Monday, November 19, 2012

Merusak Hutan Demi Sebongkah Emas


Begitu suara kaleng berbunyi, Wanto dan Didik langsung memutar kerekan kayu untuk menggulung tali dari dalam lubang. Di ujung tali terikat sebuah timba yang sudah penuh berisi potongan batu.

Dengan sigap, Muksim mengangkat timba dan membuang seluruh potongan batu tersebut di depan tenda. "Ini limbah, tak ada emasnya," kata Muksim kepada Tempo, Kamis, 18 Oktober 2012.

Sepuluh menit kemudian, tiga lelaki lain menyembul satu-persatu dari dalam lubang berdiameter satu meter. Lampu di kepala mereka masih menyala. Baju dan celananya sudah tak berbentuk, penuh sobekan dan berlumur tanah.



Kurang lebih enam jam ketiga lelaki itu berada di dasar lubang sedalam 50 meter. Tugasnya mencari emas dengan memahat bebatuan di dasar lubang. Dengan berbekal alat pahat, lampu dan oksigen mereka mengadu nyawa mengharap sebongkah emas.

Itulah suasana pertambangan emas tradisional yang dilakoni ribuan orang di petak 79 kawasan hutan jati, Desa Pesanggaran atau sekitar 75 kilometer dari Kota Banyuwangi. Hutan tersebut masuk sebagai konsesi eksplorasi milik perusahaan tambang PT Indo Multi Niaga.

Ada sekitar seribu orang yang menambang secara tradisional. Mereka bekerja secara kelompok antara 5-10 orang di dalam tenda-tenda dari terpal. Di dalam tenda itulah, mereka menggali lubang puluhan meter di dalam tanah.

Muksin bercerita, kelompoknya sudah mencari emas selama setahun namun belum pernah menemukan emas. Meski begitu, mereka tak patah semangat. "Kita akan terus cari sampai menemukan emas," kata lelaki berusia 40 tahun ini.

Kelompok Muksin terdiri dari 10 orang. Setiap 6 jam sekali mereka bergiliran masuk ke dalam lubang, sementara yang lain bersiaga menarik gulungan tali dan membuang limbah batu.

Muksin menjelaskan, pekerjaan tersebut dibiayai oleh seseorang yang mereka sebut "bos". Si bos membiayai seluruh kebutuhan mulai penggalian lubang, pembeliaan diesel, blower untuk oksigen hingga logistik pekerja sehari-hari. Modal yang dikeluarkan si bos, kata Muksin, lebih dari Rp 125 juta.

Perjanjian kerjanya dengan melakukan bagi hasil 1:2. Artinya, bila menemukan emas, maka jatah untuk si bos adalah dua kali lipat dibanding yang diterima setiap pekerjanya.

Sebelum bekerja mencari emas, Muksin dan sejawatnya hidup sebagai petani. Mereka menanam padi di waktu hujan dan kedelai di musim kemarau. Namun sejak 2011 pekerjaannya itu diserahkan kepada istrinya. Muksin lebih tergiur mencari emas yang dalam benaknya bakal membuatnya menjadi kaya.

Awalnya Muksin mendengar cerita, kalau tetangganya yang lebih dulu mencari emas berhasil mendapat 4 kilogram emas. Dari rejeki dadakan itu, tetangganya yang semula tak mampu akhirnya kini bisa membangun rumah mewah, membeli sawah dan mobil. "Saya juga pengen seperti itu. Saya pengen cari modal buat usaha," kata dia.

Gafur, 40 tahun, bernasib lebih baik ketimbang kelompoknya Muksin. Bekerja selama 8 bulan pada 2010 lalu, dia berhasil mendapatkan 1,7 kilogram emas.

Emas kemudian di jual kepada salah satu juragan di Pesanggaran seharga Rp 350 ribu pergramnya. Setelah dipotong untuk jatah bos, Gafur membawa pulang uang tunai Rp 17 juta.

Uang tersebut seperti durian runtuh. Gafur langsung membelikan sebuah sepeda motor untuk anak sulungnya yang duduk di bangku smp. "Sisanya ya untuk uang sekolah mereka," kata ayah dua anak ini.

Menurut Gafur, dirinya tak bakal mampu membelikan sepeda bila melakoni pekerjaan sebelumnya sebagai karyawan outsourching pembuatan menara seluler yang bergaji Rp 2 juta perbulan.

