Friday, February 26, 2016

Englishphobia

Telepon sore hari di pertengahan Februari lalu, membuat saya panas dingin. Telepon dari seorang kawan itu mengabarkan jika saya diminta mengikuti workshop jurnalisme investigasi di Jakarta selama tiga hari. Sebenarnya sudah puluhan workshop saya ikuti. Tapi yang membuat kali ini panas karena trainernya bule, tanpa transletor dan peserta wajib presentasi dalam bahasa Inggris. Oh God! Tentu saja saya panik, karena kemampuan bahasa Inggris masih acakadut.




Mungkin teman saya mengira, seorang ketua organisasi jurnalis di daerah seperti saya, pasti lancar bahasa Inggris. Ah, akhrinya dengan malu-malu saya mengaku kepada kawan itu, kalau bahasa Inggris saya cekak. Tapi entah apa yang mendorong saya akhirnya menerima tantangan itu juga. “Okay mas, saya mau!” jawab saya. Hanya tersisa dua hari saja untuk mempersiapkan semuanya. Saya memutar otak, bagaimana menyiasati agar bisa mengikuti workshop itu tanpa harus malu di depan peserta lain.


Sebagai seorang jurnalis, selama ini saya sudah kenyang menghadapi kondisi berbahaya: diancam, diteror, dimaki-maki. Tapi kalau sudah bertemu bahasa Inggris, nyali saya seketika ciut. Saya sadar-sesadarnya, bahasa Inggris adalah kebutuhan utama  bagi jurnalis. Karena terkadang dia harus mewawancarai orang asing, meliput konferensi internasional dan membaca literatur dalam bahasa Inggris.


Bukan berarti saya tidak mau belajar.  Sejak SMA sampai umur 30an sekarang, saya sudah tiga kali kursus bahasa Inggris. Upaya itu semata-mata karena keinginan kuat saya untuk bisa fasih berbahasa Inggris. Bahkan setelah lulus SMA, saya memutuskan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Tapi apa yang terjadi? Kuliah saya hanya bertahan dua semester saja. Saya loncat jurusan ke Pendidikan Sejarah, hehehe. Alasannya, karena selama 2 semester itu saya merasa gagal. Demikian juga dengan kursus, hanya bertahan 3-6 bulan. Hasilnya: saya tetap tidak bisa berbahasa Inggris L


Jika masih gagap berbahasa Inggris, bagaimana saya menjalani pekerjaan? Hehehe, seabrek pengalaman tidak mengenakkan pernah terjadi. Pada 2010, misalnya, ketika saya berkantor di Jakarta. Redaktur memasrahi saya mengisi rubrik untuk berita selebritas Asia. Dia membagi media online asing yang biasa jadi rujukan. Alamak, gumam saya waktu itu. Tapi karena gengsi plus malu, saya menerima penugasan itu.


Saya pun bersiasat. Pertama-tama cara andalannya dengan memakai jasa google translate. Padahal sudah jadi rahasia umum bukan, bagaimana buruknya akurasi google translate. Untuk mengisi kekurangan dari google translate, saya juga pakai cara kedua. Saya mengemis  minta tolong pada seorang kawan untuk menerjemahkan. Lalu saya padukan hasil keduanya. Cara seperti ini berlangsung sampai sebulan, sampai akhirnya saya dipindah ke kompartemen metro.

Di kompartemen baru, saya banyak ngepos di balai kota.


Suatu saat redaktur memberi tugas meliput konferensi internasional yang dihadiri walikota sejumlah negara. Saya tetap melangkah berangkat, sambil memasrahkan diri pada Tuhan. Benarlah, sampai di lokasi acara, presentasi narasumber full in English. Saya duduk terdiam saja di meja, sambil memutar otak, berita apa yang akan saya tulis. Mata saya kemudian tertuju pada sebuah siaran pers yang diberikan panitia. Beruntunglah, siaran pers ditulis dalam bahasa Indonesia. Alhasil, saya menulis satu laporan hanya berdasarkan siaran pers itu, meski saya tahu benar bahwa informasi dalam rilis tentu sangat dangkal. Selesai mengirim satu laporan, datanglah kawan satu kantor yang rupanya akan meliput hal yang sama. Ah Tuhan menyelamatkan. Saya lalu berpamitan pulang, hehe.


