Friday, July 21, 2017

Pesta Kampung Lereng Gunung Raung

Kolaborasi seniman Japung

Di panggung berlatar tebing batu, enam seniman memainkan alat musik tradisionalnya. Ada yang  memetik dawai Karmawibhangga, meniup karinding dan ongkek serta angklung. Kolaborasi spontan itu menghasilkan perpaduan bunyi yang etnik sekaligus menghipnotis para pengunjung di Sabtu sore, 4 Februari 2017.


Para seniman itu datang dari berbagai kampung: dari ujung Banyuwangi, Situbondo, Tuban hingga Majalengka. Mereka yang tergabung dalam Jaringan Festival Kampung (Japung) Nusantara itu memainkan alat musik yang tak biasa, bahkan terbilang langka. Karinding, misalnya, merupakan alat musik tiup dari Sunda yang dipakai mengusir hama di sawah. Sementara angklung, alat musik bambu dari Banyuwangi yang dulunya dipakai ritual dalam bertani.

Dawai Karmawibhangga, dibuat oleh seniman Situbondo, Ali Gardy, sesuai relief Karmawibhangga yang terukir di Candi Borobudur. Selama setahun, Ali telah menyelesaikan empat dawai berbahan kayu jati. “Untuk pertama kali saya mainkan dawai ini di Jawa Timur,” kata Ali Gardy yang juga piawai bermain saksofon.

Pertunjukan kolaborasi itu menjadi bagian dalam Pagelaran Masyarakat Kaki Raong Berkarya (Makarya) yang dihelat oleh sembilan desa se-kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, 3-5 Februari 2017. Makarya semacam pesta rakyat yang pertama digelar secara swadaya oleh masyarakat desa di kaki Gunung Raung. Seniman lain yang mendukung acara itu, juga datang dari Jember, Magelang, Bandung, Bali, dan Malang. Termasuk juga dari mancanegara seperti Perancis, Belanda, Amerika, Rusia dan Spanyol. Seniman-seniman ini hadir dengan biaya sendiri, pun tanpa honor manggung.

Pesta rakyat ini menyajikan berbagai kegiatan yang berangkat dari potensi warga. Setiap pagi hingga siang, tersaji pertunjukan kesenian tradisional seperti jaranan, wayang osing, barong, kuntulan, karawitan, dan atraksi dari sejumlah sanggar tari. Dalam kehidupan sehari-hari beberapa kesenian tradisional itu mulai jarang dipentaskan. Saat matahari tenggelam, giliran ajang kolaborasi musik kotemporer dan tradisional dari para seniman Japung Nusantara.

Panggung utama Makarya
Tak melulu kolaborasi musik. Tebo Umbara melengkapinya bersama penari gandrung Elly Priyana, pesilat dari Pencak Silat Tapak Suci, dan sejumlah penari pelajar dengan menampilkan  “Gerak Tirta Bateh”. Sesuai namanya, tarian ini dilakukan di aliran sungai Bateh, di atas perahu karet dan bebatuan kali. Tebo, sang koreografer, menyebut tariannya sebagai anthropological dance, sebuah tari berbasis kajian antropologi. Tarian ini melambangkan bagaimana sungai menjadi kawan sejati bagi seluruh makhluk hidup termasuk manusia.

Di sela-sela pertunjukan itu, aneka hidangan dari hasil bumi bisa dicicipi secara cuma-cuma. Mulai jagung, ubi jalar, ketela pohon, dan pisang rebus, menjadi pangan lokal yang kini tersingkir di tengah banjir makanan cepat saji. Sebagai hidangan sarapan dan makan siang, ada berbagai olahan sayur-mayur, tahu, tempe, telur ayam yang dikemas dengan daun pisang. Seluruh makanan ini sumbangan warga, bergantian dari tiap-tiap desa. Pengunjung pun bisa membeli beras organik, beras merah dan beras hitam hasil pertanian warga desa yang dipamerkan di stand-stand khusus.

Gerak Tirta Bateh
Seluruh kegiatan Makarya itu dipusatkan di sekitar aliran sungai Bateh, Desa Sumberbulu. Warga membangun dua panggung untuk pentas seni. Panggung pertama berlatar tebing batu berhiaskan hasil bumi semacam padi, kelapa, buah papaya dan sayuran. Sedangkan panggung kedua berjarak sekitar satu kilometer, di area camping ground, bernuansa hutan pinus. Kecamatan yang berjarak 25 kilometer dari kota Banyuwangi ini memang dikeliling 97 hektare hutan pinus milik PT Perhutani.

Pagelaran ini digerakkan oleh pemuda-pemudi desa yang tergabung dalam Karo Adventure, sebuah komunitas ekowisata rafting di Sungai Bateh. Mereka kemudian bertemu dengan komunitas Hiduplah Indonesia Raya (Hidora) yang berjejaring dengan Japung Nusantara, sekitar bulan November 2016. Hidora sendiri sebelumnya ikut menginisiasi Kampung Wisata Temenggungan dan Kampung Kopi Lerek Gombengsari.

