Friday, July 21, 2017

Geliat Kopi Rakyat di Ujung Timur Jawa

Proses sangrai kopi secara tradisional di Dusun Lerek Gombengsari

Aroma wangi kopi, menyeruak dari dapur milik Taufik, Minggu 22 Januari, siang. Ada Hidayanti di sana, sedang menyangrai (roasting) biji kopi secara tradisional. Perempuan 32 tahun itu, membolak-balik lima ons robusta di atas penggorengan gerabah dan perapian kayu. Itu dia lakukan selama 15 menit hingga biji kopi berwarna coklat dan mengeluarkan aroma khasnya. “Kalau dulu menyangrai kopi sampai hitam,” kata ibu yang tiap hari mengkonsumsi 2 gelas kopi per hari ini.


Hidayanti tak sendiri. Ada tiga perempuan lain yang menyangrai kopi secara bergantian. Mereka berempat, setiap harinya harus mengolah 10-15 kilogram kopi robusta yang dihasilkan dari kebun kopi milik kelompok petani setempat. Mereka memperoleh upah Rp 5 ribu untuk tiap kilogram kopi yang diolah. Kopi hasil sangrai, kemudian ditumbuk halus atau digiling dengan mesin, sesuai pesanan. Setelah dikemas, kopi-kopi tersebut diberi merek: Kopi Lego, kepanjangan dari kopi Lerek Gombengsari, sesuai nama kampung mereka.

Kopi Lego adalah salah satu produk kopi lokal yang dihasilkan oleh Kelompok Pemuda Dusun Lerek, Desa Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur. Sejak dua tahun terakhir, belasan merek kopi lokal bermunculan. Ada merek Yhaiku Java Kopi, Jaran Goyang, Manjahe, Seblang, Gandrung, Omah Kopi, Kopi Kahyangan, Luwak Ireng dan sebagainya. Merek-merek kopi itu diproduksi secara home industry, baik oleh kelompok tani maupun perorangan.

Bisnis kopi lokal itu terjadi seiring tren di Indonesia, salah satunya ditunjukkan dengan menjamurnya café-café kopi. Termasuk juga tumbuhnya 20an café di Banyuwangi dalam dua tahun terakhir. Kabupaten di ujung paling timur Jawa ini sebelumnya, hanya memiliki dua merek: Kopai Osing yang diproduksi oleh seorang pengusaha besar dan Kopi Lanang Malangsari milik PTPerkebunan Negara XII.

Daerah yang berjulukan ‘Sunrise of Java’ ini memliki lahan kopi seluas 10.833 hektare, yang tersentra di sekitar pegunungan Ijen dan Gunung Raung. Luasan itu, terdiri atas 5.388 ha perkebunan rakyat dan 5.445 ha milik PTPN XII dan swasta. Perkebunan-perkebunan besar tersebut dibuka sejak era kolonialisme Belanda pada awal abad ke-20.

Sebagai tenaga kerja, pemerintah Hindia-Belanda mendatangkan imigran dari Madura ke Banyuwangi. Dulunya mereka tinggal di mess-mess dalam perkebunan. Setelah Indonesia merdeka, pekerja kebun akhirnya bermukim di luar area perkebunan dan membuka ladang untuk bertani. Semakin tahun keturunan pekerja kebun ini kian bertambah. Mereka inilah yang kemudian menanam kopi di pekarangan rumah secara turun-temurun hingga sekarang.

Di Dusun Lerek, misalnya, berada di dekat Perkebunan Kali Klatak milik swasta yang menanam kopi dan cengkeh. Dusun sejauh 12 kilometer dari kota Banyuwangi ini, memiliki 434 ha kebun kopi rakyat dengan produktivitas antara 1,2 ton hingga 1,7 ton per ha. Hariyono, salah satu petani kopi bercerita, sebagian besar tanaman kopi di dusunnya berusia 40-50 tahun melalui penanaman massal pada tahun 1974, menggantikan tanaman jagung. “Saat itu harga kopi jauh lebih tinggi dari jagung,” kata dia, Minggu 22 Januari 2017.