Pengalaman lain saat saya bertugas kembali di daerah. Penugasan datang untuk meliput konferensi ulama yang dihadiri para syekh dari Timur Tengah. Lebih khusus, saya diminta wawancara salah satu syekh dari negara-negara yang sedang berkonflik seperti Suriah, Mesir, Afganistan dan sebagainya. Arrgghh, stress bukan main. Tapi saya harus tetap berangkat.


Konferensi menggunakan dua bahasa: Arab dan Inggris. Untuk Arab barangkali saya bisa minta bantuan seseorang sebagai transletor. Sementara tidak ada transletor khusus bahasa Inggris. Ketika belum berhasil mencari solusi, acara di hari pertama itu selesai. Duta Besar Suriah untuk Indonesia turun dari panggung. Belum ada solusi. Sampai akhirnya mau tak mau saya harus wawancara dengan bahasa Inggris yang masih belepotan.


Saya meminta seorang kawan wartawan menyalakan rekaman di hpnya. Saya berharap nantinya dapat meminta bantuan teman untuk mentranslate apa yang disampaikan Dubes Suriah itu. Sehari sebelumnya, tentu saja saya sudah riset banyak hal di internet tentang konflik Timur Tengah dan mentranslate sejumlah pertanyaan dalam bahasa Inggris.


Saya membuka diri dengan perkenalan dan meminta maaf karena bahasa Inggris saya buruk. Kalau untuk percakapan dasar ini saya sedikit bisa, hasil dari tiga kali kursus. Saya bertanya dengan terbata-bata, susunan yang pasti tidak sesuai grammar, asalkan si Dubes mengerti kata kunci yang sedang saya ucapkan. Satu pertanyaan selesai, disusul pertanyaan kedua, pertanyaan ketiga, hingga tak terasa wawancara berlangsung selama 10 menit. Materi wawancaranya sangat berat karena saya tidak pernah liputan ke Timur Tengah. Tapi begitulah tugas wartawan, harus mengetahui banyak hal dan mampu menulis semua hal.


Dan, apa yang terjadi setelah wawancara yang penuh perjuangan itu? Rekamannya eror, tidak bisa diputar. Saya mendadak lunglai, karena tidak bisa memahami dan mengingat sepenuhnya apa yang disampaikan narasumber. Barangkali hanya 40 persen saja yang mampu saya mengerti, dan hanya menjadi kutipan satu kalimat saja.


Pernah pula suatu saat ada konferensi jurnalis di Malasyia. Saya sudah mendaftarkan diri, tapi gagal karena syaratnya harus aktif berbahasa Inggris. Demikian juga saya hanya bisa gigit jari, ketika banyak informasi beasiswa untuk workshop, kursus singkat, maupun kuliah bagi jurnalis ke luar negeri. Rasanya ingin memaki diri sendiri, menyesal karena tidak mau fokus belajar sejak di bangku sekolah.


Setelah berbagai penyesalan itu, saya selalu sempatkan membuka-buka kamus bahasa Inggris, membaca artikel kemudian mentranslatenya. Tidak rutin, hanya sesempatnya saja. Sepanjang proses itu pula saya sering bertemu turis, mencari teman bule di Facebook, narasumber bule, yang memaksa saya harus wawancara dengan bahasa Inggris.

Saya akhirnya bersyukur ketika ada seorang teman jurnalis membagi informasi Sekolah TOEFL online. Saya terbantu sekali menjadi bagian siswa Sekolah TOEFL yang memaksa saya harus membaca, mengerjakan soal, dan menghapal kosakata bahasa Inggris setiap hari. Nah ketika ada permintaan mengikuti workshop ke Jakarta itu, saya sudah dua mingguan intens belajar di Sekolah TOEFL.


