Tuesday, October 9, 2012

Berharap Berkah Penerbangan Rute Pendek



Pesawat ATR 72-500 mendarat mulus di landasan pacu Bandara Banyuwangi pada Kamis, 20 September 2012 sekitar pukul 10.45 WIB. Pesawat yang berangkat dari Bandara Juanda, Surabaya itu membawa 70-an penumpang termasuk Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono.

Pesawat buatan Avions de Transport Regional Prancis 2010 itu milik maskapai penerbangan Wings Abadi Airlines, anak perusahaan PT  Lion Airlines. Kedatangan pesawat Wings Air itu sekaligus menjadi penerbangan perdana Wings dengan rute Surabaya-Banyuwangi dan Banyuwangi-Surabaya.


Wings melayani penerbangan setiap hari dari Surabaya mulai pukul 09.30 WIB sedangkan dari Banyuwangi pukul 10.45 WIB. Harga tiket dibanderol Rp 291 ribu - Rp 599 ribu per orang.

Wings tak sendirian dalam menerbangi rute Surabaya-Banyuwangi. Sebelumnya ada maskapai PT Sky Aviation dengan pesawat Fokker-50 kemudian disusul Merpati Airlines dengan pesawat MA-60. 

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, mengatakan, Bandara Banyuwangi berpotensi menjadi penyangga Bandara Juanda Surabaya dan Bandara Ngurah Rai, Bali. Kedua bandara tersebut dianggap mulai padat, sehingga ke depannya membutuhkan bandara-bandara lain untuk berbagi beban. "Tapi tergantung bagaimana pertumbuhan penumpang dan pergerakan pesawat di Banyuwangi sendiri," kata dia.

Bandara Banyuwangi dibangun sejak 2002 hingga 2008 dengan menelan dana lebih dari Rp 70 miliar dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Banyuwangi dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Namun bandara seluas 129 hektare ini baru beroperasi secara komersial pada akhir 2010 setelah hampir dua tahun mangkrak. 

Bandara yang bisa ditempuh 45 menit dari kota Banyuwangi ini, memiliki landasan pacu (runway) sepanjang 1.400 meter yang bisa didarati pesawat maksimal berkapasitas 72 penumpang. Bandara dilengkapi terminal berkapasitas 100 orang, menara air traffic controller (ATC), navigasi penerbangan, fasilitas pemadam kebakaran dan didukung 54 pegawai berlisensi.

Sebelumnya maskapai penerbangan enggan masuk karena pembangunan bandara di Desa Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi ini sempat diwarnai kasus korupsi pada 2008 silam. Kejaksaan Agung menyeret 10 tersangka termasuk Bupati Banyuwangi periode 2000-2005 Samsul Hadi dan Bupati Banyuwangi periode 2005-2010 Ratna Ani Lestari. Seluruh tersangka didakwa menggelembungkan harga lahan bandara sehingga menimbulkan kerugiaan negara hingga Rp 40 miliar.

Maskapai komersial perintis Bandara Banyuwangi adalah PT Sky Aviation yang membuka rute Banyuwangi - Surabaya dan Banyuwangi - Bali pada 29 Desember 2010. Saat itu, Sky mengoperasikan pesawat Cessna Grand Caravan dengan kapasitas sembilan kursi. 

Pada Mei 2011, PT Sky mendatangkan pesawat lebih besar dengan jenis Fokker-50 berkapasitas 48 kursi. Rute yang diterbangi berubah yakni Surabaya - Banyuwangi - Solo - Surabaya - Banyuwangi.

Melihat geliat ini, Merpati Airlines memutuskan masuk pada 24 Agustus 2011 dengan pesawat MA-60 berkapasitas 58 kursi. Awalnya, Merpati membuka rute Bandung - Semarang - Surabaya - Banyuwangi (PP). 

Kurang dua bulan setelah Merpati beroperasi, Sky Aviation menutup rutenya karena jumlah penumpang turun drastis. Padahal sebelum ada maskapai baru, penumpang Sky hanya berkisar 40-an orang atau 90 persen dari kapasitas yang ada.

Dari pengalaman Sky Aviation itulah, membuat Merpati sempat cemas ketika mendengar kabar  Wings Airlines akan membuka rute di Banyuwangi. Kepala Distrik Manager Merpati Airlines Surabaya, Agus Purwanto, mengakui langsung menemui Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. "Kami meminta petunjuk bagaimana peluang pasarnya bila ada maskapai baru," kata dia, Kamis, 20 September 2012. 

Menurut Agus, saat itu Bupati Banyuwangi meyakinkan bahwa bertambahnya maskapai baru tidak akan membuat penumpang maskapai lain menjadi turun.  "Tentunya Pemerintah Banyuwangi punya pertimbangan untuk memutuskan adanya maskapai lain," katanya. Kemudian dia melanjutkan, "Namun kami akan melihat perkembangannya dalam satu bulan ini."

Merpati Airlines melayani penerbangan Surabaya-Banyuwangi (PP) pada sore hari pada pukul 13.30 WIB dari Surabaya dan pukul 14.30 WIB dari Banyuwangi. Harga tiketnya berkisar Rp 297 ribu hingga Rp 677 ribu per orang.

Agus menjelaskan, Merpati berminat membuka rute pendek Surabaya-Banyuwangi setelah melalui survei selama tiga bulan. Dalam survei itu, Merpati menggali informasi bagaimana pangsa pasar, pergerakan penumpang dengan moda transportasi lain seperti bus dan kereta api. 

Hasil survei tersebut, kata dia, peluang untuk transportasi udara cukup besar mengingat bila menggunakan jalur darat waktu tempuh Banyuwangi-Surabaya bisa mencapai 7 jam. "Bila pakai pesawat waktu tempuhnya hanya 45 menit," kata dia.

Okupansi Merpati selama ini belum mencapai 100 persen. Agus menyebut tingkat penumpang baru sekitar 85 persen atau rata-rata 40 penumpang. Namun jumlah ini dinilai sudah cukup menguntungkan karena batas break event point pada angka 50 persen.

Tempo pun kemudian mendatangai kedua loket Merpati dan Wings di bandara pada Selasa, 25 September 2012. Kepada petugas loket, Tempo menanyakan penjualan tiket kedua maskapai itu baik dari Surabaya maupun Banyuwangi. 

Hasilnya, penumpang Merpati tidak mengalami penurunan karena hari itu terjual 38 kursi dari kapasitas 44 kursi. Sedangkan Wings Air yang baru lima hari beroperasi mampu menjual 40 kursi dari kapasitas 72 kursi. 

Kepala Keuangan Distrik Wings Air Banyuwangi, Haris Bimbim Wiratma, mengatakan, meski belum terisi penuh namun penjualan tiket tersebut dianggap bagus karena sudah melampaui lima puluh persen.

Angka penjualan tiket di Banyuwangi itu juga lebih tinggi dibanding penerbangan Wings di bandara Maumere, Labuan Bajo dan Ende yang sudah beroperasi setahun. Rata-rata tiket yang terjual di tiga bandara tersebut berkisar 20-30 kursi dengan memakai jenis pesawat yang sama. "Baru hitungan hari, tiketnya laku antara 60 persen hingga 85 persen ini sangat bagus," katanya.

Kepala  Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Banyuwangi Agus Siswanto, mengatakan, jumlah penumpang setelah Wings Air beroperasi justru meningkat dua kali lipat. "Ini menunjukkan peluang pasar transportasi udara di Banyuwangi masih terbuka lebar," katanya.

Namun, kata Agus, saat ini penumpang pesawat mayoritas masih berasal dari kalangan birokrat dan pelaku bisnis. Sementara pasar wisatawan belum tergarap. Padahal setiap tahunnya, tak kurang dari 10 ribu wisatawan asing yang mengunjungi sejumlah obyek wisata seperti Gunung Ijen, Pantai Sukamade dan Plengkung. 

Kendalanya, para wisatawan tersebut kebanyakan sudah terikat dalam satu paket wisata dari Malang atau Bali yang memakai bus maupun minibus. Bahkan tak sedikit pula wisatawan yang langsung menempuh jalur laut menggunakan speed boat dari Bali menuju obyek wisata surfing di Plengkung. Dengan speed boat memakan waktu sekitar 2 jam dengan biaya sewa hingga Rp 6,5 juta.

Peluang lainnya, kata dia, jasa penerbangan di Banyuwangi ini ditargetkan bisa menarik penumpang di kabupaten tetangga seperti Jember, Bondowoso, Situbondo dan Jembrana-Bali. "Selama ini sudah ada beberapa penumpang dari kota-kota tetangga. Kita harapkan jumlahnya terus meningkat," dia menjelaskan.

Untuk meningkatkan jumlah penumpang, kata Agus, Pemerintah Banyuwangi berupaya maksimal dengan gencar melakukan promosi dan berkirim surat ke semua instansi pemerintah, BUMN, dan perusahaan swasta. 

Selain itu juga dengan menggalakkan berbagai event wisata seperti Banyuwangi Ethno Carnival dan Tour de Ijen serta mempermudah akses investasi. "Dengan banyak even wisata dan investasi semakin banyak orang berdatangan ke Banyuwangi," katanya.

Kepala Bandara Banyuwangi Andy Hendra Suryaka mengatakan naiknya jumlah penumpang ini, kata Andy, karena masyarakat Banyuwangi kini memiliki dua pilihan waktu untuk terbang dan mulai terbiasa dengan jasa penerbangan.

Andy menjelaskan, gagalnya Sky Aviation tak dapat disamakan dengan kondisi saat ini. Sebab saat Sky beroperasi, pasar transportasi udara di Banyuwangi belum terbentuk. Masyarakat belum kenal dengan jasa penerbangan. "Kesan pertama yang muncul kalau naik pesawat itu pasti mahal. Jadi, tugas Sky sangat berat saat itu," kata Andy.

Barulah ketika Merpati dan Wings masuk, pasar transportasi udara sudah terbentuk. Masyarakat sudah mulai percaya bahwa jasa penerbangan dapat menjadi transportasi pilihan yang lebih cepat. "Sekarang tinggal mengelola dan meningkatkan pasar yang ada," Andy menjelaskan.

Andy menilai perkembangan Bandara Banyuwangi tersebut tergolong cepat karena hanya membutuhkan waktu satu tahun. Padahal di bandara-bandara lain membutuhkan waktu minimal lima hingga sepuluh tahun untuk berkembang.

Tahun 2011, Bandara Banyuwangi merupakan bandara kelas V. Namun saat ini bandara dianggap layak naik status menjadi bandara kelas III yang mampu mengangkut penumpang minimal 10 ribu orang tiap tahun. Pemerintah Banyuwangi sudah mengajukan permintaan naik status ini kepada Menteri Perhubungan sejak Juli 2012. 

Banyak faktor yang membuat Bandara Banyuwangi lebih cepat berkembang ketimbang bandara kecil lainnya. Menurut Andy, Banyuwangi memiliki banyak potensi yang membuat orang datang berkunjung mulai urusan pemerintahan, berinvestasi, dan berwisata. 

Apalagi pertumbuhan ekonomi di Banyuwangi naik pesat yang ditunjukkan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2011 sebesar 72,8 mengalahkan IPM nasional. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, kata Andy, transportasi alternatif yang lebih cepat akan menjadi pilihan utama. "Mereka tak lagi berpikir harga, yang penting bisa cepat," katanya.

Dia optimistis Bandara Banyuwangi bisa menjadi bandara penyanggah bagi Juanda dan Ngurah Rai. Namun untuk menuju bandara penyanggah dibutuhkan pembangunan infrastruktur yang lebih besar seperti perpanjangan runway, pelebaran terminal pesawat, perluasan terminal penumpang serta kelengkapan navigasi. "Pembangunannya bertahap, harus disesuaikan dengan tingkat penumpang dan pergerakan pesawat," katanya.

Andi Setiawan, public relation salah satu operator telepon Jawa Timur, mengatakan, adanya penerbangan di Banyuwangi sangat membantu perusahaannya dalam memperlancar bisnis ke daerah paling timur Pulau Jawa itu. 

Menurut Andi, sebelum adanya penerbangan dia terbiasa menempuh jalur darat yang menghabiskan waktu minimal 8 jam. "Waktu tempuh bisa 12 jam kalau terjebak macet di Porong," katanya.

Hanya saja dia mengeluhkan akses menuju Bandara Banyuwangi yang masih sulit. Belum ada transportasi umum yang dapat mengantar penumpang dari dan menuju bandara. Penumpang hanya bisa ke bandara dengan membawa kendaraan sendiri atau menyewa taksi. IKA NINGTYAS