Friday, December 19, 2014

Kisah Para Penyelamat Penyu

 Ali Ahmadi lari tergopoh-gopoh sejauh satu kilometer, setelah menerima telepon temannya yang mengabarkan ada seekor penyu mendarat. Padahal jam sudah menujukkan pukul 04.30, dan dia sudah bersiap-siap akan pulang ke rumah. Benar saja, setelah sampai di lokasi, induk penyu lekang (Lepidochelys olivacea) terlihat telah berjalan menuju pantai kembali. Di dekat sarang telur yang ditinggalkan, telah berdiri beberapa warga yang panasaran menyaksikan penyu bertelur.

Selepas hewan purba itu pergi, Ali tertawa. “Itu penyu kesiangan,” kata dia kepada warga yang hadir, Selasa, 24 Juni 2014, seperti yang diceritakannya pada Tempo. Padahal menurut Ali, paling akhir penyu biasanya bertelur pada pukul 03.00 dini hari. Kebetulannya lagi, sarang berisi 53 telur itu berjarak hanya 10 meter dari tempat penetasan yang dibuat oleh sebuah yayasan bernama Banyuwangi Sea Turtle Foundation.


Menyelamatkan penyu adalah kesibukan baru yang dilakoni Ali sejak April 2014 lalu. Bila sedang libur melaut, Ali akan berpatroli semalaman suntuk di Pantai Boom, 3 kilometer arah timur kota Banyuwangi. Selepas magrib hingga subuh dia akan mengawasi garis pantai boom sepanjang 2,5 kilometer, yang kerap menjadi tempat pendaratan penyu. “Bulan April hingga Agustus adalah masa penyu bertelur,” kata Ali yang sudah 15 tahun menjadi nelayan ini.

Setelah induk penyu meninggalkan sarangnya, giliran Ali memindahkan telur-telur itu ke tempat penetasan. Memindahkan telur harus ekstra hati-hati agar tak pecah. Di tempat penetasan, Ali terlebih dahulu membuat lubang yang dalamnya sama dengan sarang asli yakni antara 30 – 50 senti. “Telur harus diambil dengan pasirnya yang berlendir,” kata dia.

Lokasi penetasan semi alami ini berjarak sekitar 30 meter dari tepi laut dan beradius 1 kilometer dari titik yang banyak didatangi wisatawan. Luasnya 3 x 6 meter yang dikelilingi pagar bambu. Dilengkapi dengan atap jaring untuk mengurangi terik matahari, serta tiga kolam berisi air laut. Setiap hari, tempat penetasan ini dijaga oleh seorang relawan.

Penyu yang mendarat itu adalah penyu ke-48 yang mendarat di Pantai Boom dan Pantai Rejo sejak April tahun ini. Selain Ali, ada enam relawan lainnya yang bekerjasama dengan yayasan untuk berpatroli di kedua pantai. Pendiri Banyuwangi Sea Turtle Foundation, Wiyanto Haditanojo, 57 tahun, mengatakan, orang-orang yang mereka ajak kerjasama itu dulunya adalah pemburu telur penyu. “Setelah pendekatan selama 2 tahun akhirnya mereka sadar dan mau bergabung,” kata Wiwit, panggilan Wiyanto.

Para relawan itu, kata dia, sebelumnya tak mengerti bahwa penyu adalah satwa yang dilindungi sesuai UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam. Populasinya yang semakin langka membutuhkan penyelamatan dengan menyetop perburuan penyu dan telurnya.

Menurut Wiwit, Banyuwangi yang memiliki garis pantai 175 kilometer --terpanjang di Pulau Jawa, memiliki lebih dari 10 titik pendaratan penyu. Umumnya, penyu akan mendarat di pantai-pantai yang masih sepi dan bebas sampah. Ada empat jenis penyu yang sering mendarat yakni Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea).

Banyuwangi Sea Turtle Foundation berdiri 27 Juli 2011. Wiwit bercerita, sejak 1986 sebenarnya dia adalah pengusaha ekspor ikan hias. Dulunya ia menyenangi penyu dan beberapa kali memelihara bayi penyu alias tukik. Setelah besar, penyu kemudian dia lepaskan ke lautan. Namun akhirnya dia prihatin karena perburuan besar-besaran terhadap penyu dan telurnya mengakibatkan hewan bertempurung ini makin langka. Dari ratusan butir telur per sarang, kata dia, bayi penyu yang sanggup hidup hingga dewasa hanya tersisa 0,1 persennya. “Selain predator alami, faktor manusia jadi penyebab terbesar,” kata Wiwit yang ditemui di rumahnya, Jl Wahid Hasyim, Bayuwangi.