Gafur pun semakin semangat mencari emas. Sempat vakum pada 2011 karena banyaknya operasi dari Kepolisian, dia bersama sembilan temannya kembali menggali lubang emas pada awal 2012.

Bagi Gafur, pertambangan tradisional saat ini ibaratnya lapangan pekerjaan baru bagi penduduk Kecamatan Pesanggaran. Menurut dia, dengan adanya pertambangan, hutan jati lebih terjaga karena warga sudah enggan menebang.

Dia berharap Pemerintah bisa melegalkan pertambangan tradisional ini sehingga lebih tertata.

Pada 2009 lebih dari tiga ribu orang masuk ke hutan jati tersebut. Selain dari warga sekitar, penambang tradisional banyak berdatangan dari Sumbawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Dari warga pendatang inilah, masyarakat Pesanggaran mengetahui bagaimana cara menggali lubang, mendulang emas di sungai, dan membuat berbagai perangkat tradisional dari kayu.

Kepolisian Resor Banyuwangi kemudian sering melakukan operasi penangkapan. Mereka disangka melakukan pengrusakan hutan. Dari 2009-2011 ada 217 penambang liar yang ditangkap.

Dilarangnya pertambangan tradisional memicu konflik antara penambang dengan PT IMN. Pertengahan 2011, ribuan penambang berunjuk rasa meminta penambangan tradisional dilegalkan dan mengusir PT IMN. Unjuk rasa ini berakhir anarkis karena massa membakar peralatan pengeboran milik PT IMN.

Usai insiden tersebut, pada awal Oktober 2011 Komnas HAM turun. Beberapa rekomendasi Komnas HAM yakni meminta kepolisian memberlakukan penambang tradisional lebih manusiawi.

Kepolisian akhirnya menghentikan penangkapan dan mulai melokalisir pertambangan tradisional. Namun seluruh penambang asal luar daerah tidak boleh lagi beroperasi lagi. Langkah polisi ini mampu menekan jumlah penambang tradisional menjadi 250 orang.

Namun hingga September 2012 ternyata jumlah penambang tradisional membengkak kembali menjadi 1.000 orang.

Polres, Perhutani dan Pemkab Banyuwangi menggelar pertemuan untuk membahas masalah pertambangan tradisional itu pada akhir September. Hasilnya, kawasan pertambangan tradisional dibatasi hanya seluas 2,5 hektare. Garis polisi pun dipasang sebagai penanda batas bagi penambang tradisional. "Kalau melanggar akan kami tangkap," kata Kapolres AKBP Nanang Masbudi 24 September lalu.

Apabila tidak dibatasi, kata Kapolres, dikhawatirkan jumlah penambang semakin bertambah dan kawasan hutan yang digali semakin meluas.

Dari pantauan Tempo, semenjak pertambangan tradisional beroperasi kondisi hutan jati menjadi terancam. Penambang banyak meninggalkan lubang galian tanpa ditutup tanah kembali.

Banyak pula perlengkapan menambang yang dibiarkan tertinggal seperti kerekan, terpal dan mesin diesel bekas. Sampah plastik juga tercecer di mana-mana.

Padahal menurut Ngadeni, 68 tahun, sebelum ada tambang rakyat hutan jati masih cukup asri. "Sekarang tanahnya rusak," kata dia.

Ngadeni yang tinggal 50 meter dari hutan jati tersebut, mengatakan, hutan jati tersebut ditanam sejak 1990an. Saat itu warga belum tahu kalau tanah di dalamnya mengandung emas.

Warga baru mengetahui setelah ada PT IMN masuk. Ditambah dengan adanya sekelompok warga yang mencoba mencari emas dan akhirnya benar-benar menemukan emas.

Sutiawan menegaskan bahwa pertambangan tradisional di kawasan hutan tetap harus mengantongi perizinan dari Kementerian Kehutanan dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. "Selama belum ada izin seharusnya pertambangan tradisional tidak boleh beroperasi," ucapnya.

Kepala Badan Pelayanan Perizinan dan Penanaman Modal Kabupaten Banyuwangi, Abdul Kadir, mengatakan, pemerintah Banyuwangi sudah mengajukan usulan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2010 lalu untuk melegalkan pertambangan tradisional. Namun, hingga 2012, belum ada izin. "Kami hanya bisa menunggu," tuturnya

IKA NINGTYAS