Monday, August 19, 2013

Peselancar Pulau Merah: Dari Nelayan Hingga

Bercelana hitam pendek, Poniran Rake berdiri di atas papan selancarnya. Ombak setinggi tiga meter di Pulau Merah telah ada dihadapannya. Dia masuk ke dalam gulungan ombak itu, bermanuver ke arah kiri, lalu muncul di atas ombak yang akan pecah ke pantai. 

Namun hanya dua ombak 'cantik' di Pulau Merah, Banyuwangi, yang ia dapatkan. Selain ombak yang kurang power, Rake kelelahan sehingga tak maksimal beratraksi dalam Kompetisi Selancar Internasional, Jumat 24 Mei 2013 lalu. "Meski gagal saya puas bisa ikut kompetisi," kata lelaki 39 tahun ini. 


Rake memang baru pertama kali mengikuti kompetisi tingkat internasional. Dia adalah warga pertama di Dusun Pulau Merah, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur, yang mampu berselancar. Bagi ayah dua anak ini, berselancar adalah pekerjaan keduanya setelah mencari ikan alias sebagai nelayan. 

Tinggal 200 meter dekat pantai Pulau Merah, membuat Rake lebih dulu akrab dengan olahraga air ini. Dia belajar surfing sekitar 2009 lalu, dari para turis dan wisatawan Bali yang berselancar di Pulau Merah. Saat itu ia sedang mencari ikan di laut, dan terpesona dengan aksi turis bermain-main dengan ombak. "Pertama kali lihat saya langsung greget ingin belajar surfing," kata dia kepada Tempo, Kamis 30 Mei 2013.

Rake belajar selama empat bulan kepada sejumlah peselancar asal Bali yang rajin mengunjungi Pulau Merah. Dari pertemanan dengan peselancar luar, dia mengunjungi sejumlah pantai di Bali. Saat itu dia hendak membeli sebuah papan selancar. "Tapi karena harganya mahal, akhirnya batal beli," kata suami Dariah ini.

Selama bermain surfing di Pulau Merah, Rake memakai papan selancar pinjaman dari seorang peselancar Bali bernama Syaiful. Rake baru memiliki papan selancar sendiri, hadiah turis asal Australia, Rachel, sekitar awal 2011. Hadiah itu setelah Rake ditantang menaklukan Pantai Plengkung di Banyuwangi, yang ombaknya terbaik kedua setelah Hawaii. "Saya berhasil beratraksi dalam lima ombak," kata Rake.

Mendapat papan surfing bertipe short board 5,10, hobi selancar Rake makin menjadi-jadi. Dia mulai berkeliling ke Jawa Barat hingga Jawa Timur. Mulai Pantai Pangandaran di Jawa Barat, Pacitan, Blitar, Tulungagung, Malang, hingga hampir seluruh pantai di Bali. Uniknya, perjalanan itu ia lakukan seorang sendiri dengan bekal pas-pasan.

Pernah, dia kehabisan uang saat berada di Pantai Serang, Blitar, pada April 2013 lalu. Bekal Rp 500 ribu ternyata tak cukup. Akhirnya, Rake terpaksa bergabung dengan nelayan setempat selama satu minggu demi mendapat ongkos untuk pulang. "Dapat Rp 200 ribuan saya lalu pulang," kata dia sambil menertawakan pengalamannya tak terlupakan itu.

Rake biasanya mengetahui pantai-pantai bagus tersebut dari sesama peselancar. Kebetulan sejumlah peselancar pernah datang ke Pulau Merah dan akhirnya berkenalan dengan Rake. Setelah saling bertukar nomor telepon, beberapa bulan kemudian Rake pasti berkunjung. 

Dari sejumlah pantai yang ia jelajahi, pengalaman Rake di pantainya sendiri pada pertengahan 2012 lalu paling tak terlupakan. Di saat ia berselancar, tiba-tiba ombak setinggi empat meter datang menghajarnya. Rupanya tali yang ia pasang di papan terlalu kecil sehingga langsung terputus di gulung ombak besar itu. Rake nyaris tenggelam di tengah laut, sementara papan selancarnya sudah sampai di pantai. "Tapi saya tak pernah kapok, sudah resiko jadi peselancar," kata Rake yang hanya lulusan SMP ini.

Punya hobi baru, membuat lelaki setinggi 165 centimeter ini harus pandai berbagi waktu sebagai nelayan. Biasanya ketika ombak tenang, Rake akan mencari ikan. Namun bila ombak sedang besar, dia pun meliburkan diri dan kembali menjelajah pantai-pantai di Pulau Jawa atau Bali. Sekali menjelajah, dia bisa menghabiskan waktu hingga tiga pekan.

Rake biasa mencari ikan bersama lima orang nelayan lainnya ke Samudera Hindia dan Selat Bali.  Mereka terkadang memperoleh 10 kg-15 kg lobster, tongkol dan kerapu. Ikan-ikan itu kemudian diambil tengkulak dengan harga Rp 120 ribu / kilogram. 

Rake menuturkan dia membiayai hobinya selancar dengan menyisihkan beberapa lembar uang dari hasil menjual ikan tersebut. Pendapatan lainnya berasal dari tips saat menemani turis-turis yang berselancar di Pulau Merah atau Plengkung. "Tipsnya antara Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu," katanya.

Lelaki yang punya berat badan 59 kilogram ini juga menjual jasa sebagai tukang servis papan selancar. Keahliannya ini ia dapat dari seorang kawannya di Bali. Tarif servis bergantung dari parah tidaknya papan yang rusak. Tapi tarif paling mahal hanya ia banderol Rp 200 ribu.

