Wednesday, November 21, 2012

Manis - Pahit Berbisnis Ikan Hias

Dua pekerja nampak membersihkan kaca akuarium yang berisi ikan hias laut. Sesekali mereka mengecek kondisi setiap ikan, memastikan seluruh ikan dalam kondisi sehat.

Ada sekitar 50 akuarium berukuran 1 x 2 meter diletakkan berderet di ruang karantina milik UD. Bali Indah Akuarium. Ratusan ikan hias laut aneka warna berenang-renang di dalamnya. Ada yang sepanjang jari kelingking hingga berukuran telapak tangan orang dewasa.

Ruang karantina itu berada di paling belakang kantor UD. Bali. Lokasinya persis di pesisir Selat Bali, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro atau 8 kilometer utara kota Banyuwangi. Ruang karantina sebenarnya untuk menyebut tempat penampungan sementara sebelum ikan-ikan itu dikirim ke sejumlah negara.


UD. Bali merupakan salah satu dari 15 usaha yang bergerak dalam ekspor bisnis ikan hias laut di Banyuwangi, Jawa Timur. Ada dua kecamatan yang menjadi sentra yakni Kecamatan Kalipuro dan Kecamatan Wongsorejo.

Wan Li, 41 tahun, pemilik UD. Bali Indah Akuarium mengatakan bisnis ikan hiasnya telah merambah ke Singapura, Taiwan, Hongkong, Cina hingga Jepang.  Dalam satu bulan sedikitnya dia bisa mengirim 200 boks ikan yang setiap boksnya berisi 50-100 ekor ikan. Omzetnya lebih dari Rp 200 juta perbulan.

Ratusan jenis ikan dia kirim, namun beberapa ikan favorit seperti jenis angel fish, nemo, dori, dan scorpion. Blue fish angel, kata dia, yang memiliki paduan warna biru-merah-kuning menempati harga tertinggi yakni hampir Rp 400 ribu per-ekornya.

Ikan-ikan tersebut dia dapat dari Selat Bali, Madura, Sumatra hingga Sulawesi. Untuk menjamin ketersediaan ikan, Wan Li berjaringan dengan seratusan nelayan yang secara teratur memasok ikan hias kepadanya setiap hari. "Hampir dari semua perairan Indonesia ada, tapi yang terbesar dari Selat Bali," kata Wan Li kepada Tempo, Selasa, 13 November 2012.

Lelaki kelahiran Palembang itu mulai mengenal bisnis ikan hias sejak tahun 1991. Saat merantau ke Bali, Wan Li bekerja di salah satu perusahaan ikan hias laut milik pengusaha asal Taiwan. Saat menjadi  karyawan itulah, Wan Li mendapat pengalaman bagaimana mengelola bisnis ikan hias laut dalam skala ekspor.

Empat tahun kemudian, Wan Li memberanikan diri berwiraswasta ikan hias di Medan. Namun usahanya hanya berumur satu tahun karena pasokan ikan yang didapat tidak terlalu banyak. Pada akhir 1996, Wan Li memindahkan usahanya ke Banyuwangi.

Banyuwangi dipilih karena Selat Bali memiliki keanekaragaman ikan hias yang lebih lengkap. Ada sekitar 600-an jenis ikan yang hidup. Hal itu disebabkan Selat Bali merupakan pertemuan antara Laut Jawa dengan Samudera Hindia. Selain itu letak Banyuwangi yang dekat Bali, memudahkan untuk pengiriman ke luar negeri melalui Bandara Ngurah Rai.

Mulanya, Wan Li hanya mengirim ikan hias ke Singapura dan Hongkong. Jaringan bisnisnya di luar negeri tak lain masih kerabatnya sendiri. Saat itu dalam sebulan hanya empat kali ekspor dengan omzet paling besar sekitar Rp 50 jutaan. "Akhirnya semakin berkembang sampai sekarang," kata dia.

Berkembangnya bisnis Wan Li seiring pula dengan semakin banyaknya orang luar negeri yang punya hobi memelihara ikan hias laut. Kelebihannya, ikan hias laut lebih beranekaragam dengan keunikan bentuk dan warna-warna yang memikat.

Bisnis tersebut, kata dia, memang sangat menggiurkan karena harga ikan hias laut di luar negeri bisa mencapai 3-5 kali lipat. Apalagi harga ikan lebih stabil. "Hambatannya hanyalah cuaca," ujar dia.

Bila cuaca lebih sering hujan, maka dipastikan ikan hias yang didapat jauh berkurang karena kondisi laut keruh. Usaha Wan Li pernah terpuruk akibat cuaca seperti itu pada tahun 2010-2011. Omzetnya anjlok hingga 50 persen.

Usaha ikan hias laut lainnya yang berhasil merambah luar negeri adalah UD.  Seaquest. Menurut pemiliknya, Fredy Hermawan, 39 tahun, ekspor rutinnya ke negara Singapura dan Hongkong. Paling sedikit dia mengirim 60 boks ikan ke dua negara itu dengan omzet Rp 30 juta perbulan.

Fredy merintis usahanya di awal tahun 2000. Sama dengan Wan Li, pengalamannya berbisnis ikan hias didapat saat dia menjadi karyawan di Bali. Dia juga memanfaatkan sejumlah kerabatnya di Singapura dan Hongkong sebagai jaringan bisnisnya. "Kalau dengan saudara, lebih terpercaya," kata dia.

Menurut Fredy, dia pernah menjajal meluaskan pasar ke Perancis dan Amerika Serikat. Namun akhirnya terhenti karena pemesannya tidak kunjung menyetor uang pembayaran yang besarnya mencapai puluhan juta. Setelah kejadian itu, Fredy kapok dan memilih jalan aman dengan berbisnis bersama keluarganya.

