Thursday, August 12, 2010

Kisah Prajurit dari Timur...


Sorot ketiga pasang mata itu sangat tajam. Paras wajahnya menunjukkan watak keras. Dua diantaranya nampak masih berusia muda. Memakai ikat kepala layaknya seorang ksatria.

Itulah sketsa wajah tiga prajurit Blambangan: Wong Agung Wilis, Rempeg Jagapati, dan Sayu Wiwit yang digambar oleh pelukis Banyuwangi, Kojeng, 2007 lalu. Sketsa wajah yang disimpan di Museum Blambangan, Jalan Ahmad Yani, Banyuwangi itu dibuat, saat Tim Pengajuaan Pahlawan Nasional Blambangan mengusulkan ketiga prajurit itu sebagai pahlawan nasional ke Pemerintah Pusat.

Damarwulan-Menakjingga: Legenda atau Sejarah?


Patung setinggi tiga meter itu berdiri di depan Jalan Penataran, Kelurahan Penganjuran, kota Banyuwangi. Patung seorang laki-laki berpakaian raja. Tangan kanannya membawa senjata gondo wesi kuning. Dia didampingi Dayun, seorang pengikut setianya.

Patung yang dibuat Pemerintah Banyuwangi sekitar tahun 1997 itu merupakan patung Menakjingga. Budayawan sekaligus seniman Janger, M.Dasuki Noer, mengatakan, pembuatan patung itu untuk mempopulerkan kepahlawanan Menakjingga yang selama ini seolah-olah kalah oleh pamor Damarwulan. “Selama ini Damarwulan selalu dipuja-puja,” tutur Dasuki kepada TEMPO, akhir Juli lalu.

Riwayat Blambangan yang Terlupakan


Reruntuhan bangunan setinggi satu meter itu terlihat jelas begitu tanah di areal persawahan digali. Terbuat dari batu bata, dengan struktur rapat tanpa spasi. Satu batu bata memiliki ukuran tiga kali lebih besar dari batu bata yang dipakai orang sekarang.

Reruntuhan bangunan itu salah satu temuan, dalam survei awal Situs Macan Putih yang dipelopori Arkeolog Universitas Gajah Mada Profesor Inajati, Sejarawan UGM Sri Margana, dan Forum Masyarakat Penyelamat Sejarah Macan Putih, awal Juli lalu. Forum Masyarakat mempercayai bekas bangunan itu merupakan benteng timur ketika pusat Kerajaan Blambangan dibangun di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, Banyuwangi.