hari ia merogeh kocek Rp 5 ribu untuk membeli jajanan itu bagi istri dan kedua anaknya. Seperti sudah menjadi tradisi, kebiasaan memakan jajanan tradisional saat berbuka itu sudah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Selain rasanya yang segar melepas dahaga setelah seharian berpuasa, katanya, ia cukup rindu karena harus menikmati jajanan tersebut setahun sekali.”Saya belum pernah bosan,” katanya.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pembeli lain, Astutik, 40 tahun, Rabu sore itu sudah memesan 20 precet pada salah satu penjual.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia memilih pesan lebih dulu, karena takut kehabisan. Keluarga Astutik juga menjadikan precet dan jajanan tradisional sebagai takjil wajib saat berbuka puasa. Meski tanpa makanan itu tidak jadi soal, tapi menurutnya ada yang belum lengkap bila tak menyantap jajanan itu.”Suami dan anak-anak &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;suka, jadi ya saya tetap beli,” katanya sambil tersenyum.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Membawa Rejeki&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tentu saja, besarnya minat warga terhadap jajanan tradisional itu membawa rejeki melimpah bagi penjual. Nurastuti,35 tahun, penjual jajanan tradisional di jalan Wahid Hasyim Kota Banyuwangi, rata-rata bisa membawa pulang pendapatan bersih Rp 150 setiap harinya.”Lumayan, bisa nambahin penghasilan suami yang tidak tentu,” tutur Nurastuti, yang suaminya bekerja sebagai sopir lepas.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Selama ramadhan pula, Nur, panggilannya, malah bisa mempekerjakan tiga orang tetangganya dengan upah masing-masing Rp 10 ribu. Maklum, adonan yang harus dibuat tergolong banyak. Untuk precet saja, setiap harinya Nur membutuhkan 7 kilogram tepung beras. Sedangkan lak-lak dua kg dan apem ½ kg. “Wah kalau bekerja sendiri, tenaganya yang gak kuat,” ungkapnya.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jajanan ini ia tempatkan di rombong kayu buatan suaminya, Rosyidi. Nur dibantu suami dan anaknya mulai menggelar jualan mulai jam 3 sore, dengan menempati trotoar di jalan Wahid Hasyim. Untung saja, pak RT setempat mau menolongnya dengan memberikan lampu 5 watt gratis untuk penerangan di saat magrib datang. Bila waktu Ramadhan sudah usai, ibu dua ini beralih menjadi penjual rujak sayur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:17;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  Rosyidah : Penerus Penjual Jajanan Tradisional Banyuwangi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;       &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Rosyidah, 55 tahun, warga jalan Kyai Harun RT 01/01 Kelurahan Tukang Kayu, berulangkali berucap syukur karena dibekali kemampuan pandai memasak dan membuat jajan. Termasuk membikin jajanan Banyuwangi seperti precet, lak-lak, apem maupun kolak. Di luar itu, perempuan ini juga jago memasak masakan khas Banyuwangi lain seperti rujak soto,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pecel rawon, dan nasi tempong.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SMzEbRhjeyI/AAAAAAAAAHM/cTLb9G_j5Ws/s1600-h/P1010887.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SMzEbRhjeyI/AAAAAAAAAHM/cTLb9G_j5Ws/s320/P1010887.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245783638819437346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kemampuan perempuan dengan tiga anak ini, rupanya diturunkan sejak nenek dan ibunya yang juga menggantungkan dari masak-memasak sebagai pendapatan utama dalam keluarga. Berarti Rosyidah sudah menjadi generasi ketiga yang meneruskannya.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Dulu, nenek dan ibu juga berjualan jajanan Banyuwangi kalau sudah bulan puasa. Eh sekarang nurun ke saya juga,” tutur nenek dari satu cucu ini.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;Beruntung, nasib Rosyidah sedikit lebih baik. Sepuluh tahun lalu ia bisa mengkontrak tanah sempit seluas 4x4 meter di depan gang rumahnya. Lalu ia mendirikan warung sederhana berdinding bamboo dan atap genteng yang kini terlihat sudah lusuh. Kalau pagi ia berjualan rujak soto dan nasi tempong, malamnya dilanjutkan oleh Hasan, 60 tahun, suaminya yang berjualan nasi bungkus dan kopi. Hasan sendiri bekerja serabutan dengan penghasilan tak tentu. “Ibu dan nenek saya kalau jualan, cuma di rumah. Belum bisa buka warung,” tukasnya.