Friday, July 21, 2017

Pesona Api Biru di Kawah Belerang

Danau kawah hijau toska di Gunung Ijen
Langit masih gelap dengan sepotong bulan sabit ketika saya menginjakkan kaki di puncak Gunung Ijen setinggi 2.368 meter dari permukaan laut. Bau gas belerang menyengat menusuk hidung. Angin berembus melontarkan dingin sekitar empat derajat celcius.


Ini memang bukan pendakian pertama ke Ijen, namun pendakian sepanjang 3 kilometer selalu membuat letih luar biasa. Apalagi bagi saya yang bukan pendaki, tentu cukup bersusah-payah menaklukan medan yang sebagian besar menanjak 25-30 derajat. Tetapi begitu menyentuh bagian puncak, seketika itu pula lelah langsung terbayar.

Beberapa pengunjung memanfaatkan jasa gerobak yang ditawarkan penambang belerang. Ya, ini semacam penghasilan tambahan bagi pemburu belerang Ijen itu. Dua tahun lalu, ratusan penambang beralih dari pikulan bambu ke gerobak besi untuk mengangkut belerang padat dari puncak menuju kaki gunung.

Saat muatan masih kosong, para penambang akan memakai gerobaknya untuk mengangkut wisatawan yang kelelahan di tengah jalan. “Taksi, taksi, mari naik taksi menuju puncak,” begitu tawaran mereka pada setiap pengunjung, yang membuat saya tergelak. Ongkosnya, Rp 400 ribu untuk sekali naik dan Rp 200 ribu saat turun.

Penambang belerang di Gunung Ijen
Saya segera menuju ke arah tenggara untuk melihat api biru. Berdesakan dengan puluhan orang di tepi tebing yang curam. Tempat saya berdiri, dekat sebuah papan kayu, adalah batas pendakian terakhir sejak aktivitas gas vulkanik Gunung Ijen meningkat pada 2 Maret 2017. Pengunjung pun hanya diperbolehkan sampai ke puncak pukul 03.00 dan terakhir jam 12.00 WIB.

Dari jarak jauh, blue fire seperti noktah-noktah yang memedarkan warna biru terang dalam kegelapan malam. Di sekitarnya, cahaya lampu bergerak kesana-kemari, menunjukkan aktivitas para penambang memecah belerang padat. Peringatan gas beracun rupanya tidak berlaku untuk mereka, karena tetap diperbolehkan bekerja menantang alam.

Saya duduk menikmati api biru (blue fire/blue flame) itu di tepi tebing sambil menanti pagi. Dalam kondisi normal, pengunjung bebas menuruni kawah berukuran 1.160 m x 1.160 m itu, dan waktu pendakian dibuka 24 jam. Selain api biru dan penambang belerang, di dalam kawah sedalam 800 meter tersebut terdapat danau yang airnya berwarna hijau toska. Oleh para ahli vulkanologi, danau berkedalaman 200 meter berisi 30 juta meter kubik itu, dinobatkan sebagai danau asam terbesar di dunia.

Danau ber-PH kurang dari 0,5 inilah yang menjadi sumber datangnya api biru dan belerang padat yang diangkut para penambang. Belerang itu dipakai untuk bahan pemutih gula dan korek api. Menurut catatan Bosch (1858), belerang-belerang tersebut telah dipakai sejak era kolonial VOC/Belanda tahun 1786, sebagai bahan pembuatan mesiu.

Penambang belerang di Gunung Ijen


Jauh sebelum didatangi wisatawan, Gunung Ijen lebih dulu menarik para peneliti. Catatan Oudgast (1820) menyebutkan Ijen pertama kali didatangi oleh komandan benteng VOC/Belanda di tahun 1789. Setelah transisi ke pemerintahan Perancis, Ijen dikunjungi oleh seorang botanis Perancis, Leschenault de La Tour pada tahun 1805. Laporan de La Tour inilah, menurut Caudron dkk (2015) dalam Kawah Ijen volcanic activity: a review,  merupakan satu-satunya laporan ilmiah yang menggambarkan danau kawah sebelum meletus tahun 1817.

