Monday, March 17, 2014

Mengapa Saya Pilih AJI?

Rasa capek tunai terbayar setelah kegiatan workshop "Bagaimana Badan Penyelenggara Jaminan Sosial" rampung Sabtu sore, 15 Maret 2014. Kegiatan kerjasama AJI dan Friedrich Ebert Stiftung (FES) itu hanya saya siapkan dalam tiga hari saja. Saya harus meliburkan diri dari pekerjaan selama sepekan. Beruntunglah ada sahabat-sahabat yang membantu memperlancar kegiatan itu.

Tapi ada yang membuat saya bahagia. Usai acara itu, saya mendapatkan BBM dari beberapa peserta yang mengucapkan terima kasih telah diberi kesempatan mengikuti acara tersebut. Bahkan beberapa di antaranya berminat menjadi anggota AJI. Saya terharu, mungkin ini adalah pelatihan pertama mereka, meski sudah bertahun-tahun mereka menjadi jurnalis.



Barangkali ini jawaban Tuhan. Dua pekan sebelumnya saya kehilangan beberapa kawan yang keluar dari AJI lalu bergabung ke organisasi yang berseberangan visi dan misi. Saya sangat sedih saat itu. Tapi rupanya Tuhan memberi kado yang lain.

Saya dan sejumlah kawan membabat alas mendirikan AJI di Banyuwangi dan Jember sejak 2005. Saat itu saya masih menjadi reporter radio lokal. Saya tertarik masuk AJI setelah mengikuti pelatihan di Surabaya. Mungkin perasaan bungah saya sama seperti peserta workshop tersebut, yang haus pada pengetahuan baru. Saya juga terpesona dengan anggota AJI: masih muda, energik, cerdas dan idealis.

Saya seperti bertemu dengan oase. Maklum, sama seperti yang lain, saya menjadi jurnalis hanya modal nekat, otodidak. Perusahaan tidak pernah memberikan pelatihan, baik dengan mendatangkan trainer atau mengirimkan jurnalisnya ke workshop-workshop -sesuatu yang seharusnya menjadi kewajiban perusahaan saya. Padahal, seorang jurnalis dituntut memiliki kecerdasan dan kritis. Pengetahuan jurnalis harus berkejaran dengan pesatnya informasi dan cepatnya perubahan di pelbagai aspek kehidupan.

Dan saya menemukan harapan itu di AJI. Tak hanya memberikan peningkatan kapasitas bagi anggotanya, AJI bergerak lebih jauh. Sejak berdiri sebagai organisasi perlawanan bawah tanah tahun 1994, AJI tetap konsisten memperjuangkan kebebasan pers dan kesejahteraan jurnalis. Konsistensi organisasi cukup krusial dalam menjawab persoalan jurnalisme yang kian kompleks tiap tahunnya.

Di Jawa Timur saat itu hanya ada AJI Surabaya dan AJI Malang. Karena jarak daerah yang cukup jauh, saya bersama kawan-kawan bersemangat mendirikan AJI. Kami harus mengumpulkan 15 jurnalis, sebagai syarat minimal berdirinya AJI kota. Tidak butuh waktu lama, akhirnya AJI Jember yang meliputi Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso dideklarasikan pada 2006.

Setelah resmi berdiri AJI di eks-Karesidenen Besuki itulah hampir setiap saat saya harus merasakan kehilangan kawan. Kehilangan di sini ada tiga bentuknya. Pertama, kehilangan teman yang pindah organisasi. Kedua, teman yang perilakunya semakin jauh dari profesional meski saya sudah susah payah mengikutkannya ke berbagai pelatihan. Dan, ketiga, kehilangan karena kawan tersebut dipindahtugaskan ke luar daerah.

Dari tiga jenis itu, kehilangan pertama dan kedua itu lebih menyakitkan, meskipun ini soal pilihan hidup. Tapi yang mengusik saya adalah ketidakmengertiaan atas sikap mereka. Beberapa di antaranya memilih melacurkan profesinya untuk kepentingan pragmatis. Mereka tak tahan berada di AJI karena dilarang menerima amplop.

Soal amplop memang masalah klasik. Tapi buat saya ini jawabannya sederhana. Di UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik tertera jelas bahwa jurnalis dilarang menerima suap. Bila jurnalis begitu getol memberitakan dokter yang melanggar kode etik, lalu mengapa kita melanggar kode etik profesi kita sendiri? Idealnya, sebelum menuliskan kebobrokan pihak lain, jurnalis harus bersih dulu. Jangan korupsi sebelum menulis tentang pejabat yang korup. Inilah namanya integritas.

Mendirikan AJI awalnya cukup mendebarkan. Hampir setiap saat selalu muncul isu tak mengenakkan, mulai tudingan menerima duit puluhan juta hingga tak ditegur beberapa kawan dekat. Barangkali AJI memang menjadi momok menakutkan bagi sebagian jurnalis. Tapi saya tak mundur. Saya yakin telah memilih jalan yang benar.

Sejak 2010, kawan-kawan memberi amanah saya sebagai kemudi organisasi ini. Di tiga tahun pertama saya tak bisa maksimal karena bebarengan dengan tugas domestik. Begitu pula dengan sekretaris saya yang sama-sama hamil. Inilah periode dimana AJI Jember benar-benar di titik nadir. Anggota tersisa 14 orang, dan hanya 5 orang yang aktif. Kas hanya tersisa Rp 3 juta. Sebagian besar program tak terlaksana.

Lalu saya mendapatkan kesempatan lagi memimpin di periode 2013-2016. Baiklah, ini saatnya saya harus bekerja keras. Dan, syukurlah gairah organisasi ini mulai menyala, pelan tapi pasti. Anggota sudah bertambah lagi 10 orang. Kas gemuk kembali, dan berbagai kegiatan tak berhenti sejak pemilihan saya yang kedua pada Oktober 2013.

Tidak terasa tahun ini berarti sudah 6 tahun AJI Jember berdiri. Agustus mendatang AJI Indonesia juga berulangtahun ke-20. Ibarat jalan, memang tak sepenuhnya lempang. Entah sudah berapa banyak anggota yang keluar dan masuk. Sedih ketika kehilangan, tapi secepat itu pula datang kawan-kawan baru yang melecutkan semangat kembali. Dinamika organisasi membuat saya memetik banyak hal, bertumbuh dan terus tumbuh.

Kita tak pernah bisa sendirian mewujudkan wajah jurnalisme yang ideal. Berserikat adalah jalan keluarnya!