Friday, November 16, 2012

Yang Tersisa dari Panaroekan....


Bangunan stasiun itu nampak lusuh. Dindingnya yang bercat putih, terlihat kusam penuh debu. Hampir di semua sudut, temboknya mengelupas hingga struktur batu-batanya tersingkap. Kaca jendela dan pintu pun hilang tak bersisa lagi.

Berasitektur khas Belanda, Stasiun Panarukan yang terletak 8 kilometer arah barat kota Situbondo itu memang masih kokoh berdiri. Namun tidak ada kehidupan layaknya stasiun kereta api. Sehari-hari, stasiun yang dibangun era kolonial Belanda tahun 1890-an itu menjadi rumah bermalam bagi para gelandangan dan tempatbermain anak-anak dari sekitar desa.

Kondisi rel kereta di sepanjang Stasiun Panarukan tak kalah mengenaskan. Seluruh bautnya sudah hilang dicuri orang. Badan rel penuh dengan jemuran baju, sampah, hingga menjadi tempat menjemur ikan. Bahkan ratusan rumah permanen berdiri di kanan-kiri rel dengan jarak hanya sejengkal tangan.

Sulastri, 50 tahun, perempuan yang tinggal 30 meter dari Stasiun Panarukan bercerita, kondisi stasiun dan rel memprihatinkan semenjak PT Kereta Api Indonesia menutup jalur kereta Jember-Situbondo pada 2004 silam. "Dulu rumah-rumah itu tidak ada. Sekarang jadi padat," kata dia kepada Tempo, Senin, 5 November 2012.

Jalur kereta di Situbondo tersebut terhubung sepanjang 70 kilometer ke Stasiun Kalisat, Jember, dengan melewati Kabupaten Bondowoso. Sebelum ditutup 2004, jalur ini mengoperasikan kereta lokomotif diesel B.B 303 yang memuat penumpang serta barang. 

Rel kereta Panarukan-Kalisat itu merupakan warisan Belanda yang dioperasikan pertama kali pada 1 Oktober 1897. Kereta api pada masa kolonial sangat penting untuk mengangkut tembakau, kopi, beras dan hasil perkebunan lainnya dari Jember, Banyuwangi, Bondowoso serta Situbondo ke Pelabuhan Panarukan untuk diekspor ke berbagai negara. Namun pada tahun 2004, PT KAI memutuskan menutup jalur ini karena penumpangnya sepi. 

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Situbondo, Syaifullah, mengatakan, Pemerintah Situbondo berharap Pemerintah Pusat segera mengoperasikan kembali jalur kereta tersebut. Sebab, kata dia, adanya kereta api menjadi transportasi alternatif yang dapat mendongkrak perekonomian Situbondo. 

Syaifullah menjelaskan, permintaan untuk mengaktifkan kembali jalur kereta sebenarnya sudah mulai tahun 2008. Saat itu, Pemerintah Pusat melalui Departemen Perhubungan dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyambut baik wacana itu. 

Direktorat Kereta Api Departemen Perhubungan pernah dua kali meninjau jalur kereta Kalisat-Panarukan pada 2009 dan 2011. Bahkan pengoperasian jalur kereta tersebut juga masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Jawa Timur tahun 2005-2025 dan Rencana Tata Ruang Wilayah Jawa Timur. Dalam dua dokumen itu, kata Syaifullah, operasional kereta api ditargetkan pada 2012. "Tapi hingga saat ini belum ada realisasi," kata dia.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kabupaten Situbondo, Heruman Budi Utomo, mengatakan, beroperasinya kereta api sangat diharapkan untuk mendukung rencana terminal terpadu di kawasan Pelabuhan Panarukan. 

Menurut Heruman, konsep terminal terpadu itu adalah adanya stasiun kereta api, terminal bus, terminal kargo yang berdiri di dekat Pelabuhan Panarukan.  "Saat ini Pelabuhan Panarukan sedang dibangun untuk menjadi pelabuhan internasional," kata dia.

Beroperasinya kereta api, Heruman menjelaskan, dapat mendukung aktivitas Pelabuhan Panarukan. Barang-barang tujuan ekspor dari kabupaten tetangga dapat dibawa dengan kereta api menuju pelabuhan yang berjarak sekitar 20 meter dari Stasiun Panarukan. Dengan demikian biaya transport menjadi lebih murah ketimbang harus mengekspor melalui Surabaya.

