Monday, August 19, 2013

Harta Karun Kedaton Wetan

Misyono tak pernah menyangka, mimpi bertemu perempuan cantik pada malam sebelumnya, seolah menjadi sebuah pertanda. Pada pagi harinya, dia menemukan sebuah arca sepulangnya mencari rumput di alas Baluran. Arca itu bercirikan seorang wanita, dalam posisi duduk bersila dan satu tangan bersemedi.

Arca setinggi 40 centimeter itu berada di bawah akar pohon jati. Misyono melihat arca berwarna kehitaman itu tanpa sengaja ketika hendak buang air kecil di hutan Taman Nasional Baluran, 10 Maret 2013 lalu, sekitar pukul 10.00 WIB. Letak pohon jati itu dari jalan raya hanya sekitar 100 meter. "Awalnya saya kira cuma patung biasa," kata dia kepada Tempo, Selasa 2 April 2013. 
Lelaki berusia 44 tahun itu, kemudian menaruh arca di atas tumpukan rumput yang dia bawa dengan sepeda motor. Sebelum pulang, ternyata ada seorang laki-laki yang mobilnya sedang mogok di pinggir alas, berniat membeli arca. Lelaki itu menyorongkan lima lembar uang seratus ribu. "Tapi saya tolak. Tidak ada keinginan menjual patung," kata dia.  

Temuan arca seberat 15 kilogram itu menggegerkan tetangga Misyono di Dusun Karangtengah, Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur. Hingga akhirnya temuan itu didengar oleh Forum Penyelamat Cagar Budaya, organisasi lokal yang bergerak dalam penyelamatan benda-benda bersejarah. Mereka kemudian mendekati Misyono supaya mau menyerahkan arca yang terbuat dari batu andesit itu ke Pemerintah Situbondo.

Upaya Forum Penyelamat akhirnya membuahkan hasil. Pada 14 Maret 2013, di Pendopo Kabupaten Situbondo, Misyono akhirnya menyerahkan arca itu ke Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto. 

Juru bicara Forum Penyelamat, Irwan Rakhday, mengatakan arca itu diduga Dewi Tara, berdasarkan ornamen pada alas arca yang menyerupai bunga teratai. "Ornamen teratai menunjukkan orang-orang suci," kata Irwan, 14 Maret lalu. Dewi Tara adalah lambang Buddha yang bermanifestasi dalam bentuk seorang wanita. 

Dari temuan arca itu, Forum Penyelamat kemudian menelusuri dusun-dusun lain yang warganya disebut-sebut pernah menemukan benda-benda purbakala. Ternyata benar. Berjarak sekitar lima kilometer dari alas Baluran, tepatnya di Dusun Melik, Desa Sumberrejo, anggota Forum menemukan banyak benda-benda kuno pada 17 Maret 2013. 

Seorang warga dusun itu, Nihalil, ternyata sudah setahun lamanya menyimpan 23 artefak di antaranya berupa dua lesung batu, arca tembikar, empat keramik, tiga gerabah dan kendi. "Saya temukan benda-benda itu pada April 2012," kata Nihalil, 57 tahun, kepada Tempo.

Bapak dua anak itu, menemukan sebagian artefak tersebut secara tak sengaja saat bekerja sebagai penggali pasir di sebuah ladang jagung yang terletak sekitar 2 kilometer dari rumahnya. Menurut Nihalil, sebagian benda lainnya hasil temuan dari beberapa teman sejawatnya.

Di dusun itu masih hidup kepercayaan, bahwa membawa pulang barang-barang kuno ke rumah adalah pantangan. Warga juga tidak berani menjualnya. Maka, warga hanya menaruh artefak itu di pinggir ladang atau menguburnya lagi ketika menemukan barang antik saat menggali pasir. "Pernah ada yang bawa pulang lesung batu. Ternyata besoknya langsung sakit," kata Nihalil.

Nihalil sendiri berani membawa pulang artefak-artefak itu setelah didatangi mimpi. Dalam mimpinya seolah ada pesan bahwa Nihalil harus merawat benda-benda itu. Berkat pendekatan Forum Penyelamat Cagar Budaya, tiga hari kemudian, Nihalil secara sukarela menyerahkan seluruh benda simpanannya pada Pemerintah Situbondo.

Selain menemukan artefak, Forum Penyelamat Cagar Budaya juga mendapati struktur bangunan dari batu bata yang memanjang di kedalaman tiga meter di dalam tanah. Batu bata tersebut tiga kali batu bata saat ini, tepatnya berukuran 36 x 20 x 8 sentimeter. 

Tempo yang mengikuti penelusuran itu juga menemukan banyak batu bata berukuran besar yang berserakan di ladang jagung seluas lebih dari 10 hektare. Beberapa batu bata bahkan bermotif. Menurut Nihalil, penduduk sekitar mengambil batu bata tersebut untuk membangun kamar mandi dan sumur. 

