Thursday, October 31, 2013

Diplomasi Meja Makan

Kejutan itu tak selalu bernilai besar. 
Mendapat seperangkat meja makan pun adalah kejutan bagi saya....

Kemarin petang, setiba di rumah, saya terkejut karena di dapur sudah ada empat kursi kayu melengkapi meja makan. Pemberinya pasti ayah saya tercinta. Meja makannya telah tiba lebih dulu dua bulan sebelumnya. Berukuran 2x3 meter, berwarna coklat dari kayu sengon. Tak menyangka jika ayah akan melengkapi dengan kursinya sekaligus, dengan warna dan jenis kayu yang sama.

Tuesday, October 29, 2013

Menulis itu Menyenangkan

Berdiskusi dengan para remaja itu selalu membuat saya merasa lebih muda. Seperti Senin, 28 Oktober. Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Saya berdiri di hadapan ratusan siswa SMPN 1 Banyuwangi. Ini memang bukan kali pertama saya berbagi pengalaman dunia menulis untuk pelajar.

Tapi setiap kali berhadapan dengan pelajar --entah itu SMP atau SMA, saya merasakan semangat saya lebih menyala. Alam pikiran saya langsung bernostalgia. Mengingat 13 tahun lalu. Ketika masih memakai seragam putih-biru. Masa-masa pubertas. Masa pertama kali kenal cinta (monyet).

Friday, October 25, 2013

Lelah

Pernahkah pikiranmu tiba-tiba berhenti? Dan, kamu merasakan kepala dan matamu lelah amat sangat? Ya, Jumat pagi ini ketika tiba-tiba saya tak sanggup berpikir. Kepala saya berat. Kedua mata saya ingin terpejam lebih lama.

Di meja saya laptop masih menyala. Ada bejibun pekerjaan yang belum selesai. Bikin TOR kebebasan pers, peta riset kekerasan jurnalis, formulir keanggotaan AJI yang tercecer di email, editing buku, materi penulisan untuk siswa SMP. Dan, yah saya baru teringat nanti sore harus ke kampus menyelesaikan studi yang sudah 7 tahun tak beres-beres.

Tuesday, September 24, 2013

Jembatan Petani

Sigit Pramono mengawasi tiga karyawannya yang sedang mengaduk tumpukan serbuk coklat. Sesekali dia ikut membolak-balik serbuk berbau menyengat itu. Bila warna mulai menghitam, serbuk kemudian dimasukkan ke dalam karung ukuran 50 kilogram. Di ruangan paling belakang, ada puluhan karung serbuk telah siap didistribusikan.

Serbuk-serbuk itu sesungguhnya adalah pupuk organik dari campuran sampah dapur dan sabut kelapa. Setiap hari delapan ton pupuk organik didistribusikan ke sejumlah petani di Banyuwangi, Jawa Timur. Selain pupuk, di pabrik seluas 180 meter persegi itu, Sigit juga memproduksi pestisida dan hebrisida berbahan gen hayati. "Sebulan bisa mengolah 150 ton sampah dapur dari tempat pembuangan akhir sampah," kata Sigit ditemui di kantornya, Perumahan Sobo Kartika, Senin 23 September.

Bersama Kukuh Roxa dan Wahyudi, sejawatnya sesama alumni Departemen Agronomi dan Holtikultura Institut Pertanian Bogor, Sigit membangun bisnis sosial bernama Pandawa Putra Indonesia pada Juli 2012. Di perusahaan itu Sigit didapuk sebagai Chief Operations Officer. Sosial bisnisnya bergerak untuk mempopulerkan gerakan "Go Organic" ke petani padi Banyuwangi.

Friday, September 20, 2013

Pahitnya Nasib Petani Kedelai

Membawa sebuah ember, Samijan berkeliling ke lahan tanaman kedelai milik juragannya. Bulir kedelai yang tua, dia petik lalu dimasukkan ke ember itu. Namun wajahnya tak terlalu sumringah. Tanaman kedelai seluas 0,7 hektare atau sebahu itu tumbuh lebih pendek, sekitar 25 centimeter. "Terlalu sering hujan," kata lelaki 55 tahun ini, Selasa sore, 17 September 2013.

Samijan memprediksi hasil panen hanya 6 kuintal. Padahal bila hujan jarang datang, tinggi kedelai varietas anjasmoro itu bisa satu meter dan hasil panen pun hingga 12 kuintal. Tapi untunglah, anjloknya panen terbantu dengan harga kedelai yang sedang melonjak hingga Rp 8 ribu per kilogramnya. Pada panen triwulan sebelumnya, harga kedelai lokal hanya Rp 6.200 per kilonya.

