Friday, December 21, 2012

Hari Ibu: Jalan Panjang Merebut Keadilan


Selamat datang 22 Desember: Hari Ibu. Tanggal ini adalah salah satu tanggal istimewa buat saya. Bukan lantaran saya telah menjadi ibu. Tapi dengan tanggal ini harus mengingatkan kita bahwa perjuangan sebagai ibu, sebagai perempuan, belum mencapai titik yang berkeadilan.

22 Desember 1928, 84 tahun silam, kesadaran akan adanya ketidakadilan itu telah membuat puluhan ibu-ibu berkumpul di Yogyakarta. Mereka menggelar Kongres Perempuan Indonesia I. Sedikitnya 30 organisasi perempuan dari Jawa dan Sumatera hadir menyatukan semangat untuk memperjuangkan perbaikan nasib perempuan.

Monday, December 17, 2012

Sekolah yang Mengkerdilkan


Beberapa hari lalu, mendapat cerita menggelitik dari adik saya. Tempat bimbingan belajar, tempat adik saya kerja, didatangi dua orang tua siswa sambil marah-marah. Mereka marah karena anaknya yang sudah menjalani bimbel satu semester tidak ada perubahan.

"Kenapa anak saya tidak pintar-pintar?"

Begitu omelan orang tua tersebut.
Haa...Ternyata orang tua masa kini beranggapan kalau anaknya sudah ikut bimbel maka wuzzz...sim salabim...bisa langsung rangking satu di kelasnya. Saya jadi kasihan dengan anak-anak dari orangtua yang arogan macam itu. Tidak ranking di kelas apa berarti bodoh?

Monday, December 10, 2012

Sekali Lagi, Tentang Genjer-Genjer....


Menjelang magrib, sahabat saya memutarkan sebuah lagu untuk saya. Lagu yang sebenarnya sering saya dengar, tapi kali ini dengan aransemen yang sedikit berbeda, bahasa yang berbeda: bahasa khmer dari Kamboja.

Sayangnya saya tidak bisa berbahasa Kamboja. Tapi lirik asli lagu itu adalah begini:

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emak'e thole teko-teko mbubuti genjer
Emak'e thole teko-teko mbubuti genjer
Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tolah-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Saturday, December 8, 2012

Buku-buku yang Kesepian


Kalau ingin tahu bagaimana minat baca masyarakat di suatu negara, datangi saja perpustakaan umum dan toko bukunya. Kalau pengunjung di keduanya ramai, berarti minat baca penduduknya lumayan tinggi. Bila justru kebalikannya, ya, bisa jadi minat bacanya masih rendah.

Bagi saya, perpustakaan umum dan toko buku memang indikator paling mudah untuk tahu minat baca masyarakatnya. Mengapa? Sederhana. Karena perpustakaan umum menyediakan buku secara gratis. Kita tinggal pilih sesuai kesukaan, langsung baca di tempat, atau pinjam untuk dibawa pulang.

Thursday, December 6, 2012

Tak Lazimnya Arisan


Ini bukan sembarang arisan. Arisan yang dibentuk 7 pelajar SMA di Situbondo, Jawa Timur ini 'berhadiahkan' kencan dengan seorang PSK di lokalisasi.

Setiap bulan mereka iuran Rp 5 ribu. Tujuh nama dituliskan dalam kertas yang kemudian digulung. Dikocok-kocok, lalu diambilah satu gulungan kertas. Nama yang keluar saat itu, berarti dialah yang mendapat giliran 'tidur' bersama si PSK.

Saya tidak habis pikir, bagaimana awalnya mereka punya ide gila semacam itu. Selama menulis berita tersebut, saya hanya bisa menduga-duga, sekaligus mengurut dada karena prihatin.

Wednesday, December 5, 2012

"Menulis itu gampang-gampang susah"


Bagi saya yang sudah delapan tahun jadi wartawan, menulis tetaplah sesuatu yang susah. Setiap hari saya memang harus membuat 2-3 tulisan. Tulisan rapi yang mudah dipahami redaktur juga pembaca. Sudah ribuan tulisan berita yang telah saya kerjakan. Namun saya menganggap saya belum benar-benar ahli menulis.

Malah sering, saya menjumpai tulisan saya masih cukup berantakan. Mulai tanda baca yang tidak tepat, kacaunya pemilihan diksi hingga hal paling remeh seperti pemakaian huruf kapital.

Persoalan yang lebih berat jika harus menulis laporan panjang dan features. Saat inilah kreatifitas saya sebagai penulis benar-benar ditantang. Bagaimana saya harus pandai-pandai memilih diksi, mempermainkan kata demi kata hingga menjadi tulisan yang memikat.

Menulis itu susah karena itu adalah kegiatan mewujudkan isi pikiran kita melalui ribuan kata-kata yang telah lebih dulu diseleksi dalam daya imajinasi kita. Dia adalah perpaduan pengetahuan dan kreativitas, penyeimbangan otak kiri dan kanan. Dan, menulis adalah puncak kreativitas tertinggi yang melahirkan peradaban.

Ketika saya telah berhasil menyelesaikan sebuah tulisan, saya bergumam bahwa menulis itu sangat gampang. Terlebih lagi setelah tulisan itu terbit, seolah saya amnesia dengan kegalauan selama proses menulis itu masih berlangsung.

Menulis merupakan proses belajar yang tidak boleh berhenti sampai kita mati.