Thursday, January 21, 2016

Durian Merah untuk Apartemen

Bibit durian merah yang bisa ditanam di apartemen
Seratusan bibit pohon durian merah itu berjejer di dalam kios UD Agro Banyuwangi, Jalan Brawijaya. Di bawah jaring pelindung matahari, tinggi bibit berusia setahun itu rata-rata mencapai  satu meter. Samsul Hadi, si perawat tanaman, menyiraminya rutin dua kali sehari: pagi dan sore. Dengan telaten dia juga memeriksa keberhasilan sambung di setiap dahan bibit itu.

Bibit-bibit pesanan salah satu pebisnis asal Jakarta itu bukan bibit durian merah biasa. Harga satu bibit membuat siapa pun tercengang: Rp 2,5 juta. “Kami menerima pesanan 400 bibit, tapi baru selesai 100 bibit,” ujar Samsul kepada Tempo, Selasa 25 Agustus 2015.


Harga bibit durian merah itu memang fantastif karena memiliki sejumlah keistimewan. Di antaranya, bisa ditempatkan di apartemen, bisa berbuah dalam empat tahun dengan tinggi pohon hanya 1,5 meter dan dalam satu pohon bisa muncul lima varian durian merah.

Bibit durian “ajaib” ini dikembangkan oleh Eko Mulyanto, pendiri Pusat Penelitian dan Pengembangan Durian Merah Banyuwangi. Eko mengembangkan bibit durian dalam pot karena sadar semakin terbatasnya lahan yang dimiliki warga, terutama di daerah perkotaan. Sementara gaya hidup masyarakat semakin instan dan mulai ada kesadaran untuk mengurangi residu makanan. “Teknologi berkebun dalam ruangan sebenarnya bisa mencontoh Jepang,” kata pemilik UD Agro Banyuwangi ini.

Eko bersama kawan-kawannya intens meneliti dan memperbanyak bibit durian merah Banyuwangi sejak 2007. Mereka menginventarisasi sedikitnya 62 varian durian merah yang tumbuh di kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa ini. Durian merah Banyuwangi diduga hasil persilangan durian merah spesies Durio Graveolus dari Kalimantan dan Durio zibhetinus (berwarna putih atau kuning) yang dilakukan oleh alam ratusan tahun lalu.

Durian  merah Banyuwangi dikenal manis karena didukung kondisi geografis yang lebih lengkap dibandingkan Kalimantan. Yakni mendapat sinar matahari penuh, dekat dengan laut, suplai air cukup, serta kandungan sulfur pegunungan Ijen yang terlarut di aliran sungai dan tanah.

Sejak 2014, Eko dan kawan-kawan serius menjadikan Banyuwangi sebagai sentra durian merah di Indonesia dengan membagikan ribuan bibit durian merah ke masyarakat. Peneliti dari Thailand dan Malasyia pun berdatangan ke Banyuwangi. Melejitnya pamor durian merah akhirnya membuat buah ini masuk jajaran buah elit. Ukuran ½ kg saja, harganya Rp 150 ribu /butir. Sedangkan ukuran 2 kg, pernah mencapai Rp 1.,5 juta.

Pengembangan bibit durian merah dalam pot telah diujicoba sejak 2010. Dari 200 bibit yang diujicoba, hanya lima pohon yang tetap hidup dan berbuah dalam empat tahun. Tantangan sejak awal, kata dia, adalah bagaimana mencari metode yang tepat dan menyesuaikan dosis nutrisi sesuai kebutuhan tanaman. “Hasil ujicoba tersebut terus saya evaluasi dan kembangkan,”  kata pria kelahiran Banyuwangi, 1972 lalu.

Bibit ajaib tersebut punya tiga batang bagian bawah atau dijuluki kaki ganda serta lima ranting dari individu durian yang berbeda. Sebagai batang pokok berasal dari biji durian merah yang ditanam selama empat bulan. Ketika sudah tumbuh setinggi 50 sentimeter, Eko melakukan sambung sisip di bagian tengah batang dengan dua batang bawah dari individu durian yang berbeda.

Kaki ganda itu selain memperkokoh tanaman dalam pot, juga berfungsi memperbanyak suplai nutrisi dari akar ke bagian atas. Sehingga pohon durian pun lebih cepat berbunga dan berbuah dalam empat tahun. Berbeda dengan pohon durian pada umumnya, yang baru berbuah pada usia minimal tujuh tahun.

