Wednesday, February 20, 2013

Jangan Takut Bermimpi....


Apa kamu pernah bermimpi? Yah,...bermimpi apa saja tentang masa depanmu. Mimpi tentang sesuatu yang membuatmu lebih merasakan hidup...

Sejak kecil saya membiasakan hidup bersama mimpi. Bagi saya, apa yang saya mimpikan adalah tujuan hidup itu sendiri. Mimpi membuat saya yakin kita tak pernah sia-sia diciptakan di dunia ini...

Sejak TK saya punya kebiasaan memburu majalah anak-anak bekas. Kebetulan, kampung saya penuh dengan mereka yang hidup sebagai pemulung. Satu minggu sekali saya mendatangi mereka, para pemulung atau tempat penimbangan barang-barang bekas.

Saya menggali tumpukan koran bekas, buku bekas dan majalah bekas. Bagi saya yang datang dari keluarga pas-pasan, merasa bersyukur karena rata-rata kondisi majalah bekas itu masih cukup baik. Saya cukup kegirangan ketika menemukan majalah Bobo.



Setelah majalah bekas ditimbang beratnya, saya cukup membayar paling mahal Rp 2000. Dengan uang itu saya sudah mendapat tumpukan Bobo atau buku cerita anak-anak lainnya.

Saya suka membaca halaman puisi. Saya menikmati cerpen. Dari kesukaan itu, saya mulai membuat puisi dan cerpen. Pertama membuat puisi tentu cukup susah. Tapi akhirnya saya bisa membuat puluhan puisi.

Saya tak berhenti menulis. Dalam setiap pentas, saya mulai membacakan puisi. Saya teringat, ketika pentas perpisahan TK, saya membacakan puisi berjudul "Ibu". Ada ayah yang duduk di salah satu kursi undangan. Dia menitikkan air mata setelah saya selesai baca puisi. Tepuk tangan membahana. Sejak itu orang-orang di sekitarku tahu saya pintar bikin puisi.

Sejak itu saya bermimpi ingin jadi penulis.

Kebiasaan mengobok-ngobok gudang barang bekas berlanjut hingga SD. Bahkan kalau ada sedikit uang, saya pergi ke lapak buku bekas. Saya cari Bobo, atau majalah anak-anak lain yang terjangkau dengan kantong. Saya tetap menulis puisi dan cerpen. Di sekolah saya dikenal tukang deklamasi. Sesekali saya mengirim tulisan ke Bobo lewat kotak pos yang berdiri di depan sekolah. Tapi sayangnya tak pernah termuat.

Sejak itu saya bermimpi ingin jadi penulis yang tulisannya bisa dimuat di koran atau majalah.

SMP, ayah membelikan saya mesin ketik. Saya melonjak kegirangan. Puisi dan cerpen yang sebelumnya saya tulis dengan tangan,  saya rangkai melalui mesin tik. Tak tik tak tik tak tik. Puisi dan cerpen biasanya saya ketik sore hari.

Saya tak lagi memburu Bobo. Tapi berganti majalah-majalah remaja seperti Aneka, Kawanku dan Gadis. Puisi dan cerpenku yang semula tentang dunia anak berganti dengan tema-tema perkawanan dan cinta. Beberapa tulisan pernah saya kirim ke majalah-majalah itu. Tapi tak pernah termuat juga. Saya pernah kebingungan, kenapa karya saya tak pernah termuat? Kurang baguskah? Padahal saya selalu mengedarkan tulisan saya ke teman-teman sekelas. Dan mereka selalu bilang: "Hei cerpennya bagus!"

Mimpi saya belum padam untuk jadi penulis.

Saat pakai rok abu-abu, hobi saya mendapat media penyaluran. Ada ekstrakurikuler majalah sekolah yang terbit 6 bulan sekali. Tanpa berpikir dua kali, saya gabung ke redaksi majalah bernama SKETSA itu. Saya mengirim puisi dan cerpen lama saya. Dan, saya girang melihat karya-karya saya nangkring di majalah sekolah.

Selama hampir tiga tahun saya berkutat dengan redaksi SKETSA. Saya memanfaatkan kesempatan itu untuk menulis lebih beragam. Tak hanya puisi dan cerpen. Saya mulai mempelajari bagaimana menulis artikel, menulis profil, belajar reportase, belajar fotografi, mengelola keredaksian hingga menerbitkan majalah.

Ah, saya menemukan darah baru. Saya ingin jadi wartawan.

Saya sudah mantap ingin kuliah jurnalistik di Sekolah Tinggi Komunikasi Surabaya. Entahlah, kenapa tiba-tiba ingin kesana. Akhirnya saya tak pernah mencoba jalur ke perguruan tinggi negeri seperti yang banyak ditempuh kawan-kawan saya.

Jangan dikira setiap mewujudkan mimpi akan selalu mulus. Saya merasakan benar-benar terpukul ketika orang tua mengatakan tidak sanggup membiayai kuliah saya. Saya diminta kerja supaya bisa membayar kuliah sendiri.

*Saya sendiri tak bisa bayangkan saat itu. Sebagai perempuan, baru lulus sma, yang punya cita-cita kuliah, ternyata diminta cari rupiah. Ha, saya harus kerja apa? Dimana? Bagaimana caranya?*

Suatu saat ayah mendekat dan memberikan semangat: "Kamu kan bisa nulis. Coba-coba jadi wartawan"

Saya mengernyitkan dahi. "Emang bisa lulus SMA jadi wartawan?"

Sejenak saya lupakan kata-kata ayah. Saya kembali memburu majalah dan buku di lapak-lapak. Saya ingin membunuh waktu. Menganggur hanya akan membuat otak saya beku. Saya menenggelamkan diri ke majalah.

Saya mulai menaikkan kelas bacaan. Saya ingin membaca yang serius. Saya terpikat dengan majalah perempuan seperti Kartini, Tabloid Nova, dan aha...di lapak buku bekas saya melihat beberapa eksemplar Majalah Tempo.

Saya jatuh cinta pada Tempo sejak saat itu. Saya menganggumi tulisan-tulisannya. Saya mengaggumi laporan investigasinya.

Saya kemudian berujar dalam hati: "Aih, senangnya kalau bisa menjadi bagian dari mereka. Tapi mungkinkah? Tentunya mereka adalah orang-orang hebat..."

*Diam-diam saya bermimpi*

Februari 2013. Saya seperti bangun dari mimpi dan sedang menggenggam mimpi saya. Saya sudah menjadi penulis. Saya sudah menjadi wartawan. Dan sudah lima tahun saya menjadi bagian Tempo.

Jika mengingat begitu panjangnya perjalanan mimpi itu saya tertawa bangga. Saya memulai pekerjaan dari hobi saya, menulis. Menjadi reporter radio lalu berpindah-pindah koran. Dari penghasilan itu saya akhirnya bisa kuliah. Mei, 2008, kejutan itu datang ketika beberapa kawan menawari saya bergabung di Tempo.

Saya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Saya berusaha keras menulis sebaik-baiknya. Membaca puluhan buku. Saya tak ingin kalah.

Apa saya sudah puas?
Tidak. Saya tidak boleh puas!
Saya masih menyimpan sejuta mimpi dan sedang berusaha keras menggenggamya.

Banyuwangi, 20 Februari 2013