Tuesday, February 12, 2013

Masih Antre di Tanjung Wangi


Empat mesin derek bergerak naik turun membongkar isi kapal Isa Lucky Jakarta yang memuat semen Tiga Roda. Isi muatan itu dipindahkan ke truk-truk yang berjejer di sepanjang dermaga. Bila sudah penuh, satu-persatu truk membawa semen tersebut ke gudang yang berjarak 300 meter dari pelabuhan.

Hari itu, Jumat, 25 Januari 2013, merupakan hari ketiga aktivitas bongkar muat semen Tiga Roda di Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur. Ada 26 ribu ton semen yang harus dibongkar dari kapal sepanjang 110 meter itu. 

Menurut pengawas bongkar muat, Wawan Edi Purwantono, bongkar-muat semen membutuhkan waktu berminggu-minggu. Sebab kemampuan alat bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Wangi hanya mampu 1.000 ton perhari. Selain itu, bongkar muat sangat bergantung pada cuaca. "Kalau hujan harus berhenti, karena semen tak bisa kena air," kata dia, Jumat, 25 Januari 2013. 

Semen yang diproduksi PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk itu, kata Wawan, melakukan bongkar-muat di Tanjung Wangi sejak 2007. Semen-semen tersebut untuk memenuhi kebutuhan di Banyuwangi dan kabupaten sekitarnya, bahkan hingga Bali.

Selain kapal Isa Lucky, masih ada tiga kapal lain yang sudah 20 hari bongkar muatan pupuk di dermaga yang memiliki panjang 518 meter itu. Terbatasnya dermaga mengakibatkan enam kapal lain harus menunggu di lautan untuk bisa sandar di pelabuhan yang terletak di Selat Bali ini. 

Aktivitas bongkar muat di Tanjung Wangi sudah dua tahun ini semakin padat. Sepanjang 2012 jumlah kapal yang datang sebanyak 1.250 unit meningkat dibanding 2010 yang mencapai 1.162 unit. Ada 13 perusahaan pelayaran yang rutin bongkar muat di Tanjung Wangi mulai komoditas semen, beras, pupuk, minyak sawit, ikan beku serta kapal pendukung minyak lepas pantai.

Pelabuhan Tanjung Wangi merupakan pelabuhan kelas II yang mulai dibuka tahun 1985. Pelabuhan yang awalnya bernama Pelabuhan Meneng ini disiapkan menjadi pelabuhan ekspor-impor oleh Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Jawa Timur.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, Wahid Wahyudi, mengatakan, Pelabuhan Tanjung Wangi disiapkan untuk memback-up Pelabuhan Tanjung Perak terutama melayani ekspor-impor perusahaan di wilayah Banyuwangi, Jember, Situbondo, Bondowoso dan Lumajang. "Jadi mereka tak perlu ke Surabaya, ongkosnya lebih irit," kata Wahid dihubungi Tempo, Selasa, 29 Januari 2013. 

Menurut dia, beban Tanjung Perak selama ini sangat berat. Selain melayani perusahaan-perusahaan di Jawa Timur juga menjadi sentra ekonomi Indonesia kawasan timur. "Beban Tanjung Perak itu lebih besar daripada Tanjung Priok," katanya.

Pelabuhan yang terletak 10 kilometer arah utara kota Banyuwangi itu dipilih, kata Wahid, karena secara geografis sangat strategis sebagai pintu di bagian timur Pulau Jawa. Kedalaman lautnya mencapai minus 14 low water spring (LWS) yang memungkinkan kapal dengan bobot 33.000 gross ton bisa sandar. 

Menurut Wahid, Pemerintah Jawa Timur secara bertahap sudah melakukan pembagian beban bongkar muat dari Tanjung Perak ke Tanjung Wangi. Sejak tahun 2011, bongkar-muat beras impor milik Bulog dari India dan Thailand sebanyak 28 ribu ton sudah dialihkan ke Tanjung Wangi. 

Sementara untuk kegiatan peti kemas yang sudah direncanakan sejak tahun 2003 tak kunjung terealisasi.  Penyebabnya, kata Wahid, infrastruktur dan fasilitas peti kemas belum dimiliki Tanjung Wangi. Seperti, belum tetapnya jadwal kapal dan terbatasnya dermaga.

Administrator Pelabuhan Tanjung Wangi, Sri Sukesi, mengatakan, ekspor sebenarnya pernah dimulai tahun 2011. Ekspor perdana berupa pasir besi milik PT Pakar Sejahtera asal Lumajang dengan tujuan Jepang. Namun ekspor tidak berlanjut karena perusahaan tidak lagi berproduksi. "Waktu itu kapal sudah siap, tapi barang yang tidak ada," kata Sukesi, Jumat, 25 Januari 2013.