Pada 2011, ayah dua itu pun memantapkan diri membentuk yayasan. Selama dua tahun hingga 2013, dia bekerja sama dengan Taman Nasional Meru Betiri untuk melakukan pembesaran tukik yang baru menetas hingga usia 3 bulan. Dia memanfaatkan sebagian akuarium ikan hiasnya untuk membesarkan tukik yang dia adopsi dari Pantai Sukamade, Meru Betiri, yang menjadi tempat penangkaran penyu. Tujuan pembesaran itu, untuk mengurangi tingkat kematian bayi penyu oleh predator. Selama kurun waktu tersebut, dia berhasil melepasliarkan penyu ke laut sebanyak 1.200 ekor.

Pembesaran penyu itu dia biayai sendiri dengan pengeluaran Rp 15 juta per bulan. Paling banyak biaya tersedot untuk pakan berupa ikan, listrik dan menggaji 3 pegawai. Program pembesaran penyu ini berhenti di 2013 setelah usaha ikan hiasnya gulung tikar. “Saya tak punya banyak uang lagi,” kata lulusan Akademi Pariwisata ini.

Wiwit pun menjalankan program keduanya yang lebih irit biaya, yakni penetasan telur penyu yang diuji coba pada 2013. Mulanya hanya 240 telur yang dia coba tetaskan di Pantai Boom. Telur-telur itu lebih banyak ia cari dari pedagang-pedagang di pasar. Ternyata, 40 hari kemudian sebanyak 74 persen atau sekitar 170 telur yang berhasil menetas.

Berhasil melakukan uji coba, Wiwit mulai menyasar para nelayan pemburu telur untuk menjadi relawan atau orang tua asuh. Selain memberi pemahaman, dia menawarkan uang jasa penyelamatan sebesar Rp 100 ribu per sarang. Dia juga melibatkan lurah setempat agar lebih mudah mendekati warganya. Pendekatan ini akhirnya berhasil.

Kini di tempat penetasan sudah ada 48 sarang penyu berisi 4.953 telur yang berhasil dipindahkan. Setiap sarang isinya beragam, paling banyak 140an butir dan paling sedikit 53 butir. Prosentase telur yang berhasil menetas rata-rata mencapai 83,5 persen per sarang. “Sudah ada tiga sarang yang berhasil menetas,” kata Wiwit.

Program penetasan tersebut bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Berapa penyu yang bertelur dan jumlah telur yang menetas tercatat rapi dan dilaporkan ke BKSDA. Petugas BKSDA juga seringkali datang saat ada penyu bertelur. 
Program penetasan tersebut menelan biaya sekitar Rp 12,5 juta dalam kurun empat bulan ini. Sebagian besar, Wiwit masih memodali sendiri dan 20 persennya berasal dari donasi masyarakat. Menurutnya, setelah usaha ikan hiasnya tutup, dia membuka toko elektronik dan membudidayakan rumput laut. Menurut Wiwit, upayanya ini sebenarnya hanya bisa menyelamatkan sedikit dari tukik yang ditetaskan di sepanjang pantai Banyuwangi.

Di sela-sela menetaskan penyu, Wiwit dan timnya melakukan sosialisasi ke SD dan SMP di dekat pantai. Tujuannya, kata dia, agar anak-anak itu mencintai penyu sejak dini dan bisa mengingatkan bila orang tuanya menjadi pemburu atau pedagang telur penyu.

Ali Ahmadi mengakui, sebelum bergabung dengan yayasan dia sering mengambil telur penyu untuk dikonsumsi sendiri. Mulanya dia tak sengaja berjumpa dengan penyu yang bertelur setelah dia pulang melaut. Saat induk penyu telah kembali ke laut, Ali menggali sarang dan menemukan ratusan telur tertimbun. “Saya ambil 25 butir lalu saya bagikan ke lima nelayan lainnya,” kata Ali.

Sejak saat itu, dia seperti ketagihan mengkonsumsi telur penyu yang diyakini sebagai penguat. Dia pun sering membuntuti penyu-penyu yang naik ke pantai. Namun, Ali mengaku hanya mengambil separuhnya. “Setelah makan telur penyu, badan rasanya kuat,” kata pemilik warung makanan di pinggir pantai Boom itu.