Lahan kopi di pekarangan rumah Taufik di Dusun Lerek Gombengsari

Tanaman kopi, kata Hariyono, saat itu banyak di sekitar sungai di dekat perkebunan Kali Klatak. Kemungkinan, tanaman itu tumbuh dari biji kopi yang terbawa oleh hewan atau aliran hujan. Warga kemudian memindahkan tanaman-tanaman kopi itu ke pekarangan rumahnya, hingga akhirnya meluas ke seluruh dusun. Setelah memiliki tanaman sendiri, minum kopi pun menjadi kebiasaan warga sehari-hari, laki-laki maupun perempuan. “Pagi dan malam selalu minum kopi,” kata pemilik 2 ha tanaman kopi.

Sebelum mampu mengolah sendiri, Hariyono, bercerita, petani menjual hasil panennya ke tengkulak. Harganya tak pasti. Saat tinggi harganya bisa Rp 21 ribu per kg. Akan tetapi saat puncak panen, harganya jatuh antara Rp 16-Rp 17 ribu per kg. Tengkulak lalu menyetor kopi petani Gombengsari ke salah satu perusahaan kopi kemasan terkenal.

Ketua Kelompok Petani Kopi Rejo, Dusun Lerek, Taufik, mengatakan, dulu kelompoknya pernah mengolah kopi sendiri dan diberi merek Latanza. Karena minimnya pengetahuan, produksi kopi pun ala kadarnya. Seperti roasting yang berlebihan hingga berwarna hitam seperti arang. Penjualannya pun terbatas di warung-warung. 

Lalu, ketika kopi lokal mulai populer, pemerintah daerah setempat memulai Festival Sangrai Kopi pada 2015 di Gombengsari. Setelah acara ini, banyak komunitas pecinta kopi datang ke petani untuk berbagi pengetahuan mengolah kopi.

Dari komunitas-komunitas tersebut, petani menjadi tahu bagaimana petik kopi yang baik, cara meroasting, hingga mengemasnya menjadi produk yang memikat. Petani kemudian membentuk Kelompok Pemuda Kopi Lego, lalu meluncurkan paket wisata kampung sekaligus produk kopi pada Oktober 2016. Seluruh aktivitas pengolahan kopi inilah yang dipusatkan di rumah Taufik.

Ada berbagai varian produk Kopi Lego, sesuai keragaman jenis robusta yang tumbuh di dusun setinggi 650 meter dari permukaan laut ini. Yakni, robusta konoga dan excelsa yang masing-masing dibanderol Rp 140 ribu / kg. Ada juga robusta lanang Rp 150 ribu/kg. Termahal, jenis robusta luwak seharga Rp 750 ribu/kg. Jenis terakhir ini memang paling tinggi, karena dihasilkan oleh luwak liar di sekitar pekarangan petani.

Sejak diluncurkan, permintaan Kopi Lego antara 10-15 kilogram setiap harinya. Pasarnya berasal dari wisatawan yang datang ke kampung mereka, penjualan online, dan menyuplai ke sejumlah café serta ukm lainnya. Selain dari produk olahan tersebut, penghasilan petani turut meningkat karena harga jual kopi biji ikut melejit yakni antara Rp 26-27 ribu per kg. Peningkatan ini karena petani hanya memetik biji kopi yang telah matang, berwarna merah. “Kalau dulu, kopi masih berwarna hijau sudah kami petik,” kata ayah dua anak ini.

Merek lainnya, Yhaiku Java Coffee, diluncurkan ke pasar pada 2015. Produsennya, Nidom Mas Joesron, mengakui pasar kopi cukup prospektif. Dia tergerak karena belum ada kopi produk lokal bermutu yang bisa dinikmati kalangan luas.”Saya ingin menambah khasanah citarasa kopi nusantara,” kata pria 47 tahun ini.

