Monday, August 19, 2013

Seblang Olehsari, 7 Hari Menolak Bala



Si pawang mendekatkan asap kemenyan yang baru dibakarnya ke wajah Suidah. Beberapa detik, gamelan yang ditabuh para wiyogo mengalun bersama suara sinden. Mereka menyanyikan gending dalam bahasa Using, khas Banyuwangi. Suidah, dengan mata terpejam dibalik mahkota di kepalanya, lantas bangkit. Tubuh, tangan dan kakinya yang ramping bergerak menari mengikuti alunan gending-gending kuno.

Tiga orang mengikuti Suidah menari. Satu lelaki di depan disebut pengudang. Dua lagi, seorang perempuan dan laki-laki yang dijuluki pengiring menguntit dari belakang. Mereka menari mengelilingi sebuah panggung berbentuk lingkaran, hingga 28 gending selesai dinyanyikan. Tiga jam yang penuh aroma mistis nan menggetarkan.

Demikianlah, tradisi Seblang di Desa Olehsari, Banyuwangi, Jawa Timur. Ritual bersih desa ini digelar usai Lebaran selama tujuh hari berturut-turut, mulai 12 - 18 Agustus 2013. Ada 35 orang yang terlibat langsung dalam pelaksanaan ritual ini, mulai penari, wiyogo, sinden, pawang, penetep, pengiring dan pengudang. Uniknya, seluruh pelaku memiliki riwayat turun-temurun dari kakek atau orangtuanya.

Penari Seblang memang menjadi pusat dalam ritual ini. Dia harus perempuan yang baru perawan. Memiliki darah penari Seblang dari pendahulunya. Penetapan si penari melalui ritual mistis, antara pawang dengan roh-roh yang dipercaya nenek-moyang kampungnya. Sejak 2011, petunjuk gaib itu jatuh pada Suidah, gadis berusia 16 tahun yang kini duduk di bangku SMP kelas tiga.

Suidah berkostum layaknya penari tradisional: kain yang dililit dari dada hingga mata kaki dengan sebuah selendang di pinggang. Semuanya berwarna kuning dan merah. Yang khas adalah bentuk mahkotanya. Terbuat dari burai-burai daun pisang yang menutupi kepala hingga wajahnya. Bunga tujuh warna menghiasi di bagian atasnya.


Dia menari dalam keadaan tak sadarkan diri. Namun roh nenek-moyang telah dipanggil si pawang untuk mengisi raganya. Roh itulah yang menggerakkan tubuh gadis mungil itu menari, berkeliling pentas selama tiga jam tanpa lelah.

Saat gending berjudul Kembang Darmo dinyanyikan, para pelaku tradisi menjajakan bunga kenanga. Satu untai harganya Rp 2 ribu. Bunga yang lebih dulu diasapi kemenyan ini dipercaya mendekatkan jodoh dan memudahkan usaha. Hanya dalam waktu 15 menit, bunga berwarna hijau muda ini ludes diserbu penonton.

Sesi berikutnya adalah melempar selendang. Inilah sesi paling menggelikan. Sebab, saat penonton mendapat selendang yang dilempar penari, dia harus naik ke pentas untuk menari bersama. Seringnya penerima selendang menari dengan kikuk sehingga mengundang tawa pada penonton yang lain.

Di hari akhir ritual, Minggu 18 Agustus 2013, penari Seblang harus berkeliling kampung diikuti oleh ratusan warga setempat. Tahapan ini menjadi puncak sekaligus penutup upacara.

Ketua Adat Desa Olehsari, Ansori, 49 tahun, mengatakan, tak pasti kapan tepatnya ritual ini telah dilaksanakan. Namun sekitar tahun 1930, ritual ini sudah ada. "Suidah sudah generasi ke-19," kata dia kepada Tempo, Minggu petang 18 Agustus 2013.

Seblang dulunya merupakan penyembahan kepada Dewi Sri, dewi kesuburan. Upacara adat ini, kata dia, digelar sebagai bentuk syukur warga Desa Olehsari atas hasil panen. Selain itu, ritual ini diyakini sebagai penolak balak sehingga petani terhindar dari paceklik.

Ya, jejak pertanian warga secara simbolis memang melekat di ritual ini. Selain nampak pada mahkota si penari, juga menjadi hiasan panggungnya. Ada jagung, padi, sayur-mayur serta buah-buahan yang tergantung di atap panggung. Ketika ritual selesai, penonton saling berebut mendapatkan hasil panenan itu. Semua nampak gembira. Inilah sebuah kearifan lokal masyarakat desa yang semoga tetap terjaga. IKA NINGTYAS