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;Praktis dari warung mungil itulah, Rosyidah menjadi pencari nafkah utama bagi keluarganya.”Kalau tidak begitu, mana mungkin bisa membesarkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tiga anak saya?” katanya sambil membersihkan warung yang jualannya sudah bersih.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bila bulan puasa sudah datang, kesibukan Rosyidah makin menjadi. Selain menjual sendiri untuk warungnya, ia menerima banyak pesanan jajanan dari luar. Rabu lalu, ia menerima pesanan 30 lak-lak tanpa santan. Kemarinnya lagi, ada yang pesan 50 precet empat warna.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bersama dua anak perempuannya, Ida Rohmania dan Inayatur Robaniah, Rosyidah meladeni permintaan jajanan tradisional itu. Tidak ada rasa lelah, yang nampak hanya semangat untuk memanjakan lidah penggemar jajanan Banyuwangi. Sekaligus mewariskan kemampuan membuat jajanan pada anak untuk bekalnya kelak. IKA NINGTYAS&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-70832441123591661?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/70832441123591661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=70832441123591661' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/70832441123591661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/70832441123591661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2008/09/menikmati-jajanan-tradisional.html' title='Menikmati Jajanan Tradisional Banyuwangi'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SMzPLWV9TUI/AAAAAAAAAHk/_Wavvjw-eL0/s72-c/Jajanan+Apem+dengan+santan+manis+gula+jawa.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-8541020488871678084</id><published>2008-09-14T08:25:00.003+01:00</published><updated>2010-06-19T13:32:03.971+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Jejak-Jejak Islam Pertama di Banyuwangi dan Bali</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SMy-WkHcotI/AAAAAAAAAHE/saEfFt0LBoE/s1600-h/Foto+Datuk+Bawzir.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SMy-WkHcotI/AAAAAAAAAHE/saEfFt0LBoE/s320/Foto+Datuk+Bawzir.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245776960841097938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peziarah saat berdoa di makam Datuk Abdurahman Bawzir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas shalat Dhuhur, Lulut Darmawan,54 tahun, bersama istri dan anaknya menaburkan bunga-bunga tujuh rupa di atas makam Datuk Abdurahman Bawzir. Lalu, mereka membacakan doa-doa surat Yassin dan tahlil. Mereka begitu khusyuk. Sementara, anaknya Arif Solehuddin, 17 tahun, mengamini doa-doa yang dibacakan orangtuanya sambil menahan perih di bagian perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Lulut sengaja datang dari Tanggul, Jember, untuk mendoakan kesembuhan anaknya. Dia sudah lelah, mencari obat tapi sakit anaknya tak kunjung sembuh. Setelah mendapat petuah dari seorang ulama di Jember, Lulut pun menuruti untuk berdoa dia makam Datuk Abdurahman Bawzir."Ini cara terakhir, kami pasrah," kata Lulut lirih. Lulut percaya pada kata orang pintar, kalau anaknya itu kena guna-guna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak warga berdatangan dari luar kota seperti &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1221377213_0"&gt;Lampung&lt;/span&gt; dan Madura untuk berziarah ke makam Datuk Abdurahman Bawzir. Bulan Ramadhan pun, jumlah pengunjung juga tak pernah sepi. Tujuannya pun bermacam-macam. Mulai berdoa untuk kesembuuhan, juga mencari ketenangan. Kedekatan Datuk pada Tuhan, dipercaya bisa memberikan berkah pada manusia lain yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa secara massal, dilakukan setiap malam Jumat Legi. Jumlah warga yang berdatangan semakin banyak. Keturunan penerus Datuk, yang sekarang sampai pada generasi kelima memimpin acara itu, untuk beristighasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1221377213_1"&gt;Makam&lt;/span&gt; Datuk Abdurahman Bawzir, terletak lima menit arah utara dari pusat kota. Persisnya di Jalan Basuki Rachmat. Masyarakat mudah saja mendapati makam ini, karena di depannya berdiri Masjid Al-Hadi yang begitu megah. Dalam makam ini, dilengkapi musholla