Baiklah kembali ke persiapan mengikuti workshop. Apa yang saya lakukan dengan waktu dua hari itu? Saya mengumpulkan tiga berita yang menjadi bahan presentasi. Kemudian saya meminta seorang kawan wartawan yang juga menjadi guru bahasa Inggris, Arif, untuk mentranslate dalam bahasa Inggris. Saya bersyukur selalu punya teman-teman baik yang mendukung. Setelah meminta bantuan teman, giliran saya mempelajari baik-baik term of reference workshop sebanyak 6 lembar. Sekali lagi saya pakai google translate untuk menerjemahkan beberapa kata yang masih asing.


Sejumlah rencana lain juga sudah saya siapkan. Di antaranya saya akan meminta tolong kawan jurnalis senior yang menjadi peserta workshop tersebut sebagai penerjemah, sebagai antisipasi jika saya gagal berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Tentu saja sebelumnya saya akan membuat pengakuan pada si trainer bule jika bahasa Inggris saya buruk. Sampai semua antisipasi saya siapkan, barulah saya berangkat dengan langkah lebih ringan.


Tibalah saat hari H di Jakarta. Senin pagi, saya bangun lebih awal untuk mempelajari lagi bahan presentasi yang sudah diterjemahkan oleh Arif. Dan, tiba-tiba charger laptop saya tidak bisa mengalirkan listrik. Bersamaan pula dengan charger hp saya yang rusak. Lengkaplah. Padahal saya butuh hp untuk membuka google translate. Saya mendadak panik dan membanting charger saya hingga pecah. Saya merasa jengkel. Baiklah, saya memasrahkan diri lagi pada Sang Pencipta.


Saat sarapan saya bertemu peserta-peserta lain dari berbagai wilayah di Indonesia. Dari percakapan di meja makan, ternyata apa yang mereka khawatirkan sama persis dengan apa yang saya rasakan. Hiks, ternyata saya tidak sendiri. Hal ini menjadi salah satu penyemangat. Kita lantas berangkat bersama-sama ke lokasi acara yang kebetulan di kantor pusat tempat saya bekerja.


Dan, semua ketakutan saya buyar semuanya setelah mengikuti sesi pertama.  Di luar dugaan ternyata saya memahami apa yang disampaikan tiga trainer yang berasal dari Belanda, Meksiko dan Bolivia. Saya bisa berkomunikasi meski bahasa Inggris saya tidak sempurna. Saya bisa berdialog, bisa menulis, dan menyelesaikan tiga hari itu dengan melegakan. Saya tidak percaya dengan keajaiban itu, dengan kemampuan di luar ekspektasi saya sendiri. Saya pulang dengan kemenangan yang sebenarnya. Menang karena bisa menaklukan ketakutan.


Saya merefleksikan diri mengapa dijangkiti Englishphobic sekian lama. Karena sejak sekolah, otak saya sudah terinstal bahwa bahasa Inggris itu sulit. Akhirnya saya membenci pelajaran bahasa Inggris sejak SMP. Inilah yang membuat saya berkali-kali gagal meski berulang kali kursus. Faktor lain, karena saya tidak memberikan waktu yang cukup untuk belajar dan berlatih bahasa Inggris. Saya memaafkan diri sendiri untuk faktor terakhir ini. Karena setelah lulus SMA, saya menghabiskan banyak waktu untuk bekerja. Usia 25 saya memilih menikah, dan dua tahun setelahnya disibukkan mengurus anak. Masih ditambah kesibukan lain, yakni mengurus organisasi wartawan selama 5,5 tahun.


Tahun 2016, saya mengambil cuti 2 tahun dari pekerjaan. Saya memilih hijrah meneruskan studi ke Solo. Pilihan ini semata-mata karena saya ingin fokus belajar, termasuk belajar bahasa Inggris. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Englishphobia sudah saya buang ke tempat sampah.


Solo, 25 Februari 2016