Thursday, December 6, 2012

Tak Lazimnya Arisan


Ini bukan sembarang arisan. Arisan yang dibentuk 7 pelajar SMA di Situbondo, Jawa Timur ini 'berhadiahkan' kencan dengan seorang PSK di lokalisasi.

Setiap bulan mereka iuran Rp 5 ribu. Tujuh nama dituliskan dalam kertas yang kemudian digulung. Dikocok-kocok, lalu diambilah satu gulungan kertas. Nama yang keluar saat itu, berarti dialah yang mendapat giliran 'tidur' bersama si PSK.

Saya tidak habis pikir, bagaimana awalnya mereka punya ide gila semacam itu. Selama menulis berita tersebut, saya hanya bisa menduga-duga, sekaligus mengurut dada karena prihatin.


Tapi tak penting memikirkan bagaimana ide 'arisan' itu muncul. Yang paling penting adalah fenomena seks bebas di kalangan pelajar semakin hari dilakukan dengan berani dan terbuka. Tentu saja kasus 'arisan seks' itu hanyalah bukit kecil yang nampak di permukaan.

"Pelajar itu salah?" Ya, salah! Tapi menyalahkan mereka saja tanpa melihat akar persoalan sebenarnya tidak akan menyelesaikan apa-apa. Sekali lagi, kasus itu hanyalah fenomena gunung es. Kasus serupa yang tidak muncul ke media ribuan jumlahnya.

Mengapa para pelajar tersebut berani melakukan seks bebas, adalah persoalan utama yang harus dipecahkan. Hampir setiap hari pelajar disuguhi tontonan layar kaca yang lekat dengan seks. Film dan buku-buku bacaan porno saat ini begitu gampangnya diakses via internet maupun handphone.

Sementara pendidikan seks masih dianggap tabu di sekolah dan di rumah. Remaja-remaja yang baru pubertas itu, dibiarkan mencari tahu sendiri tentang rasa penasarannya terhadap lawan jenis dan seks. Dan, mereka menemukan jawabannya di film dan bacaan-bacaan porno kemudian mempraktikkannya.

Seks bebas di kalangan pelajar pasti berbuntut panjang: tertular HIV/AIDS dan kehamilan di usia begitu belia.

Sekali lagi, menyalahkan pelajar saja sangatlah tidak bijaksana.