Monday, June 15, 2015

Jejak Portugis di Panarukan

Tugu Portugis di Situbondo
Tugu setinggi tiga kilometer itu tersembunyi di belakang rumah warga. Dikelilingi area pertanian padi yang menghijau subur. Orang kampung sekitar menamainya: Tugu Portugis.
Berbentuk lancip pada ujungnya, tugu ini memang dipercaya sebagai satu-satunya peninggalan Portugis di Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Letaknya berada di sisi timur Sungai Sampeyan, Dusun Peleyan Barat, Desa Peleyan, Panarukan.


Tapi jangan berharap ada papan penunjuk jalan menuju tugu ini. Saya hanya berbekal informasi dari internet dan bertanya kepada 3 orang warga hingga akhirnya menemukan lokasi tugu ini. Letaknya sekitar 2 kilometer dari monumen “1000 KM Anyer-Panarukan”.
Suniyah, warga sekitar, mengatakan, tugu ini sering didatangi pengunjung baik dari Surabaya dan Jakarta. Menurutnya, tugu ini sudah ada ketika dia masih kanak-kanak. “Orang tua bercerita tugu ini dibuat orang Portugis,” kata perempuan 50 tahun ini, Rabu 13 Mei 2015.

Kondisi tugu ini memprihatinkan, bopel di mana-mana. Warna putihnya lusuh, dan dikepung ilalang di pinggirnya. Dari bagian yang bopel, saya bisa melihat batu-bata yang tersusun berukuran tebal dan besar. Tidak ada informasi yang tertulis di tugu ini.

Sejarawan dari Universitas Negeri Jember, Edy Burhan Arifin, mengatakan, tugu tersebut memang satu-satunya peninggalan Portugis yang tersisa di Panarukan. Portugis datang dan mendirikan bandar dagang di sisi timur Sungai Sampeyan ini pada abad ke-16. Sungai Sampeyan adalah sungai terbesar di Situbondo yang bermuara langsung ke laut Panarukan. “Dulunya, sungai Sampeyan lebih dalam sehingga kapal-kapal besar bisa masuk,” kata dia, Rabu 13 Mei 2015.

Edy menjelaskan, Pelabuhan Panarukan dulunya menjadi satu-satunya pelabuhan besar di ujung timur Jawa. Panarukan sudah dikenal sejak era Majapahit, puncaknya, ketika Raja Hayam Wuruk memilih Panarukan sebagai tempat pertemuan dengan raja-raja dari timur.
Selain membangun bandar ekonominya di Pelabuhan Panarukan, Portugis juga menjadikan Panarukan sebagai pusat misionaris di ujung timur Jawa. Sejumlah gereja Katolik sempat didirikan di daerah yang dulunya menjadi pusat Kerajaan Blambangan ini. Namun, karena ada ekspansi Islam dan perebutan kekuasaan, gereja-gereja tua akhirnya dihancurkan.

Menurut Edy, besarnya nama Panarukan di masa silamnya akhirnya dipilih Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels sebagai akhir dari Jalan Raya Pos 1.000 kilometer dari Anyer. Daendels tahu betul, bahwa Panarukan berpotensi besar sebagai daerah pertahanan dan ekonomi. “Komoditas-komoditas penting dari ujung timur Jawa bisa dikirim lewat Panarukan,” kata penulis buku Quo Vadis Hari Jadi Situbondo ini.


IKA NINGTYAS