Ali memilih bergabung dengan yayasan setelah diajak oleh rekannya yang lain. Dia langsung mengiyakan dengan harapan, penyu bisa menjadi daya tarik Pantai Boom sehingga warungnya lebih ramai.

Relawan lainnya, Ardisten Sandy, 33 tahun, mengatakan, menjadi pemburu telur penyu merupakan pekerjaan utamanya. Sebelum menjadi pemburu sejak tahun 2009, Ardis bekerja mencari kepiting di Pantai Boom. Saat mencari kepiting pada malam hari itulah, dia melihat ada penyu naik ke pantai. Dia mengikuti penyu itu diam-diam hingga selesai bertelur. Dia masih ingat, saat itu penyu tersebut mengeluarkan 98 telur. “Saya ambil seluruhnya,” kata Ardis, Senin 23  Juni 2014.

Ardis menjual telur penyu itu ke tetangga sekelilingnya dengan harga Rp 1.250 per butir. Ternyata telur penyu ludes dalam tiga hari. Dia kemudian berkenalan dengan sekitar 10 pemburu telur penyu lainnya yang lantas mengajarinya berburu telur penyu, seperti mengenali jejak penyu dan sarangnya. “Bila ditusuk dengan bamboo, pasir yang jadi sarang penyu lebih lunak,” kata dia yang menamatkan pendidikan di sekolah dasar ini
Sejak saat itu, setiap hari Ardis bergabung dengan kawan-kawan barunya ‘melekan’ di Pantai Boom menunggu si penyu datang. Berapapun telur yang didapat, kemudian dibagi rata dengan jumlah pencari. Menurut Ardis, beberapa kawan pemburunya banyak menjual telur penyu ke sejumlah pasar.

Terakhir pada awal tahun ini dia menjual telur penyu seharga Rp 1.750 per butir. Rata-rata penghasilannya dari menjual telur itu bisa mencapai Rp 1,5 juta per bulan. “Saat itu tidak tahu kalau ambil telur penyu bisa dipenjara 5 tahun,” kata warga Kelurahan Mandar, Banyuwangi ini.

Ardis sendiri akhirnya tertarik bergabung dengan yayasan setelah ditawari temannya. Dia sebelumnya juga sering mendengar aktivitas yayasan yang membuat tempat penetasan penyu di boom. Apalagi, sejak Januari 2014, Ardis mendapatkan pekerjaan di sebuah pabrik air mineral. “Jadi ingin berhenti cari telur, biar anak-anak saya nanti tetap bisa melihat penyu,” kata dia berkomitmen.

Ayah satu anak itu, berangkat berpatroli usai bekerja di pabrik, terkadang sekitar jam 7 malam atau jam 9 malam. Membawa senter dan sebuah galah bambu, Ardis berkeliling dari ujung ke ujung pantai hingga subuh. Bersama Ali, mereka sudah berhasil menyelamatkan sekitar 20 sarang penyu. “Kadang sering dimaki orang karena dicurigai mengintip orang pacaran,” kata Ardis terbahak.

Sering pula dia berpapasan dengan kawan-kawannya sendiri para pemburu telur penyu, meskipun jumlahnya tak lagi sebanyak dulu. Menurut Ardis, dia hanya bisa menegur bila ada sarang yang keburu dicuri oleh para pemburu itu.

Kepala BKSDA Jawa Timur Wilayah III, Sunandar Trigunajasa, mengatakan, upaya Yayasan Penyu tersebut sangat membantu BKSDA dalam perlindungan penyu. Selama ini penangkaran penyu masih dilakukan oleh Taman Nasional Meru Betiri dan Taman Nasional Alas Purwo. “Kalau dilakukan oleh masyarakat baru kali ini,” kata dia dihubungi Tempo, Selasa 24 Juni.

Menurut Sunandar, pihak yayasan saat ini hanya boleh melakukan penetasan. Sementara pembesaran masih menunggu izin penangkaran dari Kementerian Kehutanan. Namun seluruh proses penetasan ini mendapat pengawasan. BKSDA sendiri belum memiliki data real mengenai jumlah penyu yang mendarat di seluruh pantai Banyuwangi. BKSDA baru memulai pendataan pada tahun ini. “Oleh karena itu adanya Yayasan Penyu sangat membantu kami,” kata dia.

 IKA NINGTYAS