Saturday, October 20, 2012

Persinggahan Sebelum Menuju Kawah


Dua jam perjalanan yang melelahkan menyusuri lereng pegunungan Ijen, terbayar begitu menginjak kaki di penghujung Perkebunan Jampit, Kecamatan Sempol,Bondowoso. Aku disambut sebuah rumah kuno dua lantai berasitektur Belanda yang dinamai Guest House Jampit. Atap tinggi lengkap dengan cerobong asap untuk perapian. Dindingnya masih terbuat dari kayu bercat coklat. Jendela-jendela besar bertirai putih.

Ketika jendela ku buka, mata langsung dimanjakan dengan bunga-bunga khas Eropa yang sedang bermekaran, beraneka warna. Tertata apik di taman seluas dua hektar yang mengelilingi Guest House. Bunga Hidrangea dan Petonia yang berwarna biru. Anyelir ungu. Anemone merah dan kuning. Lely putih. Serta bunga-bunga aqapanthus dan antirrhinum. Semakin sempurna dengan pohon-pohon pinus yang berjejer di tepi taman, menjulang setinggi 30 meter. Aku cukup beruntung mengunjungi Jampit di saat musim bunga sedang mekar. Kita seperti diajak mengunjungi pedalaman Eropa di musim kemarau.



Berbagai tanaman itu tumbuh dengan baik di Perkebunan Jampit, karena memiliki ketinggian 1.100-1.600 dari permukaan laut. Perkebunan ini dikelilingi Gunung Ijen, Gunung Raung, Gunung Kempit dan Gunung Penataran. Bila siang hari suhunya sekitar 18 derajat celcius, kemudian akan melorot lagi hingga 10 derajat celcius di malam hari. Cukup nikmat rasanya menikmati pemadangan alam dengan hawa sejuknya itu, sambil menyeruput kopi Arabika yang terhidang di meja tamu.

Tempat ini bisa ditempuh melalui Bondowoso, Situbondo, maupun Banyuwangi yang menuju jalur ke Kawah Ijen. Dari Kota Bondowoso, jaraknya sekitar 58 KM. Sedangkan dari Banyuwangi menempuh jarak sekitar 52 KM. Tanaman kopi Arabika akan menyambut sepanjang perjalanan kita menuju Jampit. Dari total luas perkebunan 3104,41 ha, komoditi kopi Arabika seluas 1252,27 ha dengan jumlah produksi sekitar 889,196 ton tiap tahun.

Arabika adalah komoditi utama Perkebunan Jampit dibawah PT Perkebunan Nusantara XII ini.  Namun PTPN XII baru mengelola seluruh potensi agrowisatanya secara serius pada 2001. Pada tahun itu Jampit mulai disewakan sebagai penginapan. “Sebelumnya, Guest House hanya difungsikan untuk kegiatan dinas PTPN,” tutur Sulistyani, Pelaksana Agrowisata PTPN XII, Minggu (8/8). Di Guest House terdapat lima kamar dan ruang lobby yang dilengkapi televisi. Tempat ini disewakan satu paket seharga Rp 2 juta per malam.

 Di belakang Guest House, terdapat Pondok Wisata Jampit yang juga disewakan untuk pengunjung. Bangunan peninggalan Belanda, yang hingga kini masih dipertahankan. Di sini tersedia 25 kasur plus enam kamar. Pengunjung didominasi dari Perancis, Belanda, Belgia, Amerika, dan Korea. Para turis biasa menginap di Jampit sebelum memulai perjalanan mendaki kawah Ijen. Sedangkan bagi wisatawan local, Jampit sangat popular sebagai tempat menggelar outbond.

Selama menunggu perjalanan ke kawah, pengunjung dapat menikmati paket wisata melihat panen buah stroberi dan pengolahan kopi Arabika. Dua paket wisata terakhir ini berada di Perkebunan Kalisat atau biasa disebut Jampit Dua, 14 KM dari Jampit Satu. Dari ketinggian Arabika Homestay di Jampit dua, kita bisa menikmati hamparan kebun stroberi seluas satu hektar, yang dikelilingi kebun kopi. Kebun Stroberi panen dua kali seminggu, yang rata-rata menghasilkan dua kuintal buah stroberi merah dan segar. Selain dikonsumsi sendiri, stroberi dijual ke Surabaya dan Bali.

Pilihan menginap selain Perkebunan Jampit, berada di Perkebunan Blawan, sekitar delapan kilometer dari Jampit dua. Perkebunan Blawan seluas 5521,45 ha juga menyediakan penginapan rumah bekas Belanda bernama Catimor Homestay Blawan. Catimor yang memiliki 30 kamar, dibangun pada 1894 oleh Sinder Degener. Sebagian besar bangunannya masih dipertahankan, seperti dinding dari bambu. Kecuali bagian lantai yang dirombak dari kayu menjadi tegel berwarna coklat.

