Monday, June 15, 2015

Penanda di Akhir Jalan Daendels

Monumen Anyer-Panarukan di Situbondo
Delapan belas beton bercat putih itu berdiri menjulang. Ukurannya tak seragam, terendah sekitar 5 meter dan tertinggi lebih dari 15 meter. Tepat di bagian tengah, terpahat tulisan besar: “1000 KM Anyer Panarukan”.


Monumen yang baru dibangun 2014 tersebut tak boleh Anda lewatkan saat berkunjung ke Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Ya, pemerintah daerah setempat membuat monumen tersebut sebagai pengingat Jalan Raya Pos 1.000 kilometer dari Anyer hingga Panarukan  atas perintah Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811).

Monumen di atas lahan seperempat hektare ini berada di sisi timur jembatan Sungai Sampeyan, Desa Wringinanom, Kecamatan Panarukan. Letaknya strategis di Jalan Raya Panarukan, yang menjadi jalan utama pantai utara (pantura) Situbondo.

Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto, mengatakan, lokasi monumen tersebut dipercaya sebagai batas akhir pembangunan jalan Anyer-Panarukan. “Monumen tersebut adalah pertanda alias titik nol jalan Daendels,” kata dia kepada Tempo, Selasa 12 Mei 2015.

Delapan belas beton itu, kata dia, merujuk Gunung Argopuro dengan puncak tertingginya adalah Rengganis.  Bagi masyarakat Situbondo, Rengganis menjadi pusat spiritual yang dipercaya sebagai peninggalan Dewi Rengganis.
Akhir Jalan Raya Pos di Panarukan

Namun, monumen tersebut sejatinya baru selesai 60 persen. Menurut Dadang, pelaksana proyek tidak mampu menyelesaikan seluruh pekerjaan. Dari Rp 600 juta anggaran yang disediakan ternyata hanya terserap Rp 200 juta. Padahal, kata Dadang, konsep monumen tersebut lebih “hebat” dari yang saat ini berdiri.

Saya sudah beberapa kali mengunjungi monumen ini. Kunjungan terakhir saya pada Senin 11 Mei 2015. Monumen ini memang sepi dari pengunjung, hanya ada beberapa anak bermain layang-layang. Barangkali tanpa tulisan besar di bagian tengah, saya tak pernah tahu jika ini monumen jalan bersejarah itu. Sebab tak ada deskripsi atau diorama yang menjelaskan mengenai sejarah pembangunan jalan tersebut.

Beberapa beton memang terlihat retak-retak. Taman bunga di bagian depannya nampak tak tertata dan mulai mengering. Bahkan sebelumnya, saya pernah melihat warga memanfaatkan monumen ini untuk menjemur pakaian atau bantal.

Tak hanya soal pengerjaan proyek, batas akhir jalan Anyer-Panarukan ternyata masih kontroversi. Menurut Sejarawan dari Universitas Negeri Jember, Edy Burhan Arifin, titik nol akhir jalan Daendels sebenarnya bukan di monumen tersebut. “Monumen tersebut salah posisi,” kata dia, Rabu 13 Mei 2015.

Dari sejumlah sumber sejarah, kata Edy, titik akhir jalan Daendels sesungguhnya berada di 300 meter sisi barat jembatan Sungai Sampeyan. Sebab jembatan Sungai Sampeyan tersebut baru dibangun pada tahun 1883. Dulunya ada patok yang memuat keterangan titik akhir Anyer-Panarukan. “Sayangnya patok tersebut sudah dibongkar,” kata penulis buku Quo Vadis Hari Jadi Situbondo ini.


Meski begitu, Edy mengapresiasi upaya pemda setempat membuat monumen. Apalagi lokasi titik akhir jalan Daendels saat ini sudah padat pemukiman warga sehingga tak mungkin digusur untuk membuat monumen. “Ya, daripada tidak ada monumen sama sekali,” kata dia.

IKA NINGTYAS