Dalam kerjasama itu, Karo Adventure mengonsolidasi warga di sembilan desa, sedangkan Hidora menghubungkan dengan penggiat budaya di Japung. Pertemuan ini melahirkan Pagelaran Makarya. “Kami rindu dengan pesta rakyat yang mengembalikan semangat kegotong-royongan,” kata Budi Santoso, salah satu panitia dan pendiri Karo Adventure, Sabtu 4 Februari.

Budi mengatakan, modernisasi menyebabkan budaya gotong-royong semakin menghilang dari desa. Oleh karena itu, kata dia, Makarya sebagai momen menumbuhkan kembali gotong-royong sambil melestarikan berbagai tradisi, kesenian, sekaligus menggali sejarah yang tidak lagi diketahui generasi muda.

Sejarawan Banyuwangi, Suhalik, mengatakan, Gunung Raung menyimpan peradaban Nusantara dari masa Neolitikum (pra-sejarah) hingga periode klasik Hindu-Budha. Saat Banyuwangi masih bernama Blambangan, kata Suhalik, menjadi kerajaan Hindu terakhir yang mampu ditaklukan VOC/Belanda di Pulau Jawa hingga abad ke abad ke-18. Pada 1659-1665, raja terbesar Blambangan, Prabu Tawang Alun, membangun pusat kerajaannya di kaki Gunung Raung. Seabad kemudian, daerah Songgon menjadi pusat perlawanan rakyat melawan kompeni Belanda yang terkenal dengan sebutan Perang Puputan Bayu.

Gunung Raung secara geografis terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi, Jember, dan Bondowoso. Gunung setinggi 3.332 meter dari permukaan laut itu, tercatat 60 kali meletus sejak 1856-2015. Material vulkanis tersebut yang membawa kesuburan sekaligus sumber air bagi lebih dari 50 ribu jiwa penduduk di sekitar kaki gunung. Menurut Suhalik, material letusan Gunung Raung menjadi awal mula nama-nama tempat dan desa (toponimi) di Banyuwangi, sebut saja Desa Kerikilan, Rejeng, Watu Gowong, Watu Kebo, Watu Gepeng dan lain-lain. “Nama watu atau batu berasal dari lontaran gunung meletus,” kata dia.

Pagelaran Makarya tak hanya menyedot pengunjung lokal, melainkan juga dari kota-kota di sekitarnya dan sejumlah turis dari Bali. Selama tiga malam berturut-turut pengunjung dari luar kota menginap di homestay milik penduduk. Dengan demikian pengunjung bisa berbaur dan menyaksikan nadi kehidupan warga di lereng Raung yang berlatar petani. 

Wiwin Indiarti, salah satu pengunjung, mengatakan, pagelaran semacam ini efektif untuk mengenalkan dan melestarikan kearifan masyarakat desa atau kampung. Sebab pada dasarnya masyarakat desa memiliki tiga karakteristik utama, yakni kehidupan spiritualitas, laku terhadap sesama manusia dan melestarikan alam. “Karena kehidupan orang desa selalu lekat dengan alam dan tanah,” kata Wiwin yang juga dosen Universitas PGRI Banyuwangi.

Aneka pangan lokal
Makarya menjadi kampung ke-40an yang bergabung dalam Japung Nusantara. Saat dideklarasikan pada 17 Januari 2016 di Banyuwangi, baru ada sembilan kampung yang secara mandiri menggelar festival tahunan. Yakni Festival Kampung Cempluk Malang, Festival Jati Tujuh Jawa Barat, Festival Lima Gunung, Festival Kampung Pecinan Malang, Festival Kampung Rengel Tuban, Festival Paser Kalimantan Timur, Festival Karawang Art Village, dan Festival Kampung Celeket. 

Selama setahun, penggiat-penggiat sembilan kampung ini terus memperluas jejaring hingga hampir ke seluruh daerah di Jawa, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Di dalamnya kita mengenal nama musisi dan seniman yang tak asing di telinga seperti Trie Utami, Dewa Budjana, dan Didik Nini Towok. Selain seniman, anggota Japung juga terdiri dari arkeolog, antropolog, hingga petani kopi. “Secara intens kami bertukar ide melalui grup whatsapp,” kata salah satu penggagas Japung, Redy Eko Prasetyo.

Redy menjelaskan Japung Nusantara sebenarnya tidak mencetak kampung sebagai tujuan wisata. Sebab wisata hanyalah bagian hilir dari mata-rantai kehidupan di masyarakat.  Festival atau sejenisnya merupakan hari raya kebudayaan yang tujuan besarnya memperkuat basis sosial, budaya dan ekonomi masyarakat perdesaan. Semisal dari Pagelaran Makarya ini, kata Redy, bagaimana nantinya sembilan desa di sekitar Gunung Raung mampu bekerjasama menetapkan harga panen padi.

Kampung yang mandiri, kata dia, harus dilakukan bersama-sama dengan kampung atau desa lain. Cara pandang yang menganggap antar-desa harus berkompetisi justru akan mematikan kehidupan sosial di desa itu. Oleh karena itu, Japung Nusantara meleburkan batas-batas administrasi kampung dengan saling mendukung kampung lainnya. Kegiatan saling berkunjung, belajar dan mendukung ini biasa mereka sebut dengan istilah sonjo kampung.

