Friday, March 4, 2011

Geliat Industri Rekaman Banyuwangi


Lagu Banyuwangi berjudul 'I miss u' yang dinyanyikan Ratna Antika, menyeruak di balik ruangan seluas 50 meter persegi.  Dengan volume tinggi, lagu dangdut koplo itu diputar berulang kali.

Victor Rayllaya duduk di depan dua layar LCD , mendengar lekat lagu yang disetelnya itu. Sesekali ia harus mengutak-atik program di komputer,  bila musik terasa kurang pas di kuping.

Itulah suasana studio rekaman 'Lharos' milik Victor Rayllaya di Jalan Argopuro, gang Lombok, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Jumat siang (4/3).



Akhir Maret ini, Victor harus merampungkan mengaransemen album Banyuwangi bertajuk Best of The Best Ratna Antika itu. "Proses rekaman sudah dilakukan awal Februari lalu," ungkap pria 30 tahun ini.

Lharos bisa disebut studio rekaman pertama di Banyuwangi juga menjadi salah satu yang terbesar. Didirikan tahun 2002 dengan modal awal sekitar Rp 25 juta.

Studio rekaman ini terbilang sederhana. Ruangan seluas 50 meter persegi disekat menjadi dua bagian dengan sebuah kaca di tengahnya. Satu ruangan untuk 'take voice', ruangannya lainnya untuk operator. Seluruh dindingnya dilapisi karpet abu-abu untuk meredam suara.

Selain dua layar LCD, di ruangan operator nampak sebuah mixer kecil, Audio interface coolvarter, tiga buah organ, dan dua monitor studio. Dari seluruh perlengkapan itu, menurut Victor, Audio Interface memiliki harga termahal sekitar Rp 17 juta. Alat ini dijalankan dengan program lunak (software) protools untuk mengubah suara menjadi suara digital.

Menurut suami penyanyi Banyuwangi,  Lya Varieta ini, studio rekamannyasebenarnya masih berskala rumahan atau home industry. "Tapi kualitas produksinya sudah layak edar," kata dia.

Studio ini hasil patungan Victor bersama ayahnya, Johny MC. Ayahnya adalah seorang pencipta lagu dan arranger musik yang sudah berkecimpung di dunia rekam-merekam lagu Banyuwangi sejak tahun 1985 bekerjasama dengan Nirwana Record, Surabaya.

Sebelum Banyuwangi memiliki studio rekaman sendiri, musisi harus merekam lagu-lagunya di Surabaya. Nirwana Record dan Golden Hand adalah studio rekaman yang sering disewa. Saat itu produksi album masih dalam bentuk kaset pita.

Sedikitnya 50 penyanyi dan 100 album pernah ditangani Johny. Beberapa nama bahkan sudah melejit menjadi penyanyi ibu kota. Sebut saja nama Emilia Contesa dan Nini Karlina.


Dari pengalaman itulah Johny dan Victor yang mengikuti jejak karir ayahnya itu, mewujudkanmimpinya memiliki sebuah studio rekaman. "Awalnya peralatannya sederhana, kemudian bertahap membeli yang lebih canggih," cerita pria lulusan SMA ini.

Benarlah. Orderan album dari produser kini bisa ia rekam sendiri di studionya. Produser lokal akhirnya berbondong-bondong memindahkan rekamannya dari Surabaya ke Banyuwangi.

Dari segi ongkos produksi, tentu lebih irit. Victor bercerita, sewa studio di Surabaya dihitung per shift (enam jam) dengan rate dulunya mencapai Rp 450 ribu. Padahal dalam satu album minimal ada 10 shift. Biaya ini belum termasuk transport pulang-pergi, sewa hotel, dan makan-minum. "Satu album bisa satu bulan nginep di hotel," kata Victor.

Sementara bila rekaman sendiri di Banyuwangi, produser hanya cukup membayar sewa studio dan aransemen musik yang besarnya sekitar Rp 12 juta per album.

Menurut Victor, sebelum tahun 2002 hanya ada dua produser lokal di Banyuwangi yakni Aneka Safari dan Cahyono Record. Sedangkan produser luar daerah masih didominasi Nirwana Record. Dari produser-produser ini dalam setahun dia bisa mendapatkan order rekaman hingga 10 album dalam setahun.