untuk shalat serta puluhan makam keluarga keturunan Datuk. Makam Datuk sendiri, bersebelahan dengan musholla itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam Datuk terlihat bersih terawat, bercatkan warna kuning muda lengkap dengan penutup kain dengan warna yang sama. Di sisi kiri dan kanam makam Datuk, juga dibangun makam sahabat Datuk,Said Hassan dan putra keduanya, Syekh Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Datuk Abdurahman Bawzir, dicatat sebagai ulama keturunan Saudi Arabia yang melakukan syiar islam di Indonesia pada awal ke-18. Tapi pendaratan utama Datuk justru berada di Pulau Bali pada tahun 1770. Salah seorang penerus Datuk, Abdul Kadir Fauzie menceritakan, selama sepuluh tahun Datuk begitu gigih menyebarkan &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1221377213_2"&gt;agama Islam&lt;/span&gt; di Jembrana-Bali, yang penduduknya masih beragama Hindu itu. Datuk menikahi Zaenab, warga Jembrana-Bali yang seorang Muallaf. Dari perkawinan itu, Datuk dikaruniai dua orang anak. Bekas-bekas syiar Islam Datuk, hingga sekarang masih bisa dilihat di &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1221377213_3"&gt;Kampung&lt;/span&gt; Loloan, Jembrana, Bali, yang terkenal sebagai kampung islam."Istri Datuk dan anak pertamanya Syekh Banterang meninggal di Jembrana," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun kemudian, pada 1780, Datuk pindah ke &lt;span style="border-bottom: medium none; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial; cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1221377213_4"&gt;Banyuwangi&lt;/span&gt;. Banyuwangi yang dulunya kerajaan Blambangan ini, penduduknya juga masih banyak beragama Hindu. Menurut Kadir, Datuk menyebarkan islam dengan mendatangi rumah ke rumah. Ia berperilaku santun, dan senang menyantuni anak-anak yatim. Kediaman Datuk itu kini, menjelma menjadi Kampung Arab yang letaknya tidak jauh dari makamnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-8541020488871678084?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/8541020488871678084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=8541020488871678084' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/8541020488871678084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/8541020488871678084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2008/09/jejak-jejak-islam-pertama-di-banyuwangi.html' title='Jejak-Jejak Islam Pertama di Banyuwangi dan Bali'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SMy-WkHcotI/AAAAAAAAAHE/saEfFt0LBoE/s72-c/Foto+Datuk+Bawzir.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-2764022624853999740</id><published>2008-09-13T08:23:00.004+01:00</published><updated>2010-06-19T13:32:20.726+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirator'/><title type='text'>Si Raksasa dari Ponpes Bustanul Makmur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SMttedlUyAI/AAAAAAAAAG0/XINPJbP1RUQ/s1600-h/Al+Qur%27an+Raksasa.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SMttedlUyAI/AAAAAAAAAG0/XINPJbP1RUQ/s320/Al+Qur%27an+Raksasa.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245406561107757058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seorang santri menunjukkan Al Qur'an Raksasa yang baru dipakainya mengaji&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan santri putera Pondok Pesantren Bustanul Makmur, di Dusun Kebunrejo, &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1221290604_0"&gt;Desa&lt;/span&gt; Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1221290604_1"&gt;Banyuwangi&lt;/span&gt;, tengah mengikuti shalat tarawih berjamaah di masjid dengan khusyuk malam itu. Sang imam, membaca ayat-ayat Alqur'an dari Kitab &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1221290604_2"&gt;Suci&lt;/span&gt; besar yang berdiri di depan iamm. Makmum lainnya menyimak. Setelah salam, salah satu dari mereka maju kedepan, membalik halaman Al &lt;span style="border-bottom: medium none; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial; cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1221290604_3"&gt;Qur'an&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu seterusnya, hingga tepat pada halaman kesepuluh menandai shalat sudah mencapai 20 rakaat. Ketika tarawih usai, Al Qur'an besar, yang disanggah kayu