Monday, August 19, 2013

Serba Banyuwangi di Dapur Oesing

Lagu daerah Banyuwangi menghentak-hentak dari pengeras suara. Beraliran dangdut koplo, lagu itu menemani santap siang Niklas Andreas bersama enam orang koleganya, Kamis 13 Juni 2013. Beberapa mangkuk rujak soto telah terhidang di atas meja.

Di wisata kuliner Dapur Oesing itu, Niklas menjamu tamunya sekaligus menggelar rapat kecil membahas klub sepak bola daerahnya, Persewangi. "Meeting maupun acara keluarga sering saya gelar disini," kata Humas Persewangi ini, 13 Juni 2013.

Berkah Perahu Bekas

Tossan mengamplas sebuah rak botol di bagian belakang bengkel meubelnya. Rak setinggi dua meter itu harus diperhalus setelah sebagian body-nya yang berlubang didempul dengan lem kayu. Setelah halus, rak tersebut memasuki tahap akhir yaitu divernis dengan warna coklat salak.

Bentuk rak kayu tersebut berbeda dari yang lain. Bagian alas hingga tengah memiliki lebar 40 centimeter dan meruncing pada bagian atasnya. Beberapa lajur besi untuk tempat gelas terpasang di bagian bawah. Sedangkan bagian atas terdapat dua sekat untuk menempatkan botol-botol minuman. 

Peselancar Pulau Merah: Dari Nelayan Hingga

Bercelana hitam pendek, Poniran Rake berdiri di atas papan selancarnya. Ombak setinggi tiga meter di Pulau Merah telah ada dihadapannya. Dia masuk ke dalam gulungan ombak itu, bermanuver ke arah kiri, lalu muncul di atas ombak yang akan pecah ke pantai. 

Namun hanya dua ombak 'cantik' di Pulau Merah, Banyuwangi, yang ia dapatkan. Selain ombak yang kurang power, Rake kelelahan sehingga tak maksimal beratraksi dalam Kompetisi Selancar Internasional, Jumat 24 Mei 2013 lalu. "Meski gagal saya puas bisa ikut kompetisi," kata lelaki 39 tahun ini. 

Seblang Olehsari, 7 Hari Menolak Bala



Si pawang mendekatkan asap kemenyan yang baru dibakarnya ke wajah Suidah. Beberapa detik, gamelan yang ditabuh para wiyogo mengalun bersama suara sinden. Mereka menyanyikan gending dalam bahasa Using, khas Banyuwangi. Suidah, dengan mata terpejam dibalik mahkota di kepalanya, lantas bangkit. Tubuh, tangan dan kakinya yang ramping bergerak menari mengikuti alunan gending-gending kuno.

Tiga orang mengikuti Suidah menari. Satu lelaki di depan disebut pengudang. Dua lagi, seorang perempuan dan laki-laki yang dijuluki pengiring menguntit dari belakang. Mereka menari mengelilingi sebuah panggung berbentuk lingkaran, hingga 28 gending selesai dinyanyikan. Tiga jam yang penuh aroma mistis nan menggetarkan.

Harta Karun Kedaton Wetan

Misyono tak pernah menyangka, mimpi bertemu perempuan cantik pada malam sebelumnya, seolah menjadi sebuah pertanda. Pada pagi harinya, dia menemukan sebuah arca sepulangnya mencari rumput di alas Baluran. Arca itu bercirikan seorang wanita, dalam posisi duduk bersila dan satu tangan bersemedi.

Arca setinggi 40 centimeter itu berada di bawah akar pohon jati. Misyono melihat arca berwarna kehitaman itu tanpa sengaja ketika hendak buang air kecil di hutan Taman Nasional Baluran, 10 Maret 2013 lalu, sekitar pukul 10.00 WIB. Letak pohon jati itu dari jalan raya hanya sekitar 100 meter. "Awalnya saya kira cuma patung biasa," kata dia kepada Tempo, Selasa 2 April 2013. 

Anggrek Indah yang Membuat Gundah

Belasan pot anggrek bergantungan di bawah atap kios bunga Khatulistiwa, di Jalan Kepiting, Banyuwangi, Jawa Timur. Bunganya yang berwarna ungu bermekaran. Anggrek-anggrek itu dipajang di antara bunga hias lainnya, menunggu pembeli.



Kotoran Musang yang 'Menggiurkan'

Busaman membagikan bekicot mentah pada sepuluh luwak yang berada di kandang. Luwak-luwak itu langsung menyambar makan paginya dengan lahap. Hanya butuh satu jam, seluruh luwak telah menghabiskan makanannya.

Kesepuluh luwak itu ditangkap Busaman dari kampungnya, Dusun Suko, Desa Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, pada Januari lalu. Luwak-luwak itu ditangkap untuk persiapan masa panen kopi yang dimulai April hingga Mei mendatang. Busaman menempatkan kandang-kandang luwak itu di seperempat hektare halaman rumahnya.

Alih Hutan Demi Emas

Jarno baru saja mengalirkan air irigasi ke tanaman padi miliknya. Kemudian, ia berkeliling ke seperempat hektare sawahnya, memastikan seluruh tanaman padi tergenang air. Padinya mulai berbulir. Sebulan nanti, lelaki 37 tahun itu yakin bisa memanennya.

Saluran irigasi di Kecamatan Pesanggaran hanya mengalirkan air secara bergantian ke setiap petak sawah selama sepekan sekali. Setiap petani hanya mendapat jatah air dua hari. Petani harus mau berbagi, karena air di daerah itu tergolong barang langka.