Puncak sekaligus penutupan Pagelaran Makarya dihelat Minggu malam 5 Februari dengan sajian lebih beragam. Di panggung pertama, tampil angklung yang dimainkan para bocah dari sanggar Sekar Geni, patrol Kopi Lego, serta kolaborasi musik dan tari seluruh seniman Japung Nusantara. Tak kalah seru juga di panggung kedua, melihat perempuan-perempuan desa memainkan musik dengan memukul lesung  dengan alu. Di saat teknologi mesin belum masuk ke desa, alu dan lesung menjadi alat untuk menumbuk padi.

Dari Koperasi ke Konservasi
Mulanya berawal dari kegelisahan empat pemuda: Effendi Juliawan, Sudarsono, Budi Santoso dan Samsul, melihat kondisi desanya. Kemiskinan membuat generasi muda di desa-desa lereng Raung meninggalkan bangku sekolah dan bekerja menjadi kuli ke Bali atau Jakarta. Keempat pemuda itu lantas mengeksplorasi desanya yang bisa dipakai beraktivitas bersama.

Idenya, menjadikan Sungai Bateh yang membelah desa sebagai ekowisata rafting bernama Karo Adventure. Menurut Effendi Juliawan, ketika baru memulai mereka hanya bisa membeli satu perahu di tahun 2013. Uangnya bantingan antara Budi yang sukses jadi pengusaha dan Samsul yang menjadi dokter di Puskesmas Songgon. “Konsep ekowisatanya dari saya dan Sudarsono,” kata Effendi, 34 tahun.

Sungai Bateh untuk rafting
Mereka memulai ekowisata dengan promosi dari mulut ke mulut dan media sosial. Selama tiga tahun, Karo Adventure akhirnya makin ramai pengunjung. Mereka pun berhasil mengantongi sertifikat dari Federasi Arung Jeram Indonesia. Dalam sebulan paling sedikit 500 orang datang, untuk menaklukan derasnya arus sungai Bateh. Saat ini mereka telah memiliki 13 perahu dan anggotanya berlipat menjadi 30 orang. Setiap anggota bisa memiliki penghasilan setara dengan upah minimum kabupaten.

Untuk mewadahi potensi dan kreativitas seluruh anggotanya, Karo Adventure mendirikan Koperasi Bate Rafting. Selain berarung jeram, unit bisnisnya berkembang menjadi penyewaan camping groud, outbond, sablon, dan pembuatan pernak-pernik. “Kami semua sama-sama memiliki saham dan sekaligus pekerjanya,” kata Effendi. Sehingga para pemuda di desa ini tak lagi mengadu nasib ke daerah lain atau ke luar negeri.

Paket untuk berarung-jeram tersedia mulai untuk anak-anak, fun-trip (berdurasi 45 menit-1 jam), wonderfull (1,5 jam-2 jam) dan long trip (4 jam). Tarifnya paling murah Rp 100 ribu/orang hingga Rp 250 ribu/orang dengan fasilitas snack serta makan siang.

Dari pergaulan dengan sungai, Karo Adventure menyadari debit airnya semakin tahun kian menyusut. Bahkan saat kemarau, debitnya anjlok hingga separuh.  Bila dibiarkan, mereka khawatir penyusutan debit air bisa mengancam petani dan warga yang hidupnya bergantung pada sungai. Tim Karo Adventure pun menyelidiki ke bagian hulu. Penurunan debit sungai ternyata disebabkan banyak warga yang memotong bambu muda alias rebung untuk dikonsumsi atau dijual ke pasar. Padahal bambu merupakan salah satu tanaman penyimpan air yang banyak tumbuh di bagian hulu lereng Raung.

Mereka pun lantas berpikir keras untuk dapat mengubah perilaku warga. Enam bulan lalu mereka mendapatkan ide untuk menanam 10 ribu pakis kentang di bagian hulu. Mereka mendapatkan bibit pakis yang banyak tumbuh di hutan-hutan sekitar lereng gunung. Mengapa pakis? Menurut Sudarsono, pakis punya nilai ekonomi yang tak kalah dengan rebung. Tanaman ini berkembang baik di bawah rerimbunan pohon besar, sehingga warga tak perlu menebang pohon untuk menanamnya.

Menurut Sudarsono, warga bisa mengambil pakis ini untuk dijual ke pasar. Bisa pula melalui Koperasi Bateh Rafting. Dari koperasi, pakis-pakis ini akan dimasak sebagai menu kantin untuk hidangan pengunjung yang berarung-jeram. “Kami masih terus mensosialisasikan pakis ini ke warga-warga sekitar,” kata Sudarsono yang pernah menjadi TKI di Malasyia ini. Mereka berharap konservasi sederhana itu bisa menyelamatkan alam dan sungai Bateh. (Ika Ningtyas)

**Tulisan ini telah dipublikasikan di: https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/pesta-kampung-lereng-gunung-raung