Demam TIMNAS

Saya sebenarnya tak begitu suka sepak bola. Bahkan nyaris tak tahu teknis-teknis atau istilah sepak bola. Yang ada, saya malah sering cemberut kalau ngeliat suami begadang hanya demi bola. Tapi bukan berarti saya antipati sama sekali sama olahraga yang digandrungi di mana-mana itu.

Ketika TIMNAS menang 1-0 dari Filipina pada Semifinal AFF, saya sebenarnya juga ikut seneng. Dan besoknya, teman-teman ramai membahas TIMNAS yang akan melaga ke final. Keramaian itu juga mampir di Facebook. Tapi seneng saya cuma cukup di hati. Gak ikut-ikutan euforia.

Semakin dekat hari final, 26 Desember, dukungan dan pujian untuk TIMNAS makin menjadi-jadi. Meluber ke mana-mana. Yang paling jengkelin adalah tayangan di teve, seolah-olah nonstop untuk mengupdate berita TIMNAS. Mulai berita pemain, sampai minta komentar ke politisi dan artis-artis. Meski, para pemain sudah naik ke pesawat masih juga dikejar-kejar dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya hanya diulang-ulang.

Padahal, masih ada dua permainan lagi, Bung! umpat saya dalam hati.

Dan, kekhawatiran saya terjadilah pada malam Final AFF Leg 1 di Bukit Jalil, Malasyia. TIMNAS dilibas tanpa balasan 0-4 oleh Malasyia. Meski saya bukan pengamat bola, tapi saya geregetan karena TIMNAS loyo, bingung, dan tak segarang melawan Filipina.

Suporter yang kecewa menyalahkan suporter Malasyia yang mengganggu TIMNAS dengan laser dan petasan. Tapi kukira bukan itulah sebab utamanya.

Pertama, pemain kita pecah konsentrasinya sejak sebelum berangkat ke Malasyia. Mereka yang seharusnya fokus ke pertandingan, malah sibuk diwawancarai, diundang kemana-mana. Belum lagi ramai berita soal pemberiaan tanah dari Ical ke PSSI,hehe..

Kedua, pujian yang terlalu berlebihan sehingga TIMNAS merasa diawang-awang. Pujilah seadanya, beritakanlah sewajarnya saja. Nanti kalau sudah menang beneran mari kita rayakan 7 hari 7 malam....

Ketiga, kekalahan itu mengingatkan saya bagaimana garangnya Malasyia terhadap para TKI kita, mencaplok Simpadan-Ligitan, dan mengklaim Reog dan tari Pendet. Bukankah mental pejabat kita terlalu lemah menghadapi Malasyia?

Okelah masih ada Leg kedua. Semoga nanti malam mental TIMNAS memang tidak selembek pejabat kita. Karena itu, TIMNAS harus melibas Malasyia minimal 4 gol...
Labels: | edit post