itu digeser agak ketengah. Para santri bergerombol mengelilingi, membaca Al Qur'an bersama-sama. Meski dari jarak 15 meter pun, para santri masih bisa membaca Al Qur'an itu dengan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang sekitar menyebut Al Qur'an besar itu dengan sebutan Al Qur'an Raksasa. Disebut demikian, karena ukurannya sekitar sepuluh kali dari ukuran Al Qur'an biasa, tepatnya, 85x115 cm. Namanya pun cukup unik, Al Qur'an Ayat Pojok. Dinamai Ayat Pojok karena setiap ayat terakhir selalu berhenti di pojok kiri halaman. Dengan begitu, sang imam tak kan kesulitan saat membacanya dalam shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini merupakan tahun kelima, Ponpes Bustanul Makmur menjadikan Al Qur'an raksasa itu sebagai sarana penting dalam shalat tarawih maupun tadarrus. Berkat Al Qur'an setebal 30 cm &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1221290604_4"&gt;itu&lt;/span&gt;, cita-cita pengasuh pondok meniru shalat tarawih ala &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1221290604_5"&gt;Makkah&lt;/span&gt; yang bisa khattam Al Qur'an selama ramadhan jadi terpenuhi."Alhamdullilah niat kami terpenuhi," tutur Muwafiq Amir, salah satu dewan pengurus pondok. Setiap malam, bacaan Al Qur'an untuk shalat tarawih harus habis satu jus yang terdiri dari sepuluh halaman. Sehingga, satu rakaat shalat sang imam harus membaca satu halaman Al Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niatan pengurus meniru shalat tarawih ala Makkah itu, klop ketika salah satu mantan santri yang jago kaligrafi bernama Abdul Karim ingin memberi kenangan pondok dengan sebuah Qur'an berukuran besar. Menurut Muwafiq, dengan berbekal uang Rp 5 jutaan proyek dadakan itu ditulis dengan tangan pada awal puasa Ramadhan, 6 November 2002 dan berakhir pada awal Ramadhan sepuluh bulan kemudian, tanggal 01 Oktober 2003. Al Qur'an itu ditulis memakai spidol khusus bertinta hitam diatas kertas jenis AC. Hingga tahun 2007, katanya, Al Qur'an masih terus direvisi karena ada beberapa bacaan yang salah atau kurang tanda baca."Maklum, mengerjakannya cukup melelahkan,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan saja bagi pengurus, para santri merasakan manfaat lebih sejak Al Qur'an raksasa itu hadir ditengah-tengah mereka."Saya jadi lebih senang menghapal Alqur'an," kata Asmuni, 24 tahun, seorang santri yang sudah lima tahun menuntut ilmu disana. Menurut Muwafiq, Al Qur'an raksasa itu lebih memotivasi santrinya untuk belajar mengaji dan menulis ayat-ayat Al Qur'an dengan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunikan Al Qur'an raksasa itu juga sering mencuri perhatiaan masyarakat di sekitar pondok. Tambah tahun, jumlah jamaah umum yang ikut shalat tarawih di pondok kian banyak. Bahkan, kata Muwafiq, salah satu pengurus partai pernah berniat membeli si raksasa."Tapi kami menolak. Manfaat untuk pondok cukup besar,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi para pengurus sering juga was-was kalau &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1221290604_6"&gt;Al Quran&lt;/span&gt; sampai rusak karena dimakan rayap. Karena itu pengurus memutuskan untuk memakai Al Qur'a itu saat Ramadhan tiba. Supaya lebih awet, dibuatkan tempat khusus dari kayu, lengkap dengan gemboknya. Al Qur'an pun dibersihkan dari debu sebulan sekali, lalu diberi karbon di setiap sudutnya. Tentu, pengurus dan santri pondok masih berharap, si raksasa masih bisa dipakai untuk membangkitkan semangat beribadah di Ramadhan berikutnya. IKA NINGTYAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-2764022624853999740?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/2764022624853999740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=2764022624853999740' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/2764022624853999740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/2764022624853999740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2008/09/si-raksasa-dari-ponpes-bustanul-makmur.html' title='Si Raksasa dari Ponpes Bustanul Makmur'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SMttedlUyAI/AAAAAAAAAG0/XINPJbP1RUQ/s72-c/Al+Qur%27an+Raksasa.