Thursday, September 19, 2013

Saham Istimewa untuk Tuan Rumah

Rapat selama dua jam itu berlangsung tertutup. Sejumlah wartawan tak diperkenankan masuk ruangan khusus Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Rapat di Senin siang, 15 September 2013 itu dihadiri sejumlah anggota Badan Legislasi. Mereka dijadwalkan untuk mencecar eksekutif yang mengajukan perubahan keempat Peraturan Daerah No 13 Tahun 2007 tentang Penyertaan Modal. "Padahal pengesahan perubahan ketiga perda itu baru disahkan tahun 2012 lalu," kata Ketua Badan Legislatif, Handoko.



Friday, September 13, 2013

Mati Sunyi Pencipta Genjer-genjer

Dibungkus kresek putih, tiga buku tulis lusuh itu menguarkan bau debu menyengat. Warna kertasnya mulai memudar kecoklatan. Namun tulisan tangan di dalamnya masih terbaca jelas. Berisi ratusan lirik lagu dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah Using, lengkap dengan notasinya.

Di lembar kesebelas, judul lagu Gendjer-gendjer tertulis dalam warna merah. Di sebelah kanannya tergambar palu-arit, lambang yang dipakai Partai Komunis Indonesia saat itu. Gendjer-gendjer ditulis Muhammad Arief dalam bahasa daerah Using, Banyuwangi. Berisi tiga bait, masing-masing terdiri dari empat baris. "Lagu ini ditulis saat penjajahan Jepang tahun 1943," kata Sinar Syamsi, 60 tahun, anak Muhammad Arief, Rabu 11 September 2013.

Monday, August 19, 2013

Serba Banyuwangi di Dapur Oesing

Lagu daerah Banyuwangi menghentak-hentak dari pengeras suara. Beraliran dangdut koplo, lagu itu menemani santap siang Niklas Andreas bersama enam orang koleganya, Kamis 13 Juni 2013. Beberapa mangkuk rujak soto telah terhidang di atas meja.

Di wisata kuliner Dapur Oesing itu, Niklas menjamu tamunya sekaligus menggelar rapat kecil membahas klub sepak bola daerahnya, Persewangi. "Meeting maupun acara keluarga sering saya gelar disini," kata Humas Persewangi ini, 13 Juni 2013.

Berkah Perahu Bekas

Tossan mengamplas sebuah rak botol di bagian belakang bengkel meubelnya. Rak setinggi dua meter itu harus diperhalus setelah sebagian body-nya yang berlubang didempul dengan lem kayu. Setelah halus, rak tersebut memasuki tahap akhir yaitu divernis dengan warna coklat salak.

Bentuk rak kayu tersebut berbeda dari yang lain. Bagian alas hingga tengah memiliki lebar 40 centimeter dan meruncing pada bagian atasnya. Beberapa lajur besi untuk tempat gelas terpasang di bagian bawah. Sedangkan bagian atas terdapat dua sekat untuk menempatkan botol-botol minuman. 

Peselancar Pulau Merah: Dari Nelayan Hingga

Bercelana hitam pendek, Poniran Rake berdiri di atas papan selancarnya. Ombak setinggi tiga meter di Pulau Merah telah ada dihadapannya. Dia masuk ke dalam gulungan ombak itu, bermanuver ke arah kiri, lalu muncul di atas ombak yang akan pecah ke pantai. 

Namun hanya dua ombak 'cantik' di Pulau Merah, Banyuwangi, yang ia dapatkan. Selain ombak yang kurang power, Rake kelelahan sehingga tak maksimal beratraksi dalam Kompetisi Selancar Internasional, Jumat 24 Mei 2013 lalu. "Meski gagal saya puas bisa ikut kompetisi," kata lelaki 39 tahun ini. 

Seblang Olehsari, 7 Hari Menolak Bala



Si pawang mendekatkan asap kemenyan yang baru dibakarnya ke wajah Suidah. Beberapa detik, gamelan yang ditabuh para wiyogo mengalun bersama suara sinden. Mereka menyanyikan gending dalam bahasa Using, khas Banyuwangi. Suidah, dengan mata terpejam dibalik mahkota di kepalanya, lantas bangkit. Tubuh, tangan dan kakinya yang ramping bergerak menari mengikuti alunan gending-gending kuno.

Tiga orang mengikuti Suidah menari. Satu lelaki di depan disebut pengudang. Dua lagi, seorang perempuan dan laki-laki yang dijuluki pengiring menguntit dari belakang. Mereka menari mengelilingi sebuah panggung berbentuk lingkaran, hingga 28 gending selesai dinyanyikan. Tiga jam yang penuh aroma mistis nan menggetarkan.