Tanpa kereta api, berbagai bahan baku industri saat ini terpaksa diangkut menggunakan truk. Seperti tebu untuk bahan baku industri gula, tembakau, batu bara untuk bahan bakar pabrik semen di Jember, pupuk serta hasil pertanian. Padatnya lalu lintas angkutan barang tersebut, kata Heruman, tak sebanding dengan kondisi jalan Situbondo - Jember yang sempit. "Jalan jadi sering rusak," katanya.

Heruman mengakui konsep terminal terpadu itu seperti kembali ke masa kolonial Belanda. Pemerintah Belanda menjadikan kereta api sebagai transportasi massal utama untuk mengangkut berbagai hasil-hasil perkebunan ke Pelabuhan Panarukan.  Dengan letaknya yang strategis, yakni di antara Selat Bali dan Selat Madura menjadikan Pelabuhan Panarukan tempo dulu menjadi pelabuhan penting di kawasan Hindia Belanda bagian timur. Bahkan pada era Gubernur Daendeless, Pelabuhan Panarukan menjadi akhir mega-proyek pembuatan jalan Anyer-Panarukan sepanjang seribu kilometer. 

Berbagai hasil perkebunan seperti tembakau, saat itu banyak diekspor ke Bremen (Jerman) serta Rotterdam (Belanda). Setelah diangkut menggunakan kereta api, berbagai komoditi itu disimpan dulu dalam gudang-gudang yang banyak berdiri di kawasan pelabuhan. Pemerintah Belanda mendirikan perusahaan kapal bernama Panaroekan Maatscappij pada 1886 untuk mendukung ekspor hasil pertanian ke sejumlah negara. Setelah Indonesia merdeka atau sekitar tahun 1950, Panaroekan Maatscappij ini berada di bahwa pengelolaan PT Djakarta Lloyd. 

Herlin Tasin, 59 tahun, menjadi salah satu saksi ramainya Pelabuhan Panarukan yang didukung oleh jalur kereta. Lelaki itu pada 1972-1980 menjadi kuli bongkar muat barang-barang yang diturunkan dari kereta menuju gudang-gudang penyimpanan. "Saya pernah ngangkut tembakau, jagung, dan beras. Dulu ramai sekali pelabuhan ini," kata dia.

Namun setelah 1980, aktivitas Pelabuhan Panarukan perlahan-lahan mulai sepi. Ekspor melalui laut kemudian dialihkan ke Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi dan Tanjung Perak, Surabaya.

Pelabuhan Panarukan menjadi kurang diminati karena lautnya menjadi dangkal sekitar 1,5 meter akibat sedimentasi dari Sungai Sampeyan. Akibatnya, kapal-kapal bertonase besar tidak dapat sandar. Setelah bertahun-tahun mati suri, Pelabuhan Panarukan baru bergairah kembali pada 2010. PT Samudera Inti Perkasa, perusaahaan penyuplai batu bara untuk PT Semen Puger Jember mengajukan bongkar muat di pelabuhan tersebut.

Menurut Karyono, petugas Lalu Lintas Angkutan Laut Pelabuhan Panarukan, tongkang dan sebuah tugboat mengirim 7.500 ton batu bara setiap sebulan sekali. Selama tiga hari, batu bara tersebut diangkut menggunakan 260 dump truk menuju Jember. "Kalau ada kereta barangkali hanya satu kali pengiriman saja," katanya.

Beroperasinya kereta api tak hanya ditunggu Pemerintah Situbondo. Masyarakat pun rindu untuk menikmati kereta Panarukan-Kalisat itu. Sulastri, 50 tahun, misalnya. Petani rumput laut itu bercerita dia naik kereta api Panarukan-Kalisat sejak tahun 1980. "Waktu itu ongkosnya hanya dua ribu lima ratus," kata ibu dua anak ini.

Perempuan asal Kecamatan Kalisat, Jember itu, dulunya hampir setiap hari menunggang kereta lokomotif tersebut untuk menjual buah pinang di Situbondo. Dia ikut kereta ke Situbondo yang berangkat subuh pada pukul 05.00 WIB. Dengan kereta yang sama, Sulastri pulang ke Jember pada pukul 12.00 WIB. 

Bagi Sulastri naik kereta lebih murah dibandingkan harus naik bus seperti saat ini. Sulastri yang kini menetap di Panarukan, Situbondo tersebut harus merogoh kocek Rp 40 ribu bila harus mengunjungi keluarganya di Jember menggunakan bus. IKA NINGTYAS