Monday, December 17, 2012

Sekolah yang Mengkerdilkan


Beberapa hari lalu, mendapat cerita menggelitik dari adik saya. Tempat bimbingan belajar, tempat adik saya kerja, didatangi dua orang tua siswa sambil marah-marah. Mereka marah karena anaknya yang sudah menjalani bimbel satu semester tidak ada perubahan.

"Kenapa anak saya tidak pintar-pintar?"

Begitu omelan orang tua tersebut.
Haa...Ternyata orang tua masa kini beranggapan kalau anaknya sudah ikut bimbel maka wuzzz...sim salabim...bisa langsung rangking satu di kelasnya. Saya jadi kasihan dengan anak-anak dari orangtua yang arogan macam itu. Tidak ranking di kelas apa berarti bodoh?


Tapi saya yakin orang tua macam itu banyak duplikatnya. Maka tak aneh saat ini bimbel muncul seperti jamur di musim hujan dengan siswa-siswi berjubel di dalamnya.

Saya ingat ketika saya SMA dulu (tahun 2001-2003), jumlah bimbel masih bisa dihitung jari. Bimbel lebih banyak dipadati oleh mereka yang memburu kuliah di kampus-kampus negeri. Tapi dulu saya tidak pernah tertarik untuk ikut bimbel. Pulang sekolah saya menghabiskan waktu ikut ekstrakurikuler majalah sekolah dan teater. Buat saya dua kegiatan ini lebih asyik ketimbang harus bertemu lagi dengan pelajaran-pelajaran sekolah :)

Bimbel-bimbel akhirnya bertambah subur sekitar tahun 2007-an setelah Pemerintah memberlakukan kelulusan Ujian Nasional dengan syarat nilai yang cukup tinggi. Siswa dan orang tuanya akhirnya memilih bimbel demi mengejar angka lulus tersebut.

Saya pun tak bisa bayangkan bagaimana lelahnya mengejar angka lulus itu. Padahal bila mendekati UN, pelajar mendapat tambahan jam belajar dari sekolah di pagi hari dan sesudah jam belajar reguler. Eh, sore hari para pelajar itu masih harus pergi ke tempat bimbel, bertemu pelajaran-pelajaran yang sama hingga malam hari.

Mungkin karena sibuk ikut bimbel, kegiatan ekstrakurikuler pelajar SMA saat ini tidak seramai zaman saya. Ekstrakurikuler majalah sekolah di SMA almamater saya sudah mati. Teaternya juga seperti pepatah: hidup segan, mati tak mau...

Fenomena bimbel kini tak lagi didominasi untuk pelajar yang akan menghadapi Ujian Nasional. Pelajar SD yang masih kelas 3, 4 atau 5 kini juga didorong orang tuanya untuk ikut bimbel. Marak pula bimbel yang didirikan secara perorangan, dengan konsep sederhana, dan biaya lebih murah. Kita biasanya menyebut les-lesan.

Kebetulan karena sebelumnya menganggur, adik saya membuka jasa les bagi siswa SD-SMP di kampung. Peminatnya luar biasa banyak dengan bayaran Rp 25 ribu sebulan. Bukan konsep seperti bimbel profesional, lebih tepatnya, adik saya sebagai teman mengerjakan 'pekerjaan rumah'.

Saat saya tanya kenapa les, dengan polosnya, para bocah itu mengaku terpaksa karena tidak paham dengan penjelasan guru di sekolah. Celakanya, orang tua di rumah juga tidak paham dengan materi ajar yang ditanyakan sang anak. Oh, kasihan sekali, bocah-bocah yang kebingungan.

Fenomena maraknya bimbel atau tempat les mengindikasikan sekolah tidak lagi sebagai tempat belajar yang asyik bagi pelajar. Sekolah telah menjelma dari seharusnya tempat bersosialisasi dan menimba ilmu menjadi tempat menakutkan. Menakutkan karena membikin siswa stress tertekan mengejar angka-angka semu di atas kertas.

Cara mengajar guru yang konvensional, cenderung membuat pelajar bosan, ngantuk dan ujungnya gagal paham dengan penjelasan guru. Meskipun kurikulum saat ini menuntut guru lebih kreatif, tapi pelaksanaan di lapangan belum semua guru mampu melakukan hal itu. Sehingga siswa lebih memilih menambah jam belajar bersama tentor yang mereka harapkan bisa memberikan penjelasan lebih gamblang.

Pemberlakuan Ujian Nasional, secara nyata membuat siswa maupun orang tuanya hanya mengejar nilai enam mata ujian serta melupakan proses yang sesungguhnya. Siswa hanya dituntut pintar dalam enam pelajaran yang diujikan, dengan melupakan potensi kecerdasan lain yang dimiliki seperti olahraga, kesenian, serta potensi-potensi lain.

Kita tahu bahwa pelajaran-pelajaran di sekolah Indonesia cenderung lebih banyak mengasah IQ ketimbang EQ. Itu berarti, semakin banyak waktu anak berjibaku dengan pelajaran-pelajaran yang sudah diajarkan di sekolah, maka semakin kurang pengembangan kejiwaannya. Akibatnya, pintar tapi suka korupsi. Pintar tapi suka kelahi. Pintar tapi tak saling menghormati....

Sistem pendidikan yang acakadut ini harus dibenahi supaya lebih memanusiakan manusia dengan potensinya yang beragam. Pendidikan yang membebaskan, bukan pendidikan yang mengkerdilkan.

Jika kondisi ini terus terjadi, saya kuatir, negeri ini punya banyak anak pintar tapi kalau ternyata tidak punya moral, ya, untuk apa?


Sumber foto: bandungvariety.wordpress.com