Saturday, March 28, 2015

Sego Tempong, Semoga Bukan Identitas Semu

Kuliner sejatinya bukan sekedar soal citarasa. Tak melulu soal meracik bumbu. Kuliner menampilkan sebuah identitas. Pakar Kebudayaan UI, Lily Tjahjandari pernah mengatakan, bahwa kuliner mengandung nilai, simbol, dan aturan. Bahkan lebih dalam lagi, kuliner menggambarkan latar belakang sosial, ekonomi, dan golongan masyarakat yang melahirkannya.

Demikian halnya dengan sego tempong, kuliner khas Banyuwangi ini. Sego tempong adalah identitas orang Banyuwangi itu sendiri. Kekuatan utama ada pada sambalnya yang ekstra pedas. Saking pedasnya, seolah-olah seperti menampar wajah si penikmatnya. Dari sinilah istilah "sego tempong" kemudian lahir. Tanpa cabai, tanpa rasa pedas, tentu bukan sego tempong namanya.


Secara sosial, pedasnya sambel sego tempong menunjukkan  Banyuwangi sebagai penghasil cabai rawit. Ini memang fakta. Sentra penghasil cabai rawit berada di Kecamatan wongsorejo. Lahan cabai di kecamatan ini pada 2014 lalu seluas 1.060 ha dengan rata-rata produksi 80 kuintal per ha. Produktivitas cabai Wongsorejo ini tertinggi di Indonesia. Petani Wongsorejo mampu beradaptasi dengan tipe ekologi yang kering dengan cabai sebagai jawabannya. Tak salah, jika Perda No 8 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) menetapkan Wongsorejo sebagai satu-satunya kecamatan penghasil cabai rawit.

Pemerintah Banyuwangi pun menggelar Festival Sego Tempong, Sabtu 28 Maret 2015. Acara ini seolah kontraproduktif dengan rencana Pemkab Banyuwangi yang akan mendirikan kawasan industri di Kecamatan Wongsorejo seluas 2 ribu hektare. Dua smelter pengolah bijih nikel akan menempati lahan tersebut. Ada 287 keluarga petani cabai yang akan terdampak langsung karena 220 hektare lahannya terkena proyek prestisius ini.

Mengalihkan pertanian menjadi industri berarti mengubah kultur. Mari kita berhitung pendapatan petani cabai dibandingkan jika mereka menjadi buruh pabrik. Dalam setahun, 1 ha cabai menghasilkan panen 4 ton. Bila harga cabai rawit Rp 10 ribu per kg, maka pendapatan 1 ha = Rp 40 juta. Berarti dalam satu kampung itu menghasilkan Rp 8,8 miliar. Sehingga per keluarga akan mendapatkan pendapatan Rp 2,5 juta per bulan.  Belum lagi jika harga cabai rawit melejit hingga ke angka Rp 70 ribu, seperti sebelumnya.

Lalu bayangkanlah, jika petani harus menjadi buruh pabrik.  Dengan tingkat pendidikan hanya lulusan SD, paling banter mereka cuma jadi cleaning servis, atau buruh kasar. Kira-kira berapa gaji tertinggi seorang kuli pabrik? Paling banter sesuai UMK yakni Rp 1,4 juta.

Itu adalah hitung-hitungan ekonomi kasar. Pertimbangan lainnya adalah soal lingkungan. Bukan rahasia lagi, jika industri itu pasti akan menghasilkan limbah, mengakibatkan polusi, butuh air banyak dan sebagainya. Petani cabai akan saling berebut air dengan smelter yang rakus air.

Seharusnya Festival Sego Tempong bukan sekedar 'membranding' kuliner ini agar terkenal. Hal paling substansial adalah bagaimana agar petani-petani cabainya tetap sejahtera.  Agar sego tempong tetap dipasok oleh cabai rawit-cabai rawit dari Wongsorejo.  Dengan demikian, sego tempong sebagai identitas daerah, bukan cuma identitas semu.


Banyuwangi, 28 Maret 2015