###

Semakin mudahnya proses rekaman membuat sejumlah produser akhirnya bermunculan. Mereka yang berhasil memiliki bendera diantaranya Sandi Record, Khatulistiwa Record, Gemini Record dan Scorpio Record.

Namun dari produser besar ini hanya Sandi Record yang mampu mendirikan studio rekaman sendiri. Sementara produser lainnya bertahan dengan melakukan sistem sewa studio.

Muhammad Sandi, 35 tahun, pemilik perusahaan rekaman Sandi Record, mengatakan, bisnis rekamannnya berdiri tahun 2002 dengan modal Rp 200 juta. Album pertama yang diluncurkan bertajuk "Kembang" langsung laris manis di pasaran dengan mencetak angka 70 ribu keping vcd.

Kesuksesan ini, membuat Sandi yang semula berbisnis elektronik memutuskan fokus menggeluti dunia musik. Hingga kini sudah 100 album Banyuwangi yang ia lempar ke pasar. Lima puluhan artis juga telah ia terbitkan. Seperti Catur Arum, Reni Farida, Adistya Mayasari, dan Dian Ratih.

Album "Kangen" hasil kolaborasi penyanyi Adistya Mayasari dan grup Rollas (Rogojampi Orkestra Lare Asli Banyuwangi) yang diluncurkan 2006, mencatat angka tertinggi sepanjang sejarah musik Banyuwangi dengan penjualan lebih dari 100 ribu keping vcd.

Album-album itu tidak hanya dipasarkan di Banyuwangi. Namun sudah puluhan kota lain, meliputi seluruh Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Sandi menceritakan, dia sudah berjaringan dengan puluhan distributor yang memasarkan album hingga ke pedagang kaki lima. Ia memiliki 4 armada yang siap mengantar album ke berbagai distributor. Untuk daerah-daerah tertentu, album dikirim via paket.

Dari perusahaannya, satu keping vcd seharga Rp 7.500.  Di tingkat distributor menjadi Rp 8.500. Sampai di tangan konsumen harga paling rendah Rp 10 ribu per keping.

Dari seluruh album, memang tidak seluruhnya sukses. Ia mengakui 60 persen di antaranya bahkan gagal. "Banyak yang gagal memang," kata dia di studionya Jalan Ikan Sadar No 3, Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi.

Salah satu album gagal, ujar dia, bertajuk "Bantalan Dadane" produksi tahun 2004. Album yang didanai sekitar Rp 20 juta itu ternyata hanya laku seribu keping.

Ketika album kurang laku di pasaran, maka harganya pun langsung diobral menjadi Rp 1.500 - Rp 2 ribu per keping. Bahkan sering juga, dia terpaksa mengkilo tumpukan vcd yang kembali atau retur. "Supaya ada sedikit modal yang kembali," katanya sambil tertawa.

Menurut dia, kegagalan sebuah album disebabkan banyak faktor. Seperti materi lagu yang kurang mengena di pasar,  penyanyi kurang terkenal dan kejenuhan konsumen pada warna lagu.

Sebelum tahun 2006, Sandi menuturkan, lagu-lagu Banyuwangi masih bernuasa tradisional seperti kendang kempul dan patrol sehingga sulit diterima pasar di luar Banyuwangi. Setelah penjualan album tradisional mulai turun, Sandi membuat kejutan di penghujung akhir 2006. Dia mengkolaborasikan lagu Banyuwangi dengan sentuhan musik modern seperti house, disco, dangdut dan rock koplo.

Feeling musiknya tepat. Album Disco Etnik yang diluncurkan meraup penjualan 50 ribu copy. "Untuk seterusnya album etnik beraliran modern laku terus di pasar," ungkap lelaki penyuka house music ini.

Sejak saat itu warna musik Banyuwangi berubah drastis. Bahkan hingga 2011 ini, musik Banyuwangi beraliran modern masih mendominasi di pasar. Aksi panggung penyanyi pun yang sebelumnya tenang, berubah menghentak-hentak dengan goyangan erotis.

