Saturday, July 22, 2017

Kisah Kota Tua di Tepi Mississippi

Katedral Saint Louis di dekat Jackson Square New Orleans
Creol Queen yang saya tumpangi baru saja melepas sauh. Meninggalkan dermaga Sungai Mississippi, di kawasan River Walk, New Orleans (Nola). Dari dek ketiga, saya leluasa melihat langit yang jernih menjelang senja. Iringan musik jazz dari grup Michael Torregano, menghangatkan petang yang berangin kencang.

Jejak Jazz di Kampung Halamannya

Congo Square dan gedung Municipal Auditorium di New Orleans


 Di bawah pohon ek tua, saya berimajinasi sesaat. Berandai-andai berada di tempat ini pada abad ke-18, menyaksikan 500-600 orang Afrika sedang berkumpul di Minggu sore. Laki-laki dan perempuan menari bamboula dan Congo di tengah lingkaran besar, mengikuti ritme drum yang ditabuh dengan jari-jari tangan.

Satu Abad Sumur Minyak Wonocolo

Penambang minyak tradisional di Wonocolo

Terik di Desa Wonocolo, membakar tanah-tanah yang tandus dan berdebu. Hutan jati di punggung-punggung bukit kapur, sedang meranggas, meluruhkan daun-daunnya yang kering kecoklatan.

Dengan bermotor saya menembus jalan selebar 5 meter. Melalui medan naik turun bukit dengan aspal yang bopel di sana-sini. Sejauh mata memandang, menara-menara kayu berjelaga hitam menjulang menantang panas. Kepulan asap menguarkan aroma minyak di sepanjang jalan.

Friday, July 21, 2017

Pesona Api Biru di Kawah Belerang

Danau kawah hijau toska di Gunung Ijen
Langit masih gelap dengan sepotong bulan sabit ketika saya menginjakkan kaki di puncak Gunung Ijen setinggi 2.368 meter dari permukaan laut. Bau gas belerang menyengat menusuk hidung. Angin berembus melontarkan dingin sekitar empat derajat celcius.

Pesta Kampung Lereng Gunung Raung

Kolaborasi seniman Japung

Di panggung berlatar tebing batu, enam seniman memainkan alat musik tradisionalnya. Ada yang  memetik dawai Karmawibhangga, meniup karinding dan ongkek serta angklung. Kolaborasi spontan itu menghasilkan perpaduan bunyi yang etnik sekaligus menghipnotis para pengunjung di Sabtu sore, 4 Februari 2017.

Harapan di Selembar Batik Pesisiran

Firman Syauqi bersama lembaran batik produksinya

Firman Sauqi tak pernah menyangka akan bergelut dengan lembaran batik Banyuwangi. Tapi begitulah takdir telah membawanya. Hari-hari pria berusia 47 tahun itu kini selalu lekat dengan batik. Seperti Minggu siang di pertengahan Februari, Firman bersama istrinya menghabiskan siang dengan melipat berlembar-lembar batik pesanan sejumlah butik. Di sela-sela aktivitasnya itu, dia melayani beberapa pembeli yang datang langsung ke rumahnya, di Perumahan Permata Giri, Banyuwangi, Jawa Timur.

Geliat Kopi Rakyat di Ujung Timur Jawa

Proses sangrai kopi secara tradisional di Dusun Lerek Gombengsari

Aroma wangi kopi, menyeruak dari dapur milik Taufik, Minggu 22 Januari, siang. Ada Hidayanti di sana, sedang menyangrai (roasting) biji kopi secara tradisional. Perempuan 32 tahun itu, membolak-balik lima ons robusta di atas penggorengan gerabah dan perapian kayu. Itu dia lakukan selama 15 menit hingga biji kopi berwarna coklat dan mengeluarkan aroma khasnya. “Kalau dulu menyangrai kopi sampai hitam,” kata ibu yang tiap hari mengkonsumsi 2 gelas kopi per hari ini.