Nidom sebelumnya bekerja sebagai pengelola kebun kopi milik salah satu pengusaha di Banyuwangi selama 7 tahun. Dari sana, dia belajar mengenali setiap karakter jenis kopi, merawat tanaman, cara meroasting dan meracik kopi. Dia memutuskan berhenti di akhir tahun 2014, lalu banting stir menjalani bisnis kopi rakyat. Alumnus jurusan Holtikultura Universitas Mataram ini pun diakui sebagai ahli roasting kopi tradisional Banyuwangi.

Nidom melakukan sangrai tradisional di rumahnya

Setiap bulan, dia mengolah minimal 1 kuintal kopi berbagai jenis di rumahnya, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah. Untuk robusta, dia mendapatkan bahan baku dari sejumlah petani seperti di Desa Gombengsari dan Desa Taman Sari. Sedangkan jenis Arabica dia pesan dari petani di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Ada sekitar 10 café kopi di Banyuwangi yang memakai produk Yhaiku, dan sebagian lainnya ke Surabaya, Malang dan Bali.

Nidom tak melulu berdagang. Idealismenya adalah bagaimana petani kopi rakyat lebih berdaya dan memperkenalkan kopi yang nyaman di lambung serta memiliki taste. Dia pun bergerilya ke petani-petani, seperti ke Dusun Lerek. Nidom mempopulerkan roasting tradisional, yang menurutnya punya citarasa khusus dibandingkan dengan kopi giling. “Kopi roasting tradisional beraroma smoogy dan terjangkau bagi ukm yang belum mampu membeli mesin,” katanya.

Menurut Nidom, kopi kebun rakyat sebenarnya lebih unggul karena ditanam secara organik. Petani menggunakan kotoran hewan maupun daun-daunan hasil pemangkasan sebagai pupuknya. Sedangkan perkebunan kopi yang berskala besar lebih banyak menggunakan pupuk kimia. Hanya saja, minimnya pengetahuan petani, membuat citarasa kopi rakyat kurang, sehingga harganya pun rendah. Seperti kebiasaan petani menyimpan kopi dalam kondisi lembab yang bisa memicu overfermentasi.

Roasting kopi hingga berwarna hitam arang, kata Nidom, terlanjur menjadi kebenaran di masyarakat. Padahal kopi yang baik, hanya membutuhkan roasting antara 15-17 menit hingga berwarna coklat. Setelah itu, kopi disimpan rapat dalam vacuum container selama dua hari agar kandungan gas karbon keluar. “Gas inilah yang memicu kembung,” katanya.

Nidom kemudian menjadikan rumahnya sebagai stasiun kopi, tempat bertemunya para kolega untuk berdiskusi tentang kopi. Dalam setahun ini, Stasiun Kopi tidak hanya menjadi ‘rumah’ bagi komunitas kopi di Banyuwangi, melainkan telah dikunjungi dari Surabaya, Malang, Trenggalek, Priangan, dan Kediri.

Produk Yhaiku Java Kopi 

Dengan perkembangan itu, Pemerintah Banyuwangi menyediakan fasilitas untuk mempromosikan produk kopi lokal. Yakni di Gedung Pamer di Jl Ahmad Yani, dan penjualan online melalui website banyuwangi-mall.com yang diluncurkan 20 April 2016. Selain itu, sejak 2015 pemkab menggelar berbagai festival kopi seperti Festival Sangrai, Festival Petik Kopi dan Festival Sepuluh Ribu Kopi.

Dewan Pakar Kopi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember, Pudjianto, menjelaskan, Banyuwangi dan Kabupaten Malang menjadi produsen kopi terbesar di Jawa Timur. Namun geliat bisnis kopi lokal telah meluas ke berbagai daerah lainnya baik di Jawa Tengah hingga ke Sumatera. Hal ini karena pengolahan kopi relatif lebih mudah, dengan perizinan yang sederhana.  Perkembangan ini, kata dia, cukup positif untuk meningkatkan penghasilan petani dan pemilik ukm.