Enam kilometer dari Dusun Melik, yakni di dusun Widoro Pasir, Desa Sumberrejo, Forum Penyelamat mendapati sebuah prasasti beraksara sanskerta dan berangka tahun 1453. Sayangnya pahatan tulisan di prasasti sudah agak rusak sehingga tak terbaca.

Menurut Irwan Rakhday, pihaknya belum mengetahui pasti deskripsi mengenai artefak, arca dan struktur batu bata itu. Namun kesimpulan sementara, dia menduga temuan-temuan itu datang dari masa klasik Hindu-Budha. "Kita masih membutuhkan penelitian arkeologis lebih lanjut," kata dia.

Pemerintah Situbondo dan Forum Penyelamat sudah berkirim surat permohonan penelitian ke Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Trowulan di Mojokerto dan Balai Arkeologi Yogyakarta. Sedangkan seluruh artefak dan arca kini disimpan oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Olahraga Situbondo. "Dari benda-benda temuan ini, tahun depan kami ingin membuat museum," kata Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Olahraga, Sugiyono.

Sejarawan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Sri Margana, meyakini bahwa arca yang ditemukan di Hutan Baluran adalah arca Dewi Tara. Menurut dia, tipe arca Dewi Tara seperti itu muncul sebelum abad ke-11. Temuan arca tersebut, kata dia, cukup menarik, sebab selama ini temuan arkeologis Budha di Jawa Timur sangat minim. "Di Jawa Timur tidak ada kerajaan bercorak Budha, yang ada kerajaan Hindu," kata dia. 

Selama ini, kata Margana, banyak ilmuwan  percaya bahwa Buddha hanya berkembang di Jawa Tengah karena image Borobudur. Dengan temuan arca Dewi Tara itu menunjukkan bahwa perkembangan Buddha juga sampai di ujung timur Jawa. 

Dia menduga arca itu berkaitan dengan orang-orang Cina di ujung timur Jawa. Sebab Dewi Tara alias Buddha perempuan itu cukup terkenal di Cina dan Tibet. Sehingga ada kemungkinan peradaban Buddha hidup berdampingan dengan Hindu di ujung timur Jawa pada periode tersebut. "Tapi kepastiannya, umur benda itu harus diuji dulu dari kedalaman tempat, kekerasan dan bahannya," kata penulis buku "Perebutan Hegemoni Blambangan" ini.

Ketua Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur, Mansoer Hidayat, mengatakan, artefak dan arca di sekitar Hutan Baluran itu diperkirakan berasal dari Kerajaan Patukangan yang menjadi bagian wilayah Lamajang Tigang Juru pada tahun 1293 Masehi. 

Menurut penulis buku "Sejarah Lamajang" ini, sesuai "Perjanjian Sumenep" antara Raden Wijaya dan Arya Wiraraja bersepakat bahwa tanah Jawa dibagi menjadi dua. Yakni barat untuk kekuasaan Majapahit dan timur untuk Lamajang Tigang Juru. Raden Wijaya memberikan Lamajang Tigang Juru kepada Arya Wiraraja  yang telah membantunya mendirikan Majapahit. 

Lamajang Tigang Juru meliputi Lamajang (Lumajang), Petukangan (Panarukan, Situbondo) dan Blambangan (Banyuwangi). Mulai jaman Arya Wiraraja ini, putra-putrinya memimpin pemerintahan di Kawasan Tapal Kuda. Kerajaan Patukangan sendiri terkenal sebagai pelabuhan dagang internasional sehingga mendongkrak ekonomi kerajaan. 

Kerajaan Patukangan juga mengembangkan daerah-daerah karesian dan kependetaan seperti yang ada di daerah sekitar gunung Baluran. Di wilayah ini para resi dan pendeta kemudian banyak melakukan aktivitas keagamaan sebagai simbol kebesaran sebuah kerajaan. "Tidak mengherankan jika di sekitar hutan Baluran banyak ditemukan struktur bangunan dan temuan-temuan yang dapat dihubungkan dengan aktivitas keagamaan," kata dosen IKIP PGRI Jember ini. 

Menurut Mansoer, arca perempuan yang ditemukan Misyono merupakan simbol dari arca permaisuri Arya Wiraraja bernama Dewi Ayu Pinatih yang diwujudkan dalam bentuk patung Dewi Tara. Saat itu, kata dia, perwujudan para raja yang beragama Syiwa sering diwujudkan dalam simbol agama Buddha. Sebab pada era Singosari, Majapahit dan Lamajang Tigang juru, sinkretisasi keagamaan antara Syiwa dan Budhha sangat kuat. IKA NINGTYAS