Letusan 1817 membuat kian banyak peneliti datang ke Kawah Ijen seperti Junghuhn (1853) dan Bosch (1858). Dari tahun 1850an sampai kemerdekaan Indonesia, Ijen sering dikunjungi oleh ilmuwan dan insinyur,” tulis Caudron dkk di jurnal Bull Vulcanol, 7 Februari 2015.

Kini, hampir seribuan orang datang ke Gunung Ijen demi berburu si api biru, seperti yang saya saksikan Senin dini hari, 22 Mei 2017. Saat musim libur, jumlah pengunjung bisa meningkat dua kali lipat. Monica Sari, salah satu pengunjung bercerita, dia datang ke Ijen karena penasaran melihat api biru. “Katanya api biru cuma ada dua di dunia. Jadi saya pilih ke Ijen karena belum mampu ke luar negeri,” kata perempuan asal Langsa, Aceh ini.

Alasan yang sama diungkapkan Amurwa Pradnya Sang Indraswari. Gadis asal Karanganyar, Jawa Tengah ini, mengatakan, Ijen adalah gunung pertama yang didaki. “Saya tak pernah naik gunung sebelumnya. Berani mendaki karena termotivasi ingin melihat blue fire,” katanya.

Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah III Jawa Timur mencatat trend kenaikan jumlah wisatawan. Pada 2015 jumlah pengunjung mencapai 150.561 orang, dan pada Januari-November 2016 angka wisatawan meningkat menjadi 154.565 orang. Rinciannya, 4.267 wisatawan mancanegara dan 150.298 wisatawan nusantara.

Fenomena alam blue fire sebenarnya baru dipopulerkan sekitar tahun 2010 oleh fotografer asal Perancis, Olivier Grunewald. Saat itu, dia mempublikasikan 30 foto blue flame Ijen pada www.boston.com, media online pertama milik jaringan The Boston Globe, Massachusetts, Amerika Serikat.

Fotografer yang mengkhususkan dirinya pada alam dan gunung api itu, kemudian melanjutkan proyeknya berupa film dokumenter. Kali ini dia bekerja sama dengan Presiden Society of Volcanology, Jenewa, Régis Etienne. Karyanya berjudul Kawah Ijen, The Mystery of The Blue Flames ini dirilis awal 2014, yang akhirnya memantik lebih banyak publikasi.

Dalam wawancaranya dengan National Geographic 30 Januari 2014, Grunewald menjelaskan, bahwa fenomena api biru sebenarnya adalah cahaya dari pembakaran gas belerang. Gas-gas tersebut muncul dari retakan gunung berapi pada tekanan tinggi dan suhu hingga 600 °C. Nyala api terjadi ketika gas bersentuhan dengan udara. “Beberapa gas mengembun menjadi belerang cair, yang terus menyala saat mengalir menuruni lereng," kata fotografer kelahiran 1959 ini.

Di bawah nyala api biru dan gas yang membahayakan pernapasan itulah ratusan penambang belerang bekerja, malam hingga siang. Mereka mengambil potongan belerang yang telah padat dari Lapangan Solfatara di bawah kawah. Sambil memikul dua keranjang belerang seberat 70 kilogram, mereka mendaki ke puncak melalui medan terjal berbatu. Setelah tiba di puncak, seluruh belerang dipindahkan ke gerobak besi. Gerobak beroda dua tersebut selanjutnya mereka dorong hingga ke tempat penimbangan milik perusahaan swasta di kaki gunung.

