Tuesday, October 29, 2013

Menulis itu Menyenangkan

Berdiskusi dengan para remaja itu selalu membuat saya merasa lebih muda. Seperti Senin, 28 Oktober. Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Saya berdiri di hadapan ratusan siswa SMPN 1 Banyuwangi. Ini memang bukan kali pertama saya berbagi pengalaman dunia menulis untuk pelajar.

Tapi setiap kali berhadapan dengan pelajar --entah itu SMP atau SMA, saya merasakan semangat saya lebih menyala. Alam pikiran saya langsung bernostalgia. Mengingat 13 tahun lalu. Ketika masih memakai seragam putih-biru. Masa-masa pubertas. Masa pertama kali kenal cinta (monyet).



Bukan pengalaman cinta (monyet) yang masih terkenang sampai kini. Karena saat itu pernah suka dengan cowok, tapi tak pernah jadian. Pacaran pertama saja setelah saya lulus SMA. Jadi memang tak ada pengalaman menarik tentang cinta.

Saat SMP itu, sahabat-sahabat saya sudah sibuk dengan pacarnya. Sementara saya, asyik bermasuk dengan cerpen. Ya, saya gila menulis cerpen saat itu. Berbekal mesin ketik tua punya ayah. Tak tik tak tik, bunyi yang khas dan merindukan.

Saya menyisihkan uang saku demi membeli majalah-majalah remaja bekas seperti Aneka, Gadis dan Kawanku. Dulu, tahun 1997, masih banyak lapak buku dan majalah bekas. Tapi saya sering membelinya di lapak sebelah Masjid Agung Baiturahman atau di Mojoroto. Harga bekasnya Rp 2 ribu-Rp 5 ribu. Dari cerpen-cerpen majalah itu, saya belajar menemukan ide, membuat alur yang mengejutkan, dan paduan kata yang kreatif. Tanpa membaca tak mungkin kita bisa menulis, bukan?

Ide lainnya, saya comot dari kisah-kisah sahabat saya. Tema besarnya masih seputar cinta juga, barangkali efek dari masa pubertas. Beruntunglah saya punya sahabat-sahabat yang cantik, yang selalu diburu cowok-cowok. Demi ide, saya rela berulangkali menjadi 'obat nyamuk', meski ada traktiran makan sebagai kompensasinya.

Entah sudah berapa naskah cerpen yang pernah saya ketik. Lembaran naskahnya masih tersimpan bersama debu dan rayap di kamar ayah. Sudah lama saya tak pernah membukanya. Tak satupun naskah itu yang saya kirimkan ke majalah. Tidak pede mungkin iya. Tapi saya tetap menulis. Sering juga naskah saya tempel di majalah dinding atau saya sebarkan keliling ke sahabat-sahabat saya. Tak lebih.

Saya menulis sejak TK. Menulis puisi. Masih ingat betul puisi pertama saya berjudul Ibu. Saya tulis dan bacakan ketika acara perpisahan TK. Saat itu, cuma puisi sederhana, beberapa kalimat saja. Tapi setelah turun dari podium, saya baru tahu kalau mata ayah saya meleleh. "Puisinya bagus, Nak," kata dia berbisik.

Sampai SD, saya masih sering menulis puisi. Inspirasinya dari majalah Bobo yang saya beli dari pemulung-pemulung. Entah berapa judul yang saya ciptakan saat itu. Saya memang tak pernah menghitung. Pernah satu kali mengirimkannya ke Bobo. Tapi tak pernah dimuat. Saya tak kapok tetap menulis sambil belajar menari dan melukis.

Menulis sudah jadi kebiasaan saya sejak kecil. Berbeda sekali dengan remaja-remaja dihadapan saya tadi siang. Hanya segelintir dari mereka yang suka menulis puisi dan cerpen. Saya kenal sastra sejak belia. Tapi mereka --yang sejatinya zaman serba canggih begini, awam dengan dunia sastra. Hanya segelintir juga dari mereka yang bercita-cita menjadi penulis atau jurnalis, seperti saya.

Saya katakan pada mereka begini: "Kalian boleh menjadi apa saja. Boleh jadi duta besar, pramugari, dokter, dosen, atau ibu rumah tangga sekalipun. Tapi yang membedakan kalian nantinya di antara pekerjaan itu adalah karena kalian menulis."

