Saturday, January 17, 2015

Fesyen yang Mengancam Populasi Ular


Apakah Anda pernah membeli atau bahkan mengoleksi benda-benda berbahan kulit ular? Jika iya, berarti Anda ikut melanggengkan perburuan dan pembataian ular. Akibatnya, beberapa spesies ular seperti piton atau sanca kembang saat ini terancam punah.


Tingginya minat memakai produk fesyen berbahan kulit ular, menyebabkan perburuan ular kini makin tak terkendali.  Internasional Trade Center melaporkan bahwa meningkatnya permintaan tas dan produk fesyen di Eropa menyebabkan kenaikan impor kulit ular di Asia Tenggara. Diperkirakan setengah juta kulit ular piton yang diekspor setiap tahunnya dari Asia Tenggara memiliki nilai perdagangan sebesar US$1 juta per tahun. Ironisnya, perdagangan tersebut sebagian besar ilegal1.

Indonesia menjadi surga bagi para pemburu ular. Peneliti pada Pusat Peneliti Biologi LIPI Prof Dr Rosichon Ubaidillah, mengatakan, penjualan piton ke luar negeri setiap tahunnya mencapai 2 juta ekor. Piton-piton dari Indonesia paling banyak dijual ke luar negeri berasal dari Sumatera dan Kalimantan, dengan harga jual Rp50.000 per ekor. Piton tersebut dijual untuk beragam kegunaan ada yang untuk peliharaan, untuk konsumsi, dan untuk asesories berupa tas, maupun dompet2.

CITES (konvensi perdagangan hidupan liar yang terancam) memasukkan ular piton dalam appendiks II atau satwa yang terancam punah. CITES mengatur, hanya piton yang berasal dari penangkaran yang bisa diperdagangkan. Namun kenyataanya, sebagian besar ular diambil dari alam. Meski Indonesia telah menjadi anggota CITES dan telah meratifiaksi konvensi CITES menjadi UU No 5 Tahun 1990, namun belum memasukkan piton atau sanca kembang ke daftar satwa yang dilindungi.

Saya kemudian menelusuri usaha kerajinan dari kulit ular di Banyuwangi, Jawa Timur. Hasilnya, sebagian besar kulit ular itu memang didatangkan dari Sumatra dan Kalimantan. Sebagian kecil, ular diperoleh dari pemburu lokal. Kulit ular tersebut diproses menjadi aneka produk fesyen seperti tas, sepatu, jaket, dompet dan ikat pinggang. Seluruh produk dipasarkan ke Bali dan sebagian lainnya diekspor ke Eropa.

Berikut hasil liputan saya:

Perburuan selesai. Ahong meletakkan dua karung transparan di halaman belakang UD Cobra Sakti, Rabu 7 Januari 2015. Dari balik karung itu, delapan ular sanca kembang (Python reticulatus) menggeliat-geliat. Dua pekerja UD Cobra, kemudian mengambil reptil tersebut, mengukur panjangnya satu-persatu dengan penggaris. “Sebulan ini cuma dapat delapan ular,” kata Ahong setengah menggerutu.

Ahong berburu ular sejak tahun 1980. Dia mencari ular-ular itu ke sawah dan perkebunan mulai daerah Banyuwangi, Jember, dan Situbondo. Di luar Jawa, Ahong juga berjaringan dengan pemburu ular di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Ular yang didapat kemudian dia pasok untuk pusat-pusat kerajinan kulit ular, salah satunya ke UD Cobra Sakti. “Satu meter ular harganya Rp 55 ribu,” kata lelaki 65 tahun itu.

UD Cobra Sakti adalah pusat kerajinan kulit ular terbesar yang terletak di Jalan Raya Srono Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur. Berdiri sejak 1989, UD Cobra memproduksi kulit ular menjadi berbagai produk fesyen mulai tas, jaket, sandal, ikat pinggang dan dompet.

Ahong bercerita, bahwa dia hanya memburu ular-ular yang tak dilindungi undang-undang seperti jenis sanca kembang. Jenis sanca ini bisa bertelur antara 30-50 butir, sehingga ketersediaannya di alam melimpah. Sebagai pemburu ular, katanya, dia mengklaim telah mengkantongi izin dari Kementerian Kehutanan.

Pemilik UD Cobra Sakti, Rima Novida Ayu Lian, saat ini dia lebih banyak mendatangkan kulit ular dari Sumatera dan Kalimantan sebanyak 18 ribu lembar tiap bulannya. Sebab pasokan ular hidup dari Banyuwangi sendiri sudah tak mencukupi. “Di Sumatra dan Kalimantan kan masih banyak ular,” kata Rima, 24 tahun.