Namun apabila tren konsumsi kopi ini tak dibarengi dengan penambahan produksi, maka, Indonesia bisa menjadi importir kopi. Padahal Indonesia adalah eksportir kopi terbesar setelah Brazil. Kondisi ini berdasarkan fakta bahwa ada ketimpangan yang besar antara tingkat konsumsi dan produksi kopi dalam delapan tahun terakhir.

Konsumsi kopi, kata Pudjianto, telah meningkat 13 persen namun produksi hanya bertambah kurang dari 1 persen. Saat ini, konsumsi kopi di Indonesia antara 320 ribu – 350 ribu ton per tahun dari jumlah produksi total 620 ribu – 680 ribu ton per tahun. Sedangkan ekspor kopi sekitar 300 ribu ton per tahun. “Kalau produksinya tetap rendah, nantinya jatah ekspor habis terserap untuk pasar lokal,” katanya, Selasa 25 Januari 2017.

Rendahnya produksi tersebut karena kopi bukan menjadi bisnis utama petani di Indonesia. Sehingga perawatan tanaman kopi masih ala kadarnya. Hal ini akhirnya berdampak pada produktivitas tanaman yang kurang dari 2 ton per hektare. Angka ini kalah dibandingkan Vietnam yang sudah mencapai minimal 2 ton per ha.

Untuk meningkatkan produksi, kata Pudjianto, pemerintah harus mendukung intensifikasi dan perluasan lahan kopi seperti di Brazil dan Vietnam. Salah satunya melalui peremajaan tanaman kopi dengan memberikan bibit berkualitas. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao sendiri baru mampu menyebar 2-5 juta bibit untuk lahan seluas 1.000-1.500 ha. Padahal Indonesia memiliki 1,3 juta ha lahan kopi. “Padahal idealnya, peremajaan tanaman kopi menjangkau 4 persen dari luas total atau sekitar 40 ribu ha,” kata Pudji.

Dulu ke Warung Sekarang di Cafe
Java Sunrise di jalan MH Thamrin, Banyuwangi, nyaris tak pernah sepi dari para penikmat kopi. Seperti Sabtu malam, 21 Januari, sebagian besar kursi di café itu terisi. Café berukuran 16x16 meter itu terlihat minimalis, dengan sentuhan arsitektur tradisional. Konsep bangunannya berupa rumah masyarakat adat Using Banyuwangi yang terbuat dari kayu dan bambu.

Java Sunrise Cafe

Pemilik Java Sunrise, Dandy Brananta, mengatakan, dia memesan khusus rumah tradisional itu di Desa Kemiren, salah satu kampung masyarakat Using. “Ini rumah junjung, jadi bisa diangkat dan dipindah-pindah,” katanya, Sabtu 21 Januari.

Dandy membuka café ini pada Mei 2014 dengan modal sekitar Rp 500 juta. Bisa disebut café ini salah satu yang awal berdiri di Banyuwangi, ketika booming kopi mulai terjadi. Dua tahun setelah Java Sunrise, kini sekitar 20an café kopi yang menyuguhkan kopi khas Banyuwangi, menjamur dengan cepatnya.  

Pria 31 tahun itu, memang pecinta kopi. Tahun 2010, dia mengelola sebuah café khusus masakan Jawa di Singapura. Diapun bertemu kopi Banyuwangi di salah satu café yang ternyata proses roastingnya justru dari Belanda. “Kopi Banyuwangi terkenal enak.” 

Sejak saat itu, Dandy penasaran dengan kopi asal kabupaten terluas di Jawa ini. Momen, akhirnya datang saat Dandy bekerja di sebuah perusahaan farmasi dan ditempatkan di Banyuwangi. Pria asal Malang ini kemudian berburu produk kopi. Dia lantas heran setelah pencariannya gagal, kecuali satu merek kopi yang dijual terbatas. Padahal, kata dia, Banyuwangi memiiki kebun kopi sangat luas.