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-3591692262131020494</id><published>2008-08-26T10:54:00.003+01:00</published><updated>2008-08-26T11:03:53.757+01:00</updated><title type='text'>Mengharap Berkah di Jumat Legi</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SLPUfiBArfI/AAAAAAAAAGM/Z2FrKoflC7w/s1600-h/Berdoa+di+Makam+Leluhur+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238764429734096370" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" height="282" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SLPUfiBArfI/AAAAAAAAAGM/Z2FrKoflC7w/s320/Berdoa+di+Makam+Leluhur+2.jpg" width="355" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Dusun Grajagan berdoa di makam leluhur mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Nelayan pantai Grajagan, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo memiliki tradisi berbeda dengan nelayan umumnya dalam mengungkapkan rasa syukur pada Sang Khalik. Bila nelayan lain biasanya dengan melarungkan sesajen ke laut, tapi nelayan Grajagan memiliki tradisi mengarak buah pisang dan nyekar ke makam leluhur mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara nelayan Grajagan ini disebut Ruahan Kirim Leluhur. Tahun ini, upacara dilaksanakan pada akhir bulan Rajab, malam Jumat legi, atau bertepatan tanggal 31 Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangkaian upacara Ruahan, dimulai pukul 14.00 WIB. Ratusan warga desa Grajagan yang mayoritas nelayan, berkumpul di depan Masjid Jami' desa setempat. Uniknya, bukan ikan yang mereka bawa. Melainkan puluhan tandan pisang yang sudah masak dan makanan untuk syukuran. Tandan pisang itu mereka beri nama sesuai jenis ikan yang sering ditangkap nelayan. Seperti udang barong, tuna, dan tongkol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nelayan dan keluarga mereka menggotong tandan-tandan pisang itu beserta bekal makanan, untuk diarak keliling kampung. Tabuhan rebana bergemuruh mengiringi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sutikno, 59, salah seorang nelayan, pisang dipakai untuk simbol saja karena bentuknya menyerupai ikan. "Sudah turun temurun," kata Sutikno yang juga Ketua Forum Peduli Tanah Pusaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arak-arakan itu berjalan sekitar 3 kilometer menuju teluk Karangan di seberang pantai Grajagan. Untuk menuju teluk itu, mereka menyebrangi beberapa meter air laut yang sore itu sedang surut. Rombongan sampai di sebuah bangunan makam di tengah rawa hutan bakau.&lt;br /&gt;Makam itu, bersemayam tiga leluhur mereka, yakni Mbah Karso Wono Samudro, Mbah&lt;br /&gt;Ratih, dan Mbah Sapi'i Rokso Samudro. Patawi, 80, ahli waris leluhur itu bercerita, ketiga nenek moyangnya tersebut adalah yang membuka desa Grajagan dan orang pertama yang mencari ikan. Ketiganya adalah keturuan dari Wong Agung Wilis, Raja Purwo, yang merupakan salah satu peletak sejarah cikal bakal Banyuwangi."Leluhur saya sudah dikeramatkan warga desa," kata Patawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Karso Wono Samudro adalah anak pertama dari Wong Agung Wilis yang menikahi Mbah Ratih. Dari perkawinan itu lahirlah tujuh anak, dengan Mbah Sapi'i Rokso Samudro sebagai anak pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai di makam, warga desa memanjatkan doa bersama-sama, supaya Tuhan terus memberikan berkahnya pada laut Grajagan. Setelah doa, upacara ditutup dengan menyebar bunga di atas makam, dan makan makanan yang sudah dibawa dari rumah masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Marhaeni Idawati, salah satu pemilik kapal, tradisi nyekar ke makam leluhur sering juga dilakukan secara berkelompok oleh warga setiap malam Jumat Legi. Terlebih lagi, bila ada nelayan yang pernah bernadhzar untuk nyekar. Biasanya, nelayan bernadhzar nyekar bila diberi ikan yang melimpah atau sembuh dari sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhaeni becerita, pernah suatu saat seorang nelayan sakit parah karena lupa memenuhi nadhzarnya."Makanya, warga tidak berani melupakan leluhur," kata perempuan berjilbab ini. IKA NINGTYAS &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-3591692262131020494?