Apabila ada anggota keluarga kita yang mendadak demam, kita harus ekstra waspada. Jangan didiamkan saja! sebab, bila telat atau salah penanganan hasilnya bisa fatal.
Saya baru saja mendapat pengalaman berkenalan dengan demam ini, ketika suami saya mendadak demam di malam hari. Padahal siang harinya, kami masih menikmati makan siang bersama. Dia bagitu lahap. Tak ada sinyal kalau bakal sakit.
Suami saya mengeluhkan demam disertai sakit kepala hebat. Saya curiga, bahwa ini bukan demam karena flu, karena tidak ada sakit tenggorokan atau pilek.
Malam hari saya hanya bisa mengompres dengan air dari kulkas dan memberinya banyak minum air putih. Sampai keesokan hari, tidak ada perubahan berarti. Demam masih tinggi. Prediksi saya di atas 30 derajat celcius.
Karena hari Minggu, saya hanya memanggil mantri desa. Mustahil ada dokter yang buka praktik di hari Minggu. Mantri desa mencurigai suami saya kena gejala tipus. Maka diberilah antibiotik untuk dosis tiga hari.
Tapi sungguh membuat panik. Keesokan hari lagi, tidak ada tanda demam atau sakit kepala membaik meski antibiotik sudah saya berikan. Nafsu makan suami berangsur menurun. Saya hanya memberinya lontong karena dia mengeluh agak nyeri di lambung. Ya, sakit kepala hebat membuatnya nyaris tidak bisa tidur nyenyak. Masih beruntunglah, dia masih suka minum air putih.
Hingga saya memutuskan untuk membawanya ke dokter spesialis penyakit dalam. Ternyata dokter juga belum bisa memastikan penyakit suami saya: tipes atau demam berdarah, karena demam masih dua hari. Dokter hanya memberi empat jenis obat. Tiga hari lagi kami disuruh kembali.
Di tiga hari terakhir, demam sudah menurun, termasuk sakit kepala sudah hilang. Tapi datanglah batuk tanpa dahak disertai badan yang sangat lemah. Paru-paru seperti sesak.
Awalnya saya hanya memberi obat batuk cair yang saya beli di Indomaret. Tapi tak kunjung membaik. Batuk terus menerus mendera, terutama di malam hari hingga menyulitkan tidur. Dan di hari keenam, gusi suami saya berdarah. Tinja cair dan berwarna kehitaman.
Saya memutuskan ke dokter lagi. Dokter meminta untuk cek darah dan urine. Hanya menunggu 30 menit, keluarlah permintaan dari dokter supaya suami saya opname karena trombosit jeblok 44 ribu dari normal di atas 150 ribu.
Ya, antara tipes dan demam berdarah gejalanya nyaris sama. Perbedaannya akan muncul pada hari kelima atau keenam setelah demam. Kalau demam berdarah, akan diikuti pendarahan, seperti munculnya bintik-bintik merah, gusi berdarah, dan tinja warna hitam. Supaya tidak terlambat dan salah penanganan, kita harus dituntut untuk sering-sering periksa ke dokter.
Namun penyebabnya berbeda. Kalau demam berdarah karena Virus Dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegepti. Namun kalau tipes akibat bakteri Salmonella typi.
Pada demam berdarah memang tidak ada obat khusus karena belum ditemukan. Cara terbaik, kalau kondisi keluarga kita semakin lemah dan tromobositnya kurang dari 100 ribu maka lebih baik opname, karena akan dibantu dengan infus untuk memperkuat daya tubuh.
Suami saya harus menghabiskan 4 hari di rumah sakit dengan pemberian infus 4 kali dalam sehari. Alhamdulilah semakin hari kondisinya semakin kuat dan trombositnya fluktuatif. Saat trombosit suami saya meningkat hingga 90 ribu, pada hari 10 dokter memperbolehkan kami pulang untuk di rawat di rumah.
Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda. Dan tetap menjaga kesehatan dan lingkungan.
Saya baru saja mendapat pengalaman berkenalan dengan demam ini, ketika suami saya mendadak demam di malam hari. Padahal siang harinya, kami masih menikmati makan siang bersama. Dia bagitu lahap. Tak ada sinyal kalau bakal sakit.
Suami saya mengeluhkan demam disertai sakit kepala hebat. Saya curiga, bahwa ini bukan demam karena flu, karena tidak ada sakit tenggorokan atau pilek.
Malam hari saya hanya bisa mengompres dengan air dari kulkas dan memberinya banyak minum air putih. Sampai keesokan hari, tidak ada perubahan berarti. Demam masih tinggi. Prediksi saya di atas 30 derajat celcius.
Karena hari Minggu, saya hanya memanggil mantri desa. Mustahil ada dokter yang buka praktik di hari Minggu. Mantri desa mencurigai suami saya kena gejala tipus. Maka diberilah antibiotik untuk dosis tiga hari.
Tapi sungguh membuat panik. Keesokan hari lagi, tidak ada tanda demam atau sakit kepala membaik meski antibiotik sudah saya berikan. Nafsu makan suami berangsur menurun. Saya hanya memberinya lontong karena dia mengeluh agak nyeri di lambung. Ya, sakit kepala hebat membuatnya nyaris tidak bisa tidur nyenyak. Masih beruntunglah, dia masih suka minum air putih.
Hingga saya memutuskan untuk membawanya ke dokter spesialis penyakit dalam. Ternyata dokter juga belum bisa memastikan penyakit suami saya: tipes atau demam berdarah, karena demam masih dua hari. Dokter hanya memberi empat jenis obat. Tiga hari lagi kami disuruh kembali.
Di tiga hari terakhir, demam sudah menurun, termasuk sakit kepala sudah hilang. Tapi datanglah batuk tanpa dahak disertai badan yang sangat lemah. Paru-paru seperti sesak.
Awalnya saya hanya memberi obat batuk cair yang saya beli di Indomaret. Tapi tak kunjung membaik. Batuk terus menerus mendera, terutama di malam hari hingga menyulitkan tidur. Dan di hari keenam, gusi suami saya berdarah. Tinja cair dan berwarna kehitaman.
Saya memutuskan ke dokter lagi. Dokter meminta untuk cek darah dan urine. Hanya menunggu 30 menit, keluarlah permintaan dari dokter supaya suami saya opname karena trombosit jeblok 44 ribu dari normal di atas 150 ribu.
Ya, antara tipes dan demam berdarah gejalanya nyaris sama. Perbedaannya akan muncul pada hari kelima atau keenam setelah demam. Kalau demam berdarah, akan diikuti pendarahan, seperti munculnya bintik-bintik merah, gusi berdarah, dan tinja warna hitam. Supaya tidak terlambat dan salah penanganan, kita harus dituntut untuk sering-sering periksa ke dokter.
Namun penyebabnya berbeda. Kalau demam berdarah karena Virus Dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegepti. Namun kalau tipes akibat bakteri Salmonella typi.
Pada demam berdarah memang tidak ada obat khusus karena belum ditemukan. Cara terbaik, kalau kondisi keluarga kita semakin lemah dan tromobositnya kurang dari 100 ribu maka lebih baik opname, karena akan dibantu dengan infus untuk memperkuat daya tubuh.
Suami saya harus menghabiskan 4 hari di rumah sakit dengan pemberian infus 4 kali dalam sehari. Alhamdulilah semakin hari kondisinya semakin kuat dan trombositnya fluktuatif. Saat trombosit suami saya meningkat hingga 90 ribu, pada hari 10 dokter memperbolehkan kami pulang untuk di rawat di rumah.
Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda. Dan tetap menjaga kesehatan dan lingkungan.