Tuesday, August 1, 2017

Pesantren Ath Thaariq, Memulihkan Hubungan Manusia dengan Alam

Santri Pesantren Ath Thaariq menyiram tanaman
Subuh masih berlapis kabut di Pesantren Ath Thaariq. Suhu 17 derajat Celsius menusuk kulit. Belasan santri baru bubar salat berjemaah di surau bambu bertingkat dua. Dengan masih menanggung dingin, mereka lanjut melantunkan ayat-ayat suci dari Al Quran.

Ketika pagi sudah terang benar, para santri itu bergegas turun dan mengambil penyiram tanaman. Kopiah dan sarung masih melekat di badan sewaktu mereka mengangkut air dari saluran irigasi, berpencar ke beberapa area kebun, dan membasahi tanaman demi tanaman.
Selain siram-menyiram, nampak di kebun belakang sejumlah santri lain memetik tomat dan aneka sayuran. Hasil panen itu jatah buat dapur. Beberapa orang yang bertugas memasak lantas mengolah produk lokal itu demi memberi makan 30 orang.

Rutinitas itu saya rekam ketika berada di sana selama tiga hari pada pertengahan Juli. Berlabel agroekologi, pesantren dengan luas 8.500 meter persegi itu serius berupaya mewujudkan cita-cita memulihkan hubungan manusia dengan alam.

Selain santri, suasana menjadi lebih riuh karena ada sekitar 50 orang dari berbagai daerah di Nusantara datang dan menginap di sana. Pesantren sedang menjadi tuan rumah Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air yang dihelat bersama Sajogyo Institute. Salah satu agenda Jambore, peserta diajak belajar bagaimana menerapkan agroekologi dalam lingkup yang lebih kecil, seperti keluarga.

Suami-istri, Ibang Lukman Nurdin dan Nissa Wargadipura, mendirikan pesantren yang berlokasi di Garut, Jawa Barat, pada 2008. Demi menuruti misinya, mereka membatasi jumlah santri menetap sesuai batas kemampuan produksi lahan.

Sebanyak 20 santri yang mondok tak melulu diajari mengaji, tapi diajak bagaimana dekat dengan alam. Mereka wajib mengetahui cara memenuhi kebutuhan pangan dengan menggarap benih tanaman setempat yang ditanam secara organik di lahan pesantren.

Seorang santri menetap bernama Ikrar Fatiha, asal Sulawesi Tengah. Lelaki 14 tahun itu mondok sejak 2016 bersama adik dan sepupu. Dia mengaku betah.

“Di sini kegiatannya beragam,” ujarnya kepada Beritagar.id.

Menurut Ikrar, selain belajar agama dia diajari cara merawat tanaman, mengolah tanah dan membuat pupuk organik. Sesekali, dia bersama santri lain mendaki gunung atau melancong ke pantai.

Santri sedang salat di surau bambu Pesantren Ath Thaariq

Selain berstatus sebagai santri, Ikrar juga pelajar sekolah umum. Dia baru duduk di kelas I sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Garut yang berlokasi tak jauh dari Ath Thaariq.
Tak terbatas bagi santri menetap seperti Ikrar, Ibang dan Nissa memberikan ruang pula bagi ratusan santri lain yang mondok dengan waktu lebih pendek selama sebulan dan tiga bulan.

Model pembelajaran di sini juga unik. Mulanya, Ibang dan Nissa hanya mendidik santri yang telah berstatus mahasiswa. Secara bertingkat, santri-santri mahasiswa ini mengajarkan kepada santri yang duduk di SMA. Sedangkan yang SMA membimbing yang di bawahnya, santri SD dan SMP. Cara ini, kata Nissa, melatih jiwa kepemimpinan pada diri seorang santri, agar kelak dia berguna saat terjun ke masyarakat.

Ibang dan Nissa membatasi santri boleh mondok hingga mereka telah lulus perguruan tinggi.

Keleluasaan sedemikian membuat Pesantren Ath Thaariq sejauh ini telah menghasilkan seribu alumni yangsebagian besarnya menjadi petani dan bergerak membentuk komunitas berbasis ekologi.