Industri rekaman di Banyuwangi ini akhirnya menciptakan sebuah mata rantai yang saling bergantung satu sama lain antara produser, pencipta lagu, dan penyanyi. Namun hubungan ini tidak diikat seketat industri rekaman di tingkat nasional. Tidak ada perjanjian hitam di atas putih di antara mereka. Pun, termasuk nihilnya pembagian royalti.

Menurut Johny MC, pemilik studio rekaman Lharos sekaligus pencipta lagu, pembuatan album dilakukan dengan sistem lepas. Artinya, produser hanya membayar satu kali mulai honor penyanyi, pencipta lagu, aransemen musik, dan grup musik pendukung.

Honor pencipta lagu antara Rp 200 ribu-Rp 2 juta per lagu. Honor penyanyi paling murah Rp 300 ribu dan termahal Rp 4 juta per lagu.

Honor penyanyi ini tergantung seberapa terkenalkah mereka. Penyanyi baru biasanya dibanderol paling rendah. Berbeda untuk penyanyi yang albumnya pernah meledak. Catur Arum merupakan penyanyi termahal dengan honor Rp 4 juta untuk satu lagu.

Setelah itu, karya musik menjadi milik produser seutuhnya. "Apabila album meledak di pasar ya produser diuntungkan," kata dia. Sistem lepas ini tidak memungkinkan bagi pencipta dan penyanyi mengatrol berapa angka penjualan albumnya. "Yang mereka tahu pokoknya album meledak," sambung Johny.

Sistem lepas ini juga berlaku pada jual-beli master. Dalam sistem ini, musisi menjual master album  yang telah didanainya sendiri kepada produser. Kalau produser tertarik, maka master akan dibeli dan menjadi hak produser sepenuhnya.

Harga master ini biasanya dua kali lipat dari ongkos produksi. Johny biasanya membanderol master albumnya hingga Rp 50 juta.

###


Industri rekaman di Banyuwangi memang sangat menggiurkan. Sekitar tahun 2008 pertumbuhan studio rekaman skala rumahan di Banyuwangi semakin tidak terkendali. Muhammad Sandi memperkirakan jumlahnya mencapai 50-an yang tumbuh di desa-desa.

Pertumbuhan ini diikuti munculnya produser, pencipta lagu dan penyanyi dadakan yang sebelumnya nyaris tak akrab di telinga masyarakat. Album-album baru pun membanjiri pasar. Persaingan pun semakin ketat. Bila sebelum tahun 2008, hanya ada 1 atau 2  album baru, kini jumlahnya bisa mencapai 15 album dalam satu bulan.

Dampaknya, kini tidak ada album yang mampu mencetak angka tinggi sesuai target. "Laku 5 ribu keping saja sudah bagus," keluhnya.

Melorotnya penjualan album itu, kata dia, karena promosi di radio-radio akhirnya menjadi tidak maksimal. Pembeli pun kebingungan karena dihadapkan dengan banyak pilihan. "Konsumen belum beli, ternyata sudah ada lagu baru," ungkap ayah dua anak ini.

Seolah-olah siapa pun kini bisa menjadi produser asalkan punya duit. Victor Rayllaya, bercerita, dia sering didatangi produser baru yang ternyata tidak paham mengenai seluk-beluk musik. Mereka kebanyakan tergiur setelah salah seorang bercerita tentang keuntungan yang bisa diraup kalau albumnya meledak di pasaran. "Setelah saya tanya, ternyata mereka ini cuma petani biasa." Dia melanjutkan, "Padahal kalau albumnya tidak laku ya habislah semua."

Studio rekaman milik Victor pun terkena imbas dari banyaknya studio yang berdiri. Bila setahun dia bisa mendapat order 10 album, kini paling banyak hanya 4 album saja.

Sempitnya peluang pasar membuat pemilik studio rekaman melakukan banyak cara untuk tetap survive. Sandi Record kini lebih fokus untuk menggarap album-album lagu Madura yang kini pasarnya mulai bagus.

Sementara pembuatan album Banyuwangi dikurangi dari sebelumnya 3 album tiap bulan menjadi satu album. Pengurangan ini dilakukan sambil mencari warna musik baru untuk memecah kejenuhan pasar akibat terlalu padatnya jumlah album. IKA NINGTYAS