Harta Karun Kedaton Wetan

Misyono tak pernah menyangka, mimpi bertemu perempuan cantik pada malam sebelumnya, seolah menjadi sebuah pertanda. Pada pagi harinya, dia menemukan sebuah arca sepulangnya mencari rumput di alas Baluran. Arca itu bercirikan seorang wanita, dalam posisi duduk bersila dan satu tangan bersemedi.

Arca setinggi 40 centimeter itu berada di bawah akar pohon jati. Misyono melihat arca berwarna kehitaman itu tanpa sengaja ketika hendak buang air kecil di hutan Taman Nasional Baluran, 10 Maret 2013 lalu, sekitar pukul 10.00 WIB. Letak pohon jati itu dari jalan raya hanya sekitar 100 meter. "Awalnya saya kira cuma patung biasa," kata dia kepada Tempo, Selasa 2 April 2013. 

Anggrek Indah yang Membuat Gundah

Belasan pot anggrek bergantungan di bawah atap kios bunga Khatulistiwa, di Jalan Kepiting, Banyuwangi, Jawa Timur. Bunganya yang berwarna ungu bermekaran. Anggrek-anggrek itu dipajang di antara bunga hias lainnya, menunggu pembeli.



Kotoran Musang yang 'Menggiurkan'

Busaman membagikan bekicot mentah pada sepuluh luwak yang berada di kandang. Luwak-luwak itu langsung menyambar makan paginya dengan lahap. Hanya butuh satu jam, seluruh luwak telah menghabiskan makanannya.

Kesepuluh luwak itu ditangkap Busaman dari kampungnya, Dusun Suko, Desa Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, pada Januari lalu. Luwak-luwak itu ditangkap untuk persiapan masa panen kopi yang dimulai April hingga Mei mendatang. Busaman menempatkan kandang-kandang luwak itu di seperempat hektare halaman rumahnya.

Alih Hutan Demi Emas

Jarno baru saja mengalirkan air irigasi ke tanaman padi miliknya. Kemudian, ia berkeliling ke seperempat hektare sawahnya, memastikan seluruh tanaman padi tergenang air. Padinya mulai berbulir. Sebulan nanti, lelaki 37 tahun itu yakin bisa memanennya.

Saluran irigasi di Kecamatan Pesanggaran hanya mengalirkan air secara bergantian ke setiap petak sawah selama sepekan sekali. Setiap petani hanya mendapat jatah air dua hari. Petani harus mau berbagi, karena air di daerah itu tergolong barang langka.

Wednesday, March 13, 2013

Kejutan dari Dalam Lembaga Pemasyarakatan

Sugianto membuka mushaf raksasa yang berdiri di depan aula Lembaga Pemasyarakatan. Dia memilih surat Al Fatihah, surat pertama di kitab suci Al Qur'an itu. Dia kemudian melantunkan ayat demi ayat, yang menyihir ratusan narapidana yang menontonnya.

Senin pagi, 4 Maret, lelaki berusia 32 tahun itu memberi dua kejutan. Selain lantunan indah Al Qur'an, mushaf berukuran 1,1 meter x 80 centimeter itu adalah karyanya. Itu adalah mushaf terbesar pertama di Indonesia yang dibuat oleh seorang narapidana.

Sebelum masuk ke LP Banyuwangi 2,5 tahun lalu, mantan satpam ini sama sekali tak bisa baca-tulis Al Qur'an. Namun dia punya bakat membuat sketsa yang tak terlalu ia dalami. Saat berada di jeruji, Sugiyono dengan intens berdiskusi soal agama dengan dua ustad yang juga mendiami LP, Mahmud dan Yusuf Nuris "Tiba-tiba saya ingin menulis Al Qur'an berukuran besar," kata dia kepada Tempo, Senin 4 Maret 2013.

Friday, March 1, 2013

Anak: Dalam Bayang-bayang Kekerasan


Akhir-akhir ini saya sungguh tak tahan menonton televisi atau membaca berita. Hampir tiap hari selalu ada saja berita tentang kekerasan pada anak-anak.

Bagaimana sanggup mendengar ada balita yang dianiaya ibunya sendiri hingga tewas. Bocah yang kepalanya dibenamkan di ember karena ibunya malu kemaluan anaknya kecil. Anak yang diculik kemudian dibunuh karena orang tuanya tak sanggup membayar uang tebusan. Bayi-bayi malang yang dijual hingga luar negeri.

Wednesday, February 20, 2013

Jangan Takut Bermimpi....


Apa kamu pernah bermimpi? Yah,...bermimpi apa saja tentang masa depanmu. Mimpi tentang sesuatu yang membuatmu lebih merasakan hidup...

