Tuesday, January 27, 2015

Sudut Lain Jakarta di Pengujung Orde Baru



Pergantian rezim selalu meninggalkan luka dan darah. Pergantian Orde Lama ke Orde Baru pada 1965, meninggalkan kisah pembantaian orang-orang yang dituduh PKI. Demikian pula yang terjadi saat pergantian Orde Baru ke Reformasi tahun 1998. Empat mahasiswa Trisakti tewas terkena pelor saat mereka berunjuk rasa menuntut Soeharto turun. Serta, rumah-rumah milik warga Cina yang dibakar dan perempuan-perempuanya diperkosa.

Sunday, January 25, 2015

Sepotong Surga di Bumi Para Dewa



Sang Surya beranjak pelan dari peraduannya. Semburat jingganya memancar, menyingkap gelap. Tiga puluh menit, gulungan awan yang bergelantungan di kaki langit, menelan kembali bulatan jingga itu. Sang surya menyingkap dua gunung kembar di sebelah timur: Sindoro dan Sumbing yang menjulang lebih dari 3000 meter. Sementara di bagian barat, Gunung Prahu dengan bukit teletubiesnya bagai permadani hijau. Ceracau berbagai burung menyemarakkan pagi yang berkabut.

Wednesday, January 21, 2015

Revolusi Babu

Di halaman rumah yang ditumbuhi pohon mangga, Eni Kusumawati melatih lima bocah membuat aneka souvenir dari daun pisang kering. Ada vas bunga, tempat pensil, wadah kosmetik dan bak sampah yang seluruhnya terbuat dari barang bekas. Eni melatih para bocah dari kampungnya itu untuk mengisi liburan sekolah. “Daripada mereka habiskan waktunya untuk nonton televisi,” kata Eni Rabu 31 Desember 2014.

Monday, January 19, 2015

Tulislah Hal yang Kamu Anggap Sepele!

Menemukan ide tulisan menjadi kesulitan pertama yang sering dialami seseorang. Setidaknya itulah kesimpulan saya setelah mengisi sekian banyak kelas menulis. Padahal, bagaimana kita akan menulis bila ide apa yang akan ditulis saja tidak punya?

Saturday, January 17, 2015

Fesyen yang Mengancam Populasi Ular


Apakah Anda pernah membeli atau bahkan mengoleksi benda-benda berbahan kulit ular? Jika iya, berarti Anda ikut melanggengkan perburuan dan pembataian ular. Akibatnya, beberapa spesies ular seperti piton atau sanca kembang saat ini terancam punah.

Intel Jepang yang Ikut Melahirkan RI

Sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia selama ini menyisakan misteri bagi saya. Misalnya, mengapa Laksamana Maeda, seorang pejabat Jepang, berbaik hati menyediakan rumahnya untuk perumusan teks Proklamasi RI. Mengapa juga penulisan tahun dalam teks Proklamasi tertulis angka 05 yang artinya memakai tahun Jepang. Bukankah penjajahan Jepang konon lebih kejam?

Thursday, January 15, 2015

Begini Kejamnya Perburuan Hiu

Keberadaan hiu di dunia dalam kondisi mengkhawatirkan bahkan terancam punah. Populasinya telah berkurang 70-99 persen1. Menurunnya populasi hiu itu disebabkan karena maraknya perburuan untuk kebutuhan restoran dan kosmetik. Indonesia menjadi negara dengan tingkat perburuan hiu tertinggi di dunia. Menurut data LIPI pada 2012, Indonesia memproduksi sekitar 60.000 ton ikan hiu dan 434 ton sirip ikan hiu yang diekspor selama 20122.

Wednesday, January 14, 2015

Kebo-keboan Meruwat Desa

Doa-doa berbahasa Arab baru saja terdengar dari masjid kampung. Warga yang sejak pukul 06.00 lesehan di sepanjang jalan desa, segera menyantap tumpeng dengan lauknya ayam pethenteng. Syukuran desa itu, berlangsung singkat. Tiba-tiba, semuanya dikejutkan oleh beberapa orang yang berteriak-teriak dan berlarian ke pematang sawah.

Mereka mengejar Salihin, 60 tahun, yang menceburkan tubuh ke lumpur sawah. Kakek dua cucu itu bergulung-gulung hingga seluruh tubuhnya kecoklatan penuh lumpur. Dengan mata melotot dan tangan terkepal, dia menggeram-geram ke arah warga yang menonton. Dua tanduk palsu menghiasi kepalanya menjadikan Salihin berubah menjadi ‘manusia kerbau’. “Sejak subuh, bapak sudah kerasukan,” kata Waginah, 30 tahun, anak Salihin yang setia membasuh muka bapaknya dengan air bersih.

Tuesday, January 13, 2015

Mimpi Sejuta Buku

Judul tulisan ini memang terinspirasi dari film Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar. Ya, saya lebih memimpikan menulis banyak buku atau membuat penerbitan buku. Ketimbang, bercita-cita menjadi orang kaya: banyak duit, rumah mentereng atau sederet mobil di garasi.

Sunday, January 11, 2015

Menegakkan Demokratisasi Media Melalui Jurnalisme Warga

Kongres Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ke-IX di Bukittinggi pada 27-29 November lalu, menghasilkan satu keputusan penting dalam perkembangan jurnalisme di Indonesia. AJI memutuskan menerima jurnalis warga (citizen journalist) sebagai anggota. Sebelumnya, keanggotaan AJI hanya terbatas pada jurnalis yang bekerja pada media arus utama.

Penerimaan jurnalis warga sebagai anggota AJI tertuang dalam Pasal 1 Anggaran Rumah Tangga AJI. Pembahasan jurnalis warga ini cukup alot dan memakan waktu paling lama, baik ketika sidang komisi maupun saat dibawa ke sidang pleno kongres. Perdebatan dinamis mengemuka mulai dari aspek kredibilitas, kualitas berita hingga perlindungan hukum bagi jurnalis warga.

Senyap dan Jalan Terjal Pelurusan Sejarah


Film Senyap besutan sutradara Joshua Openheimer sejatinya memberi harapan baru bagi upaya pelurusan sejarah. Sebab selama 32 tahun Orde Baru berkuasa, telah melakukan manipulasi sejarah mengenai peristiwa di tahun 1965. Fakta adanya pembantaian sekitar 1 juta orang yang dituduh komunis pada 1965, tak pernah dituliskan secara jujur dalam buku Sejarah Nasional Indonesia. 

Namun, harapan baru itu makin memudar setelah Lembaga Sensor Film melarang film ini dipertontonkan ke masyarakat melalui surat No. 04/DCP.NAS/TLK/LSF/XII/2014, tertanggal 29 Desember 2014. LSF beralasan film ini mengarahkan penonton untuk bersimpati pada PKI dan ajaran komunisme. Sebelum pencekalan LSF ini, pemutaran film Senyap di berbagai kota seperti Yogyakarta dan Malang juga dibubarkan oleh ormas tertentu. 

Monday, January 5, 2015

Belajar Video Jurnalisme



Sebulan ini saya (terpaksa) belajar tentang video jurnalismeMulanya sih karena mendapat penugasan dari redaktur video di portal tempat saya bekerja, Tempo.co.  Penugasan datang saat Banyuwangi menghelat Thanksgiving Day Amerika dan Banyuwangi Ethno Carnival pada akhir November lalu

Menikmati Kesialan

Pernahkah kamu berada dalam situasi ingin mengutuk keadaan? Ingin marah pada situasi?

Perasaan itulah yang membuncah dada saya hari ini, 4 Januari.