Monday, January 5, 2015

Menikmati Kesialan

Pernahkah kamu berada dalam situasi ingin mengutuk keadaan? Ingin marah pada situasi?

Perasaan itulah yang membuncah dada saya hari ini, 4 Januari.


Awalnya, karena saya bangun pukul 09.00. Akhirnya saya telat baca pesan di hp. Begitu buka hp, ada informasi kalau ada kecelakaan bus vs minibus yang menewaskan 5 orang. Pesan itu masuk jam 05.30 WIB. Sebagai jurnalis, saya harus meliput ini, karena jumlah korban yang banyak. Kalau tidak seharian saya bakal 'diteror' oleh redaktur. Tapi huft, saya sudah telat 3 jam. Itu pun saya belum mandi, belum menyiapkan sarapan untuk Fakhri, anakku dan suami.

Sebentar, saya harus membela diri kenapa saya bangun kesiangan. Semalaman suntuk saya menjadi moderator acara nonton bareng dan diskusi film Senyap yang sedang happening itu. Acara saya baru selesai pukul 00.30 WIB. Karena saya memboyong Fakhri dan suami ke acara ini, jadilah kami bertiga baru sampai rumah pukul 01.00.

Anak dan suami langsung terlelap. Sementara saya tidur gelisah didera migran yang menyiksa karena melewatkan makan malam. Sebungkus nasi yang saya makan tak berhasil memadamkan maag dan migrain. Stok obat sakit kepala pun kosong.

Jam 09.00. Saya mulai tergopoh-gopoh lari ke warung membeli telur, mie instan dan paramex. Apa daya, karena stok makanan di kulkas habis. Tergopoh-gopoh lagi pulang untuk memasak nasi, menggoreng dadar dan mie goreng. Selesai, langsung sarapan sambil menyuapi Fakhri. Beruntunglah, selesai sarapan, ayah menjadi penyelamat karena datang mengajak Fakhri jalan-jalan. Melesat mengambil handuk, lalu mandi secepatnya. Jam 10, saya sudah siap berangkat liputan.

Melongok sepeda motor ternyata bensinnya sudah di tanda merah. Hem, menarik napas lagi, lalu mampir ke warung beli 2 botol bensin eceran. Transaksi selesai, saya melesat lagi, mengingat tempat kecelakaan berjarak sekitar 1 jam dari rumah, itu berarti saya akan sampai pukul 11.00. Terlambat hampir 6 jam untuk berita peristiwa itu sebenarnya memalukan. Tapi bagaimana lagi, saya harus tetap berusaha mendapatkan berita walau terlambat.

Belum sampai ke tujuan, mendung menyergap. Makin lama makin gelap. Dan, akhirnya, byuuuur. Hujan deras jatuh dari langit. Saya meringis, menyadari lupa memasukkan jas hujan ke jok sepeda motor. Saya berteduh di sebuah pos kamling, berhimpit-himpitan dengan pemakai sepeda motor yang lain. Sepuluh menit hujan sedikit reda, saya melanjutkan perjalanan.

Baru dua kilo menempuh perjalanan, byuuuur, hujan deras lagi-lagi menyiram. Saya mendadak membelokkan sepeda motor ke pom bensin. Jaket dan jeans sedikit basah. Menunggu lagi sekitar 15 menit. Sementara tempat kecelakaannya masih 30 menit lagi. Saat inilah saya ingin berteriak marah. 
Merasa betapa sialnya saya hari ini. Betapa bodohnya karena melewatkan banyak waktu untuk tidur. Betapa tergesanya. Betapa teledornya karena lupa bawa jas hujan. Kenapa pula saya harus bangun kesiangan? Kenapa saya meletakkan hp di luar kamar, padahal biasanya saya tak pernah jauh dari hp. Berbagai pertanyaan-pertanyaan itu memburu, menyudutkan.

Saya tarik napas panjang di antara cipratan air hujan. Hati memang diciptakan dalam dua sisi. Ketika sisi yang lain marah, sisi lainnya akan terus menjadi penetral. Saya berpikir dengan mendengarkan hati yang lain. Ah, untuk apa aku marah, toh marah tidak akan meredakan hujan. Marah takkan membuat saya ke lokasi lebih cepat. Dan, kenapa pula saya harus terburu? Bukankah kondisinya memang sedang liburan? Itu artinya, waktu ini memang hak anak dan suami saya. Toh sebelumnya saya sering meninggalkan mereka demi pekerjaan. Mengapa terburu? Apa yang saya kejar? Sementara perusahaan saya sendiri masih abai dengan kesejahteraan saya.

Saya menarik napas panjang lagi. Menatap hujan, dan berusaha menikmatinya.

Ketika saya sampai di lokasi, benarlah, tinggal puing-puing bus yang dalam prosesi akan ditarik. Masih ada sejumlah polisi dan warga. Saya mewawancarai warga yang rumahnya dekat dengan lokasi. Wawancara dua saksi dan supir cukuplah. Lain-lainnya bisa melalui telepon. Saya pulang dengan lega. Tapi lagi-lagi disiram hujan. Kali ini hujannya lebih deras. Saya berteduh ke puskesmas pembantu yang sudah tutup.  Membuka laptop, telepon sana sini dengan hp yang baterainya mulai merah. Saya mengetik laporan pada pukul 12.30 WIB dengan posisi berjongkok, memunggungi hujan agar airnya tak jatuh ke laptop.

Baiklah, selesai. Tapi derasnya hujan belum berkurang, sementara jam 15.00 saya harus mengisi Kelas Jurnalistik Mahasiswa. Saya putuskan menembus hujan, basah kuyup akhirnya tak terhindarkan. Tapi saya mulai tenang. Mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 40 km/jam, bernyanyi-nyanyi melupakan kesialan hari ini. 

Seluruh hal akhirnya tuntas: liputan kecelakaan, mengisi kelas jurnalistik serta mengurus suami dan anak. 

Jadi, kalau kamu pernah ingin mengutuki keadaan, jangan pernah mengulanginya lagi. Ketika akan marah, diamlah sejenak, dengarkan kata hatimu yang lain. Tariklah napas, dan berpikirlah: “Marah tak akan mengubah keadaan!”

Tariklah napas. Nikmati sejenak kesialan yang ada sebagai bagian warna kehidupan.

sumber gambar: 1okuyen-ne.blogspot.com