Berikutnya saat usia bibit tujuh bulan, dilakukanlah sambung pucuk dengan mengambil tunas pucuk daun dari pohon durian merah unggulan yang tumbuh di alam. Tunas itu kemudian disambungkan pada ranting bibit. Inilah tahapan yang paling rumit karena sambung pucuk tidak selalu berhasil. Faktor ini pula yang membuat harga bibit durian dalam pot punya harga selangit.

Apalagi dalam satu bibit ada lima jenis durian merah yang disambungkan. Lima jenis durian itu ada yang berwarna merah penuh (Red King/RK), berwarna pelangi Prestisious Innocent Impossible/PI’I), berbiji kempes (KPS), berdaging tebal (Best Kultiva/BK) dan bertangkai panjang (TKP). “Bibit baru kami lepas saat usia 1,5 tahun,” kata lulusan Fisiologi Tanaman dari Institut Pertanian Bogor ini.

Lalu bagaimana jika tanaman durian itu ditempatkan di dalam apartemen? Ayah dua anak ini menuturkan, pada prinsipnya tanaman membutuhkan empat syarat untuk tumbuh. Pertama, membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis; kedua, live room atau tempat hidup; ketiga, nutrisi; dan terakhir, tempat berpijak. Keempat syarat itu sejatinya sudah bisa dimanipulasi dengan teknologi.

Eko menjelaskan, kandungan sinar matahari yang dibutuhkan tanaman adalah inframerah dan ultraviolet. Inframerah berfungsi dalam proses fotosintetis sedangkan ultraviolet untuk merangsang generatif tanaman. Pada ruangan tertutup, kata dia, sinar matahari tersebut bisa digantikan dengan lampu berwarna merah dan ungu. Perbandingan penyinarannya adalah 70:30 dalam 24 jam.

Konsep live room adalah dengan memperhatikan berapa luas ruangan sebagai tempat tumbuh kembangnya tanaman. Bila luasnya hanya 4x5 meter, maka tinggi tanaman ideal hanya 1,5 meter. Untuk menghasilkan tanaman yang pendek sesuai luas ruangan, kata Eko, dengan rajin melakukan pemangkasan. Namun pemangkasan harus tetap memperhatikan indeks daun. Rumusnya, dengan jumlah 125-155 helai daun, maka pohon akan menghasilkan satu buah durian seberat 2 kilogram.

Untuk nutrisi tanaman bisa didapatkan dengan cara pemupukan seperti umumnya. Sedangkan konsep tempat berpijak tanaman ada dua pilihan yakni pot atau hidroponik. Bila ditanam di pot dengan sinar matahari penuh, maka pot yang biasanya berwarna hitam harus dicat putih. Sebab warna hitam dapat menyerap panas sehingga membuat tanah juga panas.
Hidroponik tepat dipilih jika sering meninggalkan apartemen, sehingga tanaman pun tak perlu disiram. Meski belum mencoba untuk tanaman durian, Eko telah mengembangkan tanaman buah-buahan dalam hidroponik seperti jambu biji, jambu air, sawo dan alpukat. “Durian pun sebenarnya bisa tapi belum saya coba,” katanya.

Karena tertutup dalam ruangan yang tidak ada serangga, maka proses pembuahan tanaman durian harus dilakukan secara manual. Caranya dengan menempelkan bunga jantan (benang sari) ke bunga betina (putik) yang tangkainya lebih panjang. Waktu pembuahan terbaik, kata Eko, berada dalam jam 17.00 - 20.00.

Menurut Eko, merawat tanaman dalam ruangan sebenarnya lebih cepat berkembang. Sebab tanaman terbebas dari hama seperti belalang, suhu udara lebih stabil dan nutrisi bisa diatur sesuai keinginan. Keuntungannya, pemilik apartemen bisa menikmati lebih banyak oksigen yang dihasilkan oleh tanaman. “Buah yang dihasilkan lebih sehat,” kata alumnus pascasarjana Agronomi dari Universitas Sam Ratulangi, Manado ini..

Tahun lalu, Eko sudah melepas 200 bibit durian merah dalam pot ini di Jakarta. Pesanan pun terus bertambah. Jika Anda tertarik memiliki pohon durian untuk apartemen, maka, Anda harus inden dalam waktu setahun.

IKA NINGTYAS