Thursday, October 8, 2015

Kisah Eks-Tapol yang Kini Jadi Pendeta

Bambang Ruswanto Tikno Hadi/Ika Ningtyas
Jam di dinding menunjukkan pukul 01.30, bulan September 1968. Pintu rumah di Jalan Ngagel Tirto Gang 2, Surabaya, itu digedor cukup keras. Si pemilik rumah, Bambang Ruswanto Tikno Hadi berfirasat tak enak. Dia bertahan di kamar dan istrinya, Judita Marini Rahayu memilih membukakan pintu.

Monday, October 5, 2015

Pelenyapan Kaum Kiri Banyuwangi

Jurang Tangis di Taman Nasional Baluran, salah satu lokasi eksekusi korban kekerasan 65
Minggu ketiga Oktober 1965. Slamet Abdul Rajak, sedang berlatih angklung di kantor Lekra, Temenggungan, Banyuwangi, Jawa Timur. Saat itu ada sekitar 10 orang bersamanya. Lalu tiba-tiba, kegaduhan itu datang. Kampung yang jadi basis ‘merah’ itu dikepung tentara berseragam dan berlaras panjang. Belasan panser berjaga di setiap ujung jalan.

Gerombolan lain berbaju serba hitam yang menamakan diri “Gagak Hitam” datang menyerbu. Membawa pentungan dan clurit, mereka menendang dan menangkapi siapa saja yang di kampung itu. Rumah-rumah lantas dirusak. Seisi kampung lari tunggang-langgang, suasana berubah mencekam.

Monday, June 15, 2015

Penanda di Akhir Jalan Daendels

Monumen Anyer-Panarukan di Situbondo
Delapan belas beton bercat putih itu berdiri menjulang. Ukurannya tak seragam, terendah sekitar 5 meter dan tertinggi lebih dari 15 meter. Tepat di bagian tengah, terpahat tulisan besar: “1000 KM Anyer Panarukan”.

Jejak Portugis di Panarukan

Tugu Portugis di Situbondo
Tugu setinggi tiga kilometer itu tersembunyi di belakang rumah warga. Dikelilingi area pertanian padi yang menghijau subur. Orang kampung sekitar menamainya: Tugu Portugis.
Berbentuk lancip pada ujungnya, tugu ini memang dipercaya sebagai satu-satunya peninggalan Portugis di Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Letaknya berada di sisi timur Sungai Sampeyan, Dusun Peleyan Barat, Desa Peleyan, Panarukan.

Terlantar di Ujung Pos

Perdagangan antarpulau di Pelabuhan Panarukan lama, Situbondo, Jatim

Petang sebentar lagi datang. Tetapi, kesibukan di Pelabuhan Panarukan lama, tak lantas berkurang. Hendrik, 30 tahun, misalnya, masih berkutat membongkar bak pikup yang berisi penuh dengan sembako. Dengan tenaga dua buruh angkut, sembako tersebut dipindahkan ke perahu layar motor “Berkah Sakti” yang sandar di ujung dermaga. “Ini pesanan enam orang dari Madura,” kata Hendrik, Senin sore 11 Mei 2015.

Sunday, April 5, 2015

Ketika Genjer-genjer Mengalun di Jerman



Kepedulian terkadang datang dari orang yang tak disangka-sangka. Dari orang yang tak dikenal. Bahkan, yang terpaut jarak ribuan kilometer. Kenyataan seperti ini seperti menampar saya, yang sesungguhnya berjarak lebih dekat, tapi tak berusaha sungguh-sungguh untuk peduli.

Kesadaran ini datang di sebuah sore, pertengahan Maret 2015. Saya menyaksikan pasangan suami-istri di hadapan saya menyimak dengan takjub video youtube yang saya putar dari ponsel. Saya memutar lagu ‘genjer-genjer’ yang dimainkan Tomi Simatupang, musisi asal Yogyakarta yang kini tinggal di Jerman. Tomi memainkan lagu bersejarah itu dengan berbagai aransemen. “Ooo ini jazz,” Sinar Syamsi berseru kepada saya.

