Saturday, October 20, 2012

Berharap Berkah Pulau Dewata


Empat turis asal Perancis itu langsung menyeruput teh botol begitu disajikan oleh pelayan warung di Pos Paltuding di kaki Gunung Ijen. Tubuh mereka masih penuh dengan peluh usai mendaki gunung setinggi 2.368 mdpl itu sejak subuh.

Gunung Ijen menjadi gunung ketiga yang dikunjungi empat bule itu setelah Gunung Papandayan di Jawa Barat dan Gunung Bromo di Probolinggo, Jawa Timur. Mereka akan menghabiskan tiga minggu untuk berkeliling ke sejumlah gunung api di Indonesia. 

Remi Bernard, 34 tahun, salah satu dari bule Perancis itu mengatakan, Gunung Ijen cukup eksotis karena memiliki kawah berwarna hijau yang merupakan terbesar di Asia Tenggara. "Aktivitas penambang belerang juga tidak bisa ditemukan di gunung lain," katanya kepada Tempo, Rabu, 3 Oktober 2012.

Gunung Ijen di perbatasan Banyuwangi-Bondowoso tersebut tetap menjadi magnet bagi wisatawan meski Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status Siaga (level III).  Hampir setiap hari, gunung tersebut dikunjungi ratusan wisatawan baik asing maupun nusantara.

Menurut Remi dia mengetahui Gunung Ijen berdasarkan katalog panduan wisata yang diterbitkan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia. Dia menilai fasilitas yang tersedia di wisata Ijen sudah cukup memadai, hanya saja perlu dilengkapi pusat informasi (tourism center) sehingga wisatawan dapat mengetahui secara utuh mengenai pengelolaan wisata di Ijen maupun destinasi lainnya.

Selain Gunung Ijen, Kabupaten Banyuwangi masih memiliki 24 destinasi wisata lainnya yang sering dikunjungi wisatawan. Dalam dua tahun terakhir jumlah wisatawan yang mengunjungi Banyuwangi terus meningkat.

Dari data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2011 jumlah wisatawan mencapai 794.619 orang. Jumlah ini terdiri dari wisatawan nusantara 781.340 orang dan wisatawan mancanegara 13.279 orang. Sedangkan pada 2010, jumlah wisatawan sebanyak 667.970 orang dengan rincian wisatawan nusantara 650.993 orang dan wisatawan mancanegara sebanyak 16.977 orang.

Sementara jumlah wisatawan hingga bulan Agustus 2012 sudah mencapai 553,064 orang yang terdiri dari wisatawan nusantara 549.735 orang dan wisatawan mancanegara 3.329 orang.

Dari 25 destinasi wisata tersebut Gunung Ijen memang menjadi favorit wisatawan mancanegara. Tahun 2011 lalu ada 8.785 turis yang mengunjungi keelokan kawah gunung itu. Kebanyakan turis berasal dari Eropa seperti Perancis, Belgia, Inggris, Belanda serta Asia meliputi Hongkong, Taiwan dan Cina.

Sementara sebanyak 111.862 orang wisatawan nusantara lebih memilih Taman Nasional Alas Purwo menjadi tujuan berwisata mereka. Salah satu destinasi Alas Purwo adalah Pantai Plengkung yang juga menjadi unggulan para peselancar. Ombak Pantai Plengkung yang konon nomor dua terbaik di dunia setelah Hawaii mampu menyedot wisatawan asing hingga 2.907 orang. 

Ada tiga rute yang biasa ditempuh wisatawan. Rute pertama dimulai dari Gunung Bromo-Gunung Ijen-Bali. Rute kedua, Bali-Gunung Ijen-Pantai Plengkung. Dan rute ketiga Wisata Perkebunan Kalibaru-Gunung Ijen-Pantai Sukamade. Namun banyak juga wisatawan yang langsung menempuh perjalanan dari Bali menuju Pantai Plengkung menggunakan speed boat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Suprayogi mengatakan Banyuwangi memiliki wisata alam yang sangat lengkap mulai pegunungan, hutan, pantai serta perkebunan. Selain itu kekayaan budaya tradisional mulai adat-istiadat khas masyarakat Using juga melimpah.

Pada wisata alam Pemerintah Banyuwangi menjadikan tiga obyek wisata yakni Gunung Ijen-Plengkung-Sukamade sebagai ikon yang dikenal dengan sebutan Segitiga Berlian.

Menurut Suprayogi dengan dua kekuatan itu dia mengklaim Banyuwangi tak kalah menarik dengan pariwisata di provinsi tetangganya, Bali. Namun dia mengakui pengelolaan wisata di daerahnya masih jauh tertinggal dibanding Pulau Dewata. "Kami sedang berproses untuk menuju industri pariwisata," kata dia ditemui Tempo, Senin, 1 Oktober 2012.

Suprayogi menjelaskan, pengelolaan wisata di Banyuwangi ditargetkan dapat menggaet minimal 20 persen dari 1,4 juta wisatawan asing yang berkunjung ke Bali. Dengan letak Bali-Banyuwangi yang berdekatan serta semakin padatnya wisatawan di daerah itu, Suprayogi optimistis Banyuwangi bisa mendapat limpahan 'berkah' dari Bali.

Pemerintah Banyuwangi melakukan sejumlah terobosan. Pada awal 2012 lalu, Banyuwangi menyelenggarakan Banyuwangi Gathering Night di Bali yang pesertanya melibatkan seluruh travel agent Bali. Dalam pertemuan itu, Pemerintah Banyuwangi mempromosikan program "B to B" yang artinya menjadikan satu paket wisata bersama antara Bali dan Banyuwangi. "Harapannya paket wisata Banyuwangi juga dimasukkan sebagai satu kesatuan paket wisata Bali," kata dia.

Program itu kemudian diikuti dengan perbaikan infrastruktur. Tahun ini Pemerintah Banyuwangi mengalokasikan anggaran sekitar Rp 14 miliar untuk melakukan perbaikan jalan ke kawasan wisata sepanjang 300 kilometer. Suprayogi mengakui selama ini akses jalan ke tempat-tempat wisata dalam kondisi rusak sehingga menghambat minat wisata.

Tak hanya jalan, Pemerintah Banyuwangi juga membangun dua hotel sekaligus yang fasilitasnya setara dengan hotel berbintang empat. Pertama, hotel Wisma Blambangan yang lokasinya berada di pusat kota Jalan Wahidin Sudiro. Hotel yang direncanakan memiliki 32 kamar ini, menelan anggaran pembangunan Rp 5,5 miliar.

Hotel kedua berada di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah atau 5 kilometer dari pusat kota.  Lokasi ini dipilih karena Desa Kemiren menjadi desa wisata khas Using yang menjadi tujuan wisata minat khusus. Hotel yang dikemas villa dengan 12 hunian ini menelan anggaran Rp 3,5 miliar.

Suprayogi mengatakan, selama ini Banyuwangi belum memiliki hotel berbintang empat. Sehingga dengan berdirinya dua hotel ini, wisatawan bisa lebih nyaman berada di Banyuwangi. "Hotel yang ada masih kelas melati," kata dia.

Upaya lainnya, kata dia, adalah dengan mengadakan pementasan seni-budaya setiap Sabtu malam di Lapangan Blambangan secara gratis. Panggelaran seni-budaya ini menampilkan tari-tarian tradisional hingga adat-tradisi lokal yang dikemas dalam teater rakyat. "Adanya adat-tradisi biasanya kan hanya bisa dilihat saat hari-hari tertentu. Nah dengan pentas ini setiap pekan bisa ditonton," katanya.

Untuk merangsang wisatawan lebih banyak datang, Pemerintah Banyuwangi juga menggelar banyak even bertaraf internasional. Mengadopsi Jember Fashion Carnival, pada 2011 lalu Banyuwangi menggelar Banyuwangi Ethno Carnival yang mengkolaborasikan budaya tradisional dengan modern. Even tersebut akan tetap dilangsungkan pada tahun ini dengan tema: Re_Barong.

Selain itu even Internasional Tour de Ijen, ajang promosi wisata yang dikemas dalam balap sepeda, akan dilangsungkan pada awal Desember mendatang. Terakhir dalam bulan Desember, Pemerintah Banyuwangi juga mengadakan Kuwung Banyuwangi Culture Festival. Festival tersebut secara khusus menampilkan seluruh seni-budaya yang dimiliki Banyuwangi.

Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Chuk Sugiyono, mengatakan, gebrakan yang dibuat Pemerintah Banyuwangi dalam dua tahun terakhir memang meningkatkan tingkat hunian hotel sebesar 20 persen. "Sebelum 2011 okupansi hotel hanya 50 persen pertahun," kata dia.

Daftar kunjungan hotel di Banyuwangi tahun 2010 mencapai 338.913 orang. Sedangkan pada 2011, jumlahnya naik menjadi 444.906 orang. Selain jumlah pengunjung yang naik, jumlah hotel yang berdiri bertambah dari 59 hotel menjadi 67 hotel. Hotel-hotel tersebut terdiri dari 1 hotel bintang dua, 1 hotel bintang satu dan sisanya hotel kelas melati.

Menurut Chuk, meski jumlah hotel sangat banyak namun yang sering menjadi tujuan wisatawan hanya sekitar 15 hotel. Namun selama ini jumlah tersebut sudah cukup untuk menampung wisatawan yang datang karena okupansi setiap hari belum mencapai seratus persen.

Chuk menjelaskan, pengelolaan wisata di Banyuwangi belum terintegrasi antar stake-holder dengan pemerintah daerah. Jarangnya ada pertemuan yang melibatkan pelaku wisata membuat bagaimana program dari pemerintah dan stake holder belum singkron. "Bagaimana masalah transportasi, infrastruktur, dan jasa pelayanan belum ada kesepakatan standarisasi mau dikonsep seperti apa," kata dia.

Masyarakat sendiri belum memiliki kesadaran wisata seperti di Bali. Kejadian-kejadian seperti tukang becak bertengkar karena berebut wisatawan atau tukang angkot yang menarik ongkos tinggi saat ada turis, hampir sering terjadi. Padahal saat berwisata, seorang wisatawan membutuhkan kenyamanan dan kepastiaan biaya. 

Karena itu, kata Chuk, Pemerintah Banyuwangi perlu membuat pelatihan sadar wisata bagi para tukang becak, kusir andong, supir angkot, maupun komunitas desa yang sering menjadi tujuan wisatawan. "Dalam wisata, masyarakat wajib dilibatkan, tidak bisa jalan sendiri-sendiri" kata dia.

Pemilik jasa wisata Banyuwangi Information Corner, Kisma Donna Wijaya, mengatakan, kebanyakan tempat wisata di Banyuwangi kotor karena dipenuhi sampah. Menurut dia, Pemerintah Banyuwangi perlu memperbanyak jumlah tempat sampah dan memperketat aturan supaya pengunjung tidak membuang sampah sembarangan.

Fasilitas toilet juga tak kalah memprihatinkan, karena bau dan kotor. Selain itu belum ada toilet berstandar internasional yang khusus dipakai wisatawan asing. "Toilet yang ada masih jongkok. Padahal turis pakainya toilet duduk," kata dia.

Selain fasilitas yang masih minim, Kisma Donna, mengatakan, pusat informasi pariwisata Banyuwangi belum terintegrasi. Informasi wisata  hanya bisa ditemukan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Padahal bila Pemerintah Banyuwangi serius mengelola wisata, maka informasi seluruh potensi wisata harus ditempatkan di titik-titik strategis seperti pelabuhan, stasiun kereta api, dan terminal.

Pusat informasi wisata juga harus berdiri di desa-desa. Sehingga selain memudahkan bagi wisatawan, juga berfungsi untuk mengedukasi warga desa setempat supaya mendapat pengetahuan mengenai dunia pariwisata.  "Pemerintah juga harus memberikan kesempatan kepada warganya untuk mendirikan pusat informasi wisata sendiri," kata dia.

IKA NINGTYAS