Tuesday, July 24, 2012

Bedul, Melestarikan Mangrove Berbasis Ekowisata


Suud, 50 tahun, langsung menyalakan mesin diesel begitu dua orang wisatawan duduk di kursi perahu. Suara mesin menderu-deru, memecah kesunyian segara anakan. Lamat-lamat perahu yang dijuluki gondang-gandung itu meninggalkan dermaga.

Siang itu, Senin, 23 Juli 2012, seperti biasa Suud melakoni pekerjaannya. Dia mengantar wisatawan berkeliling menikmati hijaunya mangrove beserta burung laut di Ekowisata Mangrove Bedul, Desa Sumberasri, Purwoharjo, Banyuwangi.





Upah yang ia terima tergantung ramainya pengunjung. Dikala sepi, paling rendah ia menerima Rp 10 ribu. Namun saat hari libur seperti Sabtu dan Minggu bayarannya bisa mencapai Rp 100 ribu - Rp 150 ribu. "Sekarang enak, bisa dapat penghasilan setiap hari," kata ayah empat anak ini.

Suud adalah salah satu warga yang merasakan kehidupannya jauh lebih baik dibandingkan sebelum adanya Ekowisata Mangrove di desanya. Dulu, pekerjaannya serabutan. Terkadang menjadi buruh tani, kadang mencari kerang. Penghasilannya hanya datang 2 minggu sekali.

Untuk membiayai dapur keluarga, Suud terpaksa masuk hutan di kawasan Taman Nasional Alas Purwo yang berada di seberang desanya. Dia mengambil kayu untuk dijual ke pasar sebagai kayu bakar. Setiap hari dia bisa menjual hingga 10 ikat dimana satu ikat kayu dijualnya Rp 250.

Namun kini, pekerjaan mencuri kayu di taman nasional itu telah ditinggalkannya. "Dulu kan terpaksa karena tidak ada pekerjaan lain," katanya.

Ekowisata Mangrove Bedul baru dibuka pada 2009. Wisata lingkungan ini menjual keelokan mangrove yang tumbuh di lahan seluas 2.300 hektare, serta memanjang 16 kilometer di pinggir segara anakan laut selatan. Kawasan wisata yang ditempuh 2 jam dari kota Banyuwangi ini, berbatasan langsung dengan Taman Nasional Alas Purwo.

Ekowisata ini dikelola sendiri oleh masyarakat melalui wadah bernama Badan Pengelola Ekowisata Mangrove Bedul. Menurut Ketua Badan Pengelola Ekowisata, Rohman Sugianto, sedikitnya ada 50 warga desa yang terlibat langsung. Mereka terbagi  mulai pemandu wisata, penyedia home-stay, membuka warung, menyewakan perahu, penjaga pantai hingga tukang parkir.

Menurut dia, sebagian besar warga yang terlibat dalam ekowisata adalah mereka yang dulu sering merusak hutan. Setiap hari, kata Rohman, sedikitnya ada 30 warga yang masuk ke Taman Nasional Alas Purwo untuk mengambil kayu. "Rata-rata satu orang mengambil 2-3 kubik kayu untuk dijual ke pasar," kata dia.

Selain kayu, tingkat pencurian satwa dilindungi seperti rusa dan burung kerap terjadi. Mangrove pun sering ditebang sebagai bahan utama membuat bangunan.

Setelah wisata ini dibuka, berangsur-angsur perilaku warga merusak lingkungan menjadi hilang. Tanaman mangrove pun tumbuh lebih rapat. Bahkan dengan 27 jenis keanekaragamannya, menjadikan mangrove Desa Sumberasri menjadi terbaik di Indonesia.

Pada Juni 2012 lalu, Desa Sumberasri menjadi percontohan nasional dalam pengelolaan ekowisata mangrove berbasis masyarakat. Melalui acara Shared-Learning "Pengembangan Ekowisata dalam Mendukung Konservasi Mangrove" yang diadakan Kementerian Kehutanan bersama Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA), delapan pemerintah daerah se-Indonesia yang memiliki hutan mangrove belajar atas keberhasilan Ekowisata Mangrove Bedul.

Penginisiasi konsep ekowisata berbasis masyarakat adalah Suyatno, 48 tahun, yang tak lain adalah kepala desa setempat. Berangkat dari kegelisahan akan tingginya tingkat pengerusakan lingkungan oleh warganya, dia kemudian berpikir untuk menggali potensi yang bisa menggerakkan ekonomi desa yang berpenduduk 2.200 jiwa ini.

Tahun 1999, setelah menjabat kades, untuk pertama kali dia mengunjungi Bedul yang terletak 5 kilometer dari balai desa. Saat itu dia terperangah dengan keelokan mangrove. "Dulu masih sepi dan belum terkenal," kata Suyatno yang menjabat kades sejak 1998 lalu itu.

Suyatno mulai serius menggarap wisata mangrove pada 2006 ketika desanya dipilih sebagai desa model konservasi oleh Taman Nasional Alaspurwo. Setahun berikutnya, Desa Sumberasri mengajukan penandatanganan kerjasama dengan Balai Taman Nasional Alas Purwo tentang pengembangan wisata alam terbatas di Blok Bedul. "Saat inilah mulai banyak pelatihan dan penyuluhan yang melibatkan warga," kata dia.

Tahun 2008, Badan Pengelola Ekowisata yang pengurusnya warga setempat dibentuk. Secara bertahap, infrastruktur mulai jalan, dermaga hingga gondang-gandung dibenahi. Setelah semua persiapan matang, ekowisata ini resmi diluncurkan pada 2009.

Hasilnya luar biasa, karena ekowisata ini tak pernah sepi oleh wisatawan lokal maupun turis. Bila pada 2009 jumlah wisatawan yang datang sebanyak 11 ribu orang, pada 2011 jumlahnya meningkat hingga 62 ribu wisatawan. "Syukurlah akhirnya wisata ini bisa memberi manfaat bagi warga sekitar, meski tidak semuanya," kata dia.

Kepala Balai Taman Nasional Alas Purwo, Rudijanta Tjahja Purnama, mengatakan, konsep ekowisata berbasis masyarakat yang diterapkan Desa Sumberasri cukup tepat dalam menyelamatkan habitat mangrove dan menjaga kelestarian Taman Nasional Alas Purwo. "Selain menggerakkan ekonomi warganya, konsep ini meningkatkan kesadaran warga untuk ikut menjaga lingkungan," kata dia.

Bahkan, kata Rudijanta, konsep tersebut akan diterapkan pada sejumlah desa penyanggah yang berbatasan langsung dengan kawasan taman nasional. IKA NINGTYAS