Menurut Sukesi, dermaga sepanjang 518 meter saat ini hanya mampu menampung empat kapal besar. Itupun masih bercampur untuk kapal perintis penumpang dan kapal nelayan. Sehingga, kata dia, waktu tunggu kapal yang akan masuk ke dermaga, kata dia, bisa mencapai satu bulan. "Sering kapal-kapal itu berebut masuk," katanya. 

Dalam master plan Pelabuhan Tanjung Wangi tahun 2010-2030, Sukesi menjelaskan, panjang dermaga idealnya bertambah 500 meter. Namun untuk tahap awal, dermaga akan diperpanjang hingga 150 meter. 

Sejak tahun 2011-2012, kata Sukesi, Kementerian Perhubungan mengucurkan APBN sebesar Rp 40 miliar. Anggaran itu diperuntukkan untuk reklamasi pantai seluas 1.500 meter persegi dan pembuatan dermaga baru sepanjang 31 meter. Namun, Sukesi menilai anggaran dari pusat tersebut cukup kecil. Padahal, untuk menambah dermaga sepanjang 150 meter dibutuhkan anggaran total Rp 129 miliar. 

General Manager PT Pelindo III Cabang Tanjung Wangi, Bangun Swastanto, mengatakan, sudah menyiapkan program untuk mempercepat Tanjung Wangi menjadi pelabuhan ekspor-impor. Pelindo menargetkan, Tanjung Wangi memiliki dermaga peti kemas pada akhir 2013.  Demi mencapai target itu, Pelindo akan membiayai perpanjangan dermaga 150 meter yang sebelumnya dibiayai Pemerintah Pusat. "Berapa kurangnya anggaran akan kami biayai," kata Bangun.

Penambahan dermaga peti kemas itu, kata dia, akan diiringi perluasan areal penumpukan kontainer menjadi 7.000 meter persegi dan menambah kargo serta crane sehingga mempercepat waktu bongkar muat.

Untuk membidik konsumen, kata Bangun, Pelindo telah melakukan penandatanganan kesepakatan dengan delapan eksportir di Banyuwangi dan Jember. Delapan eksportir itu menyatakan siap untuk menggunakan jasa Pelabuhan Tanjung Wangi bila infrastruktur dan fasilitas ekspor-impor telah siap. Pelindo mencatat, potensi ekspor dari perusahaan-perusahaan di wilayah Tapal Kuda mencapai 3.500 kontainer perbulan. 

Pelindo juga telah berkirim surat ke Menteri Perhubungan supaya difasilitasi bertemu perusahaan pelayaran. Dari pertemuan tersebut nantinya diharapkan ada perusahaan pelayaran yang siap membuka trayek dari Tanjung Wangi ke Singapura. "Bila kapal dan user ada, maka, mereka tinggal menentukan jadwal tetap keberangkatan," kata dia.

Sebagai perangsang, kata Bangun, Pelindo telah menyiapkan kemudahan sistem tarif bagi eksportir dan perusahaan pelayaran. Yakni gratis biaya labuh dan diskon separuh harga untuk biaya tambat di dermaga. Apabila aktivitas ekspor-impor telah ramai, maka tarif akan diberlakukan normal.

Bea Cukai, Bangun menambahkan, telah menyatakan kesiapannya untuk membuka jasa kepabeanan di Tanjung Wangi untuk memudakan eksportir mengurus dokumen perijinan. 

Ali Asegaf, 35 tahun, pemilik UD. Kayu Mas Banyuwangi, sebenarnya berharap Pelabuhan Tanjung Wangi bisa segera melayani ekspor-impor. Sebab dengan beroperasinya Tanjung Wangi, dapat menekan biaya produksi ketimbang harus melalui Tanjung Perak. 

Perusahaan pembuat lantai kayu itu, selama ini mengekspor barangnya ke Singapura dan Eropa melalui Tanjung Perak dengan menempuh jalur darat selama delapan jam. Jauhnya jalur darat itu, kata Asegaf, yang membuat ongkos makin tinggi. Dia harus merogoh uang Rp 4 juta untuk perjalanan satu kontainer. "Padahal sekali kirim bisa 4-5 kontainer," kata dia.

Namun dia meminta Pemerintah dan pengelola pelabuhan supaya serius melengkapi fasilitas dan infrastruktur seperti kapal yang berangkat tetap, ketersediaan kontainer dan loket pengurusan dokumen. "Pengusaha siap pindah asalkan pengelola pelabuhan juga serius melengkapi fasilitas," kata dia.

IKA NINGTYAS