Sebut Jajang Nurul Jaman sebagai misal. Pemuda asal Desa Hegarmanah, Garut, ini memilih menjadi petani di usianya yang baru 26 tahun.

Pemuda Jajang mengais pengalaman mengolah tanah ketika mondok di Pesantren Ath Thaariq pada 2011-2013. Setelah berhasil menabung, ia kini memiliki 1,5 hektare lahan nan ditumbuhi akasia, pisang, sorgum, sengon, dan jati. Tanaman-tanaman itu lantas ditumpangsarikan dengan padi gogo.

“Kalau bukan anak muda yang jadi petani, siapa lagi yang meneruskan,” kata sosok bertarikh lahir 1991.

Alumni lain, Romdon Hada Nursamsi. Dia guru bahasa Indonesia di sebuah yayasan di Ciamis. Sebagai selingan pekerjaan sekaligus pemenuh kebutuhan sehari-hari, Romdon terjun bertani. Lahan yang dia kelola berluas 0,5 hektare. Di sekolah tempat dia mengajar pun, Romdon berhasil wewujudkan konsep ekologi dengan memanfaatkan lahan seluas tujuh hektare.

Efek positif seperti itu memantik Luluk Uliyah mengirimkan anaknya yang masih SMP ke Ath Thaariq. Apalagi, dia merasa khawatir dengan maraknya kenakalan remaja di Jakarta.
Sebelum menentukan pilihan, Luluk mengajak anaknya berkeliling ke beberapa pesantren di Bogor, Jawa Barat. Namun,tak satu pun cocok dengan sang anak, terutama setelah melihat bangunan pesantren yang tertutup dan eksklusif.

Luluk teringat Nissa. Dia tahu teman lamanya itu mengurus pesantren. Luluk mengajak sang anak menyambangi Ath Thaariq. Syukur bersambut setelah anak itu setuju untuk mondok di sana. Kini, putranya menjalani tahun ketiga.

Perempuan beranak dua itu mengaku cukup puas dengan perubahan anaknya. Selain bisa mengaji dan rajin salat, anaknya telah memahami keragaman jenis tanaman, khasiat, dan cara pengolahannya.

“Dia tahu bagaimana bikin telur dengan campuran berbagai sayuran,” kata Luluk.
Pesantren itu juga terbuka bagi santri non-Muslim. Bahkan, calon-calon pastor rutin belajar ekologi di sana. Upaya ini, kata Nissa, ditujukan untuk menanamkan sifat toleran kepada para santri. Sebagaimana sifat alam, santri pun harus memahami bahwa hidup manusia juga penuh keragaman.

Zonasi Lahan dan Faedah Ekonomi
Supaya pengelolaan lahan berlaku lebih sistematis, pesantren dibagi menjadi beberapa zona: zona benih, sawah, sayuran, perikanan, dan tanaman liar.

Zona-zona berlatar Gunung Guntur, Papandayan, dan Cikuray tersebut memagari tiga bangunan pesantren, yakni ruang pertemuan utama, asrama, dan surau.

Lebih dari 400 benih tanaman—sumber pangan atau obat—berasal dari Garut maupun daerah lain berkembang. Ada temulawak, secang, kunyit putih, jahe, serai, rosella, ruku-ruku, untuk menyebut beberapa. Selain itu, terdapat tomat, kenikir, bayam paris, genjer, kangkung, seledri, dan jarak pagar.

“Kalau mau makan tinggal petik sayuran, bumbunya langsung ambil di kebun,” kata Nissa, 45 tahun.

Banyak tanaman membuat kebun pesantren terlihat sesak.Tanaman-tanaman itu tak ditata rapi layaknya kebun, tapi tumbuh berjejalan secara alami. Sejumlah polybag pun dimanfaatkan.Kondisi berantakan membuat Nissa melabeli kebun pekarangannya dengan istilah “kebun acakadut”.

Zona sawah seluas 4500 meter persegi milik Pesantren Ath Thaariq

Sawah berluas 4.500 meter persegi di belakang pesantren menghasilkan dua ton beras tiap panen dan mewadahi lima jenis benih padi lokal. Di antara benih itu adalah sanggaraung, ciherang, raja lele, dan sarinah.