Saturday, March 28, 2015

Sego Tempong, Semoga Bukan Identitas Semu

Kuliner sejatinya bukan sekedar soal citarasa. Tak melulu soal meracik bumbu. Kuliner menampilkan sebuah identitas. Pakar Kebudayaan UI, Lily Tjahjandari pernah mengatakan, bahwa kuliner mengandung nilai, simbol, dan aturan. Bahkan lebih dalam lagi, kuliner menggambarkan latar belakang sosial, ekonomi, dan golongan masyarakat yang melahirkannya.

Demikian halnya dengan sego tempong, kuliner khas Banyuwangi ini. Sego tempong adalah identitas orang Banyuwangi itu sendiri. Kekuatan utama ada pada sambalnya yang ekstra pedas. Saking pedasnya, seolah-olah seperti menampar wajah si penikmatnya. Dari sinilah istilah "sego tempong" kemudian lahir. Tanpa cabai, tanpa rasa pedas, tentu bukan sego tempong namanya.

Saturday, February 14, 2015

Getir Petani Bongkoran di Tanah Konflik (Bagian 3)

Kisah Truk dan Susahnya Sekolah

Anak-anak Kampung Bongkoran



Sejak Pemerintah Orde Baru mengeluarkan Hak Guna Usaha kepada PT Wongsorejo tahun 1980, kehidupan petani Kampung Bongkoran, Wongsorejo, Banyuwangi, seperti terisolir. Jalan kampung sejauh 5 kilometer dibiarkan tanpa aspal. Petani harus berjuang habis-habisan agar bisa mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan.

Sunday, February 8, 2015

Tulisan Berkualitas Butuh Riset

Jangan berpikir bahwa riset hanya milik mereka yang mau nulis skripsi, tesis atau disertasi. Riset diperlukan untuk semua jenis tulisan. Sastra maupun karya ilmiah. Mengapa? Karena, riset akan memperkaya isi tulisan Anda. Menjadikan isi tulisan lebih berbobot.

Saturday, February 7, 2015

Getir Petani Bongkoran di Tanah Konflik (Bagian 2)


Tanah yang Terampas




Perempuan-perempuan Kampung Bongkoran



Hampir satu jam saya duduk di rumah mas Yateno, Jumat 30 Januari 2015 . Kali ini, ruang tamu dan halaman rumah riuh oleh celoteh ibu-ibu berbahasa Madura. Mereka datang menembus hujan. Lalu meriung mengelilingi saya. Beberapa di antaranya menggendong balita.

Mereka sengaja berkumpul setelah menerima informasi, akan datang rombongan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban dari Jakarta. LPSK datang menindaklanjuti pengaduan petani pasca-tiga pengurus OPWB ditangkap polisi.

Tuesday, February 3, 2015

Getir Petani Bongkoran di Tanah Konflik (Bagian 1)

Penantian 35 Tahun

Tak banyak yang berubah dari Kampung Bongkoran, setelah tujuh tahun.  Tetap terpencil di ujung Desa Wongsorejo, sekitar 30 kilometer dari kota Banyuwangi. Tentang kisah 287 keluarga petani yang berkukuh mempertahankan tanahnya seluas 220 hektare.

Saya tak ingat persis kapan pertama kali menginjakkan kaki di kampung ini. Mungkin sekitar 2004 atau 2005. Saat itu saya datang sebagai anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Kawan-kawan PMII yang bercerita, kemudian mengajak saya ke tempat ini.  Empat kali saya datang dan sekali menginap di sana. Yang teringat, kunjungan terakhir saya pada 2007. Saat saya mengantar beberapa kawan dari LMND untuk berdiskusi dengan petani.


