Saturday, January 17, 2015

Intel Jepang yang Ikut Melahirkan RI

Sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia selama ini menyisakan misteri bagi saya. Misalnya, mengapa Laksamana Maeda, seorang pejabat Jepang, berbaik hati menyediakan rumahnya untuk perumusan teks Proklamasi RI. Mengapa juga penulisan tahun dalam teks Proklamasi tertulis angka 05 yang artinya memakai tahun Jepang. Bukankah penjajahan Jepang konon lebih kejam?


Namun ternyata selalu ada bagian dari sejarah bangsa ini yang dikaburkan. Termasuk mengenai keterlibatan pejabat-pejabat Jepang dalam Kemerdekaan RI. Wenri Wanhar dalam bukunya Jejak Intel Jepang: Kisah Pembelotan Tomegoro Yoshizumi (2014), berhasil membongkar mitos mengenai kemerdekaan RI yang selama ini dipercaya tanpa intervensi pihak luar.

Adalah Laksamana Maeda, Tomegoro Yoshizumi, Shigetada Nishijima, tiga pejabat penting Jepang yang turut melahirkan kemerdekaan di Indonesia. Maeda adalah pimpinan Kaigun Bukanfu, sebuah badan kordinasi antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang di Jakarta. Yoshizumi ditunjuk sebagai Kepala Intelejen Kaigun Bukanfu, sedangkan Nishijima adalah orang kepercayaan Maeda.

Yoshizumi dikirim ke Batavia pada tahun 1932 sebagai intel militer Jepang. Dia melakukan penyamaran dengan bekerja di toko milik familinya hingga menjadi saudagar terkemuka. Tiga tahun kemudian, Yoshizumi kembali ke Hindia Belanda, kini perannya sebagai seorang jurnalis. Tulisan-tulisan tajamnya di penerbitan Tohindo Nippon, membuat Yoshizumi menjadi incaran pemerintah Hindia-Belanda. Yoshizumi ditangkap sehari setelah Jepang mengebom Pearl Harbour pada 7 Desember 1941, sebagai pertanda meletusnya Perang Pasifik.

Penangkapan inilah yang kemudian mengubah seorang Yoshizumi dari seorang sayap kanan nasionalis Jepang yang antikomunis menjadi seorang marxis. Sebab selama pengasingannya di Australia, pemerintah Hindia-Belanda memperlakukan Yoshizumi dan interniran lainnya sangat buruk. Makanan terbatas, tidur seadanya, dan harus bertani dengan bayaran 1 sen sehari. Yoshizumi akhirnya mengidap TBC. “Sebagai seorang marxis, Yoshizumi mengusung semangat pembebasan,” tutur Shigetada Nishijima, sahabat Yoshizumi.

Yoshizumi akhirnya bebas setelah Jepang berhasil menginvasi Hindia-Belanda. Dia kemudian menjalani gerakan bawah tanah membantu kemerdekaan Indonesia bersama Maeda dan Nishijima. Mereka bertiga menggagas berdirinya Asrama Indonesia Merdeka pada 1944, sebuah sekolah untuk mendidik kaum muda yang akan mengisi kemerdekaan Indonesia. Sekolah ini menggunakan kantor atase perwakilan laut Jepang di Indonesia. Seluruh biayanya ditanggung Kaigun Bukanfu yang dipimpin Laksamana Maeda.

15 Agustus 1945, Jepang mengumumkan kekalahannya pada Perang Dunia II setelah bom sekutu menghancurkan Nagasaki dan Hiroshima. Masa transisi ini dimanfaatkan pejuang-pejuang Indonesia untuk memproklamasikan diri. Demi alasan keamanan, Maeda menyediakan rumah dinasnya sebagai tempat perumusan teks Proklamasi RI. Soekarno, Hatta, Ahmad Subarjo, Maeda, Yoshizumi dan Nishijima duduk mengelilingi meja bundar di ruang makan. Mereka berdiskui dan berdebat hingga pukul 3 dini hari, merumuskan teks Proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya, 17 Agustus 1945 pukul 10.30 WIB.

Menjelang kedatangan Sekutu, Yoshizumi dan Nishijima bertemu dengan Tan Malaka. Mereka meminta Tan membaiatnya menjadi Indonesia. Tan kemudian memberikan nama Hakim untuk Nishijima dan Arif untuk Yoshizumi. Ketiganya bersepakat melakukan gerilya, melawan kekuatan Sekutu.

Yoshizumi bergerak all out membantu Indonesia. Dia memimpin pencurian di kantor Laksamana Maeda, dan uang hasil curian dipakai untuk dana revolusi. Yoshizumi kemudian menyiapkan berbagai perkakas perang dan logistik untuk mendukung gerilya di Banten. Untuk mendukung persenjataan prajurit RI, Yoshizumi mendirikan tiga pabrik senjata di bekas-bekas pabrik gula di Jawa Timur.

Perjuangan Yoshizumi akhirnya berhenti selamanya pada 10 Agustus 1948 karena paru-parunya terus memburuk. Yoshizumi meninggal dalam perjuangannya memihak  RI. Pusaranya berada di Taman Makam Pahlawan, Blitar, Jawa Timur.

Kompas, 16 Agustus 2001, menurunkan artikel ulasan wawancara antara sekretaris Yayasan Adam Malik, Basyral Hamidy Harahap dengan Shigetada Nishijima. Di pengujung naskahnya, Basyral menghatur harapan: “itulah sekelumit wawancara dengan Shigetada Nishijima. Mudah-mudahan harapan Nishijima dan Mr. Ahmad Subarjo tercapai, yaitu agar ada sejarawan yang menulis peristiswa penyusunan naskah Proklamasi sesuai fakta.

Bagi saya, harapan Nishijima dan Ahmad Subarjo telah terwujud oleh Wenri Wanhar. Buku ini layak dibaca agar kebenaran sejarah tak dikooptasi penguasa.