Tuesday, September 24, 2013

Jembatan Petani

Sigit Pramono mengawasi tiga karyawannya yang sedang mengaduk tumpukan serbuk coklat. Sesekali dia ikut membolak-balik serbuk berbau menyengat itu. Bila warna mulai menghitam, serbuk kemudian dimasukkan ke dalam karung ukuran 50 kilogram. Di ruangan paling belakang, ada puluhan karung serbuk telah siap didistribusikan.

Serbuk-serbuk itu sesungguhnya adalah pupuk organik dari campuran sampah dapur dan sabut kelapa. Setiap hari delapan ton pupuk organik didistribusikan ke sejumlah petani di Banyuwangi, Jawa Timur. Selain pupuk, di pabrik seluas 180 meter persegi itu, Sigit juga memproduksi pestisida dan hebrisida berbahan gen hayati. "Sebulan bisa mengolah 150 ton sampah dapur dari tempat pembuangan akhir sampah," kata Sigit ditemui di kantornya, Perumahan Sobo Kartika, Senin 23 September.

Bersama Kukuh Roxa dan Wahyudi, sejawatnya sesama alumni Departemen Agronomi dan Holtikultura Institut Pertanian Bogor, Sigit membangun bisnis sosial bernama Pandawa Putra Indonesia pada Juli 2012. Di perusahaan itu Sigit didapuk sebagai Chief Operations Officer. Sosial bisnisnya bergerak untuk mempopulerkan gerakan "Go Organic" ke petani padi Banyuwangi.

Friday, September 20, 2013

Pahitnya Nasib Petani Kedelai

Membawa sebuah ember, Samijan berkeliling ke lahan tanaman kedelai milik juragannya. Bulir kedelai yang tua, dia petik lalu dimasukkan ke ember itu. Namun wajahnya tak terlalu sumringah. Tanaman kedelai seluas 0,7 hektare atau sebahu itu tumbuh lebih pendek, sekitar 25 centimeter. "Terlalu sering hujan," kata lelaki 55 tahun ini, Selasa sore, 17 September 2013.

Samijan memprediksi hasil panen hanya 6 kuintal. Padahal bila hujan jarang datang, tinggi kedelai varietas anjasmoro itu bisa satu meter dan hasil panen pun hingga 12 kuintal. Tapi untunglah, anjloknya panen terbantu dengan harga kedelai yang sedang melonjak hingga Rp 8 ribu per kilogramnya. Pada panen triwulan sebelumnya, harga kedelai lokal hanya Rp 6.200 per kilonya.

Thursday, September 19, 2013

Saham Istimewa untuk Tuan Rumah

Rapat selama dua jam itu berlangsung tertutup. Sejumlah wartawan tak diperkenankan masuk ruangan khusus Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Rapat di Senin siang, 15 September 2013 itu dihadiri sejumlah anggota Badan Legislasi. Mereka dijadwalkan untuk mencecar eksekutif yang mengajukan perubahan keempat Peraturan Daerah No 13 Tahun 2007 tentang Penyertaan Modal. "Padahal pengesahan perubahan ketiga perda itu baru disahkan tahun 2012 lalu," kata Ketua Badan Legislatif, Handoko.



Friday, September 13, 2013

Mati Sunyi Pencipta Genjer-genjer

Dibungkus kresek putih, tiga buku tulis lusuh itu menguarkan bau debu menyengat. Warna kertasnya mulai memudar kecoklatan. Namun tulisan tangan di dalamnya masih terbaca jelas. Berisi ratusan lirik lagu dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah Using, lengkap dengan notasinya.

Di lembar kesebelas, judul lagu Gendjer-gendjer tertulis dalam warna merah. Di sebelah kanannya tergambar palu-arit, lambang yang dipakai Partai Komunis Indonesia saat itu. Gendjer-gendjer ditulis Muhammad Arief dalam bahasa daerah Using, Banyuwangi. Berisi tiga bait, masing-masing terdiri dari empat baris. "Lagu ini ditulis saat penjajahan Jepang tahun 1943," kata Sinar Syamsi, 60 tahun, anak Muhammad Arief, Rabu 11 September 2013.