Selain beras, pesantren memanfaatkan ubi, singkong, talas, dan ganyong sebagai sumber karbohidrat.

Tanaman di lahan Ath Thaariqpun tak terpapar pupuk kimia dan pestisida. Menurut Nissa, bahan-bahan kimia justru mengeringkan tanah dan membunuh mikroba yang baik bagi tanaman. Mereka memilih membuat pupuk organik sendiri dari sampah dapur dan air kolam lele.

Demi menghindari hama tikus, ular-ular sawah dibiarkan tetap hidup. Alhasil, sepanjang sembilan tahun sawah dan kebun pesantren terhindar dari serangan hama atau gagal panen.

Di samping itu, kebun dapat pula bertahan baik karena ditanami dengan metode polikultur (tanaman beragam). Metode inimembuat tanaman tak rentan diserang hama.

Bagi penghuni yang sakit, kebun menyediakan obat. Ibang mengatakan sebagian besar tanamannya berfungsi menyembuhkan, termasuk tanaman yang sering dianggap sebagai gulma.

Ibang menuju zona tanaman liar di halaman depan pesantren untuk memberikan penjelasan. Demi kepentingan itu, ia mencabut beberapa daun putri malu, babandotan, dan kelor. Kemudian, dia meminta saya mengecek khasiat berbagai tanaman itu via laman pencari Google.

Ibang Lukman di zona tanaman liar

Hasil pencarian mengejutkan saya. Putri malu misalnya, ternyata bisa untuk mengobati batuk, rematik dan insomnia. Daun kelor bisa mengobati jantung, kanker, dan diabetes. Sedangkan babandotan, sejenis rumput, juga mampu mengobati rematik dan asma.

“Bumi itu seperti ibu. Kalau kita jaga akan memberikan tanaman-tanaman yang luar biasa manfaatnya,” kata Ibang, 46 tahun.

Menu makanan berselang-seling meningkatkan daya tahan tubuh para santri. Nissa membandingkan kondisi pemondok di sana dengan santri pesantren lain yang rentan terserang penyakit kulit seperti gatal-gatal dan scabies. Menurutnya, kerentanan itu terjadi karena pola makan kurang beragam ditambah kondisi pondok yang kurang bersih.

Olahan pangan dari hasil menanam sendiri itu menjadi bentuk keprihatinan Nissa terhadap makanan keluarga yang kini serba instan. Padahal,di balik makanan instan dan bumbu kemasan terkandung banyak bahan kimia dan tinggi lemak yang berbahaya bagi tubuh.
“Kuncinya adalah berani tidak kita mengubah pola pikir bergaya hidup serba instan itu,” ujarnya.

Ibang dan Nissa juga memanfaatkan kelebihan hasil panen dengan menjual berbagai produk tanaman itu menjadi minuman atau tepung yang dijual lewat situs web, akun media sosial, dan pameran.

Penjualan biji klerak, tepung pisang, teh temulawak, teh secang, kunyit putih, rosella, teh daun sirsak, dan puluhan jenis lain beromzet sekitar Rp 3 juta per hari.

Garam herbal salah satu produk "hijau" Pesantren Ath Thaariq

Seluruh produk-produk itu dikerjakan bersama santri, termasuk juga urusan penjualan yang hasilnya dapat dipakai untuk membayar listrik dan gas, serta membeli pakaian dan alat tulis.

Menjadi Petani, Memulihkan Ekologi
Pasangan Ibang Lukman dan Nisya Saadah Wargadipura bukan sosok asing dalam gerakan agraria. Sejak 1992, saat masih lajang, keduanya aktif mengorganisasi dan mengadvokasi petani Jawa Barat.

Cinta akhirnya menggiring mereka ke pelaminan pada 1997. Keduanyapun berjuang bersama hingga membentuk Serikat Petani Pasundan (SPP) tiga tahun kemudian.

Ibang anak seorang kiai pondok pesantren tua di Desa Bayongbong, Garut. Sedangkan Nissa berasal dari keluarga petani di Desa Bungbulan. Latar belakang keluarga menjadi modal mereka mendirikan Pesantren Ath Thaariq.

