Monday, August 19, 2013

Kotoran Musang yang 'Menggiurkan'

Busaman membagikan bekicot mentah pada sepuluh luwak yang berada di kandang. Luwak-luwak itu langsung menyambar makan paginya dengan lahap. Hanya butuh satu jam, seluruh luwak telah menghabiskan makanannya.

Kesepuluh luwak itu ditangkap Busaman dari kampungnya, Dusun Suko, Desa Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, pada Januari lalu. Luwak-luwak itu ditangkap untuk persiapan masa panen kopi yang dimulai April hingga Mei mendatang. Busaman menempatkan kandang-kandang luwak itu di seperempat hektare halaman rumahnya.


Bekicot, menurut Busaman, menjadi salah satu makanan alternatif Luwak saat tak musim kopi. Makanan lainnya adalah nasi dan buah-buahan. Busaman menghabiskan hampir satu kilogram bekicot setiap harinya yang di beli dari pasar desa setempat.

Busaman menangkap luwak-luwak itu untuk menghasilkan kopi luwak di musim kopi nanti. Dia bekerja sama dengan pengusaha muda pemilik UD Nusantara Jaya, Reza Herta Irawan, sejak 2007 lalu.  

Sebagian besar warga di Dusun Suko memiliki kebun kopi robusta. Rata-rata mereka punya seperempat hektare yang ditanam di halaman rumah. Setiap kali akan panen, Busaman menuturkan, warga memburu luwak karena banyak buah kopinya yang dimakan oleh binatang yang bernama asli musang itu.

Sebelum 2007, warga di kampungnya tak pernah tahu jika kotoran binatang itu bisa menghasilkan kopi enak dan harganya mahal. "Sebelumnya kotoran luwak ya dibuang," kata lelaki berusia 52 tahun, Rabu 6 Maret 2013.

Kemudian, kata Busaman, setelah bekerja sama dengan UD Nusantara Jaya, warga mulai ramah dengan binatang liar itu. Selain menjual kopi untuk pasar lokal, kotoran luwak yang mereka temukan di kebun kini bisa mereka jual dengan harga Rp 75 ribu per kilogram. "Kalau jual kopi biasa harganya cuma Rp 5 ribu per kilo," kata dia.

Pemilik UD Nusantara Jaya, Reza Herta Irawan, mengatakan, saat masa panen, produksi kopi luwaknya mencapai 70 kilogram. Dari jumlah itu, sebanyak 30 kilogram bijih kopi luwak dia ekspor ke Korea. "Sisanya untuk melayani pasar nasional," kata lelaki 33 tahun ini.

Menurut Reza, permintaan kopi luwak yang dibanderol dengan merek "Banyuwangi Coffee" itu sebenarnya mencapai 1,2 ton per bulan. Namun langkanya bahan baku membuat jumlah produksi pun sangat terbatas.

Reza menuturkan, awalnya dia berbisnis ekspor meubeleir ke Korea. Namun usaha yang dirintisnya sejak tahun 2000 ini kehilangan konsumen di awal 2007. Ayah empat anak itu kemudian berpikir keras mencari komoditi lain yang lebih diterima di pasar Korea. 

Pilihan Reza akhirnya jatuh pada kopi luwak dari perkebunan rakyat. Dia melihat Banyuwangi memiliki perkebunan rakyat sangat luas namun belum tergarap. Selama ini, produksi kopi luwak hanya dihasilkan oleh perkebunan besar baik milik PTPN maupun perusahaan swasta.

Reza kemudian mensurvey desa-desa di Kecamatan Kalipuro yang memiliki kebun kopi rakyat. Dia bertemu dengan sejumlah petani kopi dan mensosialisasikan tentang luwak. Tak hanya itu dia membuat sayembara kepada mereka yang berhasil menangkap luwak akan mendapat kompensasi Rp 50 ribu per ekor. 

Berkat sayembara itu, dalam waktu satu bulan Reza bisa mengumpulkan 150 ekor luwak. Tapi saat itu dia belum mengenali karakter luwak. Hewan itu akan menjadi kanibal bila dikumpulkan dengan luwak yang lebih kecil. Jadilah, 100 ekor luwak mati hanya dalam seminggu.

Reza kemudian mengubah strateginya. Luwak-luwak yang tersisa kemudian dipisah menjadi enam lokasi yang tersebar di tiga dusun. Dia bekerja sama dengan petani setempat untuk mengurus luwak-luwak itu. Setiap petani dia beri upah Rp 1,1 juta per bulan. 

Saat panen, dia membeli buah kopi yang berwarna merah menjadi ransum bagi luwak-luwaknya. Menurut Reza, hanya kopi bijih merah yang diminati oleh luwak. Selain membudidayakan sendiri, dia juga membeli kotoran luwak dari petani lain.

Untuk memastikan kualitasnya, dia memproses kopi luwak di rumahnya sendiri di Desa Kopen Baya, Kecamatan Giri. Mutu dan cita rasa produk kopi luwaknya, telah mendapat sertifikat dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia dan Laboratorium Sucofindo. 

Di Korea harga kopi luwak robusta bubuk mencapai Rp 600 ribu per kilogram. Sementara harga kopi luwak arabika Rp 900 ribu per kilogram. "Sedangkan dalam bentuk biji harganya Rp 500 ribu per kilogram," kata dia.

Namun dalam setahun terakhir hanya Busaman, satu-satunya petani yang tetap membudidayakan luwak. Hal itu disebabkan, luwak membutuhkan biaya perawatan yang besar seperti untuk makanan. Selain itu setahun sekali, luwak harus dilepas supaya dapat berreproduksi di alam.  

Sehingga, saat tak musim kopi, Reza lebih sering mencari bahan baku dari Sumatra dan Sulawesi. Selain menjual kopi luwak, Reza juga mengekspor kopi lain seperti robusta dan arabika. 

Untuk mensiasati pasar, Reza juga melayani jasa wisata "Coffee Touring" dengan berkeliling perkebunan-perkebunan kopi serta menyaksikan langsung proses pembuatan kopi. IKA NINGTYAS