Sahawi, salah satu penambang, bercerita, dia bekerja sejak tahun 1975. Setiap hari dia mendaki Gunung Ijen pada pukul 22.00 dan berakhir pukul 08.00 WIB keesokan harinya. Selama 10 jam bekerja itu, Sahawi mengumpulkan 1,5 kuintal belerang padat. Dengan harga Rp 1.000 per kilogram, Sahawi bisa mendapatkan uang Rp 150 ribu per hari. Penghasilannya ini, kata dia, lebih banyak ketimbang upah sebagai buruh perkebunan cengkeh. “Dari kebun saya cuma berpenghasilan Rp 30 ribu sehari,” kata warga Desa Tamansari, Licin, Banyuwangi ini.

Gunung Raung dan Gunung Meranti dilihat dari puncak Ijen
Fenomena api biru pernah terjadi di tempat lain, meski tak muncul setiap hari seperti di Kawah Ijen. Antara lain muncul saat kebakaran hutan di Taman Nasional Yellowstone, Amerika Serikat. Selain itu, Grunewald juga mendokumentasikan cahaya biru di gunung berapi Dallol di Depresi Danakil, di wilayah Afar, Ethiopia.

Karya Grunewald akhirnya membuat Kawah Ijen makin mendunia, dikemas dan disebarluaskan oleh agen-agen perjalanan untuk kepentingan wisata. Bersamaan dengan itu, pemerintah Banyuwangi disusul Bondowoso secara besar-besaran mempromosikan Gunung Ijen sebagai bagian menarik investasi ke daerahnya.

Pemerintah Banyuwangi misalnya, berstrategi dengan menggelar balap sepeda International Tour de Ijen sejak 2012, disusul pertunjukan Jazz Ijen. Banyuwangi pun mengucurkan anggaran Rp 7 miliar untuk mempermudah jalan akses ke Ijen agar lebih landai dan mulus.

Sebelumnya, pengunjung harus menaklukan tanjakan dengan kemiringan hingga 70 derajat. Saat itu, hanya kendaraan double gardan yang mampu menembus medan. Tapi kini, mobil biasa dan sepeda motor pun bisa melintas dengan mudah.

Kabupaten tetangga, Bondowoso, yang juga punya akses jalan ke Gunung Ijen tak mau ketinggalan. Pemkab setempat menggelar Jazz de Ijen pada 2014, Ijen Trail Running dan serangkaian acara bertajuk Festival Ijen di tahun ini. Banyuwangi dan Bondowoso sejatinya masih memperebutkan gunung tersebut. Sengketa tapal batas yang muncul sejak 2006 itu tak kunjung mencapai titik temu dan masih dimediasi oleh Pemerintah Provinsi Jatim dan Kementerian Dalam Negeri.

Wisatawan di puncak Gunung Ijen
Gunung Ijen telah berubah dari wisata minat khusus menjadi wisata massal. Namun, pengunjung yang datang terkadang tak punya informasi cukup mengenai kondisi alamnya, baik mengenai medan yang terjal dan ancaman gas belerang. Dampaknya, terhitung sejak 2013-2016, ada 5 pengunjung yang tewas usai mendaki karena sesak napas dan penyakit jantung.

Maka, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur tahun ini memperketat pengunjung yang akan mendaki. Kepala BBKSDA Jatim, Ayu Dewi Utari, mengatakan, pengunjung yang memiliki riwayat penyakit jantung, asma dan darah tinggi, dilarang mendaki. “Kami memberikan peringatan langsung dan memasang papan pemberitahuan,” katanya, Rabu 24 Mei 2017.

Saat matahari datang, tak nampak lagi nyala api biru, berganti keelokan panorama lainnya di sekitar puncak. Perlahan-lahan tersingkap gugusan awan, hutan-hutan pinus dan menyibakkan tubuh Gunung Merapi, Meranti dan Raung yang mengitari Gunung Ijen.

Ayam hutan menyapa berulang-kali dari kejauhan, memberi tanda bahwa hari telah pagi. Sekaligus petunjuk bahwa kawasan cagar alam Ijen masih lestari. Maka, tak salah ketika Ijen ditetapkan sebagai salah satu Cagar Biosfer pada sidang International Coordinating Council (ICC) Program Man and The Biosphere, UNESCO ke-28 di Kota Lima, Peru, pada 18-20 Maret 2016.

