Wednesday, January 14, 2015

Kebo-keboan Meruwat Desa

Doa-doa berbahasa Arab baru saja terdengar dari masjid kampung. Warga yang sejak pukul 06.00 lesehan di sepanjang jalan desa, segera menyantap tumpeng dengan lauknya ayam pethenteng. Syukuran desa itu, berlangsung singkat. Tiba-tiba, semuanya dikejutkan oleh beberapa orang yang berteriak-teriak dan berlarian ke pematang sawah.

Mereka mengejar Salihin, 60 tahun, yang menceburkan tubuh ke lumpur sawah. Kakek dua cucu itu bergulung-gulung hingga seluruh tubuhnya kecoklatan penuh lumpur. Dengan mata melotot dan tangan terkepal, dia menggeram-geram ke arah warga yang menonton. Dua tanduk palsu menghiasi kepalanya menjadikan Salihin berubah menjadi ‘manusia kerbau’. “Sejak subuh, bapak sudah kerasukan,” kata Waginah, 30 tahun, anak Salihin yang setia membasuh muka bapaknya dengan air bersih.

Satu-persatu, lelaki lain berulah sama dengan Salihin: menceburkan diri  ke lumpur sambil menggeram-geram. Dalam hitungan menit, sudah ada 20an lelaki menyesaki petak sawah berukuran 10x20 meter itu. Para lelaki, tua dan muda sedang dirasuki roh yang membuat mereka berperilaku seperti kerbau.

Suasana Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur secepatnya berubah  magis. Inilah puncak upacara bersih desa ‘kebo-keboan’, Minggu 2 November 2014. Ketika gamelan mulai ditabuh dengan rancak, para manusia kerbau itu bertambah menjadi-jadi. Dikawal kerabatnya, seluruh manusia kerbau itu keluar dari kubangan lumpur menuju depan rumah pengawas pengairan desa alias jaka tirta. Mereka menari-nari dengan tangan terkepal, dengan mulut mengunyah rumput. Asap dan bau kemenyan menyergap di segala penjuru.

Para manusia kerbau itu saling mencari pasangan. Setelah ketemu, warga memakaikan alat pembajak sawah ke pundak manusia kerbau. Ada tujuh pasang lelaki yang berdandan ala kerbau membajak sawah. Mereka lantas di arak keliling desa. Bunyi tabuhan mulai gong, kendang, saron , dan cencreng ditabuh kian rancak oleh 30an nayoga. Seluruh warga tumpah ruah, ikut bersorak-sorai layaknya menyambut pesta.

Kebo dalam bahasa Jawa berarti kerbau, hewan yang dipakai untuk membajak sawah. Ritual ini bernama kebo-keboan karena pelakunya berdandan dan berperilaku mirip kerbau yang berkubang di lumpur. Warga Desa Aliyan menggelar ritual sakral ini setiap tanggal 15 bulan Suro atau Muharram. Desa Aliyan yang terletak 45 menit arah selatan kota Banyuwangi adalah desa yang dihuni masyarakat suku Using. Mereka bertutur dan  memegang budaya Using, yang berbeda dengan masyarakat Jawa pada umumnya.

Menurut Ketua Panitia, Bambang Supindohadi, 50 tahun, kebo menjadi simbol aktivitas petani. Ritual yang telah dilaksanakan turun-temurun ini sebagai ucapan syukur warga atas hasil bumi yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Sebagian besar dari 5.030 jiwa penduduk Desa Aliyan, memang bekerja di sawah yang luasnya mencapai 450 hektare. “Dengan ritual ini kami berharap tak ada bencana yang mengganggu pertanian,” Bambang menuturkan.

Rangkaian ritual tersebut sejatinya dimulai dua hari sebelumnya. Hari pertama, warga  bergotong-royong membersihkan desa dan mendirikan gapura di setiap jalan masuk dusun. Gapura berbahan bambu itu setinggi 3-4 meter, dengan puncak berbentuk piramida. Berbagai hasil pertanian desa digantung menghiasi, seperti daun kelapa (janur), buah kelapa, pisang, tebu, padi, ketela, aneka sayuran dan buah-buahan.

Hari kedua, pemuka adat dan warga yang akan menjadi ‘kerbau’ berziarah ke makam Ki Buyut Wongso Kenongo, di Dusun Cempakasari. Juru kunci makam, Su’ud Sutrisno, mengatakan, Buyut Wongso Kenongo diyakini penduduk sebagai pembuka kampung yang sebelumnya bernama Dukuh Karang Mukti. Dari leluhur desa itulah, masyarakat percaya, ritual Kebo-keboan bermula. Saat desa ditimpa paceklik panjang, kedua anak Buyut Wongso Kenongo , Den Pekik dan Den Pringgo, memperoleh petunjuk untuk menggelar kebo-keboaan. “Sejak saat itu, tradisi ini terus dilakukan,” kata Su’ud.

Saat berziarah itulah, pemuka adat ‘berkomunikasi’ dengan arwah Buyut Wongso Kenongo agar keesokan harinya mau merasuki tubuh para pelaksana adat. Ayam-ayam yang disembelih lalu diolah sebagai lauk tumpeng, menjadi persembahan kepada leluhur. Ayam pethenteng adalah olahan ayam yang dibakar dengan tambahan parutan kelapa.