Monday, February 2, 2015

Manfaat Membuat Perencanaan Tulisan

Pernahkah Anda gagal menyelesaikan sebuah tulisan? Bisa jadi, karena Anda kurang merencanakan tulisan dengan baik.

Tuesday, January 27, 2015

Sudut Lain Jakarta di Pengujung Orde Baru



Pergantian rezim selalu meninggalkan luka dan darah. Pergantian Orde Lama ke Orde Baru pada 1965, meninggalkan kisah pembantaian orang-orang yang dituduh PKI. Demikian pula yang terjadi saat pergantian Orde Baru ke Reformasi tahun 1998. Empat mahasiswa Trisakti tewas terkena pelor saat mereka berunjuk rasa menuntut Soeharto turun. Serta, rumah-rumah milik warga Cina yang dibakar dan perempuan-perempuanya diperkosa.

Sunday, January 25, 2015

Sepotong Surga di Bumi Para Dewa



Sang Surya beranjak pelan dari peraduannya. Semburat jingganya memancar, menyingkap gelap. Tiga puluh menit, gulungan awan yang bergelantungan di kaki langit, menelan kembali bulatan jingga itu. Sang surya menyingkap dua gunung kembar di sebelah timur: Sindoro dan Sumbing yang menjulang lebih dari 3000 meter. Sementara di bagian barat, Gunung Prahu dengan bukit teletubiesnya bagai permadani hijau. Ceracau berbagai burung menyemarakkan pagi yang berkabut.

Wednesday, January 21, 2015

Revolusi Babu

Di halaman rumah yang ditumbuhi pohon mangga, Eni Kusumawati melatih lima bocah membuat aneka souvenir dari daun pisang kering. Ada vas bunga, tempat pensil, wadah kosmetik dan bak sampah yang seluruhnya terbuat dari barang bekas. Eni melatih para bocah dari kampungnya itu untuk mengisi liburan sekolah. “Daripada mereka habiskan waktunya untuk nonton televisi,” kata Eni Rabu 31 Desember 2014.

Monday, January 19, 2015

Tulislah Hal yang Kamu Anggap Sepele!

Menemukan ide tulisan menjadi kesulitan pertama yang sering dialami seseorang. Setidaknya itulah kesimpulan saya setelah mengisi sekian banyak kelas menulis. Padahal, bagaimana kita akan menulis bila ide apa yang akan ditulis saja tidak punya?

Saturday, January 17, 2015

Fesyen yang Mengancam Populasi Ular


Apakah Anda pernah membeli atau bahkan mengoleksi benda-benda berbahan kulit ular? Jika iya, berarti Anda ikut melanggengkan perburuan dan pembataian ular. Akibatnya, beberapa spesies ular seperti piton atau sanca kembang saat ini terancam punah.

Intel Jepang yang Ikut Melahirkan RI

Sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia selama ini menyisakan misteri bagi saya. Misalnya, mengapa Laksamana Maeda, seorang pejabat Jepang, berbaik hati menyediakan rumahnya untuk perumusan teks Proklamasi RI. Mengapa juga penulisan tahun dalam teks Proklamasi tertulis angka 05 yang artinya memakai tahun Jepang. Bukankah penjajahan Jepang konon lebih kejam?

Thursday, January 15, 2015

Begini Kejamnya Perburuan Hiu

Keberadaan hiu di dunia dalam kondisi mengkhawatirkan bahkan terancam punah. Populasinya telah berkurang 70-99 persen1. Menurunnya populasi hiu itu disebabkan karena maraknya perburuan untuk kebutuhan restoran dan kosmetik. Indonesia menjadi negara dengan tingkat perburuan hiu tertinggi di dunia. Menurut data LIPI pada 2012, Indonesia memproduksi sekitar 60.000 ton ikan hiu dan 434 ton sirip ikan hiu yang diekspor selama 20122.