Bagi Fredy, bisnis ikan hiasnya ini hanyalah sampingan setelah pasarnya mulai lesu dalam lima tahun terakhir. Penyebabnya, karena tiket pesawat semakin mahal, pesaing mulai bermunculan sementara harga ikan tetap. Untuk mensiasati supaya tidak kolaps, kata dia, setiap pemesan kini harus mau menanggung biaya pengiriman dari Indonesia hingga negara tujuan.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) komoditi ikan hias merupakan komoditi ekspor terbesar di Kabupaten Banyuwangi. Pada 2010, ikan hias yang diekspor mencapai 4.409.093,48 kilogram, senilai 17,5 juta dollar Amerika atau sekitar Rp 17,5 miliar. Setahun berikutnya, pada 2011 nilai ekspor naik menjadi 20,8 juta dollar Amerika.

Di dalam negeri sendiri, ikan hias laut rupanya semakin diminati. Pemilik UD. Samudera, Ikhwan Arief, mengatakan setiap bulannya dia mengirim sedikitnya 50 boks ikan hias laut ke sejumlah kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Semarang. Omzetnya sekitar Rp 10 juta perbulan.

Ikhwan berbisnis ikan hias laut meneruskan usaha orang tuanya yang berdiri sejak 1992. Pada periode 1998-2010, bisnisnya sempat ekspor ke Jepang. Namun setelah tsunami yang melanda Negeri Sakura itu, ekspornya berhenti total dan belum pulih hingga tahun ini.

UD. Samudera kini memasok bagi PT Bali Blue Internasional, eksportir ikan hias laut yang berpusat di Bali. Lewat tangan PT Bali inilah, ikan hias diekspor ke Amerika, Eropa dan Australia. "Seminggu kirim dua kali pakai pikap," kata lelaki asal Desa Bansring, Kecamatan Wongsorejo ini.

Selain menjadi suplier, UD Samudera memfokuskan diri menggarap pasar nasional. Menurut dia meski ikan hias laut belum sepopuler di luar negeri, namun tiap tahun permintaan meningkat hingga 15 persen. Peningkatan ini menunjukkan masyarakat mulai beralih dari  ikan hias air tawar dengan ikan hias laut.

Menurut dia, memelihara ikan hias laut memang membutuhkan biaya lebih besar  ketimbang ikan hias air tawar. Namun untuk seterusnya, perawatan ikan hias laut lebih murah dan praktis.

Mahalny biaya itu karena akuarium harus dilengkapi dengan alat-alat khusus seperti filter air, lampu ultaviolet, dan alat pengatur kadar garam. Selain itu harus ditunjang adanya pasir laut dan terumbu karang hasil budidaya. ""Biaya awal sedikitnya Rp 5 juta," kata dia.
Setelah ikan dapat beradaptasi dengan baik, kata Ikhwan, untuk selanjutnya tidak perlu lagi menguras atau mengganti air di dalam akuarium. Hal ini berbeda dengan perawatan ikan hias air tawar yang harus dikuras secara rutin.

Kelebihan lainnya, ikan hias air laut yang dipelihara dalam akuarium punya daya tahan lebih lama daripada ikan hias air tawar. "Pemandangannya juga lebih bagus karena ada terumbu karang alami," katanya.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi, Suryono Bintang Samudera, mengatakan, bisnis ikan hias laut selama ini dilegalkan. Namun perijinannya tergolong ketat.  Selain harus mengantongi surat ijin usaha perdagangan (SIUP) dan HO, juga harus memiliki ijin usaha perikanan yang diterbitkan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan.

Dalam ijin usaha perikanan, kata Suryono, pengusaha ikan hias laut harus menyanggupi bahwa ikan hias diperoleh dengan cara-cara yang aman bagi lingkungan. "Tidak boleh pakai potasium. Harus pakai jaring," kata dia.

Menurut Suryono, usaha ikan hias di Banyuwangi memang menjamur dalam sepuluh tahun terakhir. Dari hasil pendataan tercatat ada 45 usaha yang bergerak dalam bisnis ikan hias. Namun yang mengajukan ijin baru 15 usaha.

Maraknya usaha ikan hias ini, kata Suryono, ternyata menjadi salah satu penyebab rusaknya terumbu karang di perairan Selat Bali. Sebab kebanyakan nelayan mencari memakai potasium. Sementara jumlah petugas di lapangan sangat minim sehingga tidak dapat melakukan pencegahan.

Namun pemakaian potasium berangsur-angsur ditinggalkan sejak 2008 setelah salah satu lembaga konservasi lingkungan gencar melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada puluhan nelayan ikan hias. Apalagi, tambah Suryono, konsumen luar negeri juga sering menolak bila ikan hias didapat dengan potasium.

Tohari, 45 tahun, salah satu nelayan ikan hias asal Desa Bansring, mengakui sebelum tahun 2008 sering memakai potas untuk menangkap ikan hias. Dengan potas, kata dia, ikan lebih banyak didapat dengan ketahanan hidup hanya sekitar 1 minggu. "Dulu karena ikannya sering mati, permintaan kepada kami semakin banyak he-he-he," kata dia sambil tertawa.

Tohari yang sudah 23 tahun menjadi nelayan ikan hias tersebut, mengatakan, saat itu belum mengerti bagaimana bahaya potasium bagi terumbu karang. Saat ini dia telah menggunakan jaring, cara paling aman menangkap ikan tanpa merusak terumbu karang. Setiap hari, Tohari bisa mendapatkan 100 ekor ikan hias dengan jumlah duit yang dibawa pulang hingga Rp 200 ribu - Rp 300 ribu. IKA NINGTYAS