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/3591692262131020494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=3591692262131020494' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/3591692262131020494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/3591692262131020494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2008/08/mengharap-berkah-di-jumat-legi.html' title='Mengharap Berkah di Jumat Legi'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SLPUfiBArfI/AAAAAAAAAGM/Z2FrKoflC7w/s72-c/Berdoa+di+Makam+Leluhur+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1599260727200680756.post-6751878525230350204</id><published>2008-08-06T10:01:00.001+01:00</published><updated>2008-08-06T10:31:22.788+01:00</updated><title type='text'>DINAMIKA MUSIK BANYUWANGI: Dari Gandrung hingga Dangdut Koplo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SJlsi2SJhUI/AAAAAAAAAFg/QvW2I7UO4t8/s1600-h/ALBUM-ALBUM+MUSIK+ETNIK+MODERN+BANYUWANGI.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SJlsi2SJhUI/AAAAAAAAAFg/QvW2I7UO4t8/s320/ALBUM-ALBUM+MUSIK+ETNIK+MODERN+BANYUWANGI.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231331788110529858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Mulo..ojo kari seru ser&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;u Mikiri kembang hang nyoto nyoto sing ono Mugo ojo kari keroso roso.. Tuwas kesekso batin lan raga riko isun wes urip nang alam hang bedo alam isun yo dudu alam duniyo...&lt;/span&gt;&lt;div face="verdana"&gt;                &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lagu Suworo, kolaborasi etnik Banyuwangi dan rock dangdut, ini dilantunkan artis lokal, Reny Farida. Sekitar 2.000 muda-mudi yang memadati lapangan Tembok Rejo, Kecamatan Muncar Banyuwangi, asik berjoget. Kemeriahan pementasan tersebut sampai- sampai memakan korban satu jiwa karena tawuran antarpenonton.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perpaduan lagu etnik Banyuwangi dengan irama rock dangdut bukan hanya pada lagu Suworo karya Triyono Hadi (Yons D.D.), tapi juga puluhan lagu lainnya. Bahkan bukan cuma dengan dangdut. Musisi lainnya memadukannya dengan rock alternatif, disko, house music, hingga dangdut koplo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tren baru ini sudah terjadi selama dua tahun terakhir. Perdebatan pun mengalir. Tapi mereka yang mencoba bertahan pada keaslian musik tradisional setempat harus berhadapan dengan gencarnya tuntutan pasar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Fatrah Abal, tokoh senior pencipta lagi tradisional, menilai pencampuradukan itu sebagai kemunduran karena keluar dari pakem. Ciri khas lagu Banyuwangi tidak mengenal notasi fa dan si, tapi lazim dimulai dengan la, do, re, mi, sol, la. Jenis lagu ini disebut Selendro. “Pada lagulagu kolaborasi, cita rasa Banyuwangi- nya menjadi berkurang,” sesal musisi yang lagunya pernah dibawakan Nini Karlina dan Ikke Nurjanah ini (lihat boks: Fatrah yang Kian Gelisah).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="verdana" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lagu-lagu dalam kesenian Gandrung, seperti Seblang Lukinto, Sekar Jenang, dan Podho Nonton, menjadi cikal-bakal kemunculan lagu etnik Banyuwangi. Beberapa kelompok seniman lalu membuat syair- syair yang dinyanyikan tanpa refrain, seperti lagu berjudul Keriping Sawi dan Keok-keok. Lagu Banyuwangi yang disebut Setrek pertama kali diiringi musik setelah angklung ditemukan pada 1920.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: right;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;i&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="verdana" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setrek angklung mengalami perubahan yang lebih dinamis sejak 1955, bersamaan dengan munculnya Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra), organisasi sayap Partai Komunis Indonesia (PKU). Lagu Genjer-genjer, yang pernah dilarang semasa Orde Baru, adalah karya seniman Banyuwangi, Mohamad Arif. Lagu ini bercerita tentang penderitaan masyarakat setempat semasa penjajahan Jepang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p face="verdana" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah itu, musik Banyuwangi sempat tiarap pada 1966 dan baru muncul kembali sekitar 1973, ditandai perkembangan baru bernama Kendhang Kempul. Disebut demikian karena menonjolkan alat musik kendang, kempul, dan suling. Tercatat nama Sutrisno sebagai penciptanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="verdana" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SJlu4tSAYkI/AAAAAAAAAFo/BA29RRjdLa0/s1600-h/YONS+DD+DAN+ALAT+MUSIK+ANGKLUNG.