Saturday, December 8, 2012

Buku-buku yang Kesepian


Kalau ingin tahu bagaimana minat baca masyarakat di suatu negara, datangi saja perpustakaan umum dan toko bukunya. Kalau pengunjung di keduanya ramai, berarti minat baca penduduknya lumayan tinggi. Bila justru kebalikannya, ya, bisa jadi minat bacanya masih rendah.

Bagi saya, perpustakaan umum dan toko buku memang indikator paling mudah untuk tahu minat baca masyarakatnya. Mengapa? Sederhana. Karena perpustakaan umum menyediakan buku secara gratis. Kita tinggal pilih sesuai kesukaan, langsung baca di tempat, atau pinjam untuk dibawa pulang.


Sementara toko buku menyediakan berbagai buku-buku terbaru. Seseorang yang gila baca, pasti punya hobi untuk memburu buku-buku baru yang berkualitas.

Kebetulan di daerah saya, perpustakaan umum dan toko bukunya selalu sepi. Pengunjung sih ada, tapi jumlahnya cuma segelintir. Berbeda jika ke pusat perbelanjaan, saya taksir pengunjungnya bisa ribuan. Ternyata orang Indonesia lebih suka beli baju ketimbang buku ya...?

Pertama kali saya ke perpustakaan umum yang dikelola pemerintah daerah setempat sekitar kelas 2 SMP. Saya rajin mengunjungi buku-buku di sana setiap 2 minggu sekali. Kebiasaan ini berlangsung hingga saya kuliah. Saya mulai absen ke perpus setelah kerja, karena memilih beli buku baik di toko buku maupun lewat online.

Saya masih ingat betul, setiap kali ke perpus, pengunjungnya antara 5-10 orang. Bangku-bangku lebih banyak kosong dengan ribuan buku masih rapi di raknya.

Kebetulan pula Jumat sore kemarin, saya mengunjungi pameran buku yang didepan perpus. Sepi, hanya 10-an orang bersama saya. Padahal harga buku cuma cibanderol paling mahal Rp 20 ribu.

Bukan hanya daerah saya, rendahnya minat baca ini memang menjadi problematika serius di Indonesia. Menurut Menteri Kordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen. Artinya dalam 10.000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca (Tempo, 12 Januari 2012).

Lebih menyedihkan lagi, sesuai hasil survei UNESCO, minat baca orang Indonesia ternyata paling rendah di ASEAN dengan indeks 0,001. Artinya dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiiki minat baca tinggi (ViVAlog, 8 Desember 2012).

Tentunya semua pihak mulai keluarga, sekolah, dan pemerintah harus kerja keras bila ingin meningkatkan minat baca masyarakatnya. Orang tua harus mulai mengenalkan buku pada anak sejak dini.

Sekolah harus mendorong sistem belajar-mengajar yang merangsang anak untuk suka membaca. Sebab selama ini guru hanya mengajar dengan metode ceramah, dengan satu buku atau lembar kerja siswa (LKS).

Pendirian perpustakaan umum dengan suasana yang nyaman dan menyenangkan bisa dilakukan pemerintah untuk menarik masyarakat membaca. Sebab saya pun miris dengan kondisi perpustakaan umum yang kusam, koleksi buku minim, dan dikelola secara konvensional.

Rendahnya minat baca ini adalah harus dikategorikan persoalan serius. Seperti tubuh kita, bayangkan bagaimana jika kurang minum, yang terjadi hanya bikin tubuh kita lemah, keropos dan akhirnya mati...

Saya tak bisa bayangkan bagaimana nasib bangsa ini dalam 1 abad mendatang jika generasi mudanya malas membaca. Kita pasti jadi bangsa yang lemah, tak punya kekuatan, dan akhirnya tertinggal....

Sumber foto: http://alizaka.blogspot.com