Menyinggahi Kebun Kopi, Strawberry hingga Kawah Wurung
Dataran tinggi Ijen menyimpan pesona lain yang sayang untuk dilewatkan. Usai mendaki sekitar pukul 08.00, saya menyusuri arah barat menuju Kabupaten Bondowoso. Pemandangan hutan pinus, bukit-bukit hijau, dan bunga matahari terhampar di kanan-kiri jalan beraspal. Di antara hutan, mengalirlah Kalipahit, sungai dari rembesan danau kawah yang berwarna kekuningan serta asam. Sungai inilah yang memberi kehidupan di sepanjang kaki gunung.

Bendungan Sungai Kalipahit di lereng Gunung Ijen
Hutan pinus berganti dengan hamparan 7 ribu hektar kebun kopi arabika. Sebagian besar kebun kopi tersebut warisan kolonial Belanda yang saat ini dikelola oleh PT Perkebunan Nasional (PTPN) Blawan dan PTPN Kalisat-Jampit. Kopi Ijen Bondowoso cukup terkenal karena mayoritas diekspor ke Eropa dan Amerika. Produksi kopi jenis Arabika pada 2015 lalu sekitar 1.200 ton dan  jenis Robusta sekitar 2.000 ton. Dengan potensi ini, Pemerintah Bondowoso mendeklarasikan daerahnya pada 2016 dengan sebutan Republik Kopi.

Selain kopi, PTPN XII Kalisat-Jampit mengembangkan agrowisata strawberry organik seluas 1,5 hektar di Desa Kalisat, Kecamatan Ijen. Agrowisata ini dibuka setiap hari bagi pengunjung untuk petik strawberry, dengan tiket Rp 2.500 per orang dan harga buahnya Rp 12.500 per 250 gram. Kebun ini dipanen dua kali dalam sepekan yang menghasilkan 2 kuintal buah.

Perjalanan saya berlanjut ke Kawah Wurung, destinasi yang baru dikembangkan pemerintah Bondowoso dua tahunan ini. Untuk menuju tempat ini, saya menyusuri perkebunan kopi sepanjang 5 kilometer. Separuh jalan cukup buruk, masih tanah berbatu. Siap-siap untuk merasakan medan off-road yang penuh debu.

Kawah Wurung semacam bukit teletubis, berupa area bebukitan hijau setinggi 500-700 meter dari permukaan laut. Di bukit pertama, saya disambut tulisan kapital “Kawah Wurung” setinggi tiga meter, lokasi yang cocok untuk berswa-foto. Mendaki sekitar satu kilometer dengan medan berupa padang rumput, saya sudah berada di puncak. Dari sini, saya leluasa menikmati sabana hijau dengan Bukit Cincin sebelah barat. Pemerintah Bondowoso sudah membangun menara pandang setinggi 4 meter, musholla, toilet dan warung makan. Juga dilengkapi sejumlah fasilitas untuk outbond.

Kawah Wurung Bondowoso
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bondowoso, Harry Patriantono, mengatakan, Kawah Wurung akan dikembangkan sebagai The World of Children alias tempat bermain untuk anak-anak. “Kami akan melengkapi fasilitas outbond dan agrowisata untuk anak,” katanya, Rabu 24 Mei.

Untuk mendukung wisata Kawah Wurung, kata Harry, Pemerintah Bondowoso tahun ini akan memperbaiki seluruh infrastruktur jalan agar mudah dilalui semua jenis kendaraan. Dibukanya destinasi Kawah Wurung turut meningkatkan jumlah wisatawan ke Bondowoso. Bila selama 2016, kunjungan wisatawan sebanyak 160 ribu orang, maka triwulan pertama 2017 jumlah kunjungan telah mencapai 110 ribu orang. IKA NINGTYAS

**Tulisan ini telah diterbitkan di: https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/pesona-api-biru-di-kawah-belerang