Pesantren tersebut sejatinya adalah buah refleksi panjang atas apa yang mereka perjuangkan sebelumnya. Ibang dan Nissa melihat banyak petani terbelit kemiskinan, meski telah berhasil memiliki tanahnya kembali.

Nissa Wargadipura
Tak sedikit petani malah menjual tanahnya setelah upaya berdarah-darah di tengah masa konflik panjang. Kenyataan itu membuat Ibang dan Nissa berpikir keras, merenung, dan mengevaluasi diri.

Mereka di belakang hari menemukan jawab. Advokasi terhadap petani tak serta-merta membuat petani sejahtera tanpa disertai penataan produksi. Sebab, banyak petani tetap miskin sebagai lanjutan dampak revolusi hijau.

Benih-benih lokal menjadi langka, dan petani mengeluarkan ongkos produksi tinggi untuk membeli benih, pupuk dan pestisida kimia pabrikan. Petani menjual seluruh panen dengan harga yang ditentukan pasar. Petani menjadi pihak yang terus kalah dan merugi.

Belum lagi jika menimbang tingginya resiko yang harus dihadapi karena serangan hama dan gagal panen. Akhirnya, banyak petani menjual tanah garapan dan memilih bekerja di sektor lain. Pada 2003-2013, sebagaimana ditunjukkan survei Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah petani berkurang tajam hingga lima juta orang.

Rendahnya kesejahteraan petani ikut menyumbang kemiskinan di pedesaan. Banyak perempuan desa akhirnya menjadi buruh migran karena tak punya lagi sawah.
Ibang dan Nissa memilih keluar dari SPP pada 2008. Berkat dukungan beberapa teman penyedia lahan, mereka merintis jalan baru.

“Awalnya memang berat memutuskan menjadi petani. Saya harus salat malam berbulan-bulan memohon petunjuk pada Tuhan,” kata Nissa yang lulusan SMA.

Pesantren dipilih karena memiliki riwayat perjuangan pada periode perebutan kemerdekaan Indonesia. Apalagi pesantren dulu mandiri dalam memenuhi kebutuhan dengan cara menanam sendiri.

Kini, pesantren seperti lembaga pendidikan pada umumnya yang terjebak hanya mencetak santri dan pelajar menjadi tenaga kerja.

Ibang melanjutkan, sekolah dan pesantren menjauhkan siswa dari alam, sehingga melahirkan generasi instan, individualistis, perusak alam, dan bergaya hidup tak sehat. “Dalam Islam tak hanya soal kebutuhan untuk pangan. Tetapi di sisi lain juga kewajiban menjaga alam, ada hak binatang lain selain manusia, ada hak alam juga,” kata Ibang.

Suami-istri itu berbagi tugas menghidupkan pesantren. Ibang berfokus mengajarkan teologi ekologi kepada para santri, sedangkan Nissa pada pengelolaan keragaman hayati. Bagi mereka, pesantren ini harus bisa mencetak banyak generasi muda yang mau terjun menjadi petani, demi menyelamatkan tanah-tanah pertanian yang tersisa. Tanpa tanah, kedaulatan pangan negeri ini mustahil terwujud, sebaliknya Indonesia akan terancam krisis pangan.

Selain bekal pengetahuan dari keluarga, Nissa belajar langsung ke Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional di Tawangmangu, Jawa Tengah. Setahun lalu, Nissa juga terpilih menjalani kursus singkat selama sebulan di The Navdanya Biodiversity Conservation Farm, Earth University, India.


Pesantren Ath Thaariq dirancang menjadi laboratorium mini yang bisa menjadi contoh bagi petani dan keluarganya untuk hidup sejahtera dan sehat. Sebab bagi Nissa, kunci kebahagian utama ada di keluarga, dan kesehatan berawal dari apa yang disajikan di meja makan. (Ika Ningtyas)

**Tulisan ini telah dipublikasikan di https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/mendalami-islam-dan-pertanian-di-pesantren-ath-thaariq-garut