Wednesday, July 9, 2014

Kalimba: Piano Dua Jempol

Kalimba, ooh kalimba, play me a tune
Kalimba, ooh kalimba, I'm glad I found you

Bagi penyuka grup band Earth Wind & Fire, yang sempat ngetop di era 70-an ini, pasti tak asing dengan lagu berjudul “Kalimba Story” tersebut. Lagu yang dirilis tahun 1974 itu, memang ungkapan kekaguman Maurice White dkk pada alat musik perkusi bernama kalimba. Alat musik asal Afrika itu akhirnya menjadi instrument wajib yang menghiasi seluruh album dan konser grup asal Chicago, Amerika itu, sekaligus mempopulerkan kalimba ke seluruh dunia.

Kalimba juga disebut piano jempol, karena cara memainkannya cukup dengan dua jempol. Memiliki sebaris 7 lempengen logam sebagai tuts, kalimba sebenarnya bentuk modern dari mbira, alat musik tradisional yang lebih dulu lahir di Afrika. Bedanya, mbira terdiri dari dua baris anak kunci sehingga harus dimainkan dengan sepuluh jari.


Sebelum dipopulerkan Earth Wind & Fire, kalimba diperkenalkan ke dunia pada tahun 1950-an oleh Hugh Tracey, seorang lelaki Inggris yang telah 50 tahun tinggal di Afrika. Dia mendirikan perusahaan African Musical Instrumen (AMI) dan menyetel skala tangga nada Do-Re-Mi versi barat ke kalimba. Tak hanya sebagai alat music, bentuk kalimba yang mungil saat ini beralih fungsi sebagai buah tangan.
Kini dalam 10 tahun terakhir, kalimba yang dipakai di Eropa dan Amerika sudah bisa diproduksi oleh perajin di Indonesia. Dia adalah Supriyanto, warga Dusun Bolot, Desa Aliyan, Banyuwangi, Jawa Timur. Saat Tempo berkunjung ke rumahnya yang sederhana, Selasa siang 3 Juni 2014, Supriyanto sedang berkutat mengetes kualitas suara dari ratusan kalimba yang diselesaikan anak buahnya. “Bila terdengar merdu berarti sudah bagus,” kata pria 52 tahun itu.

Supriyanto mendapat order 100 ribu unit Kalimba dari dua toko kerajinan di Denpasar, Bali. Separuh alat musik itu akan dikirim ke Jamaica, Amerika Utara dan separuhnya lagi ke Turki. Kalimba yang dibuat Supriyanto terbuat dari tempurung kelapa, yang ditutup bulu kayu berlubang 3 centimeter. Di atasnya berjejer tujuh lempeng besi dengan bagian tengah paling panjang 10 centimenter. Untuk mengetas kualitas suaranya, Supriyanto memencet lempengan besi ini dengan dua jempolnya. Setelah dipencet bergantian, getaran besi yang masuk ke lubang menjelma melodi-melodi yang merdu.

Supriyanto menjadi perajin kalimba sejak 2004. Pria berusia 48 tahun ini sejatinya buta tentang tangga nada. Dia mendapatkan keterampilan itu secara otodidak dari orang tuanya yang menjadi perajin alat musik tradisional seperti kendang dan angklung.

Perjumpaannya dengan kalimba dimulai saat dia pergi ke Bali pada 2003, ssehari setelah bangkrut saat menjadi perajin patung dan anyaman bambu. Demi membayar hutang, ayah dua anak ini rela bekerja serabutan selama satu tahun, mulai tukang bangunan, sales buku tulis hingga pengepul kerajinan untuk artshop. Saat jadi pengepul itulah, Supri melihat kalimba hasil perajin Bandung yang dipajang di artshop. Dia pun berniat meniru membuat kerajinan itu, karena diminati turis. Setelah berhasil mengumpulkan duit dan bayar hutang, Supriyanto pulang ke Banyuwangi dengan sisa uang Rp 300 ribu.
Dengan modal sekecil itu, Supriyanto mulai merintis kerajinan kalimba pada 2004. Selama tiga bulan dia berkutat membuat sendiri alat musik itu dengan kreasinya sendiri. Setelah menyelesaikan 100 kalimba, Supriyanto bersama istrinya, Lamiah, pergi lagi ke Bali. Dengan berjalan kaki, pasangan itu keluar-masuk ke 20 artshop di Bali selama sepekan untuk menitipkan kalimbanya. Harga Kalimba saat itu hanya dibanderol Rp 7 ribu per unit.

Seminggu menunggu, kabar baik akhirnya datang dari dua artshop yang mengorder kalimba sebanyak 600 unit. Sejak saat itu permintaan Kalimba terus mengalir, bahkan setiap bulan dia rutin mengirim paling sedikit 15 ribu kalimba ke 15 artshop di Bali. Omzetnya lebih dari Rp 200 juta. “Saat itu sudah tekad, kalau gagal dari kerajinan, maka saya harus bangkit dari kerajinan juga,” katanya.
Ada tiga jenis kalimba yang dibuat Supriyanto. Jenis paling mahal adalah kalimba dengan perpaduan tempurung kelapa dan kayu sonokeling yang dibanderol Rp 20 ribu. Jenis ini paling mahal karena kayu sonokeling tergolong kayu kelas atas dengan harga Rp 3,5 juta –Rp 4 juta per meter kubik. Kelebihannya, kayu sonokeling memiliki corak bergaris-garis cokelat yang membuat tampilan kalimba lebih unik.

Jenis medium yakni kalimba dengan hiasan dari cat warna-warni seharga Rp 15 ribu. Hiasannya berupa bintik-bintik cat yang membentuk bunga-bunga. Sedangkan yang termurah adalah Kalimba dengan penutup kayu mahoni polos. Kalimba polos ini diberi harga Rp 12.500. “Ketiga-tiganya laris,” kata Supriyanto.

Supriyanto membutuhkan 80 ribu tempurung kelapa setiap bulannya. Tempurung-tempurung itu dipasok oleh pengepul dari beberapa desa  di Banyuwangi dengan harga Rp 1.000 per buah. Namun hanya tempurung tertentu yang dipakai antara lain yang tua serta  berdiameter 12-15 centimeter.
Bahan baku penting lainnya adalah besi yang akan dipakai sebagai tuts. Supriyanto memakai jeruji besi sepeda yang dia beli dari toko-toko onderdil. Setiap bulannya dia memesan sekitar seribu jeruji besi khusus buatan Tiongkok yang harganya Rp 60 ribu per 50 gross jeruji. Pembuatan tuts ini, menurut Supriyanto, merupakan proses paling rumit karena harus dipipihkan selebar 0,1 senti. Pemipihan ini harus menghasilkan tuts yang halus agar menghasilkan melodi yang merdu. Karena prosesnya rumit, pembuatan tuts ini dikerjakan oleh satu pekerja khusus dengan upah Rp 100.000 sehari.

Supriyanto mempekerjakan 10 pemuda dari desa sekitarnya dengan sistem borongan. Satu kalimba dia hargai Rp 1.750. Menurut Ahmad Sholeh, salah satu pekerja, awalnya dia memerlukan waktu 3 bulan hingga mahir membuat kalimba. Saat ini, pria 34 tahun itu sudah bisa menghasilkan 350 kalimba hanya dalam waktu satu pekan. Penghasilannya paling sedikit Rp 1,5 juta per bulan. “Kalau sudah terbiasa bikinnya gampang, asal telaten,” kata Sholeh yang sudah setahun ini bekerja pada Supriyanto.

Membuat Kalimba membutuhkan kecermatan agar hasilnya berkualitas. Menurut Sholeh, tempurung kelapa yang didatangkan dari petani harus diampelas hingga halus dan bersih dari serabut. Setelah itu potongan kayu dibentuk melingkar sesuai diameter setiap tempurung. Kayu yang telah siap, kemudian di lem sebagai penutup tempurung. Di atas kayu penutup itu, dua potongan kayu ditempelkan sebagai pijakan tuts-tuts nantinya. Agar warnanya menarik, permukaan tempurung dan kayu divernis hingga mengkilap. “Proses terakhir adalah pemasangan lempengan besi,” kata Sholeh.

Keterampilan Supriyanto tak hanya membuat kalimba. Dia juga piawai menciptakan boxdrum, alat musik perkusi berupa kotak kayu yang berlubang di tengahnya. Setiap tahun, produksi boxdrum mencapai 2  ribu dengan harga Rp 50 ribu per buah. Pasar boxdrum hanya terbatas ke Finlandia. Satu lagi  alat musik perkusi yang dibuat Supriyanto, yakni julidu alias terompet kayu lebar sepanjang 130 centimeter. Harga Julidu ini lebih mahal, mencapai Rp 150 ribu per biji karena terbuat dari kayu sonokeling. Namun produksinya hanya 600 buah per tahun karena peminatnya khusus. Melalui Bali pula, julidu itu diekspor ke Australia, Jerman dan Perancis.

Supriyanto memiliki banyak hambatan untuk bisa mengekspor langsung. Kendala utamanya adalah sering kesulitan modal saat ada order melimpah. Seperti orderan 100 ribu unit saat ini, dia harus menyiapkan modal awal paling sedikit Rp 50 juta. Selain modal yang seret, mencari pekerja bukan perkara gampang. Pemuda di desanya lebih senang bekerja di sektor lain ketimbang berkutat dengan kerajinan kalimba. Oleh karena itu, Supriyanto sering menolak order yang melebihi 100 ribu unit. “Saya juga belum punya badan usaha, tak tahu bagaimana mengurusnya,” kata Supriyanto yang tak tamat lulusan sekolah dasar ini.

Dengan berbagai kendala itu, hasil kerajinan Supriyanto ternyata mendapat pujian dari pemilik artshop di Bali. Imam Arifin, pemilik Imam Artshop di Bali, mengatakan, cukup puas dengan kualitas kalimba milik Supriyanto. “Hasilnya bagus, halus,” kata Imam yang sudah 10 tahun bekerja sama dengan Supriyanto.

Bahkan, kata Imam, kalimba milik Supriyanto paling bagus dibandingkan hasil perajin Bali dan Bandung. Dia menilai, kalimba hasil perajin Bandung justru cepat berkarat, kasar dan penutupnya memakai triplek. Oleh karena itu banyak pembeli yang lebih meminati buatan Supriyanto.

Di Bali, harga kalimba melambung hingga 3 kali lipat. Kalimba dari kayu sonokeling, misalnya, harganya meroket menjadi Rp 60 ribu. Selain dijual di artshop, Imam juga mengirimkan ribuan kalimba setiap pekannya ke Eropa, Amerika dan Asia Tengah. Di Eropa, harga kalimba bisa menembus Rp 205 ribu per unitnya.

Kepala Bidang Usaha Kecil Menengah pada Dinas Koperasi dan UKM, Made Mahartha, mengatakan, pihaknya baru mengetahui potensi yang dimiliki Supriyanto. Menurutnya, sebagian besar UKM di Banyuwangi belum mampu ekspor langsung sehingga sangat bergantung pada Bali. Kendalanya, kata dia, ketidaksiapan modal dan tenaga kerja sehingga tak bisa memproduksi dalam skala besar. “Kami akan memfasilitasi kebutuhan kerajinan kalimba ini melalui klinik ukm,” kata dia.

Untuk sementara, kata Made, pemda sedang menggencarkan promosi dengan mengikutsertakan kalimba dalam berbagai pameran. Dengan cara itu, dia berharap bahwa kalimba sesungguhnya adalah produk dari Banyuwangi, bukan Bali. IKA NINGTYAS