Sejak kecil saya membiasakan hidup bersama mimpi. Bagi saya, apa yang saya mimpikan adalah tujuan hidup itu sendiri. Mimpi membuat saya yakin kita tak pernah sia-sia diciptakan di dunia ini...

Sejak TK saya punya kebiasaan memburu majalah anak-anak bekas. Kebetulan, kampung saya penuh dengan mereka yang hidup sebagai pemulung. Satu minggu sekali saya mendatangi mereka, para pemulung atau tempat penimbangan barang-barang bekas.

Saya menggali tumpukan koran bekas, buku bekas dan majalah bekas. Bagi saya yang datang dari keluarga pas-pasan, merasa bersyukur karena rata-rata kondisi majalah bekas itu masih cukup baik. Saya cukup kegirangan ketika menemukan majalah Bobo.

Tuesday, February 12, 2013

Masih Antre di Tanjung Wangi


Empat mesin derek bergerak naik turun membongkar isi kapal Isa Lucky Jakarta yang memuat semen Tiga Roda. Isi muatan itu dipindahkan ke truk-truk yang berjejer di sepanjang dermaga. Bila sudah penuh, satu-persatu truk membawa semen tersebut ke gudang yang berjarak 300 meter dari pelabuhan.

Hari itu, Jumat, 25 Januari 2013, merupakan hari ketiga aktivitas bongkar muat semen Tiga Roda di Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur. Ada 26 ribu ton semen yang harus dibongkar dari kapal sepanjang 110 meter itu. 

Thursday, January 24, 2013

Wajah Sepak Bola Kita



Gerimis belum kering. Daun pintu bercat hitam itu sedikit terbuka. Saya mengetuknya perlahan, "Selamat sore," suaraku lirih.

Saya berdiri ragu di depan pintu. Entah, laki-laki itu ingin ngobrol apa. Saya baru bertemu untuk mewawancarai dia, lebih dari dua pekan silam. Itu pun tak pernah berkenalan karena saat itu ada lebih dari lima wartawan yang juga menyesaki kamar kos-kosan lelaki itu. Tapi Rabu sore kemarin, 23 Januari, sms dari Ketua Suporter Laros, Pak Mustain, mengabarkan dia ingin ngobrol dengan saya.

Sunday, January 13, 2013

Seretnya Pasokan Sirtu



Sepuluh pekerja dari CV Bintang Surya, tak beringsut dari tempat kerjanya kendati hujan deras mengguyur dari langit. Mereka bekerja memasang paving mulai pagi hingga malam mengejar tenggat sebelum Desember berakhir.

Masih separuh pekerjaan yang mereka kebut dalam waktu lima hari. Awal 2013, lahan seluas 4 ribu meter persegi di kawasan Bandara Banyuwangi itu sudah harus difungsikan sebagai area parkir kendaraan.

Proyek yang didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Banyuwangi tahun 2012 itu, sedianya rampung pada pertengahan Desember lalu. Namun akhirnya molor hingga akhir tahun. Proyek tersebut tertunda karena kontraktor sempat megap-megap mencari pasokan pasir. "Awal Desember lalu sulit cari pasir," keluh Suwardi, Direktur CV Bintang Surya, kepada Tempo, Rabu 26 Desember 2012.

Simalakama Pengolah Limbah


Sebuah tiang beton setinggi dua meter terbenam di pinggir pantai Dusun Tratas, Kecamatan Muncar. Itu adalah satu-satunya beton yang berhasil ditanamkan di lahan seluas setengah hektare. Sisanya, sekitar 30 beton sudah dua bulan ini teronggok di tanah.

Di dekat beton-beton itu, spanduk putih sepanjang satu meter masih terpasang. Meski tintanya mulai luntur, namun tulisan di dalam spanduk masih terbaca: Menolak Proyek IPAL di Dusun Tratas!

Area itu merupakan bekas proyek instalasi pengolahan air limbah (IPAL) terpadu milik Kementerian Lingkungan Hidup senilai Rp 9,5 miliar. Proyek itu gagal direalisasikan karena ditolak warga.

Thursday, January 3, 2013

Sampah-sampah yang Membunuh


Dua orang itu -lelaki dan perempuan, menyita perhatian di suatu siang ketika saya dan keluarga kecil berlibur ke Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo. Saat itu, saya sudah siap-siap check out dari Resort Bekol, tempat saya menginap.

Keduanya ternyata menginap di tempat yang sama, tapi saya tidak tahu dia menempati kamar berapa. Siang itu, 30 Desember 2012 lalu, keduanya juga nampak bersiap-siap meninggalkan Bekol.