Dandy pun berniat membuka café yang bisa menyediakan kopi dari perkebunan rakyat di sekitar Kalibendo dan Telemung Banyuwangi. Dia bekerja sama dengan kawannya sebagai pemasok bahan baku. Selain itu, dia juga menyuguhkan kopi arabika impor dari Brazil, Ethiopia dan Columbia. Tujuannya agar konsumen bisa membandingkan taste kopi lokal dan impor. Tanpa promosi besar-besaran, pengunjung cafenya berjubel sejak awal dibuka hingga dua tahun berlalu. “Di luar ekspektasi,” katanya puas.

Java Sunrise mengkreasikan berbagai menu kopinya mulai dari espresso, amaricano, cappuccino, coffee latte, vanilla latte, strawberry latte, Jamaican coffee latte dan sebagainya. Menu-menu ini bisa dinikmati dengan harga antara Rp 10 ribu – Rp 18 ribu per gelas. Saat hari biasa, Java Sunrise menghabiskan 25 kilogram kopi. Namun saat weekend atau hari libur, bisa melejit mencapai 60 kg per hari. Omzetnya minimal Rp 3 juta per hari dengan jam buka mulai 16.00-23.00.

D’Cinnamon juga lahir seiring trend minum kopi. Café di Jalan Susuit Tubun ini dibuka sekitar bulan Juli 2015. Menariknya, si pemilik, Syauqi, bukan pecinta kopi seperti Dandy. Bahkan dia buta tentang dunia kopi. Syauqi berlatar pendidikan Manajemen Rumah Sakit yang kini menjadi direktur umum Rumah Sakit Yasmin milik keluarganya. Rumah sakit ini awalnya mengembangkan unit bisnis rumah makan berkonsep kebun dan makanan sehat, Garden Resto, sejak 2006. Ketika café kopi bertumbuhan, Syauqi pun tertantang untuk ikut menggeluti kuliner kopi.

D'Cinnamon 

Menurut Syauqi, berbeda dengan café lainnya, D’Cinnamon lebih berkonsep family. Karena selama ini café kopi identik dengan laki-laki, penuh asap rokok dan tempat nongkrong hura-hura. Untuk mengubah image itu, D’Cinnamon menyediakan ruangan khusus merokok dan tempat bermain anak. Dengan ukuran 15 x 10 meter, 

D’Cinnamon mempertahankan konsep kebun, dengan sofa-sofa nyaman untuk bercengkerama. Maka tak heran pengunjung café ini antara 60-70 orang per hari yang didominasi perempuan dan keluarga.

Syauqi pun menyadari, tak seluruh pengunjung yang datang adalah penikmat kopi hitam. Maka, menu kopinya lebih banyak dikreasikan dengan vanilla dan coklat. Oleh karena itu, kebutuhan kopi pun hanya sekitar 5 kilogram per minggu dengan menggunakan produk Yhaiku Java Coffee milik Nidhom. “Para pemula ikut-ikutan tren ngopi tapi sebenarnya bukan penikmat kopi-kopi premium,” katanya.

Tren minum kopi akhirnya memang mengubah kebiasaan warga. Bila dulunya ngopi  cukup di warung-warung pinggir jalan, kini dia pindah ke cafe. Seperti yang diakui Alfiyan Firdausi, pegawai radio di Banyuwangi ini. Setiap hari, dia tak pernah absen ngopi di cafe. Ada dua café favoritnya, yakni Minak Café dan D’Copis yang berdiri sekitar tahun 2016. “Kalau ngopi bisa tiga hingga empat gelas sehari,” kata penyuka kopi robusta ini.

Kehadiran café juga mengubah selera. Menurut Alfiyan sebelumnya dia mengkonsumsi kopi kemasan karena tidak ada pilihan yang tersedia. Saat ini dengan tumbuhnya café, dia jadi tahu keragaman kopi lokal beserta masing-masing tastenya. Apalagi, dengan berbagai teknik menyeduh kopi (brewing) menambah penyajian kopi lebih menarik dan melahirkan taste berbeda. (Ika Ningtyas)

**Tulisan ini telah dipublikaikan di : https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/geliat-kopi-rakyat-di-ujung-timur-jawa