Justru dari kesedihan itulah, yang melecut semangat saya hingga berapi-api bersama mereka. Saya memaklumi, pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah tak lebih dari sekedar teori-teori merangkai kalimat. Terlebih lagi dengan sistem Ujian Nasional saat ini yang menargetkan nilai tinggi untuk kelulusan. Ya, pelajaran Bahasa Indonesia hanya menjawab pilihan ganda beserta menjelaskan teori-teori tadi. Waktu pelajar juga tersita dengan bimbingan, les, kursus, demi mengejar nilai UN.

Saya katakan juga pada mereka, kenapa menulis itu penting? karena menulis itu akan membantu orang lain memecahkan masalahnya! Bolehlah kita menjadi dokter sepintar-pintarnya. Tapi bila ilmu itu tidak ditularkan ke orang lain --lewat bacaan, apa artinya? Ilmu akan binasa bersama tubuh kita. Tapi karena kita menulis, maka ilmu itu akan terus hidup tanpa kenal ruang dan waktu.

Salah satu dari mereka kemudian bertanya, kenapa saya tertarik jadi jurnalis? Buat saya memilih pekerjaan itu harus mempertimbangkan tiga hal. Pertama aspek kesejahteraan, berarti bekerja itu harus menjamin penghidupan kita. Kedua, aspek sosial. Berarti pekerjaan itu harus bernilai sosial, mementingkan orang banyak. Dan, ketiga aspek pengetahuan. Pekerjaan itu harus membuat kita terus tumbuh berkembang. Menjadi jurnalis memenuhi ketiga aspek itu!

Sedih boleh, tapi saya optimistis dari mereka pasti akan ada yang menjadi penulis hebat. Di bawah ini petikan materi yang saya sampaikan tentang "Menulis itu Asyik!"

1. Mengapa menulis itu penting?

a. Mengasah kemampuan intelektual
b. Memberi inspirasi kepada orang lain
c. Membuat sejarah
d. Sumber penghasilan
e. Hiburan
f.  Kritik sosial

2. Contoh penulis hebat:
Andrea Hirata adalah penulis sukses best seller Laskar Pelangi dan beberapa buku lainnya seperti Sang Pemimpi, Maryamah Karpov. Sumber menyebutkan, Andrea menjual lebih dari 600.000 copy exp bukunya dan dengan total keuntungan lebih dari Rp 3,6 miliar saja dalam satu judul laskar pelangi.

Salah satu bukunya yang best seller adalah Catatan Hati Seorang Isteri yang diterbitkan Lingkar Pena Publishing dan Kumcer Emak Ingin Naik Haji. Tulisan-tulisan yang dibuat oleh Asma tentu saja banyak memberikan inspirasi dan motivasi. Dia mengumpulkan lebih dari 300 juta dari karyanya yang beredar dan beberapa hak cipta film untuk novelnya.

3. Apa yang bisa kamu tulis? Apa Saja!
a. Cerpen
b. Puisi
c Prosa
d. Novel
e. Naskah drama
f. Catatan perjalanan
g. Karya ilmiah

4. Bagaimana mendapatkan ide menulis?
a. Membaca
b. Jalan-jalan
c. Berdiskusi

5. Bagaimana memulai menulis?
a. Bikin perencanaan
b. Tulis apa yang ada di pikiranmu
c. Jangan berhenti sampai tulisanmu selesai

6. Bagaimana bila tulisan berhenti di tengah jalan?
a. Kembali ke niatmu awal untuk menulis!
b. Berkonsultasi kepada teman/guru/penulis
Ingat, nasib tulisan ada di tanganmu, jadi segera selesaikan!

7. Bagaimana menilai tulisan baik/buruk?
Intinya, tidak ada tulisan yang buruk. Yang membedakan hanyalah kita terbiasa menulis atau tidak. Jadi, Teruslah menulis!

8. Bagaimana menerbitkan tulisan?
a. Media sosial:  Facebook dan blog
Dari interaksi di kedua dunia maya itu kita jadi tahu kekurangan dan kelebihan tulisan kita

b. Media massa: Koran dan majalah
Penentuan tulisan kita layak atau tidak di tangan redaksi

c. Buku: Self publishing atau mayor publishing

9. Jadi, kapan waktu tepat untuk menulis?
Sekarang juga, jangan menunda!

Gambar: Istimewa