Warga yang telah kesurupan pada puncak ritual, diarak berkeliling untuk membersihkan desa dari gangguan. Berawal dari rumah jaga tirta, kebo-keboan diarak menuju kantor desa – makam Buyut Wongso Kenongo – lalu kembali lagi ke titik semula. Sepanjang jalan mereka menghamburkan benih padi sebagai simbol kemakmuran. Ketika sampai di kantor desa, manusia kerbau kembali berkubang di dalam lumpur yang dibuat khusus untuk ritual. Kebo-keboan dan warga menari-nari mengikuti irama gamelan.

Arak-arakkan manusia kerbau tersebut terbagi menjadi dua arah: barat dan timur. Barat berasal dari Dusun Sukodono, Kedawung dan Damrejo. Sedangkan timur, dari Dusun Krajan, Cempakasari dan Temurejo. Kedua rombongan itu tak boleh berpapasan karena roh yang merasuki tubuh diyakini akan berkonflik satu dengan yang lain. Setelah bergiliran keliling desa, arak-arakan itu berakhir pukul 11.00, saat matahari telah terik.

Kepala Desa Aliyan, Sigit Purnomo, menjelaskan, ritual kebo-keboan pernah tak dilaksanakan selama 8 tahun di era 1990an. Selama itu pula, paceklik panjang terjadi. Sebagian sawah yang ditanami padi diserang hama tikus. Tak cukup itu, banyak petani yang sakit-sakitan. Warga pun akhirnya menghubungkan ketakberuntungan itu dengan berhentinya ritual. “Setelah dilaksanakan lagi, desa kembali subur,” kata Sigit.

Ritual kebo-keboan tahun ini, kata dia, tak hanya mensyukuri nikmat Sang Pencipta. Pelaku adat juga berdoa agar hujan segera diturunkan. Kemarau panjang, telah menyebabkan sebagian besar sawah di Aliyan tandus dan retak-retak.

Ada 90 lelaki, satu wanita dan seorang bocah yang terasuki arwah pada Minggu tersebut. Kesurupan massal ini menjadi bagian paling magis dari keseluruhan kisah di Desa Aliyan yang mayoritas Muslim tersebut. Asir, si pawang alias pengundang roh, mengatakan, mereka yang menjadi kebo-keboan sebagian besar adalah keturunan dari pendahulunya. “Ayah atau kakeknya pernah menjadi kebo-keboaan,” kata kakek 74 tahun ini.

Tapi sebagian kecil lainnya, tak memiliki garis keturunan. Memang, siapa yang akan dirasuki menjadi ‘wewenang’ sepenuhnya Buyut Wongso Kenongo. Baik muda, tua, perempuan dan bocah sekali pun harus siap menyambutnya.

Subuh sebelum syukuran kampung dimulai, para calon kebo-keboaan itu biasanya berkumpul di rumah Asir. Lalu, Asir mengucap matra-matra memanggil roh-roh agar segera masuk ke raga para pelaksana adat. Namun prosesi ini tak selalu berjalan mulus. Pada tahun ini misalnya, arwah-arwah tersebut kebanyakan telah masuk ke tubuh pelaksana adat pada dini hari.

Muhammad Rohim, adalah salah satunya. Arwah leluhur telah merasuki raganya pada Minggu pukul 12 dini hari. Saat raganya dirasuki, Rohim tak mengingat apa pun maupun mengenali bagaimana bentuk roh tersebut. Suparlan, ayah Rohim, bercerita, seisi rumah hapal betul pertanda saat Rohim telah kerasukan. “Dia jadi pendiam dan matanya kosong meskipun tetap bisa merokok,” tutur Suparlan, 56 tahun, sambil terkekeh.

Setelah kerasukan, Rohim terjaga hingga pagi. Sekitar pukul 07.00, dia segera berlari mencari kubangan lumpur. Orang tua dan kerabatnya dengan sabar menguntit Rohim menyelesaikan ritual itu hingga roh dikeluarkan kembali oleh Asir. “Setelah sadar, rasanya lemas sekali,” kata Rohim.

Rohim telah menjadi kebo-keboan sejak usia 17 tahun. Dia yang kini berusia 34 tahun itu, mengatakan, memperoleh keturunan dari kakeknya. Dia sendiri belum mengetahui mengapa roh leluhur memilihnya, sementara hal itu tidak terjadi pada Suparlan, ayah kandungnya. Pernah suatu kali dia berusaha menghilangkan kemampuannya itu, tapi gagal.

Tak hanya saat ritual kebo-keboaan, Rohim pun bisa kerasukan ketika ada pementasan kesenian tradisional jaranan di desanya. Saat jaranan pentas, lelaki pekerja serabutan ini akan ikut menari-nari. Meski sering malu pada kawan-kawannya, Rohim pun akhirnya menerima amanah leluhur sebagai pelaksana adat di kampungnya. “Tak bisa dihilangkan, juga tak bisa menghindar,” kata ayah beranak satu ini.
**