Rima mewarisi usaha kerajinan tersebut dari ayahnya, Sugiyono. Awalnya, Sugiyono hanya menjadi pemasok kulit ular ke Jakarta yang kemudian diekspor hingga Eropa. Kemudian pada tahun 2000-an,  Sugiyono memproses sendiri kulit ular tersebut menjadi produk fesyen. Seluruh produk dipasarkan ke sejumlah artshop di Bali.

Rima membeli kulit ular kering seharga Rp 60 ribu per meter. Saat jumlah order membludak, Rima harus membeli kulit ular yang telah diproses menjadi samak ke sejumlah usaha dagang lainnya. Samak kulit tersebut harganya Rp 175 ribu untuk ukuran 1,5 meter. “Jadi saya tinggal menjahit saja,” kata mahasiswa semester akhir Universitas Jember ini.

Proses kerajinan itu sendiri membutuhkan waktu 2-3 hari. Tahap pertama adalah penyamakan kulit. Awalnya, kulit ular direndam dengan cairan ZA selama dua jam agar lebih lemas. Dua jam berikutnya, kulit direndam dengan cairan berwarna mulai merah, hitam, coklat atau sesuai pesanan. Kulit yang telah berubah warna harus dikeringkan dengan cara dijempur di bawah matahari. Cara menjemurnya, dengan merentangkan kulit ular pada sebuah papan kayu. “Agar kulit lebih lebar dan panjang,” kata Hadi, salah seorang pegawai.

Kulit yang telah dijemur melebar dari 20 centimeter menjadi 25-30 cm, juga memanjang dari 3,5 meter menjadi 4-4,5 meter. Setelah kering, tahap berikutnya adalah meluruskan kulit dengan menggosokkan ke batang besi. Agar permukaan menjadi lebih tipis, kulit dihaluskan dengan mesin khusus. Permukaan kulit kemudian dilumuri minyak agar mengkilap, lalu dijemur sebentar hingga kering. Proses terakhir adalah menyetrika permukaan kulit agar lebih halus. Yah, setelah sehari menjalani proses panjang, akhirnya samak kulit ular siap digunakan.

Rima menjelaskan, ada lima penjahit yang bekerja membentuk samak kulit ular menjadi aneka produk. Satu orang bisa menyelesaikan 1 produk seperti tas atau jaket. Namun bila dompet atau sepatu, satu orang bisa mengerjakan 2-3 buah sehari.

Dalam sebulan UD Cobra menghasilkan sedikitnya 300 kerajinan. Rima membuat etalase khusus untuk memajang seluruh produknya di depan rumahnya. Aneka produk fesyen yang sebagian besar untuk perempuan itu memang memikat hati. Corak khas kulit ular masih nampak, dengan warna-warna gemerlap sehingga nampak mewah.

Harga berbagai produk fesyen itu beragam. Tas untuk perempuan misalnya, rata-rata harganya Rp 1 juta. Jaket antara Rp 3-4 juta, sepatu perempuan Rp 200 ribu dan dompet Rp 150 ribu. Menurut Rima, dari berbagai produk itu, tas paling laris. Pembeli biasanya menyukai corak kulit sanca kembang yang lebih meriah daripada jenis ular lain. “Sebulan minimal 300 unit tas,” katanya.

Setelah dikirim ke Bali, harga produk-produk itu bisa melejit hingga 3 kali lipat. Apalagi, bila artshop mengekspor produknya ke Eropa, harganya berlipat menjadi 5 kali lebih mahal. Dari usahanya ini, UD Cobra Sakti mengumpulkan omzet hingga Rp 100 juta per bulan.

Rima menambahkan, hal paling sulit dari usahanya tersebut adalah mencari bahan baku yakni kulit ular. Kebutuhan minimal 18 ribu lembar kulit itu, katanya, belum tentu bisa terpenuhi dalam sebulannya. Oleh karena itu, dia kesulitan bila akan meningkatkan jumlah produksinya. Solusinya, kata lajang berkacamata ini, dia bekerja sama dengan banyak usaha penyamakan kulit agar tetap bisa mendapatkan pasokan.  “Cari kulit ular itu gampang-gampang susah,” katanya.

***

Referensi:
1. http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/371160-penjualan-kulit-ular-meningkat--populasi-piton-terancam

2. http://industri.bisnis.com/read/20140930/12/261343/penjualan-ular-setiap-tahun-2-juta-ekor-piton-dijual-murah-ke-luar-negeri