Thursday, August 12, 2010

Kisah Prajurit dari Timur...


Sorot ketiga pasang mata itu sangat tajam. Paras wajahnya menunjukkan watak keras. Dua diantaranya nampak masih berusia muda. Memakai ikat kepala layaknya seorang ksatria.

Itulah sketsa wajah tiga prajurit Blambangan: Wong Agung Wilis, Rempeg Jagapati, dan Sayu Wiwit yang digambar oleh pelukis Banyuwangi, Kojeng, 2007 lalu. Sketsa wajah yang disimpan di Museum Blambangan, Jalan Ahmad Yani, Banyuwangi itu dibuat, saat Tim Pengajuaan Pahlawan Nasional Blambangan mengusulkan ketiga prajurit itu sebagai pahlawan nasional ke Pemerintah Pusat.


Salah satu anggota Tim, Hasan Basri mengatakan, sketsa wajah itu dibuat dengan perantara dua supranatural suami-istri, Agus Mursyidi dan Dewi. Dilakukan di belakang gedung Museum Blambangan, Agus dan Dewi mendiktekan sosok ketiga prajurit itu kepada si pelukis atas apa yang telah dilihatnya di alam lain. “Sama atau tidak dengan wajah sebenarnya belum pasti. Yang jelas gambar itu sesuai dengan karakter yang kita baca dalam literature,” kata Hasan Basri kepada TEMPO, akhir Juli lalu.

Sayangnya Pemerintah melalui Kementrian Sosial menolak usulan pahlawan dari Banyuwangi. Alasannya, kata Hasan, tulisan pendukung yang dibuat Tim dinilai terlalu banyak mitos dan sumber-sumbernya kurang kuat.

Wong Agung Wilis, Jagapati dan Sayu Wiwit merupakan sosok prajurit Blambangan yang tampil berani dalam melawan dominansi asing. Ketiganya adalah keturunan Tawang Alun II, raja terbesar Blambangan. Wilis pernah menjadi patih raja terakhir Blambangan, Danuningrat, yang kemudian memilih mengasingkan diri selama empat tahun. Ia memutuskan kembali ke Blambangan, sesaat setelah VOC menjalankan kekuasaannya di Blambangan pada 1767. Ia menghimpun kekuatan rakyat lokal untuk melawan VOC yang mewajibkan kerja rodi. Pemberontakan selama setahun itu berakhir dengan dibuangnya Wilis beserta pengikutnya ke Pulau Banda.

Perjuangan Wilis kemudian menginspirasi penerusnya, Rempeg Jagapati dan Sayu Wiwit. Tidak puas terhadap pemerintahan bupati Jawa tunjukan VOC yang ternyata korup, Jagapati menghimpun rakyat Blambangan di benteng Bayu. Ribuan penduduk rela meninggalkan desanya untuk bergabung dengan Jagapati. Meletuslah pertempuran paling besar melawan VOC selama periode Blambangan pada 1771 dan 1772. Jagapati dan Sayu Wiwit gugur dalam pertempuran itu.

Kisah keberanian prajurit-prajurit Blambangan sebenarnya sudah jadi buah bibir sejak Blambangan dipimpin Raja Bre Wirabumi, saat masih menjadi bagian Majapahit. Perselisihan Bre Wirabumi dan Raja Majapahit Wikrawardhana mengakibatkan perang saudara pada 1404-1406 atau dikenal Perang Paregreg. Perang inilah yang menjadi penyebab utama kemunduran Majapahit.

Dengan keruntuhan Majapahit, Blambangan masih bertahan hingga hampir tiga abad menjadi kerajaan Hindu terakhir di Jawa. Blambangan menjadi rebutan kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak dan Mataram; kerajaan-kerajaan Hindu di Bali seperti Gelgel, Buleleng dan Mengwi; serta Inggris dan Belanda. Selama tiga abad bertahan itu, Blambangan kerap diliputi peperangan.

Prajurit-prajurit Blambangan kemudian dipercaya tangguh dan sakti sehingga tidak terkalahkan. Bahkan, menurut Sejarawan Universitas Gajah Mada, Sri Margana, mitos yang berkembang di Mataram saat itu bahwa prajurit Blambangan kebal terhadap sejata. Sehingga prajurit Blambangan dijadikan sebagai uji coba senjata-senjata baru yang mereka buat, baik keris atau tombak. Jika senjata-senjata itu mampu membunuh orang Blambangan, maka senjata dianggap sakti dan layak dipakai perang.

Mitos kekebalan prajurit Blambangan itu, kata Margana, konon karena para ibunya  selalu meminum ramuan daun rajegwesi saat mereka menyusui. Sehingga air susu para ibu di Blambangan berwarna indigo atau jingga.

Penulis buku ‘Mengenal Sejarah dan Kebudayaan Banyuwangi’ yang diterbitkan Pusat Studi Budaya Blambangan, Suhalik, bercerita, bahwa saat penyerangan besar-besaran Mataram ke Blambangan, banyak wanita Blambangan yang ditangkap kemudian dijadikan inang untuk menyusui dan mengasuh putra-putra raja Mataram. “Lelakinya juga dijadikan budak untuk membangun ibu kota Mataram,” katanya.

Padahal faktanya, kata Sri Margana, ketangguhan prajurit Blambangan disebabkan karena lebih menguasai medan peperangan. Mereka berperang secara gerilya, menyerang mendadak kemudian bersembunyi. Membuat perangkap dan jebakan, di jalan-jalan dan di atas pohon. “Musuh sering diarahkan ke suatu tempat dimana perangkap-perangkap telah disiapkan,” tuturnya.

Selain kekuatan lokal itu, Margana melanjutkan, kekuatan prajurit-prajurit Blambangan juga selalu mendapat dukungan prajurit-prajurit dari Bali. Kerajaan-kerajaan di Bali sangat berkepentingan mempertahankan Blambangan karena sebagai benteng terakhir untuk menghambat Islamisasi di Pulau Jawa.

Menurut Margana, pemberontakan yang dilakukan rakyat Blambangan semata-mata karena melawan penindasan dan ketidakadilan oleh penguasa asing. “Semua cerita pemberontakan rakyat itu untuk melawan intervensi penjajah oleh Majapahit, Mataram, Bali dan VOC,” ungkapnya. IKA NINGTYAS

Foto: Sketsa Wong Agung Wilis (Ika Ningtyas)