Tuesday, January 13, 2015

Mimpi Sejuta Buku

Judul tulisan ini memang terinspirasi dari film Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar. Ya, saya lebih memimpikan menulis banyak buku atau membuat penerbitan buku. Ketimbang, bercita-cita menjadi orang kaya: banyak duit, rumah mentereng atau sederet mobil di garasi.


Buat saya, ukuran kesuksesan bukan diukur dari kekayaan materi. Akan tetapi bagaimana hidup saya memberi banyak manfaat bagi khalayak.

Bukankah duit penting? Ya, sangat penting, tapi bukan segalanya. Tapi kita tak perlu menjadi orang kaya dulu, untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain, bukan?

Kebanjiran Motivator
Saya menonton film Merry Riana pada pada Jumat 10 Januari 2015 lalu. Tepat saat hari itu, penonton film Merry Riana telah mencapai angka 600 ribu orang. Inilah film paling laris dalam sepekan, meninggalkan Supernova di posisi kedua.

Film ini berkisah tentang Merry Riana yang harus berjuang mempertahankan hidup sebatang kara di Singapura setelah menjadi korban kerusuhan Mei 1998. Jalan Merry memang tak mudah. Dia harus jatuh-bangun mencari pekerjaan untuk biaya hidup dan membayar pinjaman uang kuliah sebesar 40 ribu dollar Singapura.

Merry Riana akhirnya berhasil mendapatkan penghasilan 1 juta dollar pertamanya di usia yang sangat belia: 26 tahun. Sayangnya, film ini lebih banyak menceritakan kisah cinta Merry dengan Alva, ketimbang mendetailkan bagaimana perjuangan Merry Riana. Barangkali begitulah alur pilihan sutradara, mengingat film percintaan remaja cukup laris-manis di pasaran Indonesia. Saya pun masih menyimpan pertanyaan hingga detik ini: andainya tidak ada sosok Alva, apa yang akan terjadi dengan Merry Riana?

Kesuksesan film Merry Riana tak lepas juga dengan tingginya minat masyarakat saat ini mendengarkan ceramah-ceramah motivasi. Buku-buku motivasi juga memenuhi rak berbagai toko buku. Rupanya kita sedang kebanjiran motivator. Meski saya masih bingung siapa yang berhak menyematkan sebutan motivator itu? Tapi nyatanya, banyak orang yang rela membayar mahal demi menghadiri seminar-seminar motivasi.

Kebetulan, saya tidak pernah mengandalkan nasehat hidup dari para motivator itu, meski pernah menghadiri undangan seminar motivasi. Alasannya sederhana. Pertama, karena saya tak pernah tahu bagaimana para motivator itu berproses. Kalau saya tak pernah tahu jalan hidup dia sesungguhnya, siapa yang bisa menjamin bahwa apa yang dikatakan motivator itu benar?

Kedua,  sebagian besar para motivator itu menilai kesuksesan dari materi, tanpa mempedulikan bagaimana proses menjadi kaya itu sendiri. 

Dan ketiga, saya belum pernah mendengar adanya motivator yang mengajak kita lebih kritis terhadap ketidakadilan. Wajar dong, karena kita sedang hidup di negara yang penuh ketidakadilan. Ketidakadilan hukum, ketidakadilan ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya. Kita tak bisa hanya bersabar dan menunggu keajaiban melihat berbagai ketidakadilan itu, terlebih lagi jika salah satu dari kita adalah korbannya.

Buat saya, para motivator sesungguhnya adalah orang-orang terdekat seperti keluarga dan sahabat. Terutama mereka yang mengabdikan dirinya menjadi pejuang-pejuang kemanusiaan. Mereka memilih hidup yang penuh risiko demi memimpikan kehidupan yang lebih adil untuk semua orang.

***