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SJlu4tSAYkI/AAAAAAAAAFo/BA29RRjdLa0/s320/YONS+DD+DAN+ALAT+MUSIK+ANGKLUNG.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231334362674389570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="verdana" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p face="verdana" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Musisi Banyuwangi terus bergerak. Pada 2000-an muncul apa yang disebut Patrol Orkestra Banyuwangi (POB), yang memadukan alat musik tradisional patrol dengan musik elektrik. Nama Catur Arum dan Yons D.D. melambung. Karyanya terjual hingga 100 ribu kopi lebih dalam bentuk kaset. Sejak saat itulah sebenarnya musik etnik tradisional mulai bergeser ke arah modern&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p face="verdana" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penikmatnya bukan hanya masyarakat lokal, tapi meluas hingga berbagai daerah, seperti Bali, Malang, Surabaya hingga Jakarta. Situs- situs musik di Internet juga menyajikannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: right;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Foto : Yons Dd, penyanyi dan pencipta lagu Banyuwang&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p face="verdana" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Geliat itu didukung menjamurnya rumah rekaman, seperti Safari Record, Sandi Record, Scorpio Record, Fista Jaya Record, dan Gemini Record. Artis-artis baru bermunculan. Ada Reny Farida, Dian Ratih, Adistya Mayasari, Mia M.S., Lisa Rahmawati, Virgia Hasan, dan puluhan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p face="verdana" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yons awalnya memegang teguh idealisme dalam menciptakan lagu. Namun, kemauan pasar dan tuntutan ekonomi membuatnya lebih fleksibel. “Kalau ngotot bertahan, dapur saya tidak ngepul,” kata pria kelahiran 24 April 1963 ini. Tapi Yons mensyaratkan, hanya mau lagunya dikolaborasikan setelah lagu tradisional aslinya dirilis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p face="verdana" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagi Indra Wijaya, pemilik rumah rekaman Safari Record, munculnya musik perpaduan tradisional dengan modern tidak serta-merta meninggalkan budaya asli Banyuwangi. Penjualan album tradisional dengan modern, toh, tidak jauh berbeda. Rata- rata terjual 50 ribu keping VCD. “Munculnya tren baru tidak bisa dibatasi, bahkan menunjukkan dinamisnya musisi Banyuwangi,” kata Indra, yang mendirikan Safari Record pada 1986 dan sudah memproduksi 100 album lagu Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p face="verdana" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Simak saja penuturan Farid Irawan. Bagi anak muda ini upaya melestarikan lagu-lagu asli Banyuwangi dan memberikan ruang gerak perpaduan dengan musik modern harus sama-sama jalan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apalagi, di pasaran, kaset atau keeping VCD lagu tradisional masih bisa ditemukan. “Kalau cuma pakai patrol, angklung, atau kendang kempul, membosankan,” katanya. Lagu-lagu Banyuwangi saat ini jauh lebih menarik, lebih cocok untuk anak muda, dan lebih hidup. &lt;b&gt;IKA NINGTYAS&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1599260727200680756-6751878525230350204?l=ikaningtyas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/feeds/6751878525230350204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1599260727200680756&amp;postID=6751878525230350204' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/6751878525230350204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1599260727200680756/posts/default/6751878525230350204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ikaningtyas.blogspot.com/2008/08/dinamika-musik-banyuwangi-dari-gandrung.html' title='DINAMIKA MUSIK BANYUWANGI: Dari Gandrung hingga Dangdut Koplo'/><author><name>Ika Ningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11501629505874218841</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/S1xF33ShT0I/AAAAAAAAAM4/vNDT_ksdiVc/S220/DSCF3373.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__USfKIlzJps/SJlsi2SJhUI/AAAAAAAAAFg/QvW2I7UO4t8/s72-c/ALBUM-ALBUM+MUSIK+ETNIK+MODERN+BANYUWANGI.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