Dari seluruh pendapatannya ini, Rake mulai mengkoleksi papan selancar. Di rumahnya kini terdapat 13 papan selancar, separuhnya ia beli baru dan separuhnya lagi bekas. Papan selancar bekas ia beli seharga Rp 700 ribuan, sedangkan harga papan baru bervariasi antara Rp 2 juta - Rp 4 juta. Seluruh koleksinya ini ia sewakan untuk wisatawan di Pulau Merah dengan tarif Rp 30 ribu sehari.

Rake rupanya tak ingin menikmati hobinya sendiri. Sejak 2012, dia mengajari 6 bocah di daerahnya berselancar di Pulau Merah. Ia bercita-cita supaya makin banyak warganya yang menyukai olahraga itu. "Saya juga berharap Pulau Merah ramai seperti Bali," kata dia. 

Warga Pulau Merah lainnya yang tumbuh sebagai peselancar adalah Muswandi. Lelaki 27 tahun itu, kini menjadi peselancar amatir yang mendapat sponsor papan selancar dari Blue Fin Surfing Factor yang bermarkas di Bali. Dia beberapa kali telah menaklukan ombak di Grajagan, Plengkung dan hampir seluruh laut di Bali.

Muswandi bercerita, dia mulai belajar surfing pada awal 2010 lalu. Saat bersantai di pantai, saat itu dia melihat  empat  turis Australia yang memainkan papan selancarnya. Dia kemudian mendekati pemandu wisata bernama Mulyono yang membawa keempat turis itu. 

Muswandi akhirnya sering bertemu dengan Mulyono. Dari guide asal Jember itulah, Muswandi meminjam papan selancar dan belajar surfing. "Saya belajar sekitar tiga bulan," kata dia kepada Tempo, Kamis 30 Mei 2013.

Setelah mampu berdiri di atas papan, Muswandi makin tergila-gila dengan olahraga itu. Hampir setiap hari dia berselancar. Biasanya dia melakukannya sore hari, setelah bekerja di bengkel motor yang terletak di kota kecamatan setempat. 

Bosan di bengkel, lelaki yang memiliki tinggi 165 centimeter ini, meminta pekerjaan ke Mulyono. Kemudian dia ditawari menjaga toko Red Island Surf Shop, di Jalan Benesari, Kuta, Bali. Di toko yang menyediakan perlengkapan surfing ini, Muswandi bekerja tanpa gaji, hanya mendapatkan makan dan kamar tidur. 

Saat berada di Bali inilah, hobbi barunya menemukan tempat yang tepat. Dia bertemu dengan ratusan peselancar di Pantai Kuta. Dia pun berbagi waktu. Mulai jam tujuh pagi dia berada di toko dan sekitar pukul tiga sorenya dia berselancar. Dari interaksi dengan peselancar pantai Kuta inilah, Muswandi akhirnya mendapat hadiah papan selancar dengan spesifikasi short board bertipe 6,4. 

Lelaki lulusan SMK PGRI 3 Jember itu mulai ketiban rejeki dari hobi barunya. Dia menjadi juru foto bagi turis-turis yang ingin mengabadikan aksinya berselancar di Kuta. Dari pekerjaan ini, Muswandi mendapatkan tip rata-rata Rp 500 ribu per orang. Dalam sebulan dia bisa mengumpulkan hingga Rp 3 juta. Uang tip ini yang ia pakai sebagai biaya hidup di Bali. "Tapi kadang pernah satu bulan tak pernah dapat order," kata lelaki berbobot 60 kilogram ini.

Selain jadi juru foto, sesekali Muswandi menjadi supir bagi turis yang ingin berselancar di kampung halamannya, Pulau Merah. Dalam satu bulan dia bisa membawa tiga kali rombongan turis dari Bali. Upahnya bervariasi antara Rp 100 ribu - Rp 200 ribu.

Bersama komunitas peselancar di Kuta, Muswandi mulai menjajal ombak-ombak yang lain. Di Bali hampir seluruh lautnya ia jelajahi. Di Banyuwangi, selain Pulau Merah dia mengunjungi Pantai Grajagan dan Plengkung.

Muswandi juga pernah hampir tenggelam saat berlatih di Pulau Merah.  Talinya putus saat dihantam ombak besar. Dia terombang-ambing di tengah laut, hingga akhirnya ombak besar datang lagi dan menghempaskannya ke pantai. Sejak peristiwa ini, Muswandi berhenti surfing selama dua bulan. "Saya benar-benar trauma," katanya.

Dia baru berani berselancar lagi setelah didesak beberapa peselancar dari Bali yang datang ke Pulau Merah. Dari pengalaman pertama itu, Muswandi mencamkan dua pesan penting yakni jangan pernah berselancar sendirian dan tetap tenang saat ombak besar datang.

Awal 2013, Muswandi berkenalan dengan pemilik Blue Fin Blue Fin Surfing Factor, Agus Lee. Perusahaan ini memiliki pabrik pembuatan papan surfing dan promotor peselancar. Kebetulan toko yang ia jaga, berdekatan dengan restoran milik Agus Lee. Dari perkenalan itu, Muswandi saat ini bekerja sebagai supir yang mengantar turis berselancar. 

Agus Lee pula yang membantu Muswandi mewujudkan Kompetisi Selancar Internasional di Pulau Merah pada 24 Mei - 26 Mei lalu. Untuk menyiapkan kompetisi ini, Muswandi membentuk Komunitas Pulau Merah. Sebanyak 20 orang anggota di dalamnya merupakan peselancar lokal yang tumbuh di Pulau Merah. IKA NINGTYAS