Friday, May 23, 2014

Kilau Devisa Dibalik Cangkang Mutiara

Hasbi memicingkan mata, sambil menyorotkan lampu kecil ke dalam cangkang tiram yang setengah terbuka. Menggunakan sebuah pisau mungil, dia menyayat sedikit tubuh tiram yang lunak. Nampaklah di antara cangkang, sebutir mutiara berkilauan. Mutiara berdiameter 10 milimeter itu kemudian diangkat secara hati-hati menggunakan alat bernama kaikoki.

Setelah mengambil mutiaranya, pria 35 tahun itu mengisi bekas sayatan di tubuh tiram tersebut dengan inti mutiara atau nucleus berukuran 3,2 bhu atau setara 7,36 mm. Tiram-tiram itu akan dimasukkan kembali ke laut hingga masa panen berikutnya 2 tahun mendatang. “Tiram ini baru pertama panen, jadi masih bisa dipakai lagi,” kata teknisi yang sudah 15 tahun bekerja di PT Autore Pearl Culture, perusahaan asal Australia yang bergerak dalam pembudidayaan tiram mutiara.

.
Sejak 22 April hingga 5 Mei 2014, menjadi masa panen mutiara di pusat budidaya tiram mutiara di Teluk Banyubiru, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. Panen mutiara itu diproses dalam sebuah kapal bernama lambung Rukun Arta Santosa seberat 180 grosston. Kapal milik PT Autore itu berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan hanya datang ke Banyuwangi saat panen. Kapal itu membawa 50 teknisi yang di dalamnya dilengkapi meja-meja operasi, ruangan x-ray dan penyimpanan mutiara.

Budidaya tiram mutiara itu milik perusahaan asal Jakarta, PT Disthi Mutiara Suci. PT Disthi menjadi perusahaan pertama yang membudidayakan tiram mutiara di Banyuwangi sejak 2006. Sebelumnya budidaya tiram mutiara lebih banyak dilakukan di wilayah Indonesia bagian timur seperti Maluku, Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Kemudian pada 2007, perusahaan ini menggandeng PT Autore untuk menangani masa panen hingga ekspor.  “Indonesia timur sudah padat, jadi kami cari tempat baru di Jawa yang masih sepi,” kata Direktur PT Disthi, Muhammad Taufik Dwikomara, Selasa 29 April 2014.

PT Disthi memperoleh izin budidaya tiram seluas 400 ha di Teluk Banyubiru, namun baru 150 hektare yang termanfaatkan. Teluk Banyubiru berada di Selat Bali dan masuk kawasan Taman Nasoional Alas Purwo. Teluk yang pantainya berpasir putih ini, hanya bisa ditempuh dengan menyeberangi Perairan Muncar, Kecamatan Muncar, selama 2 jam menggunakan perahu.

Mulanya pada 1998 PT Disthi hanya bergerak dalam budidaya tiram atau kerang di Teluk Terima, kawasan Taman Nasional Bali Barat, Buleleng, Bali. Di laut seluas 36 ha, PT Disthi mengembangkan indukan tiram hingga pembesaran bibit berukuran 6-7 sentimeter. Tiram-tiram ini kemudian dijual ke sejumlah perusahaan yang memproduksi mutiara.

PT Disthi kemudian melakukan pengembangan usaha budidaya tiram mutiara pada 2006. Menurut Taufik, perusahaannya lalu mencari perairan laut yang lain dengan menggali informasi dari internet. PT Disthi sejak awal memang membidik Pulau Jawa yang belum dikembangkan untuk budidaya mutiara kecuali di Pulau Sapeken, Madura. Dari riset, PT Disthi menemukan Banyuwangi yang memiliki wilayah laut paling panjang di Pulau Jawa dengan garis pantai 175 kilometer. Setelah mengobeservasi beberapa tempat, pilihannya jatuh pada Teluk Banyubiru, wilayah yang masih perawan.

Menurut Taufik, budidaya tiram mutiara hanya bisa dilakukan dengan syarat tertentu. Antara lain, jauh dari pemukiman manusia, terhindar dari limbah industri dan kondisi lautnya tenang. Wilayah teluk memang kerap dipilih karena akan melindungi tempat budidaya dari ombak besar. Namun arusnya juga harus bergerak lancar supaya sering membawa plankton sebagai makanan utama tiram.