Namun pemandangan taman di Catimor tidak secantik di Jampit. Catimor lebih menjual suasana rumah yang sepi tanpa hiruk pikuk televisi. Fasilitas modern hanyalah air panas yang terpasang di kamar mandi, sebagai pengusir dingin. Di sekitar Catimor, pengunjung bisa menikmati kebun stroberi, sayur-mayur, dan pabrik pengolahan kopi Arabika. Setiap datang, tamu dipersilakan menikmati secangkir kopi Arabika yang bisa dibikin sendiri di depan ruang resepsionis.

Tamu yang sebagian besar adalah turis, kebanyakan dibawa oleh travel-travel agen dari Probolinggo yang melayani paket wisata pendakian di Gunung Bromo dan Kawah Ijen. Mereka biasa menginap selama sehari saja. Menurut salah seorang guide dari Cakrawala Travel Probolinggo, yang membawa 13 turis dari Australia, mereka tiba di Blawan pada Sabtu pagi hari (7/8). Beristirahat penuh seharian, mengumpulkan tenaga sebelum memulai pendakian. Mereka mulai meninggalkan Catimor keesokan harinya pada jam empat subuh menuju kawah Ijen. Setelah mendaki, turis langsung bertolak ke Bali dengan melewati jalur Banyuwangi.

Franco, 48, salah satu wisatawan asal Italy mengatakan tidak sempat berkeliling ke tempat wisata sekitar Blawan karena waktu menginapnya hanya sehari. Namun ia cukup menikmati selama menginap di Catimor. “Pemandangan alamnya sangat indah,” kata karyawan perusahaan tekstil yang mendapat jatah berlibur selama sebulan ini.

Juni hingga Agustus adalah puncak kunjungan turis ke Kawah Ijen. Jumlahnya lebih dari seratus orang tiap hari. Karena itu tingkat hunian tiga penginapan di Jampit dan Blawan selalu penuh terisi. Sayangnya potensi ini belum diimbangi akses jalan yang memadai. Tantangan terberat menuju kedua perkebunan itu adalah menaklukan jalan. Baik ditempuh dari Banyuwangi maupun Bondowoso, kualitas jalannya sama-sama rusak berat. Bila Anda sedang membawa kendaraan yang mesinnya kurang prima, aku tak yakin Anda akan bisa menaklukan seluruh jalan dengan lancar. IKA NINGTYAS



Kisah Tentang Damarwulan

Tak jauh dari Catimor Homestay Blawan, sedikitnya terdapat empat wisata alam yang menarik dikunjungi. Yakni, air terjun Blawan, kolam Damarwulan, pemandian air hangat, dan gua kapur.

Air terjun Blawan terletak satu kilometer dari Catimor. Bedanya dengan air terjun lain, air terjun Damarwulan setinggi 30 meter berwarna kekuningan. Warna kuning sesungguhnya adalah kandungan belerang yang mengalir dari mata air belerang dari gunung Ijen. Air terjun itu mengebulkan uap di antara bukit-bukit hijau yang mengelilingi lokasi.

Dari air terjun kita bisa menuju pemandian air hangat, jaraknya sekitar 100 meter. Dua kolam yang hangatnya sekitar 50 derajat celcius, merupakan campuran antara air dengan belerang. Menurut Sirianto, 64, petugas jaga, air campuran belerang itu bisa menyembuhkan linu dan reumatik. Tiket masuknya Rp 2 ribu per orang. Sayang tempatnya mulai tak terurus sehingga terkesan kotor dan penuh lumut.

Empat tempat wisata di Desa Kalianyar itu dipercaya masyarakat sebagai tempat perlindungan Damarwulan, seorang mahapatih Majapahit saat berperang melawan Raja Kerajaan Blambangan Minakjingga. Sirianto bercerita, Damarwulan bersembunyi di Gua Kapur yang letaknya 175 KM dari pemandian air hangat. Di dalam gua terdapat kolam yang digunakan Damarwulan membasuh muka. Begitu juga dengan kolam Damarwulan, kata Sirianto, dipercaya sebagai tempat mandi Damarwulan.

Diantara tempat wisata itu, kita bisa menyaksikan para petani yang menanam kubis di halaman rumah mereka. Blawan yang terletak di ketinggian 900-1000 dari permukaan laut memang cocok menjadi tempat tumbuh kubis. Saat panen, petani biasa menjualnya di Bondowoso, Jember dan Situbondo. IKA NINGTYAS