Wednesday, January 14, 2015

Kebo-keboan Meruwat Desa

Doa-doa berbahasa Arab baru saja terdengar dari masjid kampung. Warga yang sejak pukul 06.00 lesehan di sepanjang jalan desa, segera menyantap tumpeng dengan lauknya ayam pethenteng. Syukuran desa itu, berlangsung singkat. Tiba-tiba, semuanya dikejutkan oleh beberapa orang yang berteriak-teriak dan berlarian ke pematang sawah.

Mereka mengejar Salihin, 60 tahun, yang menceburkan tubuh ke lumpur sawah. Kakek dua cucu itu bergulung-gulung hingga seluruh tubuhnya kecoklatan penuh lumpur. Dengan mata melotot dan tangan terkepal, dia menggeram-geram ke arah warga yang menonton. Dua tanduk palsu menghiasi kepalanya menjadikan Salihin berubah menjadi ‘manusia kerbau’. “Sejak subuh, bapak sudah kerasukan,” kata Waginah, 30 tahun, anak Salihin yang setia membasuh muka bapaknya dengan air bersih.

Tuesday, January 13, 2015

Mimpi Sejuta Buku

Judul tulisan ini memang terinspirasi dari film Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar. Ya, saya lebih memimpikan menulis banyak buku atau membuat penerbitan buku. Ketimbang, bercita-cita menjadi orang kaya: banyak duit, rumah mentereng atau sederet mobil di garasi.

Sunday, January 11, 2015

Menegakkan Demokratisasi Media Melalui Jurnalisme Warga

Kongres Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ke-IX di Bukittinggi pada 27-29 November lalu, menghasilkan satu keputusan penting dalam perkembangan jurnalisme di Indonesia. AJI memutuskan menerima jurnalis warga (citizen journalist) sebagai anggota. Sebelumnya, keanggotaan AJI hanya terbatas pada jurnalis yang bekerja pada media arus utama.

Penerimaan jurnalis warga sebagai anggota AJI tertuang dalam Pasal 1 Anggaran Rumah Tangga AJI. Pembahasan jurnalis warga ini cukup alot dan memakan waktu paling lama, baik ketika sidang komisi maupun saat dibawa ke sidang pleno kongres. Perdebatan dinamis mengemuka mulai dari aspek kredibilitas, kualitas berita hingga perlindungan hukum bagi jurnalis warga.

Senyap dan Jalan Terjal Pelurusan Sejarah


Film Senyap besutan sutradara Joshua Openheimer sejatinya memberi harapan baru bagi upaya pelurusan sejarah. Sebab selama 32 tahun Orde Baru berkuasa, telah melakukan manipulasi sejarah mengenai peristiwa di tahun 1965. Fakta adanya pembantaian sekitar 1 juta orang yang dituduh komunis pada 1965, tak pernah dituliskan secara jujur dalam buku Sejarah Nasional Indonesia. 

Namun, harapan baru itu makin memudar setelah Lembaga Sensor Film melarang film ini dipertontonkan ke masyarakat melalui surat No. 04/DCP.NAS/TLK/LSF/XII/2014, tertanggal 29 Desember 2014. LSF beralasan film ini mengarahkan penonton untuk bersimpati pada PKI dan ajaran komunisme. Sebelum pencekalan LSF ini, pemutaran film Senyap di berbagai kota seperti Yogyakarta dan Malang juga dibubarkan oleh ormas tertentu. 

Monday, January 5, 2015

Belajar Video Jurnalisme



Sebulan ini saya (terpaksa) belajar tentang video jurnalismeMulanya sih karena mendapat penugasan dari redaktur video di portal tempat saya bekerja, Tempo.co.  Penugasan datang saat Banyuwangi menghelat Thanksgiving Day Amerika dan Banyuwangi Ethno Carnival pada akhir November lalu

Menikmati Kesialan

Pernahkah kamu berada dalam situasi ingin mengutuk keadaan? Ingin marah pada situasi?

Perasaan itulah yang membuncah dada saya hari ini, 4 Januari.