Syarat lainnya, laut memiliki kedalaman maksimal 35 meter dan cahaya matahari bisa masuk hingga kedalaman 15 meter. Air laut harus memiliki  keasinan (salinitas) antara 32-35 promil. “Bila syarat-syarat itu tak terpenuhi, kualitas mutiaranya jelek,” kata dia.

Ketika baru memulai pengembangan, sekitar 100 ribu bibit berukuran 2 cm-3 cm yang ditanam di Banyuwangi mati massal karena terjadi penurunan temperature air laut dari 32 derajat celcius menjadi 23-24 derajat celcius. Setahun kemudian, PT Disthi mendatangkan kembali bibit miliknya dari Bali untuk dibesarkan di Banyuwangi. Perusahaan tersebut langsung menggandeng PT Autore yang memiliki peralatan panen serta teknisi lengkap. Autore sendiri lebih dari 15 tahun berinvestasi di Indonesia dan memiliki 5 tempat pembudidayaan tiram mutiara di Lombok dan Sumbawa.

Budidaya tiram mutiara membutuhkan proses panjang. Mulai pemijahan hingga panen pertama menelan waktu 4 tahun, sementara panen kedua butuh 2 tahun. Tiram yang dibudidayakn hanyalah jenis Pinctada maxima, karena ukuran cangkangnya terbesar yakni 20 cm dibandingkan jenis lainnya seperti Pinctada margaritifera dan Pinctada martensii. Supaya menghasilkan tiram berkualitas, maka pemijahan harus menggunakan indukan yang sehat. Ciri-cirinya cangkang berukuran 17-20 cm, umur tiram 5-7 tahun dan hormon kelaminnya (gonad) telah matang.

Pemijahan antara induk jantan dan betina dilakukan dalam bak khusus. PT Disthi memiliki 100 induk tiram yang bisa menghasilkan 60 ribu-70 ribu bibit. Setelah 30 hari di bak, bibit tiram berukuran 1,5-2 mm, kemudian dipindahkan ke net yang terbuat dari anyaman nylon. Net ini lalu digantung di longline dan dimasukkan ke dalam laut. Pembesaran bibit ini membutuhkan waktu 18-24 bulan untuk menghasilkan tiram berukuran 10 cm.

PT Disthi kini memasang 112 longline di laut, dimana setiap longline berisi 2.400 ekor tiram. Longline itu terdiri atas bola pelampung yang dibawahnya tergantung seutas tali sepanjang 3-5 meter untuk mengikat net-net berisi tiram. Dalam satu net bervariasi ada yang berisi 6 hingga 8 tiram, bergantung ukurannya. Ketika tiram berukuran 10 cm, proses implantasi untuk memasukkan nucleus/inti mutiara mulai dilakukan. Ini adalah proses paling penting yang menentukan keberhasilan panen mutiara, degan memilih tiram sehat atau terbebas dari penyakit. Prosesnya dimulai dengan menyayat persegi mantel tiram sepanjang 4 mm,  lalu memasukkan nukleIus ke dalam bagian gonad.

Tiram yang telah menjalani operasi pemasukan nucleus ini kemudian dipasang lagi di net dan dipelihara kembali ke laut. Lima bulan kemudian, tiram diangkat untuk menjalani tahap pembersihan lumut dan ganggang yang menempel pada cangkang. Setelah bersih, tiram diperiksa melalui mesin x-ray, untuk melihat apakah nucleus masih terpasang atau justru dimuntahkan. Selama ini 80 persen nucleus berhasil ditanam, dan sisanya dimuntahkan kembali oleh tiram. Bila nucleus masih terpasang maka segera dikembalikan lagi ke laut. Sementara yang dimuntahkan akan diisi nucleus kembali. “Selama pemeliharaan di laut, tiram hanya disemprot dengan air laut sebulan sekali untuk mengurangi lumut,” kata Taufik, alumnus Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.

Nukleus-nukleus itu didatangkan PT Autore dari Jepang sebanyak 70 ribu – 80 ribu butir setahun. Manager Operasional PT Autore, Steven Rothwell, 40 tahun, mengatakan, Jepang memproduksi nucleus tersebut dari kulit kerang air tawar Sungai Mississippi, Amerika Serikat. “Nuckleus dari Sungai Mississippi ini terbaik di seluruh dunia,” kata pria berkebangsaan New Zealand itu. Butiran nucleus paling kecil berdiameter 3,2 bhu atau 7,36 mm sekitar Rp 50 ribu per butir dan paling besar 9,09 bhu atau 20 mm seharga di atas Rp 1 juta.

Selama pemeliharaan tiram berisi nucleus di laut itu membutuhkan waktu 1,5 tahun hingga tiram berukuran 20 cm dan siap dipanen. Dalam setahun panen berlangsung dua kali yakni pada April-Mei dan Oktober-November. Dari 60 ribu tiram, saat panen mereka bisa menghasilkan 40 kilogram mutiara berwarna putih dan sekitar 20 persennya berwarna keemasan. Seluruh produksi mutiara ini diekspor ke Australia dengan harga 6 ribu yen per momme atau setara Rp 150 ribu per gram untuk kualitas super dan 500 yen per momme untuk kualitas rendah.

Harga mutiara putih dan berwarna keemasan tidak jauh berbeda asalkan memenuhi kriteria kualitas super, seperti bentuknya harus bundar, permukaan mulus, berkilau serta diameter minimal 10 mm. Mutiara warna emas memiiki penggemar tertentu, meskipun peminat mutiara putih tetap tinggi. “Beberapa tiram menghasilkan mutiara warna emas, meskipun jenisnya sama dengan tiram penghasil mutiara putih,” kata Taufik. Dalam setahun, omzet budidaya tiram mutiara itu paling sedikit mencapai Rp 10 miliar.

Steven Rothwell mengatakan, di Australia butiran mutiara itu diproduksi kembali menjadi perhiasan dan banyak dikirim ke Eropa. Harganya di Eropa bisa melangit hingga puluhan juta euro. Di pasar dunia, mutiara Indonesia bersaing ketat dengan Australia dan Malasyia. Namun Indonesia diuntungkan karena tiramnya bisa menghasilkan mutiara berwarna keemasan. “Negara-negara lain tidak ada tiram emas,” kata Steven.
Hasil budidaya tiram mutiara memang menggiurkan. Ini sebanding karena usaha ini butuh modal besar. Taufik bercerita, modal awal untuk berivestasi paling sedikit Rp 5 miliar, ditambah setiap bulan membutuhkan Rp 500 juta sebagai ongkos produksi. Pengeluaran rutin paling besar adalah menggaji 80 pekerja dan bahan bakar kapal. PT Disthi mengoperasikan 4 motorboat patroli dan 2 perahu untuk mengangkut logistic dan karyawan.

Patroli harus sering dilakukan karena tingkat pencurian budidaya tiram mutiara sangat tinggi. Dalam periode 2010-2012 saja, kata Taufik, terjadi 5 kali kasus pencurian. Biasanya, modus yang dilakukan dengan menyelam lalu mengambil tiram di longline yang siap panen. Untuk memperketat kawasan budidayanya, PT Disthi mempekerjakan 28 petugas keamanan yang terbagi dalam shift pagi dan malam.

Budidaya mutiara juga sangat bergantung pada cuaca. Menurut Steven, bila cuaca sangat ekstrem seperti terlalu banyak hujan maka pertumbuhan tiram menjadi lambat dan bisa mati. Pasar mutiara di dunia juga tergantung dari kestabilan ekonomi negara-negara di Australia dan Eropa. Seperti krisis yang melanda Eropa pada 2008 silam, yang mengakibatkan harga dan ekspor mutiara turun 50 persen.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Banyuwangi, Pudjo Hartanto, mengatakan, budidaya tiram mutiara di wilayahnya menjadi peluang baru. Pihaknya telah mengidentifikasi, selain Teluk Banyubiru masih ada empat lokasi lain yang berpotensi dikembangkan untuk budidaya mutiara. Yakni Teluk Hijau, Teluk Rajegwesi, Teluk Sakeben dan Teluk Kremisan. “Keempatnya punya karakteristik yang sama dengan Teluk Banyubiru,” kata Pudjo.

Saat ini, kata dia, ada satu investor lain yang tertarik untuk membudidayakan tiram mutiara di wilayahnya. Investor itu telah meninjau keempat lokasi yang ia rekomendasikan. Budidaya tiram mutiara, kata dia, cukup prospektif karena minat pasar luar negeri sangat tinggi. Meski begitu, Pemerintah Banyuwangi hanya bisa mempermudah perizinan budidaya ini serta membantu sosialisasi kepada nelayan agar tidak terjadi benturan di laut. “Kalau modal kami tak bisa, karena budidaya mutiara butuh modal besar,” kata dia. IKA NINGTYAS