Saturday, February 12, 2011

Asyiknya Berbudi Daya Jangkrik

Ribuan jangkrik muda berlompatan di kandangnya. Mereka saling berebut irisan buah pepaya yang diberikan si peternak. 

Jangkrik berukuran 1,5 centimeter itu nampak sehat dibalik kandang yang temperaturnya dijaga supaya tetap hangat. "Dua hari lagi jangkrik siap panen," ujar Hendro, 45 tahun, peternak jangkrik asal Banyuwangi, Rabu (9/2) lalu.

Sudah 20 tahun ini, Hendro mengadu peruntungannya membudidayakan hewan dengan nama latin Liogryllus bimaculatus itu. Bisa dibilang saat ini dialah peternak jangkrik terbesar di Banyuwangi, Jawa Timur. Dia pemasok satu-satunya kebutuhan jangkrik di Banyuwangi. Bahkan permintaan juga sering datang dari Pulau Bali.

Dari 30 kandang jangkrik yang dia kelola sendiri, Hendro yang mulai berkenalan dengan bisnis jangkrik sejak usia 15 tahun ini, bisa memanen satu kuintal ekor jangkrik setiap harinya. Bila dijual di Banyuwangi, harga jangkriknya mencapai Rp 25 ribu per kilogramnya. Harga ini menjadi dua kali lipat lebih mahal bila jangkrik dipasarkan ke Bali.

Tingginya permintaan ini, membuat Hendro tidak lagi mampu membudidayakan sendiri. Dia merekrut 75 petani yang tugasnya menetaskan telur hingga menjadi jangkrik dewasa. Sementara telur dan modal seluruhnya ditanggung Hendro. Saat panen, Hendro membeli jangkrik-jangkrik tersebut seharga Rp 10 ribu per kilogram. "Sekaligus menciptakan lapangan kerja untuk mereka," kata lelaki kelahiran Jember ini.

Budidaya jangkrik ini dibagi dalam dua tahap. Yakni tahap peneluran dan tahap saat telur menetas hingga jangkrik tumbuh dewasa.

Warga Perumahan Puri Camar, Kelurahan Mojopanggung, Banyuwangi itu, bercerita, untuk menghasilkan telur yang baik dia memilih induk dari jangkrik-jangkrik yang super. Salah satu cirinya, kata dia, saat dipegang, jangkrik tidak mengeluarkan lendir pada kulitnya. Satu induk jangkrik ini bisa menghasilkan paling sedikit 500 telur. 

Telur-telur ini kemudian diletakkan di dalam kandang atau boks seukuran 120 x 300 centimeter dengan dialasi triplek. Jangan lupa untuk menaburi triplek dengan pakan ayam atau sentrat.Di sekitar boks, tre atau wadah telor ayam disusun bertingkat yang berfungsi sebagai rumah jangkrik ketika telah menetas nanti. 

Satu ons telur yang ditetaskan bisa menghasilkan minimal 10 kilogram jangkrik muda. Yang perlu diingat, bahwa jangkrik sangat sensitif terhadap cuaca dingin. Karena itu si peternak harus menjaga boks dalam kondisi hangat. "Cuaca memang ancaman bagi peternak jangkrik," ujar Hendro.

Bila cuaca tidak mendukung, Hendro menggantungkan lampu dengan daya 5 watt yang dihidupkan sepanjang hari. Sementara boks ditutup rapat dengan plastik tebal. Pastikan plastik tidak berlubang sehingga udara dingin tidak masuk.

Ketika jangkrik mulai beranjak dewasa, si peternak juga harus memastikan peliharaannya itu tidak kelaparan karena jangkrik memiliki sifat kanibal atau memakan sesamanya. Makanan bisa berupa sayuran segar atau buah yang harus diberikan dua kali sehari: pagi dan malam hari.

Jangkrik-jangkrik muda ini baru bisa dipanen ketika berusia 20-25 hari dengan panjang tubuh mencapai 1,5 centimeter. Jangkrik muda ini dicari orang untuk pakan burung dan ikan. Apabila usia jangkrik di atas 25 hari, bisa disebut jangkrik tua. Biasanya dipakai untuk pakan lele dan ayam. "Tapi yang paling laris ya jangkrik muda," katanya.

Bagi Anda yang ingin menjajal bisnis satu ini, hanya butuh modal awal sekitar Rp 1,5 juta. Modal tersebut dipakai untuk biaya membeli 1/2 kilogram telur jangkrik, boks, sentrat, sayuran, dan tre atau wadah telur ayam. 

Dua puluh hari pertama, Anda bisa menikmati panen jangkrik paling sedikit 50 kilogram atau Rp 1,25 juta. Tentunya keuntungan ini semakin berlipat pada 20 hari berikutnya. Menggiurkan bukan? 
IKA NINGTYAS

http://www.tempo.co/read/news/2011/02/11/